Jimat dalam Perjuangan

by September 21, 2014

Dari ajian halimunan hingga kuburan kucing.

Atjep Abidin (foto:hendijo)

Atjep Abidin (foto:hendijo)

SUATU MALAM yang gelap 67 tahun yang lalu. Angin berdesir resah menyapu kawasan Curug Supit, di Cihurang, Cianjur. Di tengah deru suara air terjun, suara ajag (anjing hutan) saling bersahutan dengan bunyi-bunyi binatang hutan lainnya, membentuk gelombang mistis yang memenuhi lembah dingin tersebut.

Masih segar dalam ingatan Atjep Abidin (90), dalam kondisi setengah telanjang, saat itu ia bersimpuh di sebuah batu besar dekat air terjun. Sementara itu di sisinya, sang guru yang bernama Bisri tengah komat-kamit, merapalinya dengan jangjawokan (mantera yang dirapal dengan memakai bahasa sunda lama). Sesekali lelaki yang dikenal sebagai jawara di wilayah Takokak itu menyiraminya dengan air bunga tujuh rupa.

“ Saat itu saya sedang dirapal ajian halimunan, supaya saat beraksi tidak terlihat oleh tentara Belanda,” ujarnya kepada saya hampir dua minggu yang lalu.

Usai menjalani ritual di Curug Supit itu Atjep lantas pulang ke kampungnya di  Pasawahan, bergabung dengan kawan-kawannya di kelasykaran. Dua hari kemudian, Bisri datang dan mengajaknya untuk sebuah tugas rahasia mengawasi pergerakan militer Belanda dari arah Nyalindung, Sukabumi.

Sore baru saja menjelang, saat mereka berjalan di pematang ladang, tiba-tiba serentetan bren gun menyalak. Tanpa ada komando, Atjep dan Bisri pun melepaskan jurus langkah seribu. Seolah tak mau kehilangan mangsa, serdadu-serdadu Belanda itu pun mengejar. Sambil berteriak, mereka melepaskan peluru secara membabi buta. “ Untung tidak ada yang kena,” kata Atjep.

Di sebuah kebun, Bisri tiba-tiba menghentikan langkahnya. Sambil berbisik, ia memerintahkan Atjep untuk merapalkan jangjawokan yang tempo hari ia “transfer” kepada lelaki berwajah keras tersebut. “ Jangan panik, setelah selesai kamu cepat berlindung di balik pohon apapun,”perintah Bisri. Atjep mengangguk.

Baru saja ia selesai merapal jangjawokan halimunan, suara derap sepatu lars para serdadu Belanda didengarnya semakin dekat. Karena merasa tidak melihat pohon apapun untuk tempat berlindung, Atjep yang agak panik akhirnya berlari ke sebuah tunggul (bekas tebangan) pohon aren. Sementara Bisri terlihat sudah memeluk salah satu pohon pisang yang ada di sana.

Kurang dua menit kemudian, sekelompok serdadu Belanda berpakaian loreng lengkap dengan helmtempur dan senjatanya tiba di tempat tersebut. Anehnya, kendati jaraknya hanya sepelemparan batu dari Bisri dan Atjep, mereka seolah “buta” sama sekali terhadap kehadiran kedua “buruan” tersebut.

Verdomme! Ik yakin itu dua Anjing Sukarno berhenti di sini…Cari mereka!” teriak letnan mereka yang bule.

Para serdadu Belanda itu pun menyebar, memeriksa setiap sudut kebun itu. Namun tak jua “kedua ekstrimis”  tersebut menampakan batang hidungnya. Sementara itu seorang serdadu Ambon mendekati tunggul yang dijadikan “tempat persembunyian” Atjep. Kendati berusaha tenang, keringat dingin tak urung juga keluar memenuhi tubuhnya. Namun ajaibnya meskipun berjarak hanya beberapa sentimeter, serdadu Ambon itu seolah tak melihat kehadiran Atjep yang tengah berjongkok di depannya.

Kejadian berikutnya semakin mencengangkan. Alih-alih menemukan Atjep, Si Serdadu Ambon itu malah dengan tenang menaikan satu kakinya ke pundak  kanan Atjep seolah-olah tubuh Atjep merupakan bagian dari tunggul tersebut.

Rotzooi (brengsek)!” gumam sang serdadu sambil matanya mengawasi sekitar kawasan tersebut

Meskipun merasa sakit dan pegal, Atjep coba menahan injakan sebelah kaki bersepatu lars itu nya seraya mengatur nafas. Sementara itu beberapa meter darinya, Bisri terlihat tengah memeluk pohon pisang seraya cengar-cengir melihat pemandangan di hadapannya tersebut.

Limabelas menit berlalu. Merasa kehilangan buruannya, para serdadu itu pun memutuskan untuk kembali ke jalan besar. Begitu mereka menghilang di ujung jalan menuju kebun itu, barulah Bisri melepaskan dekapannya dari pohon pisang dan mendekati Atjep yang tengah meraba-raba tapak sepatu lars di pundaknya.

“ Kumaha rasana euy ditincak sapatu Walanda?” goda Bisri sambil terkekeh. Maksudnya menanyakan bagaimana rasanya diinjak sepatu lars Belanda.

Atjep tak menjawab ejekan itu.

“ Ada marah, kesal dan deg-degan, saya rasakan saat itu,”kenangnya.

Lantas, apa sesungguhnya yang sudah terjadi?

“Mereka tidak melihat kami, mereka hanya melihat pohon pisang dan tunggul pohon aren semata. Itulah khasiat halimunan yang merupakan senjata rahasia pasukan Kerajaan Pajajaran dulunya,” kata Atjep.

Saya hanya menggelengkan kepala. Antara percaya dan tidak.

*

MISTIK memang tak lepas dari kehidupan orang-orang Indonesia sejak dahulu. Dalam perang kemerdekaan, tak jarang para petarung republik memburu terlebih dahulu jimat dan olah kanuragaan sebelum berangkat ke medang perang. Nugroho Notosusanto mencatat bagaimana anak-anak muda fanatik berduyun-duyun pergi ke Pesantren Tebu Ireng untuk mendapatkan “berkah” olah kanuragaan (kebal senjata tajam dan tak mempan peluru) sebelum berangkat ke palagan di timur Jawa itu.  “ Dengan kepercayaan tinggi seperti itu mereka  kerap nekad menghadang tank Inggris, menaikinya dan memasukan granat ke dalamnya…” tulis Nugroho dalam Pertempuran Surabaya

Si’in adalah saksi hidup saat Pondok Pesantren Tebu Ireng dijadikan pusat “ngecas” para

petarung republik  saat perang kemerdekaan. Menurutnya, semua orang yang akan pergi

JIMAT RAMPASAN. Sekelompok serdadu Inggris meneliti beberapa keris jimat hasil rampasan dari para petarung Surabaya (foto:IWM)

JIMAT RAMPASAN. Sekelompok serdadu Inggris meneliti beberapa keris jimat hasil rampasan dari para petarung Surabaya (foto:IWM)

berperang menghadapi penjajah, akan dikumpulkan terlebih dahulu oleh  KH. Hasyim Asy’ari. Mereka diberi air minum sambil dibacakan: “Ya Allah Ya Hafidz, Ya Allah Ya Muhith, Fanshurna ‘ala Qaumil Kafiriin.”

Namun bukan berarti usai diberi “air minum berkhasiat”  dan jimat, semua orang bisa langsung “kebal” ditembak peluru musuh.  Menurut Si’in, di samping memberikan doa, jimat dan air berkhasiat,  KH. Hasyim Asy’ari pun secara tegas  memberikan beberapa pantangan yang tidak boleh mereka langgar selama berperang. “Kata Mbah Hasyim, siapapun yang melanggar pantangan tersebut, maka pasti akan terkena tembakan musuh!” ujar Si’in. Pantangan itu bisa bermacam-macam: tidak boleh menyakiti rakyat, tidak boleh meninggalkan shalat, dilarang melakukan hubungan intim dan mabuk-mabukan serta berbuat maksiat selama berada di kawasan garis depan.

