Jurnalis Dunia dalam Revolusi Indonesia

by Maret 3, 2015

reutersmeliputKecamuk perang yang melanda Indonesia pada 1945-1949, tak lepas mengundang kehadiran para jurnalis untuk meliputnya. Dari Indonesia sendiri hadir Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis serta fotografer Frans Mendoer cs dari IPPHOS. Belanda juga menurunkan wartawan-wartawan seperti Hasselman dan Charles Brejer. Nama terakhir merupakan fotografer yang paling banyak mengambil gambar yang melukiskan situasi-situasi perang di Jawa, termasuk sisi manusiawinya.

Fotografer asal Prancis Henri Cartier Bresson juga termasuk ciamik merekam situasi-situasi Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945.¬†Bahkan salah satu essai foto-nya di Majalah LIFE berjudul ” Young Men Are Both The Peril and The Hope” termasuk salah satu laporan paling legendaris mengenai Indonesia era revolusi. Tak kalah dengan para jurnalis tersebut, pada 1948, Majalah National Geographic (NG) menurunkan jurnalis Ronald Stuart Kain untuk meliput gejolak perang di tanah Jawa. Saya pernah membaca tulisan Kain itu di Majalah NG edisi 93 Mei 1948. Pemaparannya sangat detail dan sungguh menawan. Ia dengan ciamik, melukiskan situasi sosial politik yang terjadi selama perang kemerdekaan berlangsung di tanah Jawa: para pengungsi yang berdesakan di kereta api, lasykar-lasykar pribumi berambut gondrong yang menikmati peran mereka sebagai tentara, serta para serdadu muda yang muak akan perang dan rindu pulang ke kampung mereka di Belanda. Ia juga mewawancarai Sukarno, Hatta, Sultan Hamengku Buwono IX. Kain adalah satu dari puluhan jurnalis perang dari Barat yang meliput hingar bingarnya Perang Kemerdekaan (1946-1949).

Foto ini adalah salah satu koleksi Nationaal Archief Belanda, yang mengetengahkan gambar seorang koresponden Reuters (Inggris) bernama H. Laming yang akan mewawancarai seorang perwira penghubung dari TNI di Kampung Sindangrasa, Tasikmalaya.Di belakangnya adalah Letnan Earl, seorang perwira penghubung KL dari Divisi 7 Desember. (hendijo)

2 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Syam
    #1 Syam 5 Maret, 2015, 08:05

    Itu maksud tulisan di gambar “TNI” adalah pasukan Indonesia? Bukankah pada akhir th 40an blm bernama TNI? Dan baru bernama TNI tahun 90an sebagai ganti nama Abri?

    Reply this comment
    • hendijo
      hendijo Author 8 Maret, 2015, 02:39

      Angkatan perang Indonesia sejatinya sudah bernama TNI sejak 3 Juni 1947. Sebelumnya pernah bernama Badan Keamanan Rakyat (BKR), Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Tentara Keselematan Rakyat (TKR), Tentara Republik Indonesia (TRI). Pasca Konfrensi Meja Bundar (1949) pernah berubah lagi menjadi APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) lalu menjadi ABRI dan kembali menjadi TNI. Terimakasih sudah mengunjungi Arsindo.

      Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.