Terbunuh di Barat Jawa

by Juli 26, 2014
PEMAKAMAN DUA WARGA AS. Upacara pemakaman Kennedy dan Doyle di Pekuburan Pandu, Bandung pada 30 April 1950, dihadiri oleh utusan dari Konsul AS (dokpribadi)

PEMAKAMAN DUA WARGA AS. Upacara pemakaman Kennedy dan Doyle di Pekuburan Pandu, Bandung pada 30 April 1950, dihadiri oleh utusan dari Konsul AS (dokpribadi)

Kisah kematian seorang jurnalis dan seorang profesor asal Amerika Serikat yang terselubung misteri hingga kini

PERBATASAN SUMEDANG-CIREBON, 29 April 1950. Dua mayat warga ekspatriat itu teronggok begitu saja masing-masing di atas brancard. Beralaskan tikar pandan sederhana, tubuh-tubuh yang terbujur kaku tersebut ada dalam kondisi menggenaskan: dipenuhi tanah, darah kering serta luka menganga masing-masing di bagian kepala dan dada akibat tembusan dua peluru.

“…Mereka terbunuh karena tembakan dari jarak dekat…” demikian tulis The Day (sebuah koran Inggris) dalam suatu laporannya pada Senin, 1 Mei 1950.  Siapa mereka?

Pihak Corps Polisi Militer Djawa (CPMD) melansir mereka sebagai warga negara Amerika Serikat (AS). Yang paling tua bernama Raymond Kennedy (43), professor antropologi dari Yale University. Sebagai seorang akademisi yang pernah menulis 3 buku etnologi Indonesia, ia dikenal sebagai akademisi AS yang pro terhadap perjuangan Indonesia saat berhadapan dengan Belanda.

Mayat  yang usianya lebih muda diidentifikasi sebagai Robert Doyle (31), jurnalis majalah Time dan Life, dan baru saja menghabiskan tahun kedua menjabat Kepala Biro Hongkong. Sebelum menjadi jurnalis, lelaki kelahiran Chicago itu dikatakan pernah berdinas sebagai perwira senior intelijen militer AS, “ Dia pernah mengabdi sebagai seorang letnan di Angkatan Laut AS pada era perang,” tulis koran terkemuka AS The New York Times pada 29 April 1950.  Doyle sendiri bergabung dengan Time terhitung sejak 1947.

Berangkat dari Bandung

Dua hari sebelumnya…

Pusat kota Bandung di pagi hari nan sejuk itu dibelah sebuah jeep yang meluncur cepat meninggalkan Hotel Savoy Homan menuju arah timur kota.  Dari warna kulit dan perawakannya, sekilas saja orang akan tahu jika kedua orang yang ada di dalam jeep tersebut bukanlah orang pribumi. Memang betul, yang duduk di belakang kemudi adalah Raymond Kennedy sedangkan yang santai di sebelahnya adalah Robert “Bob” Doyle.

Kennedy dan Doyle saat itu rencananya akan ke Yogyakarta. Mereka berdua memilik  tujuan yang sama:melakukan penelitian sekaligus investigasi. Namun jika Kennedy ( ia disebut-sebut sudah setahun menetap di Indonesia), memiliki niat menulis tentang pengaruh peradaban Barat  terhadap masyarakat Indonesia, Doyle berencana menghimpun informasi soal tanggapan petani-petani sepanjang Bandung-Yogyakarta  mengenai kondisi Indonesia pasca perang melawan Belanda.

Dalam buku catatan jurnalisnya yang ditemukan polisi dari tubuhnya, Doyle memuat beberapa pertanyaan yang termasuk sensitif saat itu. “ Diantaranya serangkaian pertanyaan wawancara yang berkait dengan “Westerling” dan sesuatu yang menakutkan dengan sebutan “APRA,” demikian menurut Mahandis Y.Thamrin dalam situs National Geographic Indonesia (NGI) edisi Jumat, 2 Agustus 2013 dalm sebuah tulisan berjudul: Investigasi: Tewasnya Jurnalis TIME di Jawa 1950.

Kapitan Westerling adalah nama seorang perwira militer Belanda yang dikenal sebagi penjagal berdarah dingin saat terjadi Perang Kemerdekaan (1945-1949). Usai perang ia diserahi tugas sebagai pimpinan Korps Speciale Troepen (KST), sebuah kesatuan komando khusus yang menjadi  garda terdepan dalam Angkatan Perang Ratu Adil (APRA). Itu adalah sebuah gerakan makar yang dipimpin Westerling terhadap pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS) pada Januari 1950 di Bandung.

