Kapten yang Gugur di Cioray

by Oktober 11, 2017

Mayor Harun Kabir dan sang istri, Raden Ayu Soekrati ( dokumen keluarga besar Harun Kabir)

Cerita tentang kepatriotan seorang  perwira yang namanya diabadikan sebagai jalan di tiga kota

SESUNGGUHNYA nama Harun Kabir bukan nama asing di Bogor, Cianjur dan Sukabumi. Di kota yang saling bertetangga tersebut, sejak 1960-an namanya diabadikan menjadi nama jalan. Namun berbeda dengan di Sukabumi, dua jalan di Cianjur dan Bogor mengalami sedikit masalah. Dengan serampangan, kini pihak Pemkab Cianjur menyingkat nama Jl. Mayor Harun Kabir menjadi  Jl. MH. Kabir, sementara di Bogor, tepatnya di kawasan Cisarua, nama Jl. Kapten Harun Kabir mengalami ketidakjelasan karena sebagian pihak menginginkan nama ruas jalan yang terbujur menuju Taman Safari itu diganti menjadi Jl. Taman Safari.

Siapakah sebenarnya sosok Harun Kabir? Dalam Siliwangi dari Masa ke Masa, sebuah dokumen sejarah yang dikeluarkan oleh Pusat Sedjarah Militer Kodam VI Siliwangi pada 1968, Harun Kabir tercatat sebagai nama seorang mayor yang menjabat Kepala Staf Brigade II Surjakantjana yang membawahi wilayah Sukabumi, Bogor dan Cianjur. Ia merupakan wakil dari Letnan Kolonel Eddie Soekardi pada 1947.

“ Ya memang saya pernah bertugas bersama Harun Kabir pada awal-awal pendirian Siliwangi, tapi hanya sebentar karena saya lantas ditugaskan ke Tasikmalaya,”ungkap Kolonel (Purn) Eddie Soekardi suatu hari kepada saya.

Bukan Orang Cianjur

Di Cianjur sendiri, nama Mayor Harun Kabir kadung ditulis para sejarawan setempat sebagai  pahlawan kelahiran Cianjur. Dalam buku Lalakon ti Cianjur, Luki Muharam menyebutnya sebagai “orang asli Kampung Bojongherang” . Itu terjadi mungkin karena letak Jalan Mayor Harun Kabir yang  berada di wilayah tersebut.

Namun keterangan itu dibantah oleh Hetty Kabir (78). Menurut putri kedua almarhum Harun Kabir itu, sang ayah sejatinya  merupakan putra tunggal dari Rd. Abung Kabir Natakusumah. Ia lahir di Kapatihan, Bandung pada 5 Desember 1910. “ Ayah saya itu asisten residen terakhir Bogor di zaman Hindia Belanda dan waktu Jepang datang, ia berkiprah di Departemen Keuangan di Jakarta,”ungkapnya.

Pasca proklamasi kemerdekaan dikumandangkan pada 17 Agustus 1945, Harun mendirikan Lasykar Ciwaringin 33, sebuah organ perjuangan yang diberi nama berdasarkan alamat rumahnya di Jalan Ciwaringin No.33 Kota Bogor. Pada sekitar tahun 1946, Lasykar Ciwaringin 33 kemudian dilebur ke dalam TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan Harun Kabir didapuk menjadi opsir di lingkungan Brigade II Surjakantjana dengan pangkat mayor. “ Tapi karena adanya kebijakan dari Markas Besar Tentara di Yogyakarta saat itu yang menurunkan satu tingkat pangkat para tentara, maka pangkat ayah saya kemudian menjadi kapten,”ujar Hetty.

Sejak aktif di militer,  hampir dipastikan perhatian Harun Kabir tercurah kepada tugas-tugas yang diembannya dari negara. Otomatis situasi tersebut menjadikannya selalu jauh dari Raden Ayu Soekrati (sang istri) dan ketiga putrinya: Tina, Hetty dan Joice. Tetapi sebagi seorang pemimpin rumah tangga yang baik, Harun selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan keluarganya.

“ Ketemunya biasanya tidak lama, setelah memberikan wejangan dan semangat, lantas memeluk dan menciumi kami satu persatu, ia kemudian kembali lagi bertugas,” kenang  istri dari almarhum Ismet Haroen tersebut.

November 1947, dalam perjalanan mengungsi dari Garut ke Banten, Soekrati  dan ketiga putrinya singgah di  Perkebunan Teh Bunga Melur Takokak, Cianjur. Di sana mereka berjumpa sang ayah yang akan mengadakan rapat dengan Kolonel Kawilirang, Letnan Kolonel Eddie Soekardi dan beberapa perwira tinggi lainnya. Hetty masih ingat, pertemuan mengharukan itu dilakukan suatu siang di bekas kediaman adminisratur perkebunan yang bagian belakangnya hancur terkena bom.

Namun belum tuntas rasa rindu itu tertumpahkan, menjelang maghrib tiba-tiba terdengar suara letusan senjata. Rupanya militer Belanda tahu pertemuan para perwira republik tengah berlangsung di Bunga Melur. “ Setelah menemui kami dan memeluk kami satu persatu, ayah bersama pasukannya lantas bergegas menuju medan pertempuran,” ujar Hetty.

