Revolusi di Ladang Sayur

by September 24, 2014

Kisah sekelompok petani miskin Pangalengan yang bergerak menguasai tanah negara atas nama land reform.

REFORMASI AGRARIA. Para petani yang tergabung dalam AGRA tengah melakukan rapat mingguan (foto:hendijo)

REFORMASI AGRARIA. Para petani yang tergabung dalam AGRA tengah melakukan rapat mingguan (foto:hendijo)

GELAP menelan Pangalengan saat udara dingin menembus bilik-bilik bambu sebuah rumah sangat sederhana di kawasan Loskulalet, Desa Margamekar. Di atas lantai kayu putih beralas karpet rombeng berwarna hijau, puluhan orang duduk bersila. Sebagian adalah lelaki separuh baya dan sebagian lagi terdiri dari anak-anak muda dan perempuan.

“Mereka adalah para petani yang merupakan perwakilan ranting-ranting AGRA anak cabang Pangalengan,”kata Erpan Faryadi,salah satu Pengurus Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), kepada saya.

AGRA adalah salah satu dari 5 organisasi massa petani Indonesia di luar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang dinilai pro pemerintah. Bersama Serikat Petani Indonesia (SPI), Serikat Tani Nasional (STN), Aliansi Petani Indonesia (API) dan Aliansi Tani Mandiri (ATM) mereka  memilih jalur oposisi  terhadap (istilah mereka) rezim yang sedang berkuasa. Tema perjuangan AGRA sendiri adalah anti feodalisme dan anti imperialisme.

Malam semakin larut. Harum uap air kopi bersanding dengan gulungan asap putih berbau nikotin. Ya, rupanya hampir sebagian besar orang yang hadir di ruang 8×5 meter itu adalah para perokok berat. Saya bergeser sedikit, saat seorang lelaki tua berjaket hitam muncul di muka pintu. Ia menatap saya. Tersenyum. Usai mengucapkan terima kasih dalam bahasa Sunda,ia lantas menyodorkan kedua tangannya kepada saya dan Takeshi  Ito.

” Nepangkeun abdi Entis,kamu siapa? “

 “ Saya Hendi, Pak… Ini Takeshi teman saya ”jawab saya.

“ Takasih? Takasih Murah? ” ujarnya dalam nada jenaka saat ia menjabat tangan Takeshi. Semua tertawa. Bisa jadi lelucon Entis mengingatkan mereka pada kata-kata seorang bintang iklan sebuah produk di televisi. Lelaki kelahiran Tokyo 37 tahun yang lalu itu pun hanya merespon kata-kata Entis dengan seulas senyum.

 “Punten nya, Bung… Mang Entis memang sukanya ngebanyol aja,” kata Sutarman, Koordinator AGRA anak cabang Pangalengan sekaligus tuan rumah pertemuan malam itu.

Takeshi adalah seorang Professor Ilmu Politik di Colorado College, Amerika Serikat. Ia datang ke Indonesia untuk meneliti gerakan politik kaum petani di Pangalengan. Sebelumnya yakni pada 2006, dalam rangka menyelesaikan tugas Ph.D-nya di Yale University, ia pernah meneliti soal demokratisasi lokal di Majalaya selama 6 bulan.

Tepat pukul 20.27 WIB, rapat dimulai. Sebagai pemimpin rapat adalah Suyati, seorang petani perempuan sekaligus istri Sutarman. Dalam kalimat yang jernih, ia menyebutkan satu persatu agenda rapat yang akan dibahas malam itu. Diantaranya adalah kegiatan memperingati kebangkitan petani Pangalengan yang jatuh tiap 10 Juli.

” Mangga, jika  kawan-kawan sekalian punya ide bagus?”katanya. Berbagai pendapat lantas terlontar. Seorang petani tua berbaju coklat mengajukan ide mengadakan lomba sepakbola antar ranting AGRA cabang Pangalengan. Lalu ada yang memberi usul mengadakan lomba orasi dan lomba menyanyi lagu-lagu perjuangan petani (yang sering mereka kumandangkan saat berdemonstrasi).

