Sukarno, Marilyn Monroe dan CIA

by Juli 3, 2014
Sukarno dan Monroe saat mereka bertemu di AS (foto: Majalah LIFE)

Sukarno dan Monroe saat mereka bertemu di AS (foto: Majalah LIFE)

Kecintaan  Sukarno terhadap kaum Hawa dimanfaatkan intelijen Amerika?

TAK ADA satu pun yang menampik bahwa Sukarno adalah seorang pecinta perempuan sejati. Hal itu bahkan diakuinya sendiri kepada Cindy Adams (penulis otobiografi Sukarno): “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, ujarnya .

Selain mengagumi Sun Yat Sen, Karl Marx dan para tokoh pemikir lainnya, Sukarno pun sangat gandrung akan perempuan-perempuan cantik seperti Gina Lollobrigida. Saat pers Barat mencemoohnya sebagai “Don Juan from Asia” karena mengunjungi artis Italia kenamaan itu secara khusus kala berkunjung ke sana pada Oktober 1964, Sukarno berkilah: “Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, katanya.

Artis dunia lainnya yang pernah bikin heboh karena pertemuannya dengan Sukarno adalah Marylin Monroe. Itu terjadi berkat andil Joshua Logan, sutradara film “Bus Stop” yang diperani oleh Marilyn. Logan bertemu Sukarno saat Si Bung itu mengunjungi dan bertemu sekitar 200 pekerja film di Hollywood.

Untuk menghormati kedatangan Sukarno dan rombongan, malam harinya, Eric Allen Johnston (Presiden Motion Picture Association of America) membuat perhelatan di The Beverly Hills Hotel. Sebenarnya Marilyn tak diundang dan dijadwalkan datang ke pesta itu. Tetapi saat syuting film “Bus Stop” dia diajak Joshua Logan. “Saya ingin kau menemui sahabat saya nanti malam”, bujuk Logan kepada Marilyn. Tanpa ragu Marylin mengiyakan permintaan Logan. Padahal esok harinya dia akan berulang tahun ke 30 dan harus terbang malam itu juga ke New York untuk suatu acara.

Datanglah Marilyn ke pesta tersebut. Dengan gaun gelap berleher panjang-nya, Marilyn seolah menghidupkan suasana pesta. Selain Marilyn, hadir juga para actor terkenal lainnya termasuk Gregory Peck, George Murphy (kelak menjadi senator) dan Ronald Reagan (kelak menjadi presiden AS).

Kehadiran Marilyn benar-benar bak magnet bagi semua orang yang hadir di acara tersebut. Tak terkecuali bagi Sukarno. Saat mengetahui kedatangan Marilyn, dengan gaya seorang gentleman , ia menghampiri artis blonde tersebut. Mereka bertemu dalam suasana akrab hampir selama 45 menit. Layaknya seperti dua sahabat yang lama yang tak bertemu. Momen itu tak disia-siakan oleh para fotografer Amerika dan Indonesia.

Marilyn dengan basa-basi mengatakan bahwa dia menyesal tak diundang ke pesta itu. Namun Sukarno tak peduli dia diundang atau tidak, asalkan sudah bertemu dengannya.

“Tujuan saya datang ke Amerika antara lain untuk menemuimu”, kata Sukarno.

Pertemuan Marilyn dengan Sukarno meninggalkan beberapa kisah menarik yang berkembang melampaui batas-batas fakta sebenarnya. Dalam buku Goddess The Secret Life of Marilyn Monroe, yang ditulis Anthony Summers ada bagian yang menyebut tentangaffair yang terjadi diantara dua legenda itu, yang menurut Dr. Lambert Giebel (penulis bukuSoekarno, 1901-1950 dan Soekarno, 1950-1970), sangat sulit dikonfirmasikan apalagi untuk dibenarkan.

Sang perantara pertemuan itu yakni Joseph Logan sendiri seolah membiarkan spekulasi sensitif beredar di kalangan pers dengan menyatakan “Saya pikir mereka berdua melakukan pertemuan lanjutan setelah pesta itu”, katanya.

Namun yang jelas, pertemuan antara Sukarno dan Marilyn Monroe tersebut menuai isu kencang di kalangan pejabat elite AS. Ya wajar saja, karena Sukarno dikenal sebagai seorang ‘pemuja perempuan’ sementara bintang Hollywood itu merupakan sang penggoda ulung.

Dan memang, sedikit yang mengetahui soal apa yang dibicarakan Sukarno dengan Marilyn dalam perjamuan di Beverly Hills Hotel akhir Mei 1956 itu. Meski demikian, rumor tentang apa yang terjadi setelah pertemuan itu tetap saja bertiup santer.

Dalam Celebrity Secrets: Official Government Files on the Rich and Famous, Anthony Summers (seorang yang mempunyai otoritas menulis tentang Monroe) menyebut selama syuting Bus Stop pada 1956, Marilyn bertemu dengan Presiden Indonesia, Achmed Sukarno. “Dia ingin memberitahu temannya Robert Slatzer bahwa ia dan Sukarno telah ‘menghabiskan malam bersama’.”

Dalam buku yang mengklaim berbasis data FBI itu, Summers mengungkapkan apapun yang terjadi pada pertemuan itu tidak ada yang berlalu tanpa diketahui oleh CIA, agen rahasia AS.”Dalam tahun-tahun itu, Indonesia menjulang sebagaimana Vietnam dalam pantauan Washington sebagai prioritas di Asia,” demikian tulis buku karya Nick Redfern dan Nicholas Redfern itu.

Dalam buku ini, Nick dan Nicholas juga mengungkapkan adanya rekaman (antara 1957 dan 1958) yang mengindikasikan keterlibatan CIA dalam segala bentuk kejahatan untuk menumbangkan Sukarno, yang dipandang AS bertanggung jawab mengarahkan negaranya pada komunisme. Kendati demikian, ketika AS merasa perlu untuk mengambil hati Sukarno, CIA “bermimpi” untuk menggunakan seks sebagai pancingan. Marilyn Monroe adalah salah satu umpan tersebut.

Menurut Joseph Smith, mantan pejabat CIA di Asia, (dikutip dari buku Goddess: The Secret Lives of Marilyn Monroe karangan Anthony Summer) konon memang ada pertemuan lanjutan antara Sukarno dan Monroe setelah malam itu.

“Ada upaya untuk membuat Sukarno terus bersama Monroe. Pertengahan 1958, saya mendengar ada rencana untuk membawa mereka bersama ke ranjang,” ujar Joseph Smith di buku itu. Beberapa sumber AS juga mensinyalir Marilyn sebagai seorang artis yang sengaja direkrut CIA untuk “menaklukan” Sukarno. Sejauh mana kebenaran dari cerita tersebut? Hanya Tuhan dan CIA yang tahu… (hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.