Hari-Hari Merah

by Juli 7, 2014
Muso usai ditembak mati TNI (sumberfoto: hastamitra.org)

Muso usai ditembak mati TNI (sumberfoto: hastamitra.org)

Empat episode dalam hidup seorang kiri

SURABAYA 1916.Gang Paneleh baru saja tenggelam dalam malam. Di sebuah rumah sederhana, suara sendok  dan garpu yang  beradu dengan piring dan mangkuk ramai berdenting. Di meja makan, beberapa lelaki nampak tengah menikmati makan malam.

Seraya bersantap,  suara mereka sedikit ramai: memperbincangkan persoalan kapitalisme dan upaya-upaya jahat para penganutnya untuk menghisap Kepualauan Nusantara.

“Apa yang dapat kita buat dengan situasi begini?”ujar  Muso, seorang muda bermata tajam

“Tentunya tak baik juga kita diam. Sudah cukup Negeri Belanda menghisap dan memperkaya diri dari kekayaan negeri kita,”jawab anak muda lain yang berpenampilan lebih tenang bernama Alimin.

“Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?”tiba-tiba terdengar suara kecil tercetus begitu saja di ruangan tersebut.

Kedua anak muda itu cepat mengalihkan pandangan ke sumber suara tersebut: seorang remaja tampan,beralis tebal dengan tubuh kurus yang ada di sisi meja makan. Seraya tersenyum wajah kedua anak muda itu tak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka terhadap perhatian seorang pemuda tanggung yang sedari tadi hanya terdiam saja itu.

Tjokroaminoto, lelaki yang jauh lebih tua dari mereka, ikut menoleh juga kepada pemuda tanggung yang tak lain adalah Sukarno itu.  “Anak ini sangat ingin tahu,”ujarnya seraya tersenyum.

Usai menyeruput seteguk air, Tjokro lantas berkata: “De Vereenidge Oost Indische Compagniemenyedot dan mencuri kira-kira 1800 juta gulden dari tanah kita setiap tahun untuk member makan Den Haag.”

“Lalu apa yang tinggal di negeri kita ini?” Sukarno makin keras bertanya.

“Rakyat tani kita yang mencucurkan keringat mati kelaparan dengan makanan segobang sehari,”tanpa diminta Alimin mewakili gurunya menjawab pertanyaan tersebut.

“Kita menjadi bangsa kuli dan menjadi kuli di antara bangsa-bangsa,”tambah Muso

“Serikat Islam bekerja untuk memperbaiki keadaan dengan mengajukan mosi-mosi kepada Pemerintah,”Tjokro menimpali,”Pengurangan pajak dan serikat-serikat pekerjahanya dapat digerakan dengan upaya kooperatif terhadap Belanda. Ya walaupun kita sesungguhnya membenci kerjasama ini.”

“Tapi apakah baik untuk membenci seseorang sekalipun ia orang Belanda?”Sukarno semakin semangat bertanya.

“Kita tidak membenci rakyatnya. Kita membenci sistem pemerintah kolonial,”tukas Tjokro

“Lalu mengapa nasib kita tidak berubah kendati rakyat kita telah berjuang melawan sistem itu sejak berabad-abad?”tanya Sukarno lagi

“Karena para pahwalan kita selalu berjuang sendiri-sendiri. Masing-masing berperang dengan pengikut yang kecil di daerah yang terbatas,”kali ini Alimin yang menjawab.

Sukarno terdiam. Ia coba mencerna dan merenungkan semua kata-kata dari orang-orang yang kelak menjadi guru-guru politiknya tersebut.

“Sejak itulah aku sadar bahwa kita kalah karena tidak bersatu,”kata Sukarno seperti yang disampaikan kepada Cindy Adams dalam Bung Karno Peyambung Lidah Rakyat Indonesia.

*

YOGYAKARTA 1948.Berita kedatangan tokoh komunis Indonesia bernama Soeripno bertiup santer di bulan Agustus itu. Ia yang selama ini berpetualang di negara-negara Eropa Timur tersebut  dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Sukarno.

Dalam pertemuan itu,Soeripno katanya akan didampingi Soeparto, yang diakuinya sebagai sekretaris pribadinya. Lantas siapa Soeparto? Tak ada satu pun orang yang tahu dan peduli kepadanya.

Orang mulai peduli dan terkejut saat pada 13 Agustus 1948, kedua komunis itu benar-benar menemui Sukarno. Begitu bertemu dengan kedua orang penting tersebut, alih-alih menyambut secara mesra Soeripno, Sukarno justru menghambur ke arah lelaki kekar paruh baya yang berdiri di samping Soeripno.