 “ Ide gila” dan nyeleneh pun mewarnai rapat malam itu. Seorang petani bernama Oo ngotot ingin mengadakan lomba sepakbola dengan memakai kostum baju panjang yang sering dipakai kaum perempuan. Lalu ada petani berkumis ala Omar Sharif –bintang Hollywood tahun 1960-an—namanya Alim. Ia punya  ide yang menurutnya “brilyan” yakni  mengadakan lomba makan cabe rawit.

Perdebatan pun berlangsung diiringi celetukan-celetukan konyol dalam bahasa Sunda. Ketika saya sampaikan kepada Takeshi tentang ide Oo dan Alim, ia memandang wajah saya seolah tak percaya. Dua detik kemudian tawa lelaki Jepang itu pecah. Ide itu menurutnya “lucu namun sedikit akan membahayakan.”

 “ Saya khawatir, mereka semua akan sakit perut, ”katanya seraya tak henti menggeleng-gelengkan kepala. Sisa-sisa taburan halus biji jagung manis nampak di bagian kecil kerah kamejanya yang berwarna putih.

Rapat usai pukul 11.03 WIB. Para petani menyepakati semua usulan yang diajukan kecuali usulan Oo dan Alim. Kegiatan memperingati “Peristiwa 10 Juli 2004,” akan dimulai dari  5 Juli hingga berpuncak pada aksi demonstrasi yang akan diadakan tepat pada 10 Juli 2009 di Lapangan Sampalan. Itu nama sebuah lapangan sepakbola, bekas kawasan latihan tembak yang dikelola oleh TNI Angkatan Darat di Pangalengan.

 *

MARGAMEKAR adalah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Pangalengan. Luasnya sekitar 817 ha meliputi beberapa dusun yang secara keseluruhan penduduknya berjumlah 7739 jiwa. Hampir sebagian besar wilayah Margamekar adalah lahan pertanian dan perkebunan teh. Otomatis dengan situasi seperti itu, mata pencaharian penduduk Margamekar mayoritas adalah petani atau pekerja perkebunan teh.

Di Margamekar ada sebuah kawasan pertanian bernama Sampalan. Luasnya sekitar 134 hektar. Sejak akhir 1970-an,

PETANI PANGALENGAN. Bertani memanfaatkan lahan milik negara (foto:hendijo)

PETANI PANGALENGAN. Bertani memanfaatkan lahan milik negara (foto:hendijo)

pemerintah provinsi Jawa Barat menyewakan lahan subur itu kepada  PD. Kertasari Mamin. Itu nama sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang pada 1998 berganti nama menjadi Perusahaan Daerah Agrobisnis dan Pertambangan (PDAP).

“ HPL (Hak Pengelolaan Lahan) yang diberikan pemerintah daerah kepada kami sifatnya tidak terbatas, ”ujar Sutrisno, salah seorang manejer di PDAP.

Namun entah bagaimana ceritanya, pihak PDAP yang sejatinya diberi misi mengelola seluruh area tanah itu ternyata hanya memanfaatkan 1 ha untuk membuat usaha pertanian . Sisanya yang 133 ha, mereka sewakan kepada para petani kaya seperti Haji Ayi, Haji Enjem dan Haji Asep.

Para borjuis lokal tersebut lantas menanami lahan itu dengan kentang, kol, cabe, wortel dan sawi putih (pecay). Mereka mengelola lahan dengan mengupah ratusan buruh tani setempat. Hitung-hitungannya satu hari para buruh tani dibayar oleh para haji itu sebesar Rp.8000.Sedang untuk buruh tani perempuan dibayar hanya Rp.5000.

“ Itu jelas sangat tidak ada artinya jika dibandingkan keuntungan para haji itu yang bisa meraup untung hingga ratusan juta setiap panen,” kata Jajang,salah seorang buruh tani. Perlu diketahui, panen sayur-sayuran di Pangalengan berlangsung 3x dalam setahun.

Ketidakmerataan pembagian keuntungan itu, menjadikan jurang sosial yang menganga. Para haji semakin kaya dan buruh tani kian terjepit dalam kemiskinan. Begitu miskinnya hingga untuk menyekolahkan anak-anaknya, mereka sama sekali tidak mampu.

“Anak-anak buruh tani, paling tinggi pendidikannya hanya sampai SMP saja,”ujar Entis (62).