Selanjutnya  kelurga Harun Kabir  bergbaung dengan warga desa dan malam itu juga meninggalkan Bunga Melur menuju tempat yang lebih aman. Sepanjang jalan, Hetty menyaksikan rumah-rumah terbakar akibat dibombardir oleh militer Belanda. Dalam kondisi gelap itu pula, mereka harus melewati jembatan-jembatan yang rusak.hingga  sampailah mereka di sebuah kampung bernama Cioray (masuk dalam wilayah Cianjur).

Di Cioray, mereka bertemu kembali dengan sang ayah. Karena merasa kurang aman dan selalu menjadi incaran militer Belanda, mereka lantas dipindahkan oleh pemuka masyarakat setempat  dari kampung ke sebuah gubuk kecil yang berada di suatu bukit huma milik penduduk.

Ditembak Mati Militer Belanda

Makam sederhana Sang Mayor di pemakaman keluarga di Ciandam, Sukabumi (foto: Helmy Adam)

Pada Rabu malam tanggal 12 November 1947, Harun yang ada dalam kondisi masih sakit karena terserang malaria, mengatakan kepada istrinya bahwa besok pagi ia  akan menemui Letnan Kolonel Alex Kawilarang dan Mayor Kosasih untuk suatu tugas ke Markas Besar Tentara di Yogyakarta. “ Ayah waktu itu menyuruh sepeninggal dia, kami harus kembali bergabung dengan para pengungsi,” ungkap ibu dari delapan anak tersebut.

Namun sebelum niat Harun terlaksana, pada sekitar pukul 04.00 (jadi sudah masuk tanggal 13 November 1947),satu peleton pasukan Belanda mengepung gubuk kecil tempat mereka tinggal. “ Begitu mendengar aba-aba komando dalam bahasa Belanda, ayah bergegas memakai seragam tentara. Ibu dan kami bergantian memeluk dan mencium ayah. Saat itu, saya merasakan detik-detik perpisahan untuk selamanya dengan ayah…”ujar perempuan sepuh yang hobi melukis itu.

Tak lama kemudian, terdengar suara yang menyuruh mereka keluar.Harun keluar sambil tangannya digandeng  Soekrati yang menggendong Joice (4 tahun). Sementara pengawal Harun yakni Letnan Arifin dan Sersan Soekardi serta Hetty (saat itu berusia 11 tahun) dan kakaknya Tina (12) mengikuti dari belakang.

“Kapiten Harun Kabir?” tanya pimpinan pasukan Belanda itu begitu melihat Harun Kabir keluar dari gubuk.

“ Benar!” jawab Harun.

Sersan Belanda itu lantas memerintahkan Harun dan dua pengawalnya untuk berbaris dan memisahkan diri dari Soekarti dan ketiga putrinya. Posisi mereka berhadapan. Masih segar dalam ingatan Hetty, sambil tersenyum penuh ketenangan, Harun masih sempat berbisik menyemangati mereka untuk tetap tegar, tidak takut dan beriman kepada Tuhan.

Beberapa saat kemudian, Hetty mendengar teriakan: rechtsomker (hadap kanan) dan mars (jalan). Setelah itu tiba-tiba terdengar peluru-peluru dimuntahkan. “ Di depan mata kami, mereka membunuh ayah dan kedua pengawalnya…”ujar Hetty sambil terisak.

Usai penembakan tersebut, suasana sekitar hening sejenak. Dalam langkah pelan, Sersan Belanda itu lantas menghampiri Soekarti dan dengan santun berkata: “ Nyonya, ini dalam situasi perang. Suami Nyonya membunuh tentara kami untuk bangsa dan negaranya, kami pun membunuhnya demi bangsa dan negara kami. Harap Nyonya mengerti…” tutur Sersan bule itu dalam bahasa Belanda.

“ Ya, saya mengerti…” jawab Soekarti dalam nada tenang. “ Saya hanya minta tolong kepada Sersan untuk mengangkat jenazah-jenazah itu ke dalam gubuk agar tidak didatangi binatang-bintang buas yang ada di sekitar tempat ini.”

Permintaan itu diiyakan oleh sang sersan. Ia lantas memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mengangkat ketiga jasad itu dan memasukannya ke dalam gubuk. Selesai mengangkat ketiga jasad itu ke gubuk, tentara-tentara itu pun pergi.

Sepeninggal mereka, jasad Kapten Harun Kabir, Letnan Arifin Tisnaatmidjadja dan Sersan Soekardi dimakamkan oleh penduduk setempat di Cioray. Belasan tahun sesudah peristiwa penembakan itu, jasad Harun yang sudah berupa kerangka itu dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Cianjur. Namun tidak lama juga, karena beberapa waktu kemudian kerangkanya dipindahkan lagi ke pemakaman keluarga di Ciandam, Sukabumi. Itu sesuai amanah Harun yang semasa hidup berpesan jika dirinya meninggal agar dimakamkan persis di samping ayahnya: Rd. Abung Kabir Natakusumah. (hendijo)

Related Pahlawan Daerah Articles

Similar Posts From Pahlawan Daerah Category

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.