Di Balik Pidato Si Bung

by Juli 10, 2014
Bung Karno dalam suatu pidato di depan rakyat (sumber foto: Majalah LIFE)

Bung Karno dalam suatu pidato di depan rakyat (sumber foto: Majalah LIFE)

Persaingan dua loyalis  Sukarno yang melibatkan perempuan-perempuan bule

GANIS HARSONO terperangah dalam rasa kaget yang bukan alang kepang. Di tengah riuh rendah massa yang memenuhi Istora Senayan siang itu, ia tak habis pikir, bagaimana bisa isi  “teriakan khas” Presiden Sukarno di depan peserta peringatan dasawarsa Konfrensi Asia Afrika itu berbeda dengan isi  copy naskah pidato yang tengah  ia pegang. “Kok bisa terjadi seperti ini?”pikir diplomat senior Indonesia tersebut.

Dalam perasaan tak menentu itu, Ganis lantas menengok ke arah kumpulan para wartawan. Benar saja perkiraannya, sambil memegang kertas copy naskah pidato tersebut, para kuli tinta itu terlihat bergumam dalam ketidakmengertian. Sebagian dari mereka, terlihat memandangnya, seolah meminta penjelasan tentang“kekacauan” ini.

“Naskah siapa kemarin itu?” tiba-tiba sekretarisnya yang bernama Ali Alatas (kelak menjadi Menteri Luar Negeri di era Pemerintahan Presiden Soeharto) berbisik kepadanya.

“Ini copy asli naskah pidato Presiden,” jawabnya sambil membolak-balik kembali lembaran kertas yang di awal tulisannya tertera judul Keep the Bandung Spirit High. Lantas naskah karya siapa yang tengah dipidatokan oleh Bung Karno  di atas podium tersebut?

**

MEMASUKI AWAL 1960-AN, kondisi kesehatan Bung Karno mulai menurun. Situasi ini tentu saja berpengaruh kepada kemampuannya untuk melakukan aktifitas sehari-hari, termasuk ia tidak lagi sanggup menulis sendirian konsep pemikiran yang akan dipidatokan di depan khalayak mancanegara. Akhirnya diputuskan, setiap pidato Si Bung  akan ditulis oleh sebuah tim ghost writers (penulis bayangan).

Julius Pour dalam G30S, Fakta atau Rekayasa, menyebut setidaknya ada dua tim penulis bayangan di sekitar Presiden Sukarno yang secara ketat “bersaing”. Tim pertama adalah Soebandrio,yang tak lain adalah Menteri Luar Negeri sekaligus Pimpinan BPI (Badan Pusat Intelejen). Sedangkan tim kedua dipunyai Njoto, Menteri Negara dan juga Waki lKetua II Central Commite Partai Komunis Indonesia (CC PKI).

“ Banyak kalangan (termasuk KetuaUmum CC PKI, Aidit) yang melihat Njoto tak lebih sebagai seorang sukarnois dibanding seorang komunis…”tulis wartawan senior tersebut.

Uniknya, kedua loyalis Sukarno itu memiliki asisten yang masing-masing merupakan perempuan bule. Jika Soebandrio memiliki tandem bernama Molly Warner dari Australia, maka Njoto sangat pas  bermitra dengan Carmel Brickman dari Inggris.

Berbeda dengan anggapan orang kebanyakan yang melihat kehadiran dua perempuan bule tersebut hanya sebagai penerjemah, sesungguhnya mereka berdua memiliki peran yang sangat strategis dalam menuangkan konsep-konsep yang bernas terkait kebijakan politik luar negeri yang dianut Bung Karno. Dunia internasional pastinya tak akan pernah melupakan pidato fenomenal Sukarno  di depan Majelis Umum PBB pada 1964. Konon Molly memiliki peran signifikan dalam penyusunan pidato yang berjudul To Build the World Anew  itu. Siapakah Molly sebenarnya?

Molly tak lain adalah istri Muhammad Bondan, seorang aktivis pergerakan yang “diculik mengungsi” oleh pemerintah Hindia Belanda  ke Australia saat tentara Jepang menyerbu Nusantara pada 1942.  Perempuan kelahiran Selandia Baru dan kemudian menetap di Sydney tersebut kerap menyebut keterkaitan hari kelahirannya dengan tenggelamnya Kapal Titanic., “Saya lahir persis tigabulan sebelum tragedi tenggelamnya kapal pesiar Titanic di lautan dasar Atlantik,” ujarnya dalam In Love With a Nation, sebuah memoir yang ditulisnya langsung. Ya Molly memang lahir pada 9 Januari 1912.

Begitu pemerintahan Indonesia menyingkir ke Yogyakarta pada 1947, Bondan memboyong sang istri bulenya itu ke tanah air. Ia lantas direkrut oleh Sukarno-Hatta sebagai  pejabat di Kementerian Perburuhan. Sedangkan Molly, bekerja di RRI Pemancar Yogyakarta yang khusus mengasuh acara The Voice of Free Indonesia.