Tahun 2003, para buruh tani mendirikan FTP (Forum Tani Pangalengan). FTP dibentuk sebagai upaya membentuk solidaritas kelas di antara para petani miskin. Ide yang murni datang dari para petani itu mendapat dukungan dari 3 aktivis mahasiswa FIM (Front Indonesia Muda) Bandung yang tengah live in di Pangalengan. Mereka adalah Wowon, Jumarlis dan Rahmad.

Sebagai upaya awal, FTP  berencana membuat  pertanian organik. Ide itu muncul di tengah situasi harga pupuk dan obat yang sedang membumbung tinggi di pasaran. “Kotoran sapi,kambing dan ayam banyak di sini, mengapa tidak kami manfaatkan?”ujar Entis.

Hampir setiap hari wacana pembuatan pupuk organik itu terus dibicarakan dalam setiap pertemuan FTP. Ide dan dukungan pun mengalir deras dari setiap petani. Namun setelah memikirkan secara panjang rencana tersebut, mereka sampai pada keyakinan bahwa upaya itu jauh panggang dari api.Mengapa? Karena ternyata pengembangan pupuk organik secara massif mutlak memerlukan lahan yang agak luas.

“ Padahal sebagian besar anggota FTP adalah buruh tani yang sama sekali tidak memiliki lahan,”ujar Sutarman.

Pembahasan diskusi di kalangan aktivis FTP kemudian berpindah kepada upaya mendapatkan lahan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba muncul ide  di kalangan petani untuk menguasai tanah milik negara yang tengah digarap oleh PDAP dan para petani kaya.

“ Jika tanah itu milik negara,sebagai rakyat bukankah kami memiliki hak menggarapnya? Bukankah orang-orang seperti kami ini harusnya menjadi tanggungan negara menurut UUD 45? ”kata Sutarman.

Namun tidak semerta-merta ide itu disetujui oleh semua pihak. Wowon dan para mahasiswa Bandung lainnya bahkan khawatir  keinginan itu hanya buncahan emosional sesaat. “Kendati penguasaan tanah atas nama land reform memang ada dasarnya dalam Undang-Undang Pembaharuan Agraria Tahun 1960,tapi pada awalnya saya ragu para petani FTP akan siap menjalani cara radikal seperti itu,”ujar mahasiswa yang memilih berhenti kuliah dan jadi petani itu.

Kekhawatiran Wowon diakui oleh Sutarman. Ia menyatakan pada awalnya Wowon dan kawan-kawannya tidak setuju untuk mengadakan penguasaan tanah di Sampalan. “ Bung Wowon dan Jumarlis saat itu malah melarang untuk melakukan penguasaan tanah. Ia menilai FTP belum siap melakukan aksi seperti itu,” kenang Sutarman.

Wowon boleh saja khawatir, tetapi tidak demikian dengan para petani FTP. Kemiskinan dan  penghisapan yang panjang membuat mereka tetap ngotot untuk melakukan reclaiming—istilah mereka untuk upaya merebut tanah negara yang dikuasai pengusaha dan tuan tanah.

Setelah diyakinkan bahwa FTP siap menerima semua resikonya termasuk diciduk dan ditembak aparat, Wowon akhirnya setuju juga. Bahkan selanjutnya, ia dan kawan-kawan menjadi pengatur strategi dan pembuat rencana teknis di lapangan.

Rencana pun disusun. Sebagai langkah pertama, FTP membentuk tim investigasi untuk menyelidiki status kepemilikan tanah yang dikelola PDAP tersebut, baik secara historis maupun hukum. Bergeraklah para anggota tim investigasi petani itu ke berbagai tempat. Ada yang mendatangi kantor BPN  (Badan Pertanahan Nasional) di Bandung, Kantor Desa Margamekar, para tetua desa, Kantor PDAP, Kantor Kecamatan Pangalengan,Sekretariat KPA (Konsorisum Pembaharuan Agraria, sebuah LSM yang konsen terhadap isu-isu agraria) dan bahkan sampai Polsek pun mereka datangi.

Hasil investigasi ternyata  semakin menguatkan keyakinan mereka untuk masuk ke tanah negara tersebut. Secara cepat, mereka mengirim surat usulan kepada kepala desa untuk membuat peraturan desa (perdes) mengenai  pelaksanaan land reform. Dan alih-alih diterima, sebagian besar aparat justru menolaknya mentah-mentah.

