MOMEN TERAKHIR 2 PRAJURIT SILIWANGI

by Agustus 19, 2014
SENIN, 23 JANUARI 1950, Bandung baru saja memasuki pagi ketika hampir satu batalion (500-800 prajurit) tentara gabungan KNIL-KL bersenjata lengkap merangsek ke sudut2 strategis kota. Mereka yang menamakan diri sebagai APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) ini langsung stelling (membentuk posisi tempur) dan menyergap beberapa TNI yang tengah bersiap-siap berangkat menuju markasnya masing-masing. Sambil melepaskan tembakan ke atas, mereka pun meneror penduduk sipil. Akibatnya banyak toko dan rumah yang baru buka langsung ditutup kembali. Bandung pun berubah laiknya kota hantu.
Di jalan perapatan Banceui yang terletak di pusat kota, seorang prajurit TNI yang tengah mengendarai jip wilys dihentikan, disuruh turun lalu kepalanya ditembak. Sekitar Jalan Braga, tepat di muka Apotheek Rathkam mereka pun menghabisi seorang perwira TNI dengan dua pengawalnya yang tengah mengendarai sedan. Perlawanan sempat dilakukan TNI di di Jalan Merdeka selama 15 menit. Karena kurang seimbangnya kekuatan dan persenjataan, 10 orang TNI akhirnya gugur bergelimpangan. Sementara di dekat Taman Sari, sekitar 3 prajurit TNI yang tertangkap diperintahkan untuk berdiri di atas jembatan dan langsung ditembak mati. Mayatnya hanyut di Sungai Cikapundung yang membelah kota Bandung.
Tidak cukup hanya menembaki TNI di jalanan, pasukan APRA pun bergerak menyerbu Kantor Kwartir Divisi Siliwangi Oude Hospitaalweg. Satu regu stafdekking TNI terdiri dari 15 orang dipimpin Letkol (Overste ) Sutoko dikepung tentara APRA yang jumlahnya lebih banyak. Tanpa mengenal rasa takut, unit kecil Pasukan Siliwangi itu menghadang laju gerak pasukan APRA yang sebagian besar diperkuat oleh KST (Kopassus-nya Belanda) tersebut. Ini mereka lakukan demi meloloskan para komandan mereka. Letkol Sutoko, Letkol Abimanyu dan seorang opsir lainnya memang dapat menyelamatkan diri. Setelah menewaskan unit kecil itu, APRA menduduki markas menjarah brandkas sebesar F150.000.

Perwira TNI lainnya yang gugur ialah Letkol Lembong dan ajudannya Leo Kailola. Mereka dihujani peluru ketika hendak masuk Markas Divisi Siliwangi yang ternyata sudah diduki oleh gerombolan APRA. Akibat operasi militer yang dipimpin oleh seorang inspektur polisi Belanda bernama Van Der Meulen itu, 79 orang menajdi korban keganasan gerombolan ini. Mereka terdiri dari 61 serdadu TNI dan 18 sipil.

Ini adalah foto ketika tiga serdadu APRA beretnis Maluku tengah menghabisi 2 prajurit TNI di sebuah sudut kota Bandung. Perhatikan seorang prajurit TNI yang sudah tak bernyawa di pinggir selokan dan satu rekannya yang dalam sikap tegang tengah menghadapi maut, dikepung oleh 3 prajurit bersenjata lengkap. Foto ini konon diambil langsung oleh Sersan Thomas Nussy, salah satu bagian prajurit APRA dan kelak menjadi Kepala Staf Angkatan Perang Republik Maluku Selatan dengan menyandang pangkat kolonel. Nussy jugalah yang membentuk dan sekaligus memimpin RST (Pasukan Khusus RMS), yang salah satu penembak jitunya berhasil menjatuhkan Letkol Slamet Rijadi di pelataran Benteng Victoria, Maluku beberapa tahun kemudian. (hendijo)

5 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Stevie Soukotta
    #1 Stevie Soukotta 21 Agustus, 2014, 19:49

    Dan kalau tdk salah Nussy ini pd akhirnya bergabung dg TNI untuk membantu TNI melawan pasukan RMS hingga TNI mampu mengalahkan mrk lebih cepat. Beliau juga berjuang membantu pak Harto dlm perang Trikora untuk mengembalikan Irian Jaya kepangkuan ibu pertiwi. Masa2 pensiunnya beliau dekat dg pak Harto krn jasanya dlm perang Trikora. Mudah2an saya tdk salah mas.

    Reply this comment
  2. sandec
    #2 sandec 22 Agustus, 2014, 00:19

    Om Nussy jugalah yg menjadi pahlawan TNI dalam Operasi Trikora…karena kagum akan Kehebatan n Keberaniannya dalam bertempur,maka Thomas Nussy di keluarkan dari penjara dan di rekrut oleh TNI untuk Operasi Mandala Siaga.
    Yang waktu itu dipimpin Pak Harto,kelak Presiden ke 2 Indonesia.

    Reply this comment
  3. Ot Loupatty
    #3 Ot Loupatty 29 September, 2014, 18:32

    Leo Kailola itu berasal dari Maluku dan dihabisi oleh orang dari sukunya sendiri. Pada masa itu ketika orang Maluku Republik dan Maluku KNIL berhadapan secara militer mereka meneriakkan semboyan yang sama: “Sagu makang sagu, ikang makang ikang!” Atau: “Mena-Muria!” Jadi, secara praktis perang saudara.
    Ketika usai atau status quo di sela-sela pertempuran ini seringkali ada pertemuan keluarga, mereka tidak menunjukkan rasa permusuhan, walaupun mereka pada hari kemarin saling menebak satu dengan yang lain.
    Oom Nussy, menurut pandangan saya, beliau ini ibarat sebuah kapal layar ……..

    Reply this comment
  4. GERRY
    #4 GERRY 4 Januari, 2015, 02:06

    “info” anak soeharto hutomo mandala putra..yg lahir waktu peristiwa trikora nama kecil (tomy).. di kasih nama yg sama dengan thomas ( tomy) nussy…oleh beliau ( th. nussy ) kepada soeharto…

    Reply this comment
  5. GERRY
    #5 GERRY 4 Januari, 2015, 02:13

    ” Info ” anak pa harto yang lahir pada waktu peristiwa trikora ” hutomo mandala putra… di beri nama kecil oleh Thomas ( Tomy ) nussy kepada pa harto yang sama dengan nya yakni “tomy” soeharto

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.