Propaganda Saudara Tua

by Agustus 5, 2014
Sebuah adegan dalam film Merdeka 17805 (sumber:kinomusorka.ru)

Sebuah adegan dalam film Merdeka 17805 (sumber:kinomusorka.ru)

Kisah  tentara Jepang yang membelot dan berpihak kepada perjuangan Indonesia.Menarik, namun terasa lebay di sana-sini.

BEBERAPA tahun yang lalu, saat melakukan sebuah riset di daerah Kedu,Jawa Tengah, saya sempat mendengar cerita menarik sekitar Perang Kemerdekaan dari seorang veteran pejuang setempat. Katanya, dulu ada satu regu eks tentara Jepang yang membelot dan bergabung dalam batalyon TNI pimpinan  Achmad Yani (yang kelak menjadi salah satu korban Gerakan 30 September 1965). Mereka dikenal sangat berani dan ditakuti oleh serdadu Belanda.

Saya yakin, cerita itu bukan hanya isapan jempol belaka. Menurut  Hayashi Eiichi, selama 1945-1949 kurang lebih 1000 serdadu Jepang memilih tinggal dan bahu membahu bersama pejuang Indonesia melawan Belanda. “Di Jepang, mereka dikenal dengan istilah zanryu nihon hei (serdadu Jepang yang tetap tinggal).”tulis Hayashi dalam Zanryuu Nihon Hei no Shinjitsu  atau Cerita Para Tentara Jepang yang Tetap Tinggal.

Tulisan Hayashi bisa jadi mengilhami Hideaki Kase untuk membuat Merdeka.Itu nama sebuah novel yang pada 2001 diangkat oleh sutradara Yukio Fuji ke layar lebar dalam judul yang nyaris sama. Dan tidak banyak orang tahu, pembuatan film ini dilakukan di Jepang dan Indonesia, dengan melibatkan kerjasama 2 perusahaan film:Tokyo Film Production dan Rapi Film.

Merdeka 17805 berkisah tentang  dua serdadu Jepang: Letnan Takeo Shimazaki (Jundai Yamada) dan Letnan Nobutaka Miyata (Hosaka Nauki). Kedua anak muda tersebut merupakan bagian armada pertama tentara Jepang yang mendarat di Pantai Jawa pada Maret 1942. Usai ikut mengalahkan tentara KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda), mereka berdua lantas ditugaskan untuk melatih para pemuda Indonesia yan tergabung dalam PETA (Pembela Tanah Air).Itu nama sebuah milisi lokal yang dibuat bala tentara Dai Nippon untuk menghadapi Sekutu.

Berbeda dengan umumnya gambaran bengis tentara Jepang yang dikenal oleh orang Indonesia, kedua Letnan itu justru sangat humanis dan tidak sombong (siapa tahu juga mungkin rajin menabung).Karena sikap baiknya itu, Shimazaki dan Miyata jadi akrab dengan para anak didiknya. Sebegitu akrabnyanya, hingga saat salah seorang anak didiknya bernama Nurhadi (Muhammad Iqbal) sempat melakukan disersi, Shimazaki rela dihukum jemur seharian oleh komandannya.

Awal Agustus 1945, Hiroshima dan Nagasaki dibom Amerika. Beberapa minggu kemudian, Jepang  menyatakan takluk kepada Sekutu. Di Indonesia, kekalahan Jepang tersebut memicu terjadinya proklamasi kemerdekaan oleh Soekarno-Hatta yang disambut secara suka cita oleh hampir seluruh rakyat Indonesia. Di mana-mana terjadi eufhoria dan demam kemerdekaan.

Namun tidak demikian sambutan para prajurit Dai Nippon di Indonesia. Selain merasa marah dan kecewa, mereka juga harus mau menerima situasi hina: menjadi tawanan perang tentara Belanda dan Inggris (yang mewakili Sekutu di Indonesia). Karena sebab-sebab tersebut, membuat sebagian kecil tentara Jepang tidak menaati perintah negaranya. Alih-alih menyerahkan diri, bersama para pejuang kemerdekaan Indonesia, mereka malah ikut melawan tentara Belanda.

Shimazaki dan Miyata termasuk dalam kelompok di atas. Mengikuti para anak didiknya di PETA, keduanya lantas bergabung dalam kesatuan gerilya Republik. Selanjutnya cerita berkisar  pada penggambaran berbagai adegan keheroikan dua anak muda Jepang itu. Mereka selalu menjadi “bintang” dalam setiap operasi penyerangan.

Akhir cerita,kedua “jagoan” Jepang itu selesai di tangan musuhnya: Miyata mati di penjara Sekutu dan Shimazaki dihantam sebutir peluru seorang penembak runduk NICA. Laiknya seorang pahlawan di film-film India, menjelang detik-detik sakratul maut menjemput, Shimazaki masih sempat ditangisi oleh Aryati (Lola Amaria) yang melolong-lolong histeris sambil berucap: “Takeo, kamu tidak boleh mati! Kami sudah bebas! Jepang memang kalah, tetapi kamu menang! Kamu menang, Takeo!” Lebay!

Dari segi teknik efek (visual dan militer),harus  saya akui film ini cukup lumayan. Efek “desingan hujan peluru”  dan “ledakan granat” hampir seperti dalam Saving Private Ryan atau Thin Red Line.Lain soal isi cerita. Kesan saya isinya melulu propaganda tentang istimewanya sang saudara tua di mata bangsa Indonesia.

Sebagai contoh, adegan seorang perempuan sepuh yang menciumi kaki Shimazaki sesaat pertama kali mendarat di Jawa, terasa berlebihan dan mengganggu rasa keindonesiaan saya (katanya ini juga yang membuat Merdeka tidak boleh ditayangkan di Indonesia).Walaupun itu sebagai ekspresi kegembiraan  menyambut “sang juru selamat” seperti yang diramalkan Prabu Jayabaya, namun apa iya memang segitunya?

Lantas di mana penderitaan para romusha (pekerja paksa), kepiluan jugun ianfu (para perempuan pribumi yang dipaksa menjadi pelampiasan seks tentara Jepang), dan kekejian Kempetai (polisi rahasia tentara Jepang)? Tanpa mengurangi rasa hormat kepada 1000 prajurit Jepang yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, saya pikir “sisi gelap” itu seharusnya disebutkan juga dalam film ini.Demi kejujuran sejarah, yang kadang selalu  carut marut di negeri ini. (hendijo)

Merdeka 17805 (Dokuritsu 17805)

Jepang, 2001

Pemain: Jundai Yamada,Hosaka Nauki, Lola Amaria, Muhammad Iqbal

Sutradara: Yukio Fuji

 

 

link preview film Merdeka 17805:  http://www.youtube.com/watch?v=y4DXwZ0jzLw

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.