Obat Amnesia Saksi Denmark

by Agustus 13, 2014

“ Mungkin kita terlibat dalam peristiwa itu. Saya sudah lupa…” (William Colby, Direktur CIA divisi Asia 1962-1967)

forgotten massacreLEMBARAN  kertas tua itu memiliki fungsi ganda di zamannya. Tidak hanya sekadar kartu masuk untuk mendarat bagi pelaut asing (shorepass), namun juga menjadikan Kasper sebagai salah seorang saksi perkelahian politik penuh darah di sebuah surga bernama Indonesia.Siapakah Kasper?Dia tak lain adalah alter ego-nya Peer Holm Jorgensen, nama pelaut Denmark yang pernah singgah beberapa minggu di Pelabuhan Tanjung Priok dan Palembang.

Dengan mengunakan kapal dagang bernama Clementine, menjelang akhir September 1965, Kasper tiba di Pelabuhan Tanjung Priok dan memutuskan untuk kerja di kapal dagang lain DGM Jessie sebagai seorang koki.Sambil menunggu Jessie menarik jangkar, Kasper yang berpembawaan ramah dan supel, mulai “terikat” dengan lingkungan sekitar Pelabuhan Tanjung Priok: tentara-tentara dan petugas bea cukai yang mudah disuap, kemiskinan dan beberapa bar kumuh yang berisi gadis-gadis pelayan.

Dari hubungan khusunya dengan Nadia—seorang gadis bar berdarah Padang-Belanda—Kasper secara perlahan namun pasti mulai terbawa pusaran konflik politik yang berujung pada pembunuhan orang-orang komunis dan orang-orang yang “diperkirakan” komunis. Bahkan di Palembang, remaja 19 tahun itu menjadi saksi sebuah pembantaian yang dilakukan sekelompok pemuda bersenjata senapan mesin terhadap beberapa gadis muda yang dituduh komunis.

“Kau harus memahami bahwa hal itu diperlukan di sini.Komunis akan menghancurkan tanah kami,” ujar salah seorang pemuda kepada Kasper yang tidak bisa menerima pemandangan di hadapannya.

Bisa jadi kata-kata pemuda tersebut menjawab salah satu pertanyaan Kasper yang pernah dilontarkannya kepada seorang Indonesia tua: “Mengapa kalian tidak bisa hidup damai di sini? Mengapa perlu saling membunuh?” Tapi muncul pertanyaan lagi: Apakah pernyataan para pemuda tersebut menjadi jawaban sebenarnya dari apa yang terjadi di Indonesia pada penghujung 1965 itu?

Peer berusaha menjawab pertanyaan di atas dengan menyuguhkan beberapa bab yang secara langsung memang tidak terhubung namun agak menjawab latar belakang politik dibalik kejadian-kejadian yang dihadapi Kasper di Indonesia. Isi bab-bab tersebut berkisar pada “kesibukan” sekelompok orang-orang CIA (agen intelejen Amerika Serikat) yang melihat rentetan peristiwa tersebut sebagai upaya mereka untuk “menghabisi” Partai Komunis Indonesia (PKI).

Bukan rahasial lagi jika Amerika Serikar tidak begitu nyaman dengan keberadaan PKI di Indonesia. Mereka khawatir dengan menguatnya posisi politik salah satu dari 3 partai komunis terbesar di dunia itu, komunisme akan menyebar secara cepat ke seluruh Asia Tenggara.

Dari Asia Tenggara, komunis ditakutkan akan menimbulkan sebuah krisis mirip perang dunia yang ujungnya tentu akan membahayakan Amerika Serikat. Dan kematian banyak orang Amerika Serikat adalah sebuah “dosa” yang tak boleh terjadi. Karena itu menurut Peer,”kematian banyak orang Indonesia lebih baik daripada kematian banyak orang Amerika.”

Itulah rupanya yang ingin dikatakan Peer bahwa kematian 500.000 orang Indonesia –versi Ben Anderson dalam Cornel Paper—bukan hanya merupakan tanggungjawab sejarah sekelompok petualang berkulit coklat saja namun juga sekelompok petualang dari ras kulit putih.

“Tujuan saya (membuat novel ini) adalah untuk menceritakan kekuatan asing yang –untuk kepentingannya sendiri—bermain Russian roulette dengan sebuah negara merdeka dan rakyatnya,”kata Peer dalam sambutan penutup di novel tersebut.

Lalu Amerikakah, yang dimaksud Peer sebagai perwakilan dari ras putih itu? Dari segi kebenaran sejarah, kita belum mengetahui itu secara pasti. Karena alih-alih orang-orang Indonesia, William Colby pun —ia Direktur CIA Divisi Asia Tenggara (1962-1967)– seolah amnesia dengan mengatakan: “ Mungkin kita terlibat dalam peristiwa itu.Saya sudah lupa…”

Dan lewat novel ini, Peer, saksi Denmark itu seolah ingin memberikan obat amnesia dengan coba mengingatkan kembali “hal-hal yang terlupa” itu. Salah satunya dengan lembaran kertas-kertas tua yang ada di tangan pelaut bule itu. (hendijo)

Judul: The Forgotten Massacre. Penulis: Peer Holm Jorgensen. Penerbit: Qanita PT.Mizan Pustaka. Tebal: 442 halaman.Cetakan: Pertama (Juni 2009).

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.