Saat saya temui di balai desa Margamekar, Ade Wahyudin mengakui memang pihaknya tidak setuju dengan usulan yang menurutnya tidak masuk akal dan tidak berdasar secara hukum itu.Ia bahkan curiga,”Ide-ide seperti ini mengingatkan saya kembali pada cerita-cerita orang tua tentang aksi-aksi yang sering terjadi pada 1964-1965,”ujar Kepala Desa Margamekar tersebut.

Bisa jadi pernyataan Ade Wahyudin mengacu kepada peristiwa yang dikenal dalam sejarah sebagai “aksi sepihak”. Itu adalah aksi penguasaan tanah negara dan petani kaya yang dilakukan pada  pertengahan 1960-an oleh para anggota BTI (Barisan Tani Indonesia, onderbouw PKI) , di Jawa Barat, Jawa Timur dan Sumatera. Dan secara kebetulan, mereka pun memakai isu land reform sebagai dasar aksinya.

“Anda ingin mengatakan mereka PKI?” tanya saya. Ade tertawa.

“Anda yang mengatakan, bukan saya lho,”katanya. Sebuah sikap ngeles khas birokrat.

**

JUNI 2004. Begitu ditolak oleh pihak desa, Sutarman dan kawan-kawan bergerak cepat. Bersama kawan-kawannya seperti Bah Iyad, Ujang Sabid, Ujang Dahro, Tarsa dan Ende, ia lantas mendata buruh tani yang berminat mendapat lahan.

“ Tercatat ada sekitar 700 petani yang berminat sekaligus menyatakan akan ikut dalam aksi reclaiming,”ujar lelaki kelahiran Loskulalet, 39 tahun lalu itu.

RAPAT MINGGUAN. Para petani Pangalengan tengah membicarakan soal-soal keseharian mereka dalam rapat mingguan (foto: hendijo)

RAPAT MINGGUAN. Para petani Pangalengan tengah membicarakan soal-soal keseharian mereka dalam rapat mingguan (foto: hendijo)

Aksi pendataan itu dilakukan secara terbuka dan diketahui khalayak umum. Sehingga bukan saja para buruh petani Desa Margamekar yang berminat, para buruh tani dari desa tetangga yakni Desa Sukamanah pun ramai-ramai mendaftar.

 “ Dari kampung saya sendiri (Loskulalet), rencananya saya akan membawa 40 orang,” katanya.

Aksi reclaiming tanah yang dikelola oleh PDAP di Sampalan waktunya sudah ditentukan yakni 10 Juli 2004. Seminggu sebelum hari-H, hampir setiap hari para aktivis FTP berkumpul untuk mematangkan rencana. Tempatnya berkeliling. Bisa di rumah Tarsa, Madrasah atau di rumah Sutarman.

“Karena ketidaktahuan harus bagaimana, kami membentuk tim lapangan laiknya membuat perangkat demonstrasi saja,ada koordinator lapangan (korlap), dinamisator lapangan dan lain-lain,”kenang Wowon. Disepakati sebagai korlap adalah Ende,salah seorang petani muda FTP.

Tidak lupa dalam setiap pertemuan, Sutarman, Wowon dan para pemimpin FTP menekankan para petani untuk bisa disiplin dan tidak boleh memakai cara-cara kekerasan.Jelasnya, mereka hanya boleh bergerak kalau ada perintah dan hanya boleh menanami lahan yang sudah bersih dari tanaman.

“ Kami pun diperingatkan secara keras untuk tidak melukai siapapun. Jangankan melukai orang, merusak tanaman PDAP atau para petani kaya yang belum dipanen pun dilarang keras,”ujar Alim.

Sementara para petani FTP melakukan pertemuan, di luar sana, udara Pangalengan yang biasanya terasa dingin menusuk sedikit memanas oleh beredarnya intrik dan isu yang disebar oleh para aparat desa.

Ancaman tentang hantu komunis yang tengah bergentayangan di Pangalengan menyebar. Lewat mulut ke mulut tersebar pula isu bahwa rencana penguasaan tanah yang dikelola PDAP itu  sama sekali tidak benar dan melawan hukum. Jika melakukannya jelas akan diganjar dengan hukuman penjara. Malam itu, Margamekar laksana bara dalam sekam.

 ***

SABTU PAGI, 10 Juli 2004. Suara adzan subuh bersipongan di seluruh Pangalengan. Sutarman bergegas bangkit dan membangunkan anak istrinya untuk bersiap. Usai memakai kaos berwarna abu-abu, ia lantas menyiapkan cangkul, parang dan benih jagung serta pohon pisang. Saat itulah, sekilas ia merasakan ketakutan hadir dalam dirinya. Terbayang dirinya dibelenggu sekelompok polisi diiringi tangis anak istrinya. Namun cepat-cepat ia tepis perasaan tersebut.

“ Keinginan memiliki lahan garapan sendiri lebih penting dibandingkan rasa takut itu. Kami sudah bosan terus menerus menjadi korban penghisapan oleh sesama manusia” gumannya sambil menerawang. Sebatang rokok kretek dijentiknya secara pelan. Abu pun bertebaran di atas tikar butut bercorak coklat dan merah pucat.

Pernyataan Sutarman ada benarnya. Sejak zaman pemerintah Hindia Belanda, mayoritas petani di Pangalengan sudah ada dalam kuasa berkepanjangan para tuan tanah dan pejabat-pejabat Belanda.  Mereka hidup laiknya manusia dari kasta rendah yang terlarang untuk bahagia. Ritme hidup mereka adalah kerja,kerja dan kerja. Saya ingat sebuah foto lama yang saya unduh dari situs KITLV yang menggambarkan para kuli kontrak Perkebunan Teh Malabar yang tengah tefekur di bawah kaki seorang administratur bule berkumis melintang.

Sekitar jam 6.45 WIB,Sutarman dan keluarganya tiba di Lapangan Sampalan. Di sana memang sudah ada terkumpul ratusan orang. “Tapi jauh dari perhitungan awal, yang hadir hanya 270 orang,” katanya.

Dia sendiri baru sadar, dari Loskulalet hanya ia dan keluarganya yang hadir di Lapangan Sampalan. Janji 36 kawan sekampungnya untuk datang ternyata hanya bualan. Termasuk tetangganya Bah Atang, yang kemarin terlihat olehnya sangat bersemangat untuk ikut aksi reclaiming. “ Saya tahu mereka takut. Ya tidak apa-apa.”

Tepat pukul 7.00 WIB. Ende berteriak kepada massa FTP. “ Hayu-hayu! Ayeuna urang mulai  gerak melak jagong, cau jeung sampeu,”ujar lelaki yang menurut Sutarman usianya saat itu sekitar 20-an. Seruan Ende itu kurang lebih berarti penyeruan untuk mulai bergerak menanam jagung, pohon pisang, dan singkong.

 “Siap!Siap! Siap!”

Massa pun bergerak. Sebagian langsung terjun ke ladang-ladang yang sudah kosong, menyebarkan benih jagung dan menanam pohon pisang serta singkong. Sedang sebagian lagi, duduk-duduk atau berdiri di pinggir-pinggir lahan,menunggu para buruh tani petani kaya selesai memanen.

Di luar dugaan tak ada reaksi apapun dari pihak petani kaya dan para karyawan PDAP. Mereka seolah pasrah begitu saja saat ladang-ladang mereka “diduduki” para buruh tani yang tergabung dalam FTP. Memang ada sumpah serapah dan makian, tapi tak digubris oleh para petani FTP.

 “ Sekuat tenaga, kami menahan emosi dan terus konsentrasi menanam dan menanam,”ujar Sutarman.

Menurut Wowon, banyak pemandangan unik saat itu. Salah satunya adalah saat ia melihat serombongan buruh tani petani kaya sedang memanen, sedang di belakang mereka para petani FTP sibuk menyebarkan benih jagung. Tak ada bentrokan seperti yang dikhawatirkan. Okupasi berlangsung lancar.

Jam 13.00 WIB, aksi penguasaan tanah seluas 40 hektar pun selesai. Begitu pohon pisang terakhir ditanam, di  lahan hasil reclaiming dipancangkan pula plang berukuran 10×15 cm dengan huruf warna hitam berbunyi: “ TANAH HAK UNTUK RAKYAT”. Tapi revolusi belum selesai.

****

LIMA TAHUN berlalu sejak peristiwa itu.

Kini para buruh tani itu sudah memiliki lahan garapan sendiri. Memang tidak banyak. Dari 130 hektar lahan PDAP yang berhasil diokupasi secara bertahap sejak 2004, masing-masing  anggota FTP kebagian 50 tumbak (1 tumbak=16 meter persegi). Ada syaratnya juga:  “Tanah ini hanya boleh ditanam saja, tidak boleh dijual,”ujar Mamat. Sejak jatuh dalam penguasaan para buruh tani, memang lahan tersebut digarap dengan sistem kolektif dan tanpa hak kepemilikan paten.

Namun bukan berarti mereka tidak menghadapi masalah. Beberapa kali pihak PDAP berusaha menguasai tanah itu petanisayurpangalengan4kembali. Caranya berbagai macam: bisa lewat jalur hukum (dengan mendatangkan pengacara dan petugas BPN) atau dengan cara kasar (mengirim rombongan preman atau polisi). “Karena kedisiplinan dan kesolidan kami, usaha mereka tak pernah berhasil,”ujar Sutarman.

PDAP sendiri sekarang dalam posisi “mati segan hidup tak mau”. Selain karena sudah “tidak memiliki” lahan lagi, konon badan usaha milik daerah Jawa Barat itu dibelit  banyak masalah termasuk korupsi. Ketika menghubungi Sutrisno, salah seorang manejer di sana, ia mengatakan kantor PDAP di Jalan Malabar di Kota Bandung pun nyaris tak berfungsi lagi. “Sebagian besar karyawan tidak jelas nasibnya termasuk saya,”ujar lelaki yang terlibat langsung berhadapan dengan massa FTP pada Peristiwa 10 Juli 2004 itu.

Tidak ada tindakan tegas yang dilakukan oleh pihak pemerintah daerah Jawa Barat terhadap para petani yang menduduki lahan PDAP. Alih-alih menggugat secara hukum, malah ada kesan kasus tersebut “diambangkan” begitu saja. Itu juga yang dibingungkan oleh pihak aparat Kecamatan Pangalengan dan Desa Margamekar. “Pasti ada apa-apanya hingga mereka tidak berani menindak para petani yang menguasai tanah di Sampalan itu,”ujar Adjat Sudrajat, Kepala Badan Permusyawaran Desa (BPD) Desa Margamekar.

FTP sendiri sekarang sudah tinggal kenangan. Sejak 10 Desember 2006, mereka melebur diri ke AGRA dan menjadi anak cabangnya di Pangalengan. “Anggota kami sekarang sudah mencapai 1470 orang,”kata Sutarman.

Gelap semakin menelan Pangalengan. Suara anak-anak mengaji yang beberapa jam lalu saya dengar sudah raib. Diganti dengan  embikan suara kambing- kambing dari kandang di depan rumah Sutarman. Orang-orang  yang rapat sudah mulai ada yang pulang. Sisanya beberapa orang terlihat masih menikmati kopi yang mulai dingin.

“Ayo, ayo silakan-silakan,”ujar Sutarman seraya menyodorkan sebakul jagung manis rebus, ” Ini asli hasil dari reclaiming.” Saya dan Takeshi tersenyum. Para petani tertawa. Sementara malam telah bergerak ke peraduannya, anak-anak Sutarman mulai memasuki kamar mereka yang berpintu rombeng. Tepat di bagian atas pintu, terpasang selembar guntingan kliping koran yang memuat sebuah resensi buku tentang Hugo Chavez, pemimpin Venezuela yang kata mereka harusnya hadir di Indonesia. (hendijo)

2 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Danoe Kaizoku
    #1 Danoe Kaizoku 7 Desember, 2014, 03:13

    Saya pernah bertemu dgn Takashi Ito di Nagoya Univ. Jepang. Beliau sbgai salah satu profesor program pembangunan internasional. Artikel perlawanan kelas petani ini sangat menarik karena saya jg pernah live in dgn petani. Beberapa nama aktivis AGRA. Jumarlis dan Rahmad adlh tman sesama aktivis Di KA Unpad dulu 🙂

    Reply this comment
    • hendi johari
      hendi johari Author 8 Desember, 2014, 01:22

      Terimakasih Bung Danoe. Sekarang anda aktif di mana? Jika anda dulu aktif di KA Unpad berarti anda kawannya Zul ya? 🙂

      Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.