Rekam Jejak Kegilaan Indonesia

by Juli 3, 2014

madnessBuku yang mengisahkan perjalanan berdarah-darah sebuah bangsa saat melaju menuju demokrasi

MINGGU,21 Maret 1999. Senja baru saja mengunjungi pinggiran kota Sambas saat seorang bule jangkung tergagap-saat ditawari sepotong daging setengah matang oleh seorang prajurit Melayu. Daging berwarna kelabu itu berasal dari tubuh seorang Madura yang baru beberapa jam lalu berhasil mereka tembak dengan sebilah senapan buru. “Katakan kepadanya tidak, saya tidak mau itu,” ujarnya kepada Budi, sopir sekaligus penerjemahnya.

Budi lantas berbicara kepada lelaki Melayu itu. Demi mendengar penjelasan tersebut, alih-alih menghentikan aksinya, sang prajurit itu malah tergelak sembari secara demonstratif menjejalkan potongan daging manusia itu ke mulutnya. “Enak. Serasa daging ayam,” serunya. Inilah salah satu penggalan kisah yang menurut saya paling edan dari In The Time of Madness, sebuah buku yang berisi kumpulan catatan reportase konflik yang terjadi di Jakarta,Sambas, Singkawang dan Timor Timur selama rentang 1997-1999.

Jujur saja, saya terhenyak dan sedih membaca buku ini. Seperti Richard Lloyd Parry, (bule yang menulis buku tersebut), kembali saya jadi tak habis pikir bagaimana kegilaan itu bisa dilakukan oleh seorang manusia kepada manusia yang lainnya? Ketika kebencian sudah mencapai ubun-ubun, kemanusian seseorang mencapai limitasinya dan seolah hilang dimakan rasa marah . Ironisnya, justru sebuah harapan tentang Indonesia yang lebih baik dan demokratis justru harus didahului oleh situasi horor gaya kanibalis, sebuah kondisi yang juga sempat saya saksikan di Jakarta, Tobelo, Ambon, Sampit dan Poso.

Disamping rasa sedih dan ngeri yang tak terkatakan, diam-diam saya juga kagum terhadap karya Parry ini. Ia nyaris sempurna merekam semua kegilaan tersebut. Bukan saja lewat sebuah tulisan reportase yang detail tapi juga tutur kata bagai perpaduan antara novel-novel Hemingway dan film-film Hithcock. Wajar jika kemudian, wartawan senior, Farid Gaban menjuluki karya Parry ini sebagai “jurnalisme sastrawi dalam praktik dan contoh nyata”.

Selama ini, untuk mendapatkan “data panas” mengenai sebuah berita, jurnalis perang yang berkiprah di The Times (Inggris) itu saya dengar tak segan-segan memburunya dengan berbagai cara. Termasuk dengan mendatangi nara sumber sampai ke berbagai kawasan medan perang di Afghanistan, Kosovo dan Irak. Di Indonesia, hal sama ia lakukan dengan “menjemput” berita langsung ke pelosok hutan dan kampung yang tersebar di Kalimantan dan Timor Timur.

“Parry adalah wartawan tak kenal lelah yang berani masuk ke relung kejahatan manusia paling dalam,” tulis sebuah ulasan dalam Literary Review.

Buku yang berisi liputan Parry tentang konflik etnis di Kalimantan, kerusuhan Mei 1998 dan Huru-hara Referendum di Timor Timur pada 1999 itu, menurut saya memang sangat laik untuk dibaca. Bukan saja oleh para jurnalis dan peneliti, tapi juga oleh semua orang Indonesia. Setidaknya untuk memberitahu,Indonesia yang kita kenal bukan sekadar sorga indah yang selalu kita saksikan di sinetron-sinetron tapi juga sebuah tanah yang kusam dan kaya dengan berbagai kegilaan berdarah di luar nalar manusia normal. Buktinya adalah kisah prajurit Melayu yang memakan daging seorang lelaki Madura, seperti dituturkan Parry di atas. (hendijo)

Judul: In The Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos
Penulis: Richard Llyod Parry
Penerbit: Grove Press, New York, 2005

 

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.