Rupanya Soeparto yang diakui Soeripno sebagai sekretaris pribadinya itu tak lain adalah Muso, tokoh komunis Internasional yang tak lain adalah salah satu guru politik Sukarno selama kost di Gang Paneleh.

Seperti kesaksian seorang wartawan yang dikutip oleh Soe Hok Gie dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, pertemuan antara Muso dan Sukarno berlangsung mengharukan. “Bung Karno memeluk Muso dan Muso pun memeluk Bung Karno. Air mata mereka terlihat berlinang…”ujar sang wartawan.

“Lho kok masih awet muda?”tanya Sukarno seraya tertawa dan tak melepaskan rangkulan tangannya.

“Oh ya, tentu saja.Ini memang semangat Moskow, semangat Moskow selamanya muda,”jawab Muso.

Mereka lantas dipersilakan masuk ke ruangan kerja Bung Karno. Saat Muso akan duduk di salah satu kursi, Sukarno menariknya dan membimbing lelaki itu untuk duduk disampingnya, dalam sebuah kursi panjang.

“Muso ini dari dulu memang jago.Ia yang paling suka berkelahi. Ia memang jago pencak. Juga orang yang suka bermain musik. Kalau pidato, ia akan nyincing lengan bajunya,”kata Sukarno menceritakan sedikit riwayat hidup sang guru.

Mereka lantas berbicara panjang lebar. Perbicangan serius itu kadang disela oleh topik-topik romantisme sekitar kehidupan mereka dulu sebagai sesama penghuni kos-kosan Tjokroaminoto di Gang Paneleh.

Sampailah waktunya perbincangan dua sahabat serta guru dan murid itu berakhir. Sebelum berpisah Bung Karno menyatakan harapannya Muso suka membantu kerja-kerja dia dalam melancarkan revolusi Indonesia.“Tentu saja. Itu sudah kewajiban saya. Ik kom hier om orde te scheppen (saya datang ke sini memang untuk menuntaskan masalah),”jawab Muso seraya tersenyum dan memegang erat uluran tangan Sukarno.

**

37 HARI KEMUDIAN. Partai Komunis Indonesia (PKI) memimpin apa yang dinamakan sebagai upaya-upaya untuk menyelamatkan Republik Indonesia dari “unsur-unsur fasis militeristik  dan kolaborator Jepang Sukarno-Hatta”.

Penyelamatan tersebutd diwujudkan dengan “meniadakan” Republik Indonesia dan menggantinya dengan suatu bentuk pemerintah kreasi Muso yang disebut Front Nasional/Front DemokrasiRakyat di Madiun.

Selain PKI, FN/FDRberisi Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Partai Buruh, Partai Sosialis, Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), unsur-unsur tentara dari Divisi Pabembahan Senopati dan beberapa pejabat lokal di Madiun.

Demi mengahadapi upaya makar ini, pada 19 September malam, lewat corong Radio Republik Indonesia(RRI), Sukarno menyatakan kekecewaan sekaligis kemarahannya dan menilai kubu FN/FDR sebagai penggunting dalam lipatan. Lantas ia  berkata:

“Atas nama perjuangan untuk Indonesia Merdeka,aku berseru kepadamu:…Ikut Muso dengan PKI-nya yang akan membangkrutkan cita-cita Indonesia Merdeka atau ikut Sukarno-Hatta yang Insha Allah dengan bantuan Tuhan, akan memimpin negara Republik Indonesia yang merdeka, tidak dijajah oleh negara apapun juga!”

Sesungguhnya, Muso sendiri saat itu sedang di luar kota Madiun dan tidak terlibat dalam pembentukan Pemerintah FN/FDR. Namun pada 19 September ia menghadapi kenyataan pemerintahyang didirikan atas konsep pemikirannya itu telah dibentuk. “Senang atau tidak senang, ia harus menghadapinya…”tulis Soe Hok Gie.

Muso lantas mulai memainkan bidaknya. Di depan corong Radio Gelora Pemuda Madiun, ia membalas ultimatum Sukarno dengan pidato yang tak kalah berapi-api:

“Sudah tiga tahun revolusi nasional kita berjalan di bawah pimpinan kaum borjuis nasional, yang bersifat goyang menghadapi imperialis umumnya dan terhadap Amerika khususnya…Sebaliknya anasir-anasir pemerintah telah memakai revolusi kita sebagai kuda-kudaan untuk menguntungkan diri. Mereka sewaktu pendudukan Jepang telah menjadi quisling budak-budak Jepang, tukang jual romusha dan propagandis-propagandis Heiho…Sukarno memakai alasan-alasan palsu telah menuduh FDR dan PKI Musso sebagai tukang pengacau dan lain-lain. Lupakan Sukarno!…Rayat seharusnya menjawab: Sukarno-Hatta, budak-budak Jepang dan Amerika. Memang cirri wanci lali ginowo mati. Pasti rakyat akan menjawab: Musso selamanya menghamba rakyat Indonesia, Hidup, merdeka dan menang perang!”

