Aidit, PKI dan Agama Sebagai Candu

by Desember 28, 2014

Benarkah orang-orang komunis itu selalu identik dengan anti agama?

DN.AIDIT. Ketua CC PKI (foto:antara)

DN.AIDIT. Ketua CC PKI (foto:antara)

SEJATINYA kejadian ini sudah agak lama. Pada sekitar awal 1990-an, melalui surat pembaca di Majalah Al Muslimun, Bangil, seorang sarjana sejarah bernama Abdul Rojak “marah-marah”kepada Kuntowidjojo. Pasalnya orang yang mengaku sebagai pemerhati sejarah Islam di Indonesia tersebut tidak menerima sang budayawan menyebut “Ikhwanul Muslimun sebagai kepunyaan Partai Komunis Indonesia (PKI)” dalam buku legendarisnya: Paradigma Islam, Intepretasi untuk Aksi.

“ Saya kecewa. Apa maksudnya Pak Kunto menyebut organisasi Islam terkemuka di dunia tersebut sebagai kepunyaan PKI?” tulisnya.

Lama sekali surat itu tak berbalas. Entah karena Kuntowidjojo tak membaca Al Muslimun atau karena hal lain (terlebih saat itu ia diberitakan sedang sakit keras), yang jelas klarifikasi darinya tak kunjung tiba.

Hingga sekitar 2 bulan kemudian, penerangan itu pun muncul juga. Namun datangnya bukan dari Kuntowidjojo, tapi dari budayawan Sunda Ajip Rosidi. Ajip membenarkan bahwa pada era kejayaannya sekitar 1960-an, PKI memang memiliki sebuah sayap agama yang bernama Ikhwanul Muslimun.

“Saat itu, suatu sayap agama lumrah dimiliki oleh sebuah partai politik. Misalnya PNI yang saat itu juga memiliki sayap agama bernama Jamiatul Muslimin,”ujar Ajip yang menuliskan penjelasan itu saat ia tengah berada di Jepang.

*

KEMARAHAN Saudara Abdul Rojak terhadap Kuntowidjojo tentunya bukan tanpa alasan. Sejak 1985 hingga 1997, hampir setiap tahun orang-orang Indonesia “merayakan” kekejaman PKI lewat layar kaca. Bagi kita yang hidup di era 1990-an, tentunya tak akan pernah lupa bagaimana suara lelaki berparas beku dengan kepulan asap rokok di mulutnya dalam kata-kata khas “Djakarta adalah kunci…” atau “Hari-hari besok adalah hari-hari tindakan…”

Ya, Dipa Nusantara Aidit adalah salah satu sosok antagonis sejarah yang dicekokan oleh rezim Orde Baru kepada generasi muda 80-an hingga awal 90-an. Saya pernah mendengar langsung seorang guru sejarah di Cianjur, dalam mimik benci pernah menyebutnya sebagai pimpinan komunitas anti Tuhan yang licik dan kejam. “Dialah yang menyuruh Letnan Kolonel Untung untuk membunuh para jenderal,”katanya di hadapan murid-muridnya saat itu.

Namun sejatinya, sosok Aidit tidak sesederhana seperti yang dikatakan sang guru sejarah tersebut. Alih-alih tumbuh sebagai seorang yang anti agama, era 1930-an, Aidit muda malah dikenal sebagai seorang muadzin (tukang adzan) di lingkungan tempat tinggalnya yang terletak dalam wilayah Jalan Belantu, Belitung.

“Karena suaranya keras, dia kerap diminta mengumandangkan adzan,”ujar Murad Aidit kepada MajalahTempo pada 2007. Murad merupakan salah satu adik Aidit. Putera ketiga dari Abdullah Aidit yang konon merupakan aktivis partai Islam Masjumi di Belitung.

Uniknya, saat Aidit sudah menjadi aktivis PKI pada 1948, ia pun menikahi Soetanti secara Islam. Dan tak tanggung-tanggung, penghulu yang menikahkan mereka adalah KH. Raden Dasuki, sesepuh PKI Solo!

Aidit juga pernah “menyiratkan”bahwa Nabi Muhammad Saw. bukan hanya milik golongan tertentu dan PKI tidak anti agama. Pada 28 April 1954 saat sebagai Sekretaris I PKI ia berpidato di depan kader PKI Malang, ia menyatakan: “ Nabi Muhammad Saw. bukanlah milik Masjumi sendiri, iman Islamnya jauh lebih baik daripada Masjumi. Memilih Masjumi sama dengan mendoakan agar seluruh dunia masuk neraka. Masuk Masjumi itu haram dan masuk PKI itu halal!”ujarnya seperti dikutip oleh Remy Madinier dalam Partai Masjumi, Antara Godaan Demokrasi dan Islam Integral.

Menurut penulis Prancis tersebut, kata-kata Aidit sontak mendapat respon keras dari para aktivis Masjumi setempat yang langsung mengepung podium tempat Aidit berpidato. Setelah dipaksa oleh Hasan Aidid (Ketua Masjumi Cabang Surabaya), untuk menarik perkataannya, Aidit pun berujar ke khalayak yang mengepungnya: “Apabila diantara saudara ada yang tersinggung oleh ucapan-ucapan saya, maka saya meminta maaf. Saya hanya ingin mengatakan bahwa PKI tidak anti agama.”

**
BEBERAPA tahun yanglalu, seorang kawan pernah mengirimkan foto makam Haji Mochammad Miscbah di Manokwari (Papua) kepada saya. Siapa gerangan Haji Mochammad Miscbah? Ia adalah seorang tokoh PKI Surakarta (sekarang Solo) yang dibuang pemerintah Hindia Belanda akibat memimpin pemberontakan kaum petani dan pekerja pada 1918-1924.

Mischbah merupakan pribadi yang unik. Kesehariannya sebagai seorang muslim yang taat tidak menghalanginya untuk berjuang melawan pemerintah Hindia Belanda di bawahpanji-panji PKI. Alih-alih mendikotomikan islam dan komunisme, ia justru melihat suatu Islam yang baik haruslah berdasarkan sama rata sama rasa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa

“Hai saudara-saudara! Ketahoeilah! Saja saorang jang mengakoe setia pada igama, dan djoega masoek dalam lapang pergerakan kommunis dan saja mengakoe djoega bahoea tambah terboekanja fikiran saja di lapang kebenaran atas perintah agama Islamitoe, tidak lain jalah dari sasoedah saja mempeladjari ilmoe kommonisme, hingga sekarang saja berani mengatakan djoega bahoea kaloetnja keselamatan doenia ini,tidak lain hanja dari djahanam kapitalisme dan imprialisme jang berboedi boeas…”ucapnya seperti dikutip oleh Takashi Shiraishi dalam Zaman Bergerak, Radikalisme Rakyatdi Jawa 1912-1926.

Soal para “komunis yang beragama” itu juga pernah diceritakan oleh salah seorang tokoh Masjumi AbuHanifah. Kendati ia pernah mendengar sobatnya Amir Sjarifudin mengklaim dirinya seorang komunis, namun Hanifah tidak yakin benar ia adalah seorang atheis. “Saya tidak percaya seorang komunis yang membawa-bawa Injil kecil dalam sakunya adalah seorang atheis,”tulisnya dalam Manusia dalam Kemelut Sejarah.

***
LANTAS dari mana datangnya pendapat yang menyebut komunisme sebagai paham yang anti agama? Apa itu muncul dari perkataan Karl Marx: “Agama adalah candu bagi massa rakyat.” ? Atau mungkin kesimpulan awal dari salah satu bait syair lagu Internationale (lagu mars komunis internasional) : “Tiada maha-juru-s’lamat/Tidak Tuhan atau raja?” Saya pikir soal ini memang memerlukan penafsiran yang komprehensif dari seorang yang ahli akan marxisme atau komunisme, bukan sekadar meraba-raba terlebih menafsirkan dengan secara literalis lewat pandangan non marxisme atau non komunisme.

