TNI Bule

by Agustus 21, 2014

Kisah seorang serdadu muda Belanda yang mengikuti kata hatinya dan bergabung dengan para gerilyawan Siliwangi untuk memerangi bangsanya.

JC PRINCEN. (foto:dokumentasikeluarga)

JC PRINCEN. (foto:dokumentasikeluarga)

JAKARTA, 20 November 1995. Rumah Makan Mirasari di kawasan Kemang dipenuhi ratusan manusia  malam itu. Udara agak lembab. Mendung bergayut. Sementara sebagian bintang terlihat berkelip malu-malu, ditingkahi embusan angin yang menjadikan barisan panji iklan rokok di jalanan menari-nari.

Di satu sudut ruangan, seorang lelaki bule dan berkursi roda duduk dengan tenang.Bibirnya tersenyum, membalas setiap sapaan dan ucapan selamat ulang tahun (yangke-70) dari orang-orang kepadanya. Saya dan beberapa kawan dari PIJAR Indonesia termasuk yang antri untuk menyalaminya.

PIJAR adalah kependekan dari Pusat Informasi Jaringan Aksi untuk Reformasi. Itu adalah sebuah nama organ semi LSM yang pada 1990-an dijadikan kendaraan untuk melawan kekuasaan tiran Soeharto oleh sebagian aktivis muda dan mahasiswa.

Begitu berhadapan dengan lelaki tua itu, Beathor Suryadi (senior saya di PIJAR) buru-buru mengenalkan saya kepadanya: “Selamat ulang tahun, Poncke. Oh ya,kenalkan ini anak PIJAR baru. Dia katanya nanti mau wawancara Anda sedikit buat Majalah Politika UNAS.” Orang tua itu tersenyum, mengangguk ramah. Terasa tangan kanannya agak goyah saat saya menyalaminya.

Bagi Poncke, sudah pasti saya bukan siapa-siapa. Tapi bagi saya,Poncke ibarat legenda sejarah. Namanya bukan saja sudah saya kenal sejak remaja dari buku-buku dan media massa, tapi juga dari nenek saya yang pernah tahu sepak terjang Poncke selama menjadi prajurit Siliwangi di Cianjur dan Sukabumi.Siapakah sebenarnya lelaki bule bernama lengkap Haji Johanes Cornelis Princen itu?

JAKARTA 64  TAHUN YANG LALU. Hujan besar mengguyur Pelabuhan Tanjung Priok, saat Kapal Laut MS.Sloterdijk dari Belanda merapat di mulut dermaga. Begitu kapal berhenti, ribuan serdadu muda berseragam loreng lengkap dengan ransel dan senjata, bergegas menuruni tangga kapal. Sebagian di antaranya clingak clinguk memperhatikan suasana di sekitar pelabuhan.

Diantara ribuan serdadu itu, tersebutlah Johanes Cornelis Princen, pemuda 21 tahun asal Den Haag. Sebagai seorang anak muda yang melek politik, Princen sebenarnya sangat sadar bahwa sebuah hal yang sangat memalukan bagi bangsanya mengirimkan ribuan tentara ke seberang lautan, semata-mata hanya untuk menindas sebuah bangsa yang ingin merdeka.

“Sangat mengerikan mengetahui kenyataan bahwa kami tak berbeda dengan orang-orang Jerman yang dulu pernah menindas kami,” ujar lelaki yang pada awal 1940-anpernah bergabung dengan kaum partisan Belanda penentang Nazi tersebut. Lantas kenapa ia datang ke Indonesia sebagai seorang serdadu?

Ceritanya,saat ia menjalani pelatihan militer di Ede, tiba-tiba ia diberitahu sang atasan bahwa sebentar lagi akan dikirim ke Indonesia untuk menumpas para “ekstrimis”. Alih-alih menerima perintah tersebut, ia  malah lari ke Nice –sebuah kota kecil di Prancis– dan memilih menjadi seorang pengamen di sana.

