Melacak Jejak Sejarah Indonesia di Bekasi

by Februari 5, 2017

SEJATINYA peran Bekasi sangat signifikan dalam perjuangan revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949). Berbagai penelitian dan tulisan sejarah banyak menyinggung nama kota ini, terutama pada awal tumbuhnya Republik Indonesia. Demikian pernyataan Dr. dr. Rushdy Hoesein dalam seminar sejarah bertajuk “Bekasi di Masa Revolusi 1945-1949” yang diadakan oleh Historika Indonesia bekerja sama dengan komunitas sejarah Front Bekasi dan Kamasa Bandung pada Minggu (29/1/2017) di Gedung Mudzhalifah, Asrama Haji Kota Bekasi.

Menurut sejarawan yang banyak mengabadikan dokumentasi sejarah itu, pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, geliat revolusi seolah tak pernah berhenti di Bekasi. “ Setelah kehilangan Jakarta, para pejuang Indonesia mundur ke arah timur dan bertahan lama di Bekasi, dari sini perlawanan terhadap Inggris dan Belanda terus dilancarkan secara gencar” ungkap Rushdy.

Pembicara lain, J.J.Rizal, mengamini apa yang dikatakan oleh Rushdy Hoesein. Lebih lanjut sejarawan muda asal Universitas Indonesia (UI) itu bahkan menyebut peran penting rakyat Bekasi dalam sejarah kurang mendapat tempat dalam sejarah nasional umumnya dan sejarah Jawa Barat khususnya. “ Ibarat dokumentasi foto, Bekasi itu foto yang hilang dari album sejarah Jawa Barat,” ujar J.J. Rizal.

Rizal juga menambahkan bahwa tak banyak orang tahu apa pernah terjadi di Bekasi pada masa lampau. Sambil mengutip pendapat sejarawan Jan Breaman, Rizal menyebut sesungguhnya perlawanan terhadap penjajah banyak lahir dari Bekasi. “ Anda tahu, Si Pitung yang terkenal itu ternyata berasal dari Cibarusa, yang ada di Bekasi sini,” ungkap pemilik penerbitan Komunitas Bambu tersebut.

Ahli sejarah Bekasi, Andi Sopandi menunjukan kurangnya pemerintah provinsi Jawa Barat mengakomodir peran penting Bekasi dalam sejarah itu. Menurutnya, dari seribu halaman buku yang bercerita tentang sejarah Jawa Barat, sejarah Bekasi hanya menempatkan 10 halaman. ” Ini kan jelas tidak sesuai dengan kenyataan yang menempatkan Bekasi sebagai kota yang kaya akan kisah sejarah… ,” ungkap Andi.

Seminar yang dipandu oleh jurnalis sejarah Hendi Jo, berlangsung aktif dan dinamis. Usai pemaparan masing-masing pembicara, beberapa peserta terlibat dalam diskusi yang cukup menarik. Salah satunya dari seorang peserta bernama Rachmawati. Sebagai seorang guru sejarah, ia menyatakan “kebingungannya” dengan tiadanya panduan mendalam mengenai suatu kejadian sejarah.

“ Akibatnya, anak-anak di kelas lebih meyakini kisah-kisah yang diceritakan kakek dan neneknya dibanding tulisan-tulisan para ahli sejarah yang ada di buku-buku pelajaean sejarah,” ujar anggota Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP) sejarah itu.

Sayangnya, seminar yang diringi pemutaran film dokumenter tentang Bekasi dan pameran foto “ Bekasi Zaman Perang” itu kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat. Itu dibuktikan dengan ketidakhadiran para pejabat teras dalam seminar yang sebenarnya sangat penting tersebut.

“ Padahal kami tidak menuntut mereka untuk memberikan apapun selain kehadirannya sebagai bentuk perhatian terhadap sejarah Bekasi,” ungkap Benny Rusmawan, salah satu anggota panitia acara seminar itu. [AB/Historika Indonesia].

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.