Tapi, kalau boleh saya sedikit menafsirkan (tentu saja tafsiran ini bisa salah), yang “dihantam”oleh Karl Marx dan orang-orang komunis dari kalimat-kalimat di atas, mungkin bukan ajaran agamanya tetapi struktur kekuasaan agama yang sengaja dipelihara oleh kekuasaan (dalam konteks Eropa adalah Gereja) untuk melemahkan daya kritis dan daya juang rakyat melawan tirani. Saya pikir, orang-orang Indonesia cukup akrab dengan jargon-jargon agama yang kerap dijadikan alat kontrol politik rakyat. Inilah mungkin yang dimaksud agama telah menjadi candu (pengurang rasa sakit) bagi penderitaan dan kemiskinan rakyat yang sebenarnya. Ada kawan-kawan yang lebih paham soal komunisme bisa menjelaskan lebih tepat soal ini? (hendijo)

Related HIKAYAT NUSANTARA Articles

Similar Posts From HIKAYAT NUSANTARA Category

4 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Anin
    #1 Anin 7 Juni, 2015, 02:43

    Untuk melihat persoalan di atas sebaiknya tidak hanya melihat PKI namun juga negara-negara Komunis seperti negara-negara blok timur dan RRC. Negara-negara blok timur mempopulerkan “State Atheism” atau Atheisme Negara. Karl Marx sendiri menganut dialektika Materialisme yang menegasikan adanya Pencipta. Aliran Maois ataupun Stalinis juga anti Agama secara keseluruhan baik struktur maupun ajaranya.

    Walaupun memang banyak juga pemuka agama yang simpati terhadap aliran Marxist – Leninisme. Selain H. Misbach ada pula Ubaidullah Sindh dari Pakistan (British India).

    Pada akhirnya toh Karl Marx bukan Nabi, maka bisa salah dan benar. Adalah bijaksana ketika kita secara mengadosi sebagian pandanganya demi kepentingan masyarakat kedepannya juga diiringi dengan penyaringan, atau menjauhi cara pandang Puritansitik terhadap Marxisme.

    Reply this comment
  2. jyounin
    #2 jyounin 10 Juli, 2015, 04:47

    setiap kalimat harus dipahami asbabun nuzulnya,
    untuk mengetahui maksud dari ucapan seseorang, maka kita harus mengenal orang itu secara benar, terlepas dari opini dan reduksi yang berusaha memilah-milih kata sesuai dengan isi hati si penilai, karena pendapat itu memiliki tendensi, dan sejarah lahir dari tujuan-tujuan.

    Reply this comment
  3. Ah
    #3 Ah 11 Juli, 2015, 02:33

    Maaf sebelumnya sy bukan ahli sejarah tp sekedar asah analogi saja. Bahwa tidak sedikit org islam yg berpindah agama hanya suatu hal. Apalagi hanya krn masa muda seorang muadzin apa tidk mungkin berbuat tidak manusiawi untk memuluskan ambisinya.
    Coba dikaji kenapa saat itu yg dibantai (maaf) adl org kebanyakan muslim terutama kyai dan
    ustadz.
    Dan pengikutnya jg kebanyakan orang yang kefahaman ttg Islam kurang. Hal ini saya ketahui dari cerita orang tua saya kelahiran tahun 1930 an. Jadi ke benaran lebih obyektif tidak ada tendensi lainnya.
    Demikian ulasan sayam maaf jika kurang berkenan dan trimakasih

    Reply this comment
  4. sethrash
    #4 sethrash 17 Agustus, 2015, 23:29

    bukannya yg benar “jawa adalah kunci” ya?

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.