Di Nice, Princen berpacaran dengan Els, seorang  perempuan Yahudi. Dari kontak emosionalnya dengan bekas buronan Nazi itulah ia semakin yakin kepada sikap anti penindasannya. Bahkan lebih dari itu, Els justru mendorong Princen untuk “bertindak lebih nyata” terhadap sikapnya yang anti pengiriman militer Belanda ke Indonesia.

“Mengapa kamu tidak melakukan sesuatu? Mengapa kamu memilih untuk lari ke sini?” ujar Els seperti yang dituturkan Princen kepada Hanna Rambe dan Peter Schumacher dalam Princen, Orang Tanpa Cap.

Tak dinyana oleh siapapun (termasuk mungkin pada awalnya oleh Princen sendiri),dalam perkembangan selanjutnya  Princen benar-benar “bertindak lebih nyata” (dan gila) dibanding para serdadu lain yang sama-sama anti pengiriman militer Belanda ke Indonesia: ia membelot ke pihak Indonesia dan memutuskan bertempur dengan kawan-kawannya sendiri sesama serdadu Belanda!

Tahun 1948, Princen bergabung dengan Batalyon Kala Hitam Divisi Siliwangi yang saati tu sedang hijrah di daerah Jawa Tengah. Menurut Kemal Idris, begitu resmi menjadi bagian Siliwangi di Pati, Princen langsung ikut long march Divisi Siliwangi untuk kembali ke Jawa Barat.

Pada mulanya, mantan Panglima Komando Daerah Militer Siliwangi tersebut mengaku ragu, Princen akan bisa

DI CISARUA. Saat menjadi menjalani tahanan di penjara tentara Cisarua (foto:dokumenkeluarga)

DI CISARUA. Saat menjadi menjalani tahanan di penjara tentara Cisarua (foto:dokumenkeluarga)

mengikuti perjalanan kurang lebih 900 km nan penuh marabahaya itu. “Saya malah sempat menawarkan kepadanya untuk kembali  ke kesatuannya di militer Belanda.“ Tapi apa jawabnya?

“Aku telah katakan A, jadinya sekarang aku katakan juga B dan jika perlu aku katakan sampai semua aksara, jadinya aku ikut berangkat!”ujar Princen seperti yangdikatakannya kepada Joyce van Fenema dalam Kemerdekaan Memilih

Sepanjang mengikuti long march Siliwangi itulah, Princen menyaksikan semangat dari sebuah bangsa yang benar-benar ingin merdeka. Ia pun semakin yakin terhadap pilihannya. “…Dua setengah bulan menyusuri jarak 900 km dengan kaki telanjang dan melihat desa-desa dibakar pesawat Belanda, meyakinkanku bahwa kecanggihan dalih-dalih, tentara terlatih, kesombongan, gengsi diri berlebihan adalah sebab dari semua pembunuhan itu berlangsung…,”tulisnya dalam Gerilya yang Tak Pernah Selesai.

Kesetiannya terhadap Siliwangi menjadikan Princen lambat laun semakin dipercaya oleh seluruh anggota pasukan. Terlebih sikap Princen yang supel dan suka humor membuat ia populis di kalangan para pengikut long march. Ada sebuah cerita lucu, setiap Princen mandi, tiba-tiba sungai menjadi penuh orang, perempuan maupun lelaki. Mengapa?

Selidik punya selidik, ternyata,” Mereka rupanya ingin tahu seberapa besar sih “keperkasaan”  lelaki Belanda ini,”ujar Princen sambil tertawa.

 

SUATU HARI di tahun 1989, saat membahas pengalaman hidupnya di zaman Perang Kemerdekaan, Hajah Yoyoh Aisyah pernah bercerita kepada saya. Dari suaminya,almarhum  R.Thosin Hidayat –seorang perwira Siliwangi yang saat itu beroperasi di kawasan Cianjur dan perbatasan Sukabumi—ia pernah mendengar hikayat seorang “TNI Bule” yang banyak membuat kewalahan pihak militer Belanda. “Namanya Persen (maksudnya Princen),”kata orang tua yang tak lain nenek saya itu.

Cerita nenek saya tersebut memang benar adanya. Selama kurun 1948-1949, Princen dan pasukannya, banyak merugikan militer Belanda di kawasan Cianjur dan Sukabumi.Bukan saja nyawa tapi juga persenjataan. Dalam setiap operasinya, takjarang Princen “berhasil” menipu militer Belanda dan konco-konconya. Caranya dengan pura-pura menjadi “tentara Belanda”.

Seperti yang terjadi pada 28 Maret 1949. Saat itu, pasukan Princen berhasil menaklukan–dengan tanpa satu pun peluru keluar satu peleton Poh An Tui (milisi orang-orang Cina bentukan Belanda) di sebuah pabrik di kawasan Padaasih,Sukabumi.

SILIWANGI BULE. Saat menjadi komandan kompi Pasukan Istimewa Siliwangi pada 1950 (foto:dokumenkeluarga)

SILIWANGI BULE. Saat menjadi komandan kompi Pasukan Istimewa Siliwangi pada 1950 (foto:dokumenkeluarga)

“Dengan modal seragam hijau mirip seragam tentara Belanda, aku dengan 2 pengawalku mendatangi pabrik itu, dan berteriak: “inspeksi kemanan, bariskan semua dan kosongkan senjata!”, mereka terkecoh dan lumayan beberapa karaben dan satu bren berhasil kami rampas,”tutur Poncke sambil terkekeh.

Namun tak jarang, para gerilyawan yang dipimpinnya terlibat kontak senjata yang seru dengan pasukan Belanda. Salah satu pertempuran yang ia anggap paling seru adalah saat ia harus menghadang serangkaian kereta api yang mengangkut serombongan polisi Belanda di Stasiun Gandasoli (sebuah halte dekat terowongan Lampegan di  wilayah Kabupaten Cianjur).

Princen berkisah, begitu kereta api berhenti, salah seorang anak buahnya muncul dari balik rimbunan pohon dan dengan senjata terkokang lari menghampiri komandan jaga seraya berteriak: “Ini adalah penyergapan! Jika kalian melakukan apa yang kami perintahkan maka tak akan terjadi malapetaka!”

Princen kemudian muncul dan memerintahkan anak buahnya untuk mengosongkan kereta api dari penumpang sipil serta menjaga setiap pintu dengan senjata siap tembak. Saat proses inilah, seorang polisi Belanda nekat meloncat dari jendela kereta api dan… Dor! Tanpa ba bi bu lagi, sebuah karaben menyalak dan membuat polisi itu terkapar tewas.

Mendengar suara tembakan tersebut, serta merta masinis kereta api panik dan menjalankan secara tiba-tiba kereta apinya. Seiring laju kereta api, granat-granat tanganpun berhamburan. “Hasilnya satu polisi Belanda mati, dan satu senjata berhasil kami rampas,”ujar Poncke.

Pamor dan aksi-aksi Princen menjadikan militer Belanda semakin geram kepadanya. Konon NEFIS (intelejen militer Belanda) menjanjikan imbalan kepada siapa pun yang dapat menangkap Princen hidup atau mati. Ratusan telik sandi pun disebar di kawasan tempat gerilya Princen. Lelaki dari Den Haag itu tiba-tiba menjadi buruan nomor satu bangsanya sendiri.

JULI 1949. Mayor Jenderal E.Engels (Panglima Tentara Belanda di Jawa Barat) menulis sebuat surat kepada Panglima Tentara Keraajaan Belanda di Indonesia: Letnan Jenderal D.C Buurman van Vreeden. Isinya: janji untuk “membereskan” disertir Kopral.JC.Princen, sebelum gencatan senjata berlangsung pada akhir Agustus 1949.

Surat rahasia itu sempat bocor ke pers dan sempat memunculkan upaya kontra intelejen dari TNI dengan meniupkan isu kematian Princen dan kepergiannya ke Australia.NEFIS tak bergeming, kepada surat kabar Sin Po, mereka bilang: “Desas-desus itu hanya tipu-tipu gaya TNI saja guna melindungi Princen dan mencegahnya dari tuntutan.”

