Persahabatan dari Kebon Djati

by September 19, 2014

Bagaimana 2 sahabat lama harus bertemu sebagai musuh dalam perang?

oeroeg1HARI_HARI ini, saya lagi “menggilai” film-film alternatif. Film-film bagus yang sebagian besar bukan made in Hollywood itu, dalam kenyataannya memang agak susah dicari. Untuk mendapatkannya, saya harus banyak “bergerilya” ke lapak-lapak penjualan VCD atau DVD  di Jakarta dan Bandung. Atau jika mentok, ya terpaksa saya harus titip kepada kawan-kawan yang ada di negeri-negeri seberang sana.

Oeroeg adalah salah satu film karya para sineas Belanda yang tengah saya incar. Bagi saya, ini film menarik dan laik ditonton. Mengapa? Berbeda dengan film-film tentang Perang Kemerdekaan Indonesia pada umumnya, Oeroeg tidak jatuh dalam jebakan propaganda. Alih-alih subyektif, film ini malah mencoba untuk masuk secara manusiawi ke dalam relung-relung psikologi dua pelaku utamanya: Johan van Berghe (Rick Launspach) Sang Serdadu Belanda dan Oeroeg (Martin Schwab) Si Gerilyawan Republik.

Film ini diawali dengan berbagai adegan dari situasi kolonial pada era 1920-an.Tempatnya di sebuah perkebunan teh bernama Kebon Djati. Tersebutlah seorang bocah desa bernama Oeroeg (yang dimainkan secara ciamik oleh Ramelan Bekkema). Ia bersahabat dengan seorang sinyo bule, Johan van Berghe (Joris Putman), putra tunggal Sang Ondernemer Perkebunan Teh Kebon Djati, Hendrik ten Berghe (Jeroen Krabbe ),yang tak lain adalah majikan ayahnya Oeroeg, yakni Deppoh (Jose Rizal Manua).

Johan dan Oeroeg tumbuh bersama dalam suasana yang wajar dan tanpa sedikitpun terpengaruh masalah perbedaan oeroeg2kelas. Pesahabatan mereka seolah mengatasi situasi diskriminatif yang diberlakukan secara resmi oleh orang-orang Belanda terhadap para inlander (pribumi). Situasi tersebut tentu saja membuat pusing Hendrik ten Berghe. Laiknya orang-orang Belanda pada saat itu, Hendrik menganggap Johan tidak pantas lama-lama bergaul dengan Oeroeg. “Kamu berdarah Eropa, dia hanya seorang inlander,”ujarnya kepada Johan suatu hari.

Tapi Johan tidak memperdulikan kata-kata sang ayah. Kendati sudah dilarang, ia tak segan-segan mencuri-curi kesempatan untuk main di sawah dan mandi di sungai bersama anak-anak desa. Dia pun lebih memilih berburu capung dan binatang-binatang sungai bersama Oeroeg dibanding bermain tenis dengan sesama anak-anak kulit putih lainnya. Ya, jiwa Johan yang cenderung lebih pribumi seolah terperangkap dalam raganya yang bule totok.

Waktupun terus berjalan dan seolah merestui persahabatan Johan dan Oeroeg hingga suatu kejadian dialami mereka. Suatu hari mereka “ditolak” untuk duduk satu ruangan di sebuah pertunjukan film.Alasannya, Johan seorang kulit putih sedangkan Oeroeg adalah seorang inlander.Kendati itu di luar logika mereka, namun mau tidak mau mereka akhirnya harus menyerah kepada sistem sosial yang berlaku saat itu.

Sejak kejadian itu, Oeroeg sadar ada yang “beda” antara dia dengan sahabatnya itu. Dia merasa marah kepada orang-orang Belanda yang tidak berlaku adil. Ironisnya kemarahannya itu, ia timpakan pula kepada Johan, yang secara pukul rata ia samakan dengan orang-orang Belanda lainnya.

Singkat cerita, persahabatan Johan dan Oeroeg pun merenggang. Oeroeg yang kecewa kemudian memutuskan untuk bergabung dengan gerakan pemuda pendukung republik. Sedangkan Johan (yang sepertinya juga kecewa), melanjutkan sekolahnya ke negeri Belanda, meninggalkan sang ayah yang tetap berkiprah di Kebon Djati.