Dalam bukunya bejudul “Guruku Orang-Orang Pesantren”, Syaifuddin Zuhri mengakui fenomena tersebut memang terjadi di lingkungan pesantren. Sebagai contoh, ia menyebut figur Kiyai Haji Subkhi, seorang ulama besar di Parakan, Temanggung yang pada masa revolusi kemerdekaan dijuluki sebagai Kyai Bambu Runcing. Julukan itu tercipta karena Kiyai Subkhi menciptakan sejenis bambu runcing yang disepuh doa  untuk nantinya digunakan para petarung republik di medan laga.

Uniknya, para petarung yang datang ke Parakan bukan saja berasal dari kalangan santri semata. Para lasykar yang tergabung dalam barisan kaum kiri pun seperti Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman (tokoh PKI) dan Laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo)  di bawah pimpinan Krissubbanu juga mendatangi Kiyai Subkhi sekadar untuk mendapatkan barokahnya!

**

PADA ERA revolusi, di daerah Klender, Jakarta Timur tersebutlah seorang jagoan. Namanya Haji Darip. Lelaki kelahiran sekitar tahun 1900-an itu dikenal sebagai godfather yang berhasil menunggangi patriotisme dengan praktek-praktek kriminal. Lewat Barisan Rakyat Indonesia (BRI) yang didirikannya, secara leluasa ia bisa mengembangkan bisnisnya sekaligus menjalankan aksi pemerasan terhadap orang-orang Tionghoa, Belanda dan Indo.

Haji Darip (foto:cintebetawi.com)

Haji Darip (foto:cintebetawi.com)

Karena aksi-aksi BRI inilah, Haji Darip menjadi buronan Belanda. Namun sebagai seorang penguasa dunia hitam Jakarta, tentunya Haji Darip tidak kosong melompong dalam urusan kanuragaan. Di kalangan masyarakat  Klender, ia bahkan dikenal sebagai pemilik banyak jimat bertuah sehingga menjadikannya sakti mandraguna.

Entin Kartini (59), salah seorang saudara jauh dari keluarga besar Haji Darip menyatakan bagaimana orang-orang tua di Klender masih memelihara mitos kanuragaan Haji Darip bahkan hingga kini. Salah satu cerita yang sangat legendaris dan masih diingat Entin adalah kisah saat sekelompok tentara Belanda mengepung Haji Darip di rumahnya. Alih-alih berhasil diringkus, Haji Darip malah bisa mengelabui para serdadu Belanda tersebut.

“ Caranya dengan cepat Haji Darip merubah dirinya menjadi bayi yang ada dalam timangan di rumah tersebut…” ujar Entin.

Puluhan kilometer dari Klender, di Cibarusa dikenal juga jagoan seangkatan Haji Darip. Namanya Pak Macan. Selain dikenal sebagai bandit sekaligus “pejuang”, Pak Macan pun termasyhur sebagai dukun yang bisa memproduksi jimat untuk para “pejuang”. Uniknya, dia menjual jimat itu dalam sebuah satuan jumlah mistis: f 11.11.

Penggunaan dan penjualan jimat memang bukan suatu hal yang aneh saat itu. Bahkan sebagai jimat, Haji Darip tak segan-segan menyuntikan merkuri ke pembuluh darah para pengikutnya untuk memiliki kekebalan. Menurut Robert Cribb, mistifikasi dan penggunaan jimat untuk kesaktian para penggunanya bahkan sudah pada tahap sadisme.  Berdasarkan laporan pihak Belanda, saat itu banyak pemuda-pemudi Tionghoa yang diculik di Jakarta dengan cara membius mereka memakai kloroform saat mereka tengah berada di becak.

Para korban tersebut lantas dibunuh dan dijual dengan harga antara 500-100 gulden kepada para haji. Kemudian jantung mereka dibagikan kepada para lasykar muda pengikut haji-haji itu untuk dimakan demi menambah kekuatan. Sisa daging mereka lantas di jual di Pasar Atom, pusat perdagangan barang-barang gelap di Jakarta.

