Islam sebagai Dasar Negara

Rp 45.000,00

SKU: SKU-IDN-Nat/I/07/2015 Kategori: Tag: ,

Deskripsi

Umat Islam yang sejak awal menginginkan “Islam†sebagai dasar negara, yang sebelumnya sempat terpukul dengan dihapusnya tujuh kata dalam Piagam Jakarta, kembali bersemangat untuk bertarung mengegolkan Islam sebagai panduan kehidupan berbangsa dan bernegara. Untuk memuluskan langkah tersebut, Masyumi dan NU, dua partai berbasis massa Islam yang menjadi korban kontestan pemilu tahun itu, membentuk “front Islamâ€. Dalam setiap kampanye, dua partai besar itu menyerukan penolakan terhadap paham komunis dan menggusung “Islam†sebagai dasar negara.

Munculnya masalah dasar ideologi negara ini karena Konstituante yang akan dibentuk dari hasil pemilu 1955 ini mempunyai salah satu agenda penting yang akan dibahas, yaitu persoalan dasar negara. Isu inilah yang kemudian menjadi perdebatan panas di Majelis Konstituante yang berlangsung sejak 1956-1959. Dalam sidang tersebut, M. Natsir yang diberi kesempatan berpidato atas nama Masyumi mengatakan, “Bukan semata-mata karena umat Islam adalah golongan terbanyak di kalangan rakyat Indonesia seluruhnya, kami memajukan Islam sebagai dasar negara kita. Tetapi berdasarkan keyakinan kami, ajaran-ajaran Islam dapat mengatur mengenai ketatanegaraan dan masyarakat serta dapat menjamin hidup keragaman atas saling menghargai antra berbagai golongan di dalam negara.†Dengan bahasa indah, Natsir mengatakan bahwa Islam itu, “Kalaupun besar tidak melanda, kalaupun tinggi malah melindungi.

Natsir menambahkan, dasar negara haruslah sesuatu yang sudah mengakar di masyarakat. Realitas sejarah, ujar Natsir, membuktikan bahwa Islam sebagai agama yang dianut mayoritas rakyat Indonesia cukup mengakar di masyarakat. Islam, terangnya, mempunyai sumber yang jelas yang berasal dari wahyu. Tidak seperti Pancasila yang mempunyai banyak tafsiran, tergantung pada pandangan filosofis seseorang.

Senada dengan Natsir, Buya Hamka yang juga ikut dalam sidang Konstituante mengatakan, “Islam adalah dasar yang asli di tanah air kita. Dan pribadi sejati bangsa Indonesia,†tegasnya. Malah, kata Hamka, “Pancasila tidak mempunyai dasar sejarah di Indonesia.†Hamka menjelaskan, sejak abad 19 perjuangan umat Islam untuk kemerdekaan dilatarbelakangi oleh perjuangan untuk menegakkan suatu negara berdasarkan Islam. Perang yang digelorakan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, dan lain-lain untuk mengusir kolonial Belanda, kata Hamka, untuk mewujudkan cita-cita negara Islam. “Kamilah yang meneruskan mereka,†tegas Hamka sambil meyebut orang yng mengkhianati ruh nenek moyang pemimpin terdahulu adalah orang yang menukar perjuangan mereka (para pahlawan-red) dengan Pancaasila.

Additional information

Judul

Islam sebagai Dasar Negara

Penulis

Mohammad Natsir

Penerbit

Sega Arsy

Tahun

2015

Ulasan

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Islam sebagai Dasar Negara”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *