Kisruh Zaman Perang

by Agustus 3, 2014
Satu barisan lasykar di era revolusi (sumberfoto: timetoast.com)

Satu barisan lasykar di era revolusi (sumberfoto: timetoast.com)

Intrik, provokasi dan pengkhianatan di era revolusi.

INI CERITA dari seorang mantan pejuang yang pernah saya wawancara. Namanya Soempena (92). Ia berkisah,  pada suatu hari di tahunn 1947, ia pernah menyaksikan seorang lelaki paruh baya tewas dikeroyok massa di Stasiun Padalarang, dekat kota Bandung. Mengapa sampai dipukuli massa? Rupanya saat ditangkap dan kemudian digeledah, pada salah satu saku celananya ditemukan selembar saputangan bercorak merah putih biru, tanda simbol bendera Belanda.

“ Setelah Polisi Tentara (sekarang Polisi Militer) datang dan ditangani,belakangan baru diketahui bahwa orang yang mati dikeroyok itu ternyata tidak waras,” ungkap mantan anggota sebuah lasykar di Bandung tersebut.

Sementara itu di daerah Karawang terjadi saling curiga mencurigai di antara para pejuang. Pasalnya, seorang pemuda lasykar yang baru keluar dari tawanan militer Belanda “dipesan”oleh seorang letnan Belanda dari bagian intelijen untuk menyampaikan pertanyaan kepada seorang jenderal: mengapa sudah lama tidak pernah berkirim surat?

Alih-alih menyampaikan “pesan” itu langsung kepada sang jenderal, bekas tawanan Belanda itu justru menyampaikan soal ini kepada atasannya langsung di kelasykaran. Maka beberapa hari usai pengaduan itu, seisi kota dipenuhi dengan selebaran gelap yang menyebutkan bahwa “Jenderal A” adalah agen NICA.

Di lain kesempatan, seorang agen NICA beneran secara sengaja menjatuhkan sepucuk surat di lantai sebuah kereta api yang menuju daerah republik. Isi surat itu adalah “perintah-perintah dari NEFIS (Dinas Intelijen Belanda) kepada Mayor Anu disertai ucapan terimakasih atas laporan-laporannya”. Sesuai target sang intel, surat ini kemudian ditemukan oleh seorang anggota  lasykar, dibawa ke markas dan dilaporkan kepada sang atasan. Kegiatan intrik mengintrik, fitnah memfitnah pun dimulai…

Almarhum Jenderal A.H. Nasution menyebut mudahnya pejuang kita terjebak dalam perangkap NEFIS karena banyaknya masalah internal yang belum terselesaikan saat itu. “ Serangan psikologis itu mencapai targetnya karena adanya kekacauan organisasi pertahanan dan masih kurang cerdasnya rakyat kita…” tulis Nasution dalam Tentara Nasional Indonesia Bagian I.

Yang paling menderita dari adanya situasi tersebut tentu saja adalah rakyat kebanyakan. Menurut Jenderal Nasution, tak jarang akibat “kesembronoan” pihak lasykar dan tentara republik, jatuh korban jiwa dari rakyat sipil tak berdosa akibat mudahnya mengeluarkan cap “mata-mata Belanda” tersebut.

Selain ancaman pembunuhan dan penyiksaan, aksi penjaringan mata-mata Belanda itu juga tak jarang menimbulkan praktek pelecehan seksual terhadap para pedagang perempuan yang sehari-hari harus melintasi garis demarkasi. Itu bisa dilakukan oleh para anggota lasykar, tentara maupun serdadu Belanda.

Sebagai contoh, Soe Hok Gie pernah membahas tentang nasib memilukan para perempuan tukang beras antara Krawang-Bekasi pada era revolusi tersebut. Ia menuliskan bagaimana untuk melancarkan pemeriksaan, para tukang beras itu tak segan-segan mengorbankan harga dirinya dengan membiarkan mereka (maaf) diciumi, digerayangi bahkan sampai digauli secara intim oleh para lasykar dan tentara yang menjaga perbatasan garis demarkasi.

“ Di daerah garis demarkasi yang dijaga serdadu Belanda (termasuk Belanda hitam), mereka pun harus mengalami kejadian yang sama: dilecehkan secara seksual…” tulis Soe Hok Gie dalam Zaman Peralihan.

Sementara itu, di tengah penderitaan rakyat akibat perang, kisah revolusi juga menyisakan berbagai cerita aksi-aksi cari untung dan cari selamat dari para pelakon perang di  di pihak republik. Di Klender, Jakarta Timur diberitakan bagaimana ratusan pemuda dari Lasykar Rakyat Jakarta Raya pimpinan tokoh hitam bernama Panji bergabung dengan militer Belanda dan difasiliasi membentuk Hare Majesteit’s Ongeregelde Troepen (HAMOT) alias Pasukan Liar Sri Ratu (tentunya yang dimaksud Ratu Willhelmina, ratunya orang Belanda) untuk menghadapi kaum republiken.

Aksi cari untung juga dilakukan oleh para pemuda yang tergabung dalam kesatuan Beruang Merah di Cikampek. Alih-alih menghadapi tentara Belanda mereka malah terlibat dalam aksi mem-back up penyelundupan barang-barang ke pasar gelap dari wilayah republik ke wilayah pendudukan Belanda (atau sebaliknya).  “ Mereka pun segera mendapat julukan “ber-uang merah” (memiliki uang Belanda)…” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusiener Jakarta 1945-1949.

Bukan hanya di kalangan para pejuang berpangkat rendah saja, sejumlah perwira TNI dikabarkan membelot ke pihak NICA. Salah satunya seorang perwira tinggi bernama Poerbo Soemitro ( sampai nafas terakhir ia bahkan berwarganegara Belanda). Mantan Komandan Komandemen TKR (Tentara  Keamanan Rakjat) wilayah Jawa Barat, Jenderal Major Didi Kartasasmita sempat diisukan sebagai salah satu perwira tertinggi republik yang dianggap membelot ke kubu Negara Pasundan (negara bentukan Belanda). Namun soal ini dibantah oleh Didi sendiri.

“ Setelah saya berhenti dari TNI pada 1948, saya memang pernah ditawari untuk memimpin Veiligheids Batalyon Negara Pasundan, tapi saya tolak…”kata Didi dalam boigrafinya yang ditulis Tatang Sumarsono, Didi Kartasasmita: Pengabdian bagi Kemerdekaan.

Berbeda dengan lukisan umum sejarah dalam buku-buku pelajaran sekolah, arus pergerakan revolusi kemerdekaan kita tak selamanya selalu berwarna putih. Omong kosong, jika disebutkan bahwa orang-orang yang berjuang di pihak republik saat itu semua selalu memiliki niat suci. Walau bagaimanapun era Perang Kemerdekaan adalah revolusi-nya manusia. Tentu ada hitam, ada putih, bahkan kelabu…Dan tentunya warna-warna lainnya juga selalu ada. (hendijo)

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. Wal Suparmo
    #1 Wal Suparmo 15 Agustus, 2014, 20:28

    PADA ZAMAN REVOLUSI ORANG SUDAH KEHILANGAN AKAN KARENA EMOSI DAN SEMANGAT BERJUAN YG TERLALU BERKMOBAR-KOBAR. BANYAK RAKYAT YG DIBUNUH KARENA DITUDUH MATA-MATA HANYA KARENA WAKTU DI GELEDAH MASIH MENYIMPAN MATA UANG BELANDA LAMA YG ADA GAMBARNYA RATU WILHELMINA.

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.