Sebagai penyiar RRI, Molly dikenal sebagai penyiar asing yang sangat rajin mengenalkan perjuangan negara yang membuatnya jatuh simpati itu kepada masyarakat internasional. Melihat bakat luar biasa didalam diri Molly, Sukarno kemudian memindahkannya ke Kementerian Luar Negeri. Di sana, ia didapuk untuk mengajar bahasa Inggris  kepada para diplomat Indonesia.

Sekitar awal 1960, Sukarno memutuskan Molly untuk menjadi pendamping Soebandrio dalam membuat naskah-naskah pidato yang khusus ditujukan bagi kepentingan luar negeri Indonesia. Sebagai penulis bayangan sang presiden, Molly sangat mengenal pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan Sukarno saat berpidato. “….Ia gemarmelakukan pengulangan kata sebagai upaya untuk lebih menjelaskan apa yang diamaksud…”katanya.

Molly mengakui jika kemampuan pidato Sukarno sama bagusnya dengan kemampuan ia menulis teks pidato. Molly sendiri sebagai penerjemah sering kehabisan kosa-kata untuk menerjemahkan teks pidato Bung Karno lengkap dengan ekspresi dan bumbu-bumbunya. “Terus terang, saya sering mengabaikan akurasi demi mencapai nuansa terjemahan yang pas. Tapi tentu saja saya lakukan dengan tidak mengubah substansi,” ujar Molly.

Nasib Carmel, tak jauh berbeda dengan Molly. Bertemu sebagai sesama aktivis kiri  dengan Soewondo Budiardjo di Praha, Chekoslovakia pada 1950, ia kemudian dinikahi oleh pegiat Himpunan Sarjana Indonesia (HSI) tersebut. HSI adalah organisasi massa yang sangat dekat dengan PKI.

Lewat PKI inilah, Carmel kemudian terhubung dengan Njoto.Melihat kemampuan Carmel yang sangat baik dalam segi analisa politik dan pemikiran, tokoh PKI saingan Aidit itu (Aidit pernah menyebutnya sebagai kaum revisionis pro Moskwa dibanding Peking), menunjuknya untuk menjadi tandem penulisan pidato-pidato Bung Karno.

Posisi Carmel tetap eksis sebagai penulis bayangan, hingga Insiden 1965 meletus. Ia kemudian ditangkap tentara dan kemudian ikut dibuang ke Pulau Buru bersama suaminya, sebelum Pemerintah Inggris (ia masih memegang paspor Inggris rupanya) turun tangan dan meminta Soeharto mendevortasi perempuan pakar ekonomi lulusan Universitas London itu ke  negeri leluhurnya tersebut pada 1971.

Begitu sampai di Inggris,  dua tahun kemudian Carmel Budiardjo mendirikan TAPOL, sebuah lembaga hak asasi manusia yang menyoroti kehidupanpara tahanan politik di Indonesia.“Saya tak bisa melupakan begitu saja nasib kawan-kawan yang masih berada dipenjara Soeharto,”tulisnya dalam Surviving Indonesia’s Gulag, sebuah judul buku yang mengisahkan pengalaman dia menjadi tahanan politik di Indonesia.

***

DELAPAN BELAS APRIL 1965. Teriakan “hidup Bung Karno!” yang bergemuruh di seantero Istora Senayan tiba-tiba menyeret benak Garnis Harsono ke kejadian sepuluh hari hari sebelumnya. Suatu siang, ketika  akan menghadap Bung Karno guna membahas isi naskah pidato untuk memperingati satu dasawarsa Konfrensi Asia Afrika, ia berpapasan dengan Njoto yang baru saja keluar dari ruang kerja Bung Karno. Mereka lantas bertegur sapa dan saling bertukar senyum.

Senyum masih tertinggal di wajah Garnis, ketika  di mulut ruang kerja Bung Karno diplomat kelahiran Jombang itu, dikagetkan dengan suara keras Bung Karno: “Garnis! Aku sudah bosan dengan gaya pidato tulisan Soebandrio. Aku ingin sebuah pernyataan politik! Bukan pidato pejabat yang pilihan kalimatnya hanya klise. Oratory, I mind you, not a speech.Your minister has got into the habit of falling into philosopichal reveriesthese days…”

Tentu saja segera Garnis mengiyakan keinginan sang presiden itu.  Seminggu kemudian, ia berdiskusi dengan Soebandrio dan Molly Bondan untuk merevisi isi pidato tersebut. Setelah diperbaiki,  pada 17 April 1965, seorang  anggota kawal Presiden Tjakrabirawa mengambil naskah pidato hasil revisi tersebut. Ganis sendiri langsung memperbanyaknya guna disebar ke para wartawan.

Tak dinyana olehnya, ternyata naskah pidato yang dibuat Pak Ban dan Molly tetap tak berkenan di hati Bung Karno. Buktinya, Bung Karno lebih suka“meneriakan” hasil tulisan Njoto dan Carmel di Istora Senayan. Dan Garnis…Hari itu hanya bisa terperangah dalam rasa kaget yang bukan alang kepalang. (hendijo)

 

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.