Setelah 8 tahun di negeri leluhurnya, ternyata Johan tak bisa melupakan begitu saja tanah Priangan yang begitu ia cintai. Ia pun tak bisa melupakan ayahnya yang terperangkap di tanah Jawa dan Oeroeg, yang sudah ia anggap sebagai bagian dari hidupnya. Karena didorong kerinduan itu pula pada 1947, Johan memutuskan untuk ikut wajib militer dan berangkat ke Indonesia sebagai bagian dari pasukan NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie).

Sambil bertugas sebagai serdadu Belanda, Johan tak bosan-bosannya “mencari” masa lalunya ke Kebon Djati. Demi menemui Oeroeg (yang menjadi seorang perwira TNI) dan ayahnya (yang ternyata kemudian diketahuinya mati bunuh diri), ia kadang berani “kabur” dari kesatuannya. Karena kebandelannya ini pula suatu hari, saat menelusuri kampung tempat orang tuanya Oeroeg tinggal, ia berhasil ditangkap oleh sekelompok pasukan dari Divisi Siliwangi.

Memang Johan pada akhirnya bertemu juga dengan Oeroeg. Namun bukan sebagai orang merdeka, tapi sebagai sesama tawanan yang akan dipertukarkan. Saat proses pertukaran terjadi di sebuah jembatan tua, mereka berpapasan dan terjadilah dialog yang sangat menyentuh nurani kita sebagai manusia:

“Apakah kita masih berteman?” tanya Johan

“Ya,hanya bila kita sama-sama sederajat,” jawab Oeroeg

“Apakah selama ini kita tidak sederajat?”

“Tidak. Selama 12 orang Indonesia dihargai sama dengan 1 orang Belanda seperti saat ini.”

oeroeg3Ya dalam proses pembebasan itu Johan memang ditukarkan dengan 12 anggota gerilyawan republik yang ditawan Belanda termasuk Oeroeg.

Sebagai sebuah film yang diangkat dari novel Hella S.Haasse, tentu saja kita jangan berharap cerita bisa seutuh aslinya. Untuk efesiensi waktu, ada beberapa alur dan tokoh novel Oeroeg yang sengaja dihilangkan. Misalnya tokoh Gerard Stokman, seorang Belanda egaliter dan anti diskriminasi yang kemudian hari mempengaruhi pandangan politik Johan.

Sebaliknya dalam film yang dibuat di kawasan Ciwideuy, Jawa Barat tersebut, ada pula adegan-adegan dan tokoh-tokoh tambahan yang sesungguhnya tidak ada dalam novel. Misalnya tokoh Twan (sahabat Johan di kesatuan tentara) dan Kolonel Van Dalen, seorang perwira NEFIS (intelejen tentara Belanda) yang selalu mencurigai gerak-gerik Johan.

Dari segi alur cerita, bisa dikatakan Oeroeg memang sederhana. Tapi dari kesederhanaan itu pula banyak aspek obyektifitas dan sisi-sisi kemanusian yang bisa saya ambil dari permusuhan masa lalu 2 bangsa beda benua itu.Bisa jadi karena itu pula, saya ikhlas “bergerilya” ke mana pun untuk mendapatkan VCD dan DVD film ini. (hendijo)

2 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Alfa Lubis
    #1 Alfa Lubis 23 Januari, 2015, 16:16

    Salam.

    Seingat saya dahulu film ini pernah ditayangkan di RCTI sekitar pertengahan menjelang akhir ’90-an, sebagai sebuah mini seri. Sayangnya sebagai seorang bocah saat itu saya masih belum mampu menikmati film sejenis “Oeroeg” dibandingkan tontonan anak-anak lainnya.

    Begitupun, beberapa adegan yang cukup lekat dalam ingatan saya a.l.:

    – Saat Oeroeg dan Johan kecil berenang di sungai penuh keceriaan khas kanak-kanak

    – Perkelahian Oeroeg dengan Johan di sebuah ruangan ketika Oeroeg dengan tajam menyindir Hendrik dengan sebuah line kira-kira “Deppoh, masuklah ke air, aku tak mau sepatuku basah.” menyebabkan Johan naik pitam dan menyerang Oeroeg. Kemudian Oeroeg tampak mendepak Johan keluar ruangan sambil mengumpat “Pulang ke negerimu!”

    – Adegan di jembatan saat Oeroeg dan Johan ditukarkan, tampak mereka bertukar dialog beberapa saat lalu ada sebuah quote yang saya agak lupa namun pamungkas kalimatnya adalah “…kita tetap saudara.”

    Terima kasih untuk resensinya. Menyenangkan sekali kalau misalkan film di atas hadir di Yotube. :”>

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.