Sejarah mencatatakibat dua pidato itu, rakyat Indonesia kemudian saling bantai dan saling bunuh. Revolusi bergerak kencang dan menghantam apapun yang ditemuinya,termasuk “anak-anak kandungnya”.

***

AKHIR OKTOBER 1948. Pendirian PemerintahFN/FDR berhasil digagalkan oleh tentara yang tetap setia kepada Sukarno-Hatta.Alih-alih mereorganisasi perlwanan , kekuatan sayap kiri yang dipimpin oleh Musso itu malah kocar-kacir. Untuk menghindari pengejaran tentara pemerintah,Musso sendiri memutuskan menghilang: meneruskan hari-harinya yang selalu penuh dengan warna “merah”. Dan untuk beberapa minggu upayanya itu berhasil: tentara pemerintah tak bisa mengendus keberadaan agen komunis internasional tersebut.

Hingga tibalah pada 31 Oktober 1948. Para petugas keamanan Desa Balong mencurigai seorang lelaki priyayi dalam penampilan sederhana tengah berjalan seorang diri. Ketika dihentikan, awalnya lelaki tersebut sangat kooperatif. Ia menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kedua petugas tersebut dan memberikan selembar surat keterangan jalan. Namun ketika salah satu dari petugas itu merampas buntelan sarung yang ia bawa, tiba-tiba ia mengeluarkan sepucuk pistol dan langsung menembak sang perampas.

Usai menembak, ia lantas kabur dengan sepeda ontel milik salah seorang petugas desa itu. Di tengah jalan, ia bertemu dengan sebuah dokar dan di bawah ancaman pistol, kusir dokar tersebut dipaksa untuk membawanya dalam kecepatan tinggi. Dalam Sekitar Perang Kemerdekaan IndonesiaVIII, A.H. Nasution menceritakan tentara setempat kemudian cepat berkoordinasi menanggapi kejadian di Desa Balong itu.

Sementara itu di tengah perjalanan, dokar yang ditumpangi lelaki yang tak lain adalah Musso tersebut berpapasan dengan sebuah mobil yang ditumpangi oleh serombongan prajurit dari Batalion Sunandar. Begitu melihat mobil tersebut, dengan sigap, Musso meloncat dan langsung menodongkan senjatanya ke arah para penumpang.

Kendati para prajurit itu bersenjara, todongan senjata Musso lebih cepat. Terpaksalah mereka menuruti perintah Musso untukmeninggalkan mobil tersebut. Musso sendiri dengan cepat langsung duduk dibelakang kemudi. Namun dasar sial, ketika distater mobil itu tiba-tiba tak mau hidup. Melihat situasi tersebut salah satu dari prajurit itu lantas meraih sten gundi bagian belakang mobil dan langsung menodongkannya ke arah Musso.

“Keluar dari mobil dan menyerahlah!”teriaknya.

Musso dengan tenang keluar dari ruang kemudi. Dalam tatapan tajam bak singa siap bertarung, ia justru membalas teriakan sang prajurit dengan kata-kata yang pelan namun tegas: “Engkau tahu siapa saya?! Saya Musso! Engkau baru kemarin jadi prajurit dan sekarang berani-beraninya meminta saya untuk menyerah pada engkau?! Tidak! Saya tidak akan menyerah! Lebih baik mati daripada menyerah! Walau bagaimanapun saya tetap merah putih!”

Menyaksikan sikap Musso yang sangat percaya diridan berwibawa, para prajurit itu menjadi keder. Alih-alih memberondong tubuhMusso dengan sten, mereka justru melarikan diri menuju desa terdekat. Beberapa saat kemudian, perburuan pun dimulai. Musso yang melarikan diri ke sebuah kampung kemudian memilih sebuah kamar mandi untuk tempatnya bertahan sekaligus bersembunyi.

Kapten Sumadi yang memimpin perburuan itu, lantas mengepung tempat tersebut dan meneriakan kata-kata agar Musso menyerahkan diri.Alih-alih menyerah, kata-kata Sumadi malah dijawab Musso dengan tembakan. Maka tanpa ampun para prajurit itu kemudian memberondong kamar mandi tersebut dan usai menghentikan tembakan beberapa menit kemudian, mereka menemukan tubuh sang pemimpin pemberontakan itu tengah terkapar dalam genangan darah. Musso kemudian diberitakan tewas. ” Mayatnya lantas dibawa ke Ponorogo dan setelah dipertontonkan ke khalayak kemudian dibakar,”tulis Soe Hok Gie. Sejarah memang tak bisa diterka, ke mana arah sesungguhnya berjalan (hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.