Horor di Takokak (4): Nisan-Nisan Tak Bernama

by Agustus 21, 2014

“ …Kami cuma tulang-tulang berserakan…Tapi adalah kepunyaanmu…” (Chairil Anwar, Pujangga Angkatan 45)

SEBUAH pesan elektronik meluncur ke inboks email saya malam itu. Isinya pernyataan seorang kawan dari Belanda yang menyatakan ketertarikannya atas tulisan saya tentang Insiden Takokak di situs www.dutchwarcrimes.com.

“ Selama riset tentang kejahatan perang Belanda di Indonesia, saya baru mengetahui ada praktek kejahatan perang Belanda juga di sana,”ujarnya.

Saya maklum atas ketidaktahuan kawan saya tersebut. Jangankan dia yang rumahnya ribuan mil dari Takokak, orang-orang Takokak sendiri sekarang sama sekali buta akan peristiwa penting bersejarah yang pernah terjadi di daerahnya itu. Itu terbukti saat suatu hari pernah seorang anak muda Takokak yang bekerja di Jakarta, mengaku kaget saat saya menulis status tentang peristiwa tersebut di dinding Facebook saya beberapa bulan yang lalu.

Informasi yang sama saya dapatkan dari dua pecinta sejarah asal Cianjur: Helmy Adam dan Hendrawan Saputra. Mereka bercerita kepada saya, dari  10 orang Cianjur dan Sukabumi yang pernah mereka tanya, sama sekali tak ada yang mengetahui tentang Insiden Takokak ini. “Malah sebagian besar terkesan tak mau tahu,” ujar Helmy.

Saya sendiri mungkin tak akan pernah tahu dan menulis soal ini jika tak bertemu dengan Yusup Supardi. Lantas berkat “dukungan” dari kawan-kawan saya di dutchwarcrimes.com (Ady Setiawan dan Max van der Werff) saya menindaklanjuti informasi yang disampaikan Yusup Supardi tersebut.

Untuk mengonfirmasi data-data dari Yusup, selama dua minggu (dari akhir Oktober hingga awal November tahun lalu), saya bersama  Helmy Adam, Hendrawan dan Agus Thosin (seorang mantan kontraktor di Cianjur yang mencintai sejarah)  melakukan penelusuran langsung ke kawasan Takokak.

Saksi Bisu Kekejaman Perang            

Tujuhpulus satu nisan putih berbaris rapi di atas tanah tinggi yang banyak ditumbuhi pohon rasamala (altingia excelsa noronha). Tidak seperti di pekuburan kebanyakan, nisan-nisan putih itu sama sekali tak memiliki nama. Polos begitu saja.

SAKSI BISU. Nisan-nisan tak bernama ini merupakan saksi bisu kebrutalan perang di Takokak (foto:hendijo)

SAKSI BISU. Nisan-nisan tak bernama ini merupakan saksi bisu kebrutalan perang di Takokak (foto:hendijo)

Inilah makam para korban kejahatan perang tentara Belanda di Takokak. Sejatinya mereka terserak begitu saja di hutan-hutan, rimbunan pohon teh dan jurang-jurang curam.  Namun atas insiatif para veteran Siliwangi setempat dan kebaikan hati para penduduk Takokak, pada 1985 kerangka-kerangka manusia tak dikenal itu lantas dipindahkan dari berbagai tempat ke sebuah lahan milik Dinas Kehutanan di Desa Pasawahan. Orang-orang Takokak menyebutnya sebagai Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu. Nama terakhir itu tentunya mengacu kepada sebuah tugu putih dengan ujung bintang yang berposisi persis di depan jalan menuju makam tersebut.

Hingga kini, makam-makam bersejarah itu  belum mendapatkan perhatian yang penuh dari pemerintah setempat. Alih-alih perhatian, sekadar kunjungan pun, jarang sekali dilakukan oleh aparat.

Menurut Akri, salah seorang polisi hutan yang kerap nongkrong di pos dekat Taman Makam Pahlawan itu, sekitar sepuluh tahun lalu para veteran pejuang 45 setempat masih sering mendatangi tempat tersebut. “Setidaknya tiap memperingati HUT RI dan HUT Divisi Siliwangi para sesepuh itu selalu datang sekadar untuk berziarah dan membersihkan makam-makam tersebut,” ujarnya.

Namun seiring waktu, para veteran pun lambat laun mulai tak pernah lagi ke sana. Selain sebagian sudah meninggal, beberapa yang masih hidup pun sudah mulai sakit-sakitan. Jadilah Taman Makam Pahlawan Cigunung Tugu kembali berteman dengan serakan dedaunan pohon rasamala yang gugur ke bumi selama bertahun-tahun.

“ Ya kalau sampah daun sudah menumpuk, sesekali saya dan kawan-kawan dari Dinas Kehutanan-lah yang membersihkan makam-makam itu,”kata Akri.

Korban Insiden Takokak, Dilupakan?

Hingga kini, tak ada angka pasti mengenai jumlah korban kegilaan militer Belanda di Takokak tersebut. Jumlah kerangka yang tujuhpuluh satu itu sesungguhnya baru sebagian yang ditemukan. Sebagian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cianjur dan sebagian lagi bisa jadi masih bersatu dengan hutan-hutan dan jurang-jurang serta ladang-ladang di Takokak.

Ketika terlibat dalam pemindahan kerangka-kerangka yang ditemukan di Pasirtulang pada 1985, Ukun (64) menyebut jika penggalian diteruskan sampai tuntas, ia yakin jumlah kerangka-kerangka tersebut akan mencapai angka ratusan.

“Makanya sebagai ciri bahwa di sini kemungkinan masih tertanam tulang belulang para pahlawan yang ditembak Belanda itu, penduduk desa sengaja membuat tanda-tanda ini,”ujar Ukun sambil menunjuk sebuah pohon kemuning dan seonggok batu sebesar kepala kerbau di ladang Pasirtulang.

Orang-orang tua di Takokak seperti Andin dan Kholid sendiri tidak pernah percaya jika jumlah mereka yang dibantai tentara Belanda puluhan tahun lalu itu jumlahnya hanya puluhan. Yusup Supardi malah menyebut setidaknya jumlah keseluruhan korban bisa berkisar pada angka 200-an.

Tapi apalah artinya angka-angka tersebut dibandingkan pengorbanan keringat, darah bahkan nyawa para pejuang itu, sementara anak cucunya kini, alih-alih menghargai jasa mereka, sekadar mengingat pun lalai?

Bertanya tentang itu, tiba-tiba saya jadi teringat sebait puisi dari pujangga 45 Chairil Anwar: “ …Kami cuma tulang-tulang berserakan…Tapi adalah kepunyaanmu…Kaulah lagi, yang menentukan nilai-nilai tulang yang berserakan itu…Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, harapan atau tidak untuk apa-apa?…Kami tidak tahu…Kami Tidak lagi bisa berkata…Kaulah sekarang yang berkata! …(hendijo)

SELESAI

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. Eko J.Mubagyo
    #1 Eko J.Mubagyo 12 November, 2014, 16:05

    Mudah-mudahan bisa di akui dan tercatat dalam sejarah resmi seperti Rawa Gede

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.