Geger 1965 Rasa Hollywood

by September 30, 2014

Sebuah film tentang Indonesia dan sisi-sisi gelapnya di tahun 1965.

DEMO PKI. Sebuah adegan demonstrasi pro Sukarno yang dilakukan aktivis PKI dalam TYOLD (foto:imdb.com)

DEMO PKI. Sebuah adegan demonstrasi pro Sukarno yang dilakukan aktivis PKI dalam TYOLD (foto:imdb.com)

SAYA ingat, suatu berita menarik dari sebuah surat kabar yang saya baca ketika duduk di bangku Sekolah Dasar (1985-an). Seorang produser dari Hollywood (saya lupa namanya) berminat mengangkat hidup Sukarno (proklamator dan Presiden pertama Republik Indonesia) ke layar lebar. Entah bagaimana kelanjutan rencana tersebut? Yang jelas hingga kini, hanya beberapa film Hollywood yang menampilkan Bung Karno. Itu pun sebatas tokoh pelengkap saja.

Salah satu film Hollywood yang sempat menampilkan Bung Karno sebagai tokoh figuran adalah The Year of Living Dangerosly (TYOLD). Di film yang diangkat dari novel Christopher J.Koch itu, Bung Karno (diperankan oleh aktor Filipina, Mike Emperio) sempat ditampilkan dalam beberapa adegan. 

TYOLD sendiri berkisah tentang 2 jurnalis Australia: Guy Hamilton (Mel Gibson) dan Billy Kwan (Linda Hunt) yang bertugas meliput krisis politik yang terjadi di Indonesia pada 1965. Mereka bahu membahu memburu berita terkini dan “seksi” sekitar manuver yang melibatkan kekuatan-kekuatan politik di sekeliling Sukarno terutama Partai Komunis Indonesia (PKI).

Berawal dari wawancara mereka dengan Dipa Nusantara Aidit (Ketua CC PKI), Billy dan Guy mencium adanya rencana pengiriman satu kapal senjata api ke Indonesia. Senjata-senjata itu dikirim oleh Tiongkok sebagai bentuk dukungan mereka kepada PKI yang akan membuat “revolusi” terhadap unsur-unsur nekolim (istilah Sukarno untuk neo kolonialisme).

Intrik pun merebak di Jakarta. Bukan saja di kalangan para pejabat politik Indonesia, tapi juga di kalangan para jurnalis asing yang saat itu selalu nongkrong di bar Wayang (aslinya bar Ramayana), Hotel Indonesia. Karena sering mudahnya Billy mendapat “berita-berita seksi”, mereka mencurigai si jurnalis kate turunan Tiongkok-Australia itu adalah orangnya PKI.

Tentu saja isu itu ditepis mentah-mentah oleh Billy. Sebagai sahabat, Guy sendiri tidak mempercayai isu tersebut.

ADEGAN CEROBOH. Ada bendera Filipina di latar aksi Guy dan Hamilton (foto:imdb.com)

ADEGAN CEROBOH. Ada bendera Filipina di latar aksi Billy  Kwan dan Guy Hamilton (foto:imdb.com)

Namun secara pribadi, Billy mengakui dia adalah pengagum Sukarno dan pandangan-pandangan pro rakyatnya. Sebuah pengakuan yang pada akhirnya berujung pada kekecewaan begitu ia melihat dengan mata kepala sendiri banyak rakyat menderita di bawah Presiden Sukarno. “Lewat berbagai cara, aku harus mengatakan soal ini langsung kepada Sukarno,”katanya.

Billy memang sempat melaksanakan “niat gilanya” itu lewat usaha pemasangan spanduk besar (dari sprei putih yang ditulisi kalimat dalam bahasa Inggris: SOEKARNO KASIH MAKAN RAKYATMU!) yang dilakukannya sendiri lewat sebuah kamar di Hotel Indonesia. Namun, sebelum spanduk protes itu terbaca Sukarno, sebutir peluru yang ditembakan seorang petugas BPI (Badan Pusat Intelijen) mengakhiri hidupnya.

Laiknya film-film Hollywood, TYOLD tidak melulu berkisah tentang perburuan berita atau intrik politik, namun juga peliknya cinta segitiga antara Guy, Billy dan Jill Bryant (seorang staf Kedutaan Besar Inggris di Jakarta). TYOLD pun banyak menyoroti situasi pribadi para jurnalis saat tengah berada dalam “ancaman” diburu tengat waktu penurunan berita. 

WAJAH FILIPINA. Wajah-wajah Filipina di "Bandara Kemayoran" dalam film TYOLD (foto:imdb.com)

WAJAH FILIPINA. Wajah-wajah Filipina di “Bandara Kemayoran” dalam film TYOLD (foto:imdb.com)

Film yang mengambil judul dari pidato Soekarno (Tahun Vivere Vericoloso: Tahun Menyerempet Bahaya) itu buat saya jadi lebih menarik karena banyak menampilkan realitas hidup orang Indonesia (khususnya Jakarta) pada 1960-an. Gegap gempita suasana revolusi mengganyang kekuatan kapitalis dan nekolim (Amerika, Inggris dan Malaysia) bersanding dengan kelaparan dan kemiskinan. Lengkap dengan foto-foto besar Soekarno di kawasan-kawasan kumuh.

Yang membuat saya terkesan adalah kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang banyak bertebaran di film ini. Rasanya aneh saja mendengar kalimat semisal “Sialan tuh bule” ada di sebuah film Hollywood.

Namun karena soal bahasa juga, film ini jadi agak bermasalah. Mengapa? Karena ada beberapa bagian adegan yang agak rancu seperti bunyi tulisan dalam spanduk yang dibawa para demonstran pro Sukarno: Pansasila (seharusnya Pancasila dong). Lalu saat Guy diomeli oleh sekelompok pemuda di sebuah kampung kumuh: “Hei, Amerikano, ngapain kamu ke sini?!”

Kok Amerikano?  Selidik punya selidik ternyata film yang meraih Oscar (lewat penampilan “gila dan luar biasa” Linda Hunt memerankan Billy Kwan) itu dibuat di Filipina (ini “dibuktikan” juga oleh sebuah adegan ceroboh yang memperlihatkan aksi jurnalistik Guy dan Billy dengan latar belakang bendera Filipina yang tengah berkibar di tiangnya) . Hal ini terjadi tentu saja karena Pemerintah Soeharto yang saat itu tengah berjaya, menolak mentah-mentah izin syuting film tersebut di negeri asal kisahnya. Sayang ya? (hendijo)

The Year of Living Dangerosly
Amerika Serikat,1983
Pemain: Mel Gibson,Sigourney Weaver, Linda Hunt 
Sutradara: Peter Weir

3 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Dodol
    #1 Dodol 30 September, 2014, 04:41

    bagus, terimakasih Bang Hendi Johanes

    Reply this comment
  2. Bagus
    #2 Bagus 9 Desember, 2014, 04:07

    Saya usul, gimana kalau kita melobby Hollywood untuk me remake film ini, tapi shootingnya di Indonesia?

    Reply this comment
  3. Sunyoto
    #3 Sunyoto 23 Juni, 2016, 23:04

    Kalau saat sekarang, shooting itu dilakukan di Indonesia saya yakin boleh karena kita tahu bahwa Presiden Jokowi mengijinkan untuk mengungkap sejarah gelap bangsa Indonesia, kalau dahulu era rezim Soeharto untuk membuka sejarah amat sulit dilakukan karena sudah membelokkan fakta sejarah yang sebenarnya

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.