Petualangan Empat Serdadu

by September 2, 2014

Sebuah novel antropologis  yang kaya akan detail-detail Borneo di tahun 1800-an.

bukudesersiTAHUN 1860. Kalimantan sebagian besar masih merupakan rimba raya. Binatang liar berkeliaran. Ratusan suku dari etnis Dayak bertebaran, hidup berdampingan dengan tradisi budaya mengayau (penggal kepala). Di tengah situasi itu, Belanda coba merambah tanah Kalimantan. Mengerahkan ribuan serdadu lengkap dengan jutaan peralatan perang dan peluru. Tujuannya, tentu saja hanya satu: menaklukan tanah yang kaya akan emas dan rotan itu.

Schlickeisen, Wienersdorf, La Cuelle dan Yohanes adalah bagian dari ribuan serdadu itu. Mereka tergabung dalam sebuah bataliyon yang ditempatkan di sebuah kawasan liar bernama Kuala Kapuas. Pada awalnya mereka dijanjikan gaji tinggi dan jaminan hidup senang oleh pemerintah Belanda. Tapi janji tinggal janji. Alih-alih menikmati hidup, mereka setiap hari harus rela menjadi santapan nyamuk malaria dan ancaman para pengayau. 

Karena tidak tahan dengan ketidaknyamanan itu, suatu malam mereka memutuskan melarikan diri. Masalahnya untuk mencapai Singapura, tempat tujuan pelarian, mereka harus melewati kekejaman rimba Kalimantan berserta seluruh penghuninya. Dari sini, cerita kemudian mengalir deras. Kisah petualangan keempat desersi itu di rimba Kalimantan menjadi pokok cerita yang nyaris tak kalah seru dengan beberapa buku yang ditulis oleh Karl May. Salah satunya adalah kisah persahabatan mereka dengan kepala suku Punan bernama Harimau Bukit. 

Kendati sebagian besar buku ini berkisah tentang petualangan, namun Perelaer menolak buku ini disebut sebagai novel petualangan. Mantan serdadu Belanda pada Perang Banjarmasin (1859-1906) itu, lebih suka menyebut hasil karyanya sebagai ethnographischeroman atau novel antropologis. Ini tentunya didasarkan pada pemaparan di buku ini, yang lumayan lengkap memberi informasi antropologis mengenai Kalimantan abad 19. 

Sebagai sebuah sumber sejarah antropologi, buku yang memiliki judul asli Borneo van Zuild naar Noord itu memang sangat berharga. Walaupun, kebaikan buku ini sedikit terciderai oleh pengemasan cover yang kurang menarik. Selain itu, bentuk tulisan yang mengambil jenis times new roman, terkesan formil dan agak menjenuhkan. Karena itu, buku ini akan menjadi bagus jika untuk cetakan berikutnya, semua yang serba tidak elok itu dibenahi oleh pihak KPG, selaku penerbitnya.(hendijo)

Judul Buku: Desersi
Pengarang : M.T.H. Perelaer
Penerjemah: Helius Sjamsuddin
Tebal: 285 halaman
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan : Pertama, Oktober, 2006

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.