Siliwangi Hijrah

by Januari 2, 2015
SAIJAH DAN ADINDA. Rombongan prajurit Siliwangi dan keluarganya yang akan dilepas di garis perbatasan wilayah RI dengan "wilayah" Belanda. (foto:IPPHOS)

SAIJAH DAN ADINDA. Rombongan prajurit Siliwangi dan keluarganya yang akan dilepas di garis perbatasan wilayah RI dengan “wilayah” Belanda. (foto:IPPHOS)

Cirebon, 1 Februari 1948, ribuan angota Divisi Siliwangi mulai bergerak meninggalkan daerah Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan Yogyakarta. Situasi ini merupakan konsekuensi logis dari kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Belanda pada Perundingan Renville. Salah satu klausul kesepakatan menyebutkan pemerintah Indonesia harus mengosongkan daerah-daerah yang masuk Garis van Mook, di antaranya Jawa Barat. Itu artinya, tentara dan aparat pemerintahan harus hijrah ke wilayah resmi Indonesia yang hanya meliputi Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal bagian selatan dan Banyumas.

Sebagian dari 6000 anggota Divisi Siliwangi beserta seluruh anggota inti keluarganya (diperkirakan berjumlah sampai 29.000 orang) melakukan hijrah ke Jawa Tengah melalui laut. Mereka diangkut dari pelabuhan Cirebon menuju pelabuhan Rembang. Sebagian lagi diangkut lewat kereta api. Anggota Siliwangi yang dikirim lewat kereta berkumpul lebih dulu di stasiun Parujakan (1 km sebelah selatan dari stasiun Cirebon sekarang) untuk diangkut ke Yogya. Ini adalah foto rombongan prajurit Siliwangi dan keluarganya yang akan dilepas di garis perbatasan wilayah RI dengan “wilayah” Belanda. Bisa dikatakan proses hijrah Siliwangi ke daerah republik berjalan lancar dengan fasilitas transportasi “dibantu” oleh pihak Belanda. ” Orang-orang Belanda itu terlihat kaget setengah mati melihat kami keluar dari hutan-hutan dan gunung-gunung dengan baju rombeng, tanpa sepatu namun dalam disiplin laiknya tentara profesional dari sebuah negara merdeka. Secara tidak langsung, tujuan mereka membasmi rampok dan garong terbantahkan sudah, karena kami adalah tentara profesional laiknya mereka…”kata almarhum Letkol (Purna) Eddie Soekardi kepada saya beberapa bulan yang lalu.

Situasi ini sangat berlawanan dengan saat mereka harus kembali lagi ke Jawa Barat via long march, menyusul hancurnya kesepakatan Perjanjian Renville akibat Agresi Militer Belanda pada 19 Desember 1948. Saat perjalanan menuju kampung mereka kembali (berjarak kurang lebih 400-500 km), berbagai rintangan kerap menyerang mereka: mulai kelaparan, penyakit hingga serangan udara-darat Belanda dan teror pasukan DI TII.

HJC. Princen, serdadu bule Belanda yang membelot ke Siliwangi melukiskan proses long march itu sebagai “darah dan air mata sekaligus kemunafikan”. Dia menyatakan, dua setengah bulan ikut menyusuri jarak 500 km dengan kaki telanjang dan melihat desa-desa dibakar pesawat Belanda, meyakinkan mantan kopral Belanda itu bahwa kecanggihan dalih-dalih, tentara terlatih, kesombongan, gengsi diri berlebihan adalah sebab dari semua pembunuhan itu berlangsung. ” Seribu ungkapan kesedihan dan air mata serta darah, takan mampu melukiskan perjalanan ribuan Saija dan Adinda itu,” ujar Princen. (hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.