Horor di Takokak (3): Perburuan Kaum Republik

Horor di Takokak (3): Perburuan Kaum Republik

by Agustus 21, 2014

Militer Belanda secara membabi buta menangkap dan membunuh siapa saja yang mereka anggap sebagai gerilyawan.

SIAPAKAH sebenarnya orang-orang sipil yang dibantai oleh militer Belanda di Takokak itu? Hingga saya membuat tulisan ini, belum ada kejelasan soal itu. Namun dari keterangan Yusup, disebutkan mereka adalah orang-orang yang dicurigai sebagai simpatisan republiken dan menjadi target operasi pembersihan pasca “enyahnya” Siliwangi dari Jawa Barat. Rata-rata  mereka diambil militer Belanda dari wilayah sekitar Sukabumi dan Cianjur.

“Memang bisa jadi yang ditembak itu adalah kaum republiken beneran, tapi tak sedikit pula dari mereka merupakan korban fitnah semata,”ujar mantan petarung republik yang di hari-hari tuanya pernah menjadi kuli panggul tersebut.

Diberi Cincin oleh Tawanan

Beberapa bulan setelah kejadian itu, Yusup pernah diceritakan oleh salah seorang uwak-nya yang dulu tinggal di dekat  gedung lama Kecamatan Takokak. Haji Saleh, nama uwak dari Yusup tersebut, sempat melihat puluhan orang luar Takokak dikumpulkan di depan rumah  Syafei, nama camat NICA (belakangan saat detik-detik revolusi berakhir ia tewas dicincang oleh para petarung republik). Mereka diantar kesana dengan kawalan sekelompok opas kecamatan pimpinan seorang lelaki bernama Ateng.

PADAKATI. Dari sini tawanan republik digiring menuju Puncak Bungah, suatu kawasan hutan di Takokak (foto:hendijo)

PADAKATI. Dari sini tawanan republik digiring menuju Puncak Bungah, suatu kawasan hutan di Takokak (foto:hendijo)

Almarhum Haji Saleh bahkan pernah berbicara dengan salah satu tahanan yang mengaku sebagai seorang amil (penghulu) di Sagaranten, sebuah kawasan yang masuk wilayah Sukabumi. Saat ditanya oleh Haji Saleh, musabab ia sampai ada di Takokak, dalam wajah sedih, sang amil menyatakan sama sekali tak tahu. “Ya mungkin sudah nasib saya harus mati di sini,”jawabnya. Besoknya sang amil itu memang benar-benar tewas diberondong peluru Belanda di kawasan Cikawung.

Andin juga pernah mendapatkan kisah mengharukan tentang para tawanan republiken yang dibantai tentara Belanda itu. Salah seorang kerabatnya yang tinggal di kawasan Padakati menceritakan dirinya pernah diberi sebuah cincin emas oleh salah satu tawanan tersebut beberapa jam sebelum mereka dieksekusi di Puncak Bungah.

“Kepada saudara saya, tawanan itu bilang bahwa barang itu tidak akan berguna lagi buat dirinya,” ujar mantan lurah Desa Sindangresmi itu.

Sebagai mantan telik sandi Siliwangi, Yusup sangat mafhum jika  saat itu sangat mudah menuduh seseorang sebagai “mata-mata republik”. “Istilahnya seseorang kepergok pernah ngasih beras sebutir sekalipun atau seteguk minuman sama tentara republik, ia bisa langsung dicap sebagai mata-mata,”ujarnya.

Jika itu terjadi, tanpa banyak kata, “sang mata-mata” akan diciduk lalu dibawa ke kantor ID (sejenis satuan gugus intelijen-nya militer Belanda). Usai diinterogasi, mereka kemudian langsung dibawa ke Takokak. “Waktu itu, kalau mendengar seseorang dibawa ke Takokak oleh Belanda, sudah dipastikan ia tak akan kembali ke rumah,”kata Yusup.

Atjep Abidin (90) adalah saksi lain dari keganasan militer Belanda di Takokak. Dengan mata kepalanya sendiri, ia pernah menyaksikan sejumlah tiga kali,  puluhan orang yang tangannya terikat digiring oleh seorang tentara Belanda totok berbaret hijau ke arah Puncak Bungah dan Jalan Lima. Ia yang merupakan  anggota gerilyawan setempat sesungguhnya saat itu merasa geregetan dan “frustasi” melihat pemandangan itu.

“Ya bagaimana tidak geregetan, Belanda itu cuma beberapa orang. Kalau saya punya senjata bagus, mereka pasti itu sudah saya bunuh!”ujarnya dalam nada berapi-api.

Gugurnya Mayor Harun Kabir

BERBURU KAUM REPUBLIK. Serdadu Belanda di Sukabumi saat Agresi I (foto:tropenmuseum)

BERBURU KAUM REPUBLIK. Serdadu Belanda di Sukabumi saat Agresi I (foto:tropenmuseum)

Aksi Pembersihan orang-orang republiken oleh militer Belanda di wilayah Sukabumi dan Cianjur, ternyata tidak hanya dilakukan pasca hijrahnya Divisi Siliwangi ke Yogyakarta. Jauh sebelum terjadinya Perjanjian Renville, perburuan orang-orang republiken sudah  berlangsung. Bahkan semakin brutal, karena militer Belanda memiliki ambisi untuk menghabisi pasukan Divisi Siliwangi  di Jawa Barat.

Sekitar awal tahun 1947, Nyalindung yang  menjadi pusat sementara pemerintahan daerah Sukabumi dikepung militer Belanda. Pengepungan itu menjadikan aparat pemerintahan dan militer pro Republik Indonesia meluputkan diri ke pelosok Sukabumi. Salah satunya adalah pimpinan gerilyawan dari Divisi Siliwangi yakni Mayor Harun Kabir.

Menurut Hetty Kabir,  untuk menghindari kejaran militer Belanda, mantan Kepala Staf Brigade Soerjakantjana, Divisi Siliwangi itu mengungsi ke Takokak. Bersamanya ikut pula istri dan anak-anaknya.

“Kami tinggal di sebuah kampung bernama Cioray, ” kenang putri kedua Mayor Harun Kabir tersebut.

Namun karena dinilai kurang aman, Bisri Artawinata (lurah Takokak) memindahkan Harun dan keluarganya ke kawasan ladang huma di bukit dekat pinggiran kampung. Untuk beberapa hari, kondisi mereka aman dari perburuan militer Belanda. Namun entah kurang hati-hati atau karena ada pengkhianatan, lambat laun telik sandi militer Belanda mencium keberadaan Mayor Harun.

“ Saya diberitahu oleh kakak saya bahwa orang yang membocorkan keberadaan Pak Harun katanya masih orang Takokak juga,”ungkap Andin.

Suatu subuh pada November 1947, Mayor Harun dan kedua pengawalnya serta anak-istrinya  dikejutkan oleh kedatangan tiba-tiba sekitar satu peleton serdadu Belanda. Saat itu Mayor Harun Kabir tengah bersiap-siap akan pergi ke Sukanegara pagi harinya. Rencananya daru Sukanegara, ia akan melanjutkan perjalanan ke Markas Besar Tentara (MBT) di Yogyakarta

Tak ada pilihan, sang mayor dan kedua pengawalnya pun menyerah. Begitu mereka mengangkat tangannya, tanpa ba bi bu, para serdadu Belanda menggiring mereka ke luar dangau. Di luar, sersan Belanda yang memimpin pasukan Belanda itu lantas memerintahkan anak buahnya untuk menembak mati ketiga anggota Siliwangi tersebut.  (hendijo)

 

Bersambung…

 

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.