Melacak Indonesia Lewat Rempah-Rempah

by April 25, 2017

Di dalam kitab Taurat dikatakan bahwa Ratu Syeba selain memberikan ribuan kilogram emas kepada Raja Sulaiman, ia juga menyertakan sejumlah besar rempah-rempah. Dalam Al Quran lebih spesifiknya Surat Al-Insan ayat 6 memuat kata kapur barus sebagai campuran mata air dalam Surga. kapur barus dihasilkan oleh suatu tempat bernama Barus yang terletak di pesisir Sumatera Utara.

Kisah perjalanan rempah terus berlanjut. Segenggam cengkeh ditemukan dalam wadah keramik yang terbakar di gurun pasir Suriah yang kemudian dinamakan situs Terqa. Para ahli mengidentifikasikan usia cengkeh berdasarkan usia tanah liat yang mengubur stus tersebut yaitu 1720 SM. Pada era dinasti Han (206 SM-220 SM) cengkeh menjadi sesuatu yang wajib untuk dikunyah para tamu sebelum menghadap kaisar.

Cerita-cerita ajaib tentang rempah dan negeri penghasilnya terus berlanjut. Di Eropa rempah menjadi simbol status. Toko yang menjual rempah terletak di daerah elit. Orang miskin di Eropa tidak akan sanggup membeli sejumput rempah-rempah untuk menyedapkan makanan mereka. Sementara dalam dunia kesehatan, beberapa jenis rempah seperti pala dan kapur barus dipercaya sangat berkhasiat untuk meyembuhkan penyakit. Reputasi rempah juga merambah sampai pada hal erotis seperti meningkatkan libido dan memperbaiki kesuburan.

Kebutuhan yang mendesak akan rempah memicu ekspedisi penjelajahan lautan oleh bangsa Eropa menuju negeri penghasil rempah yang diselimuti oleh dongeng-dongeng tentang mahluk laut mengerikan yang menjaga perairan. Portugis dan Spanyol yang dikenal sebagai negara penjelajah berlomba menemukan sumber rempah-rempah tersebut disusul oleh Belanda lewat VOC yang bahkan bercokol paling lama di Nusantara.

Catatan panjang mengenai obsesi bangsa Eropa terhadap rempah yang berasal dari Nusantara dan juga jalur-jalur perdagangan yang timbul akibat perdagangan rempah menjadi dasar dikenalkannnya pameran yang berjudul “Jalur Rempah” Sebuah rute lautan yang menjadi lalu lintas para pedagang rempah dari berbagai bangsa untuk bertransaksi. Rute yang teramat penting untuk diabaikan begitu saja dari ingatan anak negeri. Dari semata soal kenikmatan lidah dan perut, perdagangan rempah menjadi gerbang masuknya agama, percampuran budaya sekaligus awal kolonialisme di Nusantara.

Pameran Jalur rempah dari tanggal 13 – 16 April 2017 yang bertempat di Gallery Kantor Pos – Kota Tua Indonesia tepat di sisi kafe Batavia diadakan oleh perkumpulan yang menyebut diri mereka Jaringan Masyarakat Rempah. Memasuki lorong galeri yang berkelok untuk kemudian sampai pada satu ruangan yang juga berfungsi sebagai tempat berdiskusi dengan para narasumber acara tersebut. Dinding kiri kanan difungsikan untuk memajang gambar berbagai macam rempah dan fungsinya. Sebuah peta besar dengan sebaran titik-titik pelabuhan Nusantara pada masa lalu juga dipasang menjadi salah satu titik fokus mata pengunjung.

Bagi yang pernah mengunjungi pameran Jalur Rempah dua tahun yang lalu di Museum Nasional tentu akan melihat keterkaitannya yaitu sama-sama menarasikan perdagangan rempah yang akibat daripadanya menjadi salah satu identitas yang membentuk Indonesia sekaligus memakmurkan negara yang menjajahnya.

Dalam dunia modern, di mana rempah bukan lagi sesuatu yang sulit diperoleh walaupun tetap dibutuhkan dalam keseharian maka dari itu harus diberikan nilai tambah. Riset menjadi sesuatu yang penting. Indonesia membutuhkan banyak teknologi pengolahan rempah untuk menjadikan rempah sebagai produk ekspor dalam bentuk yang berbeda. Dari data Kementerian Perdagangan tercatat rempah dan tanaman obat masih masuk dalam daftar 10 komoditi potensial. Namun Indonesia bukan lagi pengekspor nomor satu di dunia.

Sonny Wibisono dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional memaparkan agribisnis di kerajaan Banten. Kerajaan Banten sebagai produsen lada yang penting di abad 17. Kekayaan dari hasil produksi lada dapat digunakan untuk membangun kota dan pelabuhan yang kaya. Tercatat pemukiman orang asing dari berbagai bangsa pernah ada di kerajaan Banten. Sentra-sentra perkebunan lada berada di daerah pedalaman yang sampai sekarang masih bisa ditemui seperti yang berada di wilayah Mandalawangi, Pandeglang.

Tercatat penanaman lada secara masif ternyata membuat Banten kekurangan tanaman pangan sehingga Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan untuk membuat saluran irigasi untuk mengairi sawah dan menggiatkan kembali penanaman padi. Saat harga lada turun tanaman lada menjadi tak terurus kemudian terlupakan sampai sekarang. Di Banten sudah tidak banyak yang ingat soal bertanam lada. Tahun 2010 bahkan Vietnam menggungguli Indonesia sebagai pengekspor lada.

Pesan yang disampaikan adalah penting bagi Pemerintah untuk memproteksi perdagangan rempah-rempah. Termasuk agar berhati-hati agar turis asing yang berkunjung ke Indonesia tidak seenaknya lagi memetik dan membawa keluar spesimen tumbuhan kita tanpa ijin

Muatan kapal yang tenggelam di perairan Nusantara pun menampilkan kisah sendiri tentang perdagangan rempah. Naniek Harkatingsih, arkeolog dengan spesialisasi bidang keramik kuno membagikan pengalaman dalam eskavasi kapal-kapal kuno yang berhasil ditemukan. Ditemukan semacam batu pipisan beserta penggilingnya. Batu pipisan ini diduga digunakan untuk menggerus rempah-rempah

Yang tak terlewatkan tentu kaitan rempah dengan aktivitas seksual sehingga timbul pertanyaan yang menyengat apakah khasiat rempah hanya untuk memenuhi kebutuhan lelaki. Sesuatu yang akhirnya menjadi perdebatan sendiri dalam sesi tanya jawab.

Dari rempah dihasilkan banyak hal yang menyangkut identitas ke-Indonesiaan kita. Beragam jenis rempah yang tumbuh di negeri ini adalah sama halnya dengan keberagaman identitas yang seharus dijaga dengan baik sehingga tidak mudah dipecah belah oleh pihak luar.

[penulis : Gemala Putri | sumber : lacaksejarah.com | foto: istimewa ]

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.