Dalam buku Siliwangi dari Masa ke Masa (1968), disebutkan, usai pemberontakan APRA digagalkan oleh pasukan Siliwangi, satuan-satuan KST melakukan gerakan mundur ke luar kota Bandung. Sebagian dari mereka kemudian mendirikan pos-pos kecil sepanjang Sumedang-Cirebon.

Tewas Di Perbatasan Sumedang-Cirebon

Sebelumnya, tak ada kawan-kawan Kennedy dan Doyle yang menyangka jika perjalanan riset dan reportase kedua bule AS itu ke Yogyakarta akan mengantar mereka ke pintu kematian. Hal itu terbukti dengan tidak adanya “peringatan” dari pihak Kedutaan Besar AS di Jakarta saat mereka bergerak meninggalkan Jakarta menuju Bandung pada Rabu, 26 April 1950.

Setelah semalam menginap di Bandung, pagi harinya Kennedy dan Doyle bergerak ke Yogyakarta. Lepas dari Bandung dan kawasan Cadas Pangeran, mereka tak menemukan kejadian apa-apa. Kecuali sebuah sedan biru yang menurut pemberitaan Kantor Berita Belanda Algemeen Nieuws-en Telegraaf-Agentschap (ANETA), terus membuntuti mereka sejak keluar dari Hotel Savoy Homan.

Pagi menjelang siang saat jeep yang ditumpangi dua warga AS itu melewati Sumedang. Di jalan

JASAD DOYLE.  Kepalanya tertembus 2 peluru dari senjata kaliber besar (dokpribadi)

JASAD DOYLE. Kepalanya tertembus 2 peluru dari senjata kaliber besar (dokpribadi)

aspal yang dikawal perbukitan hijau antara Kecamatan Cimalaka dan Kecamatan Tomo (ada di perbatasan Sumedang-Cirebon), tiba-tiba sekitar 4-5 orang Maluku bersenjata mencegat mereka.

Kelompok kecil berseragam hijau itu lantas menyuruh mereka turun dari jeep lantas menggiring mereka berdua menuju hutan yang berada di sisi jalan. ” Mereka lalu dihabisi dengan serentetan tembakan sten-gun…” demikian menurut berita yang diturunkan The Day, New London pada 1 Mei 1950 dan Kantor berita Associated Press (selengkapnya lihat “Prof. Kennedy, Murder Victim Buried in Java,” The Day, New London, May 1, 1950 dan “Time Writer, Yale Professor Are Found Murdered In Java,” A.P., Jakarta, U.S.I.)

Demi melihat aksi sadis itu, penduduk pun tak bisa berbuat banyak. Di bawah ancaman moncong senjata para pembunuh itu, mereka lantas menguburkan jasad Doyle dan Kennedy. Usai penguburan, dengan menggunakan jeep dan sedan, orang-orang bersenjata tersebut langsung kabur ke arah Cirebon.

Sebelum melarikan diri, mereka sempat meminta para penduduk setempat untuk tidak melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib. “ Atau kami akan kembali ke sini dan membakar kampung kalian!”gertak salah satu dari mereka.

Namun nyatanya, para penduduk kampung tak menghiraukan ancaman orang-orang bersenjata tersebut. Alih-alih ketakutan dan diam membisu, mereka justru melaporkan kejadian itu ke pos tentara terdekat. Atas dasar laporan itu kemudian, besoknya sekelompok tentara dari Siliwangi bergerak ke bekas tempat kejadian perkara dan dibantu para penduduk menggali kembali kuburan kedua bule malang tersebut.

Aparatur keamanan Indonesia lantas membawa kedua jasad itu ke Bandung dan membuat laporan kepada Letnan Kolonel F.Day, seorang peninjau militer Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) asal Inggris yang tengah bertugas di Bandung. Lewat Letnan Kolonel F. Day inilah berita kematian Doyle dan Kennedy diterima oleh Kolonel Karl Hisgen, peninjau PBB asal AS. Hisgen kemudian meneruskan berita duka itu ke Kedutaan Besar AS di Jakarta.

Dibunuh KST?

Kematian Kennedy dan Doyle membuat geger dan marah para pejabat Indonesia. Kepada keluarga korban, Perdana Menteri RIS Mohamad Hatta menyatakan rasa berduka atas meninggalnya orang-orang yang disebutnya sebagai sahabat sekaligus para saksi kelahiran Indonesia tersebut.

Di hadapan media, Hatta juga menjanjikan akan mengintruksikan aparat keamanan Indonesia untuk menangani kasus itu secara tuntas. “(Kami berjanji) tidak akan menelantarkan, sampai kejadian misterius dan menyedihkan ini terungkap dan para pelakunya dibawa ke pengadilan,”demikian seperti dikutip situs NGI. Lantas siapa sesungguhnya pelaku pembunuhan tersebut?