“ Cerita itu semula terdengar seperti propaganda kotor dari pihak Belanda atau orang-orang Cina. Namun sumber-sumber yang bersimpati pada perjuangan Republik juga melaporkan kasus-kasus serupa mengenai kanibalisme dengan tujuan menyerap kekuatan musuh…” tulis Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusiener Jakarta 1945-1949.

***

DEMAM jimat dan kanuragaan ternyata tidak sebatas di kalangan lasykar dan para bandit semata. Di kalangan militer Indonesia, salah satu petingginya saat itu yakni Djenderal Major drg. Moestopo dikenal sebagai penganut kepercayaan akan khasiat jimat untuk perjuangan.

Saat memimpin sebuah unit pasukan bernama Terate di Front Subang, Jawa Barat, Moestopo pernah mendorong anggota pasukannya untuk mengkonsumsi daging kucing. Alasannya sangat sederhana: dengan memakan daging hewan karnivora tersebut maka para prajurit akan bisa tetap melihat dalam kegelapan laiknya seekor kucing.

Tradisi memakan kucing ini sempat diketahui oleh Kepala Staf TRI, Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo. Ceritanya, suatu hari di tahun 1946, oleh Moestopo, Letjen Oerip diajak meninjau pos terdepan pasukannya. Di suatu pos, tiba-tiba perhatian Letjen Oerip tertuju kepada deretan makam dengan nisan sederhana terpancang di atasnya.

“Itu makam?” tanya Letjen Oerip

“ Ya Jenderal!” jawab salah satu anggota pasukan Moestopo

“ Jadi banyak korban di sini?”

“ Ya..Ya..Jenderal,” ujar sang prajurit, kali ini dalam nada tergagap-gagap.

Dengan mimik serius, Oerip memperhatikan kembali makam-makam tersebut. Wajahnya sedikit mendung.

“ Tetapi maaf Jenderal…Itu bukan makam manusia…” ungkap si prajurit dalam nada agak-agak segan.

“ Lha terus makam apa?”

“ Ehmm..Anu Jenderal…Itu hanya makam ayam, kambing dan…kucing, yang menjadi korban santapan kami sehari-hari…”

Konon sesungguhnya pembuatan komplesk pemakaman binatang itu adalah idenya Djenderal Major Moestopo. Untuk apa? Ya, untuk menghormati jasa-jasa kucing dalam perjuangan karena “sudah bersedia disantap dam mau menjadi jimat dalam perjuangan”. Ada- ada saja Pak Moestopo… (hendijo)

 

 

5 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Eko J.Mubagyo
    #1 Eko J.Mubagyo 12 November, 2014, 15:20

    Haha…muncul juga nama Moestopo di kisah ini..benar-benar jenderal nyentrik.

    Reply this comment
  2. Sanggar Terazam LHD
    #2 Sanggar Terazam LHD 14 Desember, 2014, 11:51

    maaf!!!
    Ini jeLas sangat ngawur.,
    atas nama warga jakarta kami keberatan dengan artikeL ini.,
    mohon di raLat/dihapus…
    Dan harap gak ngambiL referensi tuLisan meLaLui buku2 Karangan Robert Cribb.,

    Trimakasih

    Reply this comment
    • hendi johari
      hendi johari Author 15 Desember, 2014, 13:26

      Terimakasih atas komentarnya Pak Sanggar dan mohon maaf atas nama ilmu pengetahuan saya juga keberatan untuk menghapus artikel ini. Jika anda keberatan terhadap tulisan-tulisan Robert Cribb, adalah lebih terhormat andaikan anda bisa membuat sanggahannya lewat sebuah buku yang disandarkan pada hasil riset-riset yang ketat. Jika masuk akal, saya pun tentunya tak akan ragu-ragu mengutipnya. Terimakasih. Salam

      Reply this comment
  3. Adit
    #3 Adit 16 Desember, 2014, 14:50

    Ijin share ya bang…

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.