Omong Kosong 350 Tahun

by Juli 17, 2014
ilustrasi dari sivofestival.nl

ilustrasi dari sivofestival.nl

Berhentilah berkata bangsa ini pernah dijajah Belanda selama ratusan tahun!

BEBERAPA waktu lalu, saya mengikuti sholat jumat di sebuah masjid dekat Kampus UI. Dalam khotbahnya, beberapa kali sang khatib menyebut bahwa salah satu penyebab umat Islam Indonesia terpuruk adalah karena kita masih belum bisa keluar dari bayang-bayang penjajah yang sudah menguasai bangsa ini selama 350 tahun. Disebut angka itu, tiba-tiba ingatan saya berkunjung ke tahun 1985. Saat itu, saya duduk di kelas 3 Sekolah Dasar, ketika mata pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB) pertama kali diluncurkan oleh Pemerintah Orde Baru. Di era itulah saya sering sekali mendengar ungkapan para guru bahwa penjajahan di Indonesia berlangsung selama 350 tahun. Hah 350 tahun? Pikir saya. Alangkah lamanya.

Namun tak ada yang protes dengan angka tersebut. Semua orang (termasuk saya) seolah sudah sepakat bahwa Indonesia memang dijajah dalam kurun waktu sebanyak itu. Hingga pada 1991, saat duduk di bangku kelas 1 SMA, saya membaca perdebatan antara Soe Hok Gie dengan salah seorang dosen sejarahnya.

Soe sangat tidak terima Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Mengutip pendapat Profesor G.J. Resink (akademisi UI yang berkebangsaan Belanda), aktivis dan mahasiswa sejarah itu menyebut angka tersebut hanya “dramatisasi politik” Soekarno untuk membakar rakyat Indonesia punya jiwa.

“Dalam kenyataannya, Belanda tak pernah bisa menguasai 100% wilayah Nusantara sampai akhir kekuasaannya,”kata Soe sambil menyebut beberapa pemberontakan rakyat Aceh yang masih berlangsung hingga 1942.

Rahmat Safari, salah seorang teman saya yang sangat menggilai sejarah, bahkan berani menyebut penjajahan Belanda atas Indonesia hanya 4 tahun (1945-1949). Apa sebab? “Sebelum 1945, secara de facto dan de jure, memang Republik Indonesia sudah ada?”katanya malah balik bertanya kepada saya.

Logika historis Rahmat saya pikir-pikir memang ada benarnya juga. Nama Indonesia sendiri baru disebut-sebut di kalangan ilmuwan ketika pada 1850, seorang etnolog berkebangsaan Inggris bernama James Richardson Logan menulis Ethnology of the India Archipelago (dimuat dalam The Journal of Indian Archipelago and East Asian Edisi IV. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Adolf Bastian, seorang etnolog Jerman (1826-1905) lantas menulis sebuah buku berjudul Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (Indonesia atau Pulau-pulau di Kepulauan Melayu).

Sebelum 1945, wilayah Indonesia memang dikenal sebagai Hindia Belanda.Artinya India punya Belanda.