Kendati media-media Barat  cenderung mengarahkan pelaku  kepada kelompok Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII), saya cenderung mencurigai pembunuhan kedua warga negara AS itu adalah para prajurit KST, sisa-sisa para pemberontak APRA.

Ada dua hal yang mendasari asumsi tersebut. Pertama, saat menelusuri jejak-jejak peristiwa itu ke Cimalaka dan Tomo 4 bulan lalu, saya mendapat informasi dari Kasim (80), sesepuh di Tomo yang masih tersisa, bahwa pada tahun 1950, jalur Cimalaka-Tomo memang merupakan  sarang “serdadu-serdadu Belanda berbaret hijau”, ciri khas pasukan KST. “ Saya tidak tahu bahwa pernah ada kejadian seperti itu, tapi bahwa di jalur Cimalaka-Tomo banyak berdiri pos-pos pasukan baret hijau Belanda (KST) pada sekitar tahun 1950, seingat saya itu memang benar,”ujar kakek yang pada 1950 masih berumur sekitar 16 tahun itu.

Kedua, sebagai seorang akademisi yang dinilai pro Indonesia dan selaku jurnalis yang ingin mengabarkan sikap sesungguhnya dari rakyat Indonesia terhadap Belanda,  Kennedy dan Doyle bisa jadi dianggap seolah duri penghalang. Bahkan media-media Barat menyebut Kennedy dalam suatu tulisannya pernah mengecam Belanda yang dinilainya telah melakukan praktek kejahatan perang di Indonesia. Terutama yang terkait dengan sepak terjang para prajurit KST pimpinan Kapitan Raymond Westerling.

Kecurigaan saya ini berkelindan dengan pendapat Alexander Marschack. Dalam sebuah tulisannya (lengkapnya lihat di Alexander Marschack, Unreported War in Indonesia dalam The American Mercury 1952, halaman 37-47), jurnalis AS yang kemudian menginvestigasi insiden tersebut menyebut Kennedy sebagai orang asing yang dinilai terlalu banyak tahu “rahasia militer Belanda” di Indonesia. Terlebih soal Pemberontakan APRA yang belakangan disinyalir melibatkan juga Pangeran Bernhard, suami Putri Mahkota Belanda Juliana yang konon sangat berambisi menjadi Raja Muda di Hindia Belanda.
Ketiga, keberadaan sedan biru yang dilansir media-media Barat terus membuntuti mobil yang dikendarai Kennedy dan Doyle hingga detik-detik kematian mereka merupakan indikasi bahwa ada permainan telik sandi yang rapi dan terencana terkait pembunuhan kedua warga AS itu. Siapa yang memiliki sistem telik sandi yang rapi kalau bukan suatu organisasi tentara?

Misteri Sejarah yang Terselubungi

Foto lawas milik almarhum Mayjen (CPM) Roeshan Roesli (salah satu sesepuh Corps Polisi Militer di Jawa Barat)  itu berbicara banyak. Dalam suasana yang nampaknya hening, seorang pendeta tengah memimpin sebuah upacara pemakaman yang dihadiri beberapa warga asing dan pribumi. Sementara itu di tengah kumpulan tersebut, dua peti mati berselubung The Stars and the Stripes (bendera kebangsaan AS) terbujur kaku, menyiratkan rasa duka dan kehilangan.

Itulah dokumentasi gambar (mungkin) satu-satunya dari suasana upacara pemakaman  Raymond Kennedy dan Robert “Bob” Doyle di Pemakaman Pandu (saat  ini terletak di sisi jalan tol Pasteur-Pasopati Bandung), pada Minggu, 30 April 1950.

“ Sebuah upacara pemakaman sederhana yang dihadiri oleh para pejabat setempat, perwakilan PBB dan para staf Kedubes AS di Indonesia,” tulis The Day dalam satu tulisan (berjudul: Prof. Kennedy Murder Victim Buried in Java) yang diturunkan sehari setelah pemakaman berlangsung.

Hingga kini janji Hatta menuntaskan kasus pembunuhan dua warga AS itu tak jua terwujud. Alih-alih terjawab siapa pelaku dan apa motivasi pembunuhan itu, cerita kecil dari perjalanan sejarah bangsa ini bahkan nyaris luput dari sejarah kita.Seperti halnya banyak kisah-kisah lainnya… (hendijo)

 

 

2 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Johans
    #1 Johans 27 Juli, 2014, 03:39

    Satu hal lagi yg menarik untuk ditelusuri, mengapa keduanya dimakamkan di Bandung, bukan dibawa pulang ke Amerika, spt laziimnya warga negara Amerika yg meninggal krn konflik di luarnegri

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.