Maka pada 4 Agustus 1949, dibentuklah sebuah unit khusus pemburu Princen dari KST (Kopassus-nya Angkatan Darat Belanda), dengan pimpinan Letnan Henk Ulrici. Empat hari kemudian,secara diam-diam dan menyamar sebagai anggota TNI, unit khusus yang berjumlah 60 prajurit  itu bergerak dari Stasiun Lampegan dengan menyisir kawasan Cibeber.

“Mereka memakai ikat kepala merah dan bersenjata lengkap,”ujar Kapten Saptadji, salahseorang dari bagian intelijen Siliwangi kepada Princen.

Berbekal info dari Kapten Saptadji itu, bersama satu peleton pasukannya, Princen malam harinya pergi ke Cilutung untuk menembakan peluru-peluru sinyal cahaya ke arah selatan. Tujuannya, memancing pasukan Ulrici untuk memulai penyerangan. Gagal. Akhirnya karena lelah dan lapar, pasukan Princen kembali ke basis, sebuah gubuk bambu yang ada  di kawasan Perkebunan Teh Gunung Rosa.

Untuk mengantisipasi serbuan, Princen memerintahkan anak buahnnya untuk menggali lubang-lubang penembak dan mengambil posisi di dalamnya. Setelah menikmati ayam goreng yang dimasak Odah (perempuan Sunda yang diperistrinya), Princenmenyusul  Odah yang sudah tertidur di atas sehelai tikar.

Waktu terus berjalan. Subuh pun tiba. Princen terbangun dan melangkah ke arah beranda bangunan. Begitu tangannya mencapai daun pintu, serentetan tembakan tiba-tiba terdengar. “He Setan! Jangan main-main kalian,”Princen mengira tembakan itu datang dari salah seorang anak buahnya yang tengah iseng.

Teriakan Princen justru disambut dengan lemparan granat ke arahnya.Refleks,dia menjatuhkan diri ke lantai dan merayap secepatnya ke jendela pada dindingbelakang, menciutkan badan dan secepatnya bergerak lewat jendela. Sementara tembakan semakin gencar.

“Aku memberi komando agar semua pasukan mengikutiku untuk mendaki sebuah bukit kecil di belakang rumah.”Dari sana,Princen berharap bisa mendapatkan posisi cantik untuk menghabisi pasukan Ulrici. Namun, sayup-sayup, ia mendengar perintah penghentian tembakan dalam bahasa Belanda.

Lantas dengan gerak memutar untuk mencapai jalan kecil yang mengarah ke jalan besar,Princen bergerak memotong

MUSUH ORBA. Princen saat menjadi advokat HAM pada era rezim Orde Baru (foto:dokumenkeluarga)

MUSUH ORBA. Princen saat menjadi advokat HAM pada era rezim Orde Baru (foto:dokumenkeluarga)

laju gerak pasukan Ulrici.Namun terlambat,mereka  sudah bergerak mundur agak jauh. Akhirnya, Princen memutuskan untuk kembali ke gubuk dan… Menyaksikan Odah, perempuan yang baru beberapa bulan diperistrinya itu, kepalanya hancur terkena hantaman sebuah peluru kaliber besar.

Princen tertegun. Sebuah perasaan ngilu,seperti sebilah bayonet yang mengerat hatinya secara perlahan. “Sampai saat ini, wajahnya masih terbayang dan membuat jiwaku selalu terluka.Memang tadinya aku pikir sudah berlalu, tapi ternyata belum…”ujarnya.

Rumah Makan Mirasari di kawasan Kemang sudah mulai sepi  malam itu. Udara semakin lembab. Mendung kini tertumpah sebagai hujan rintik-rintik. Poncke alias Haji Johanes Cornelis Princen terdiam. Kemudian gerilyawan tua itu tersenyum dan mengucapkan pamit untuk pulang. “Terimakasih ya,”ucapnya dalam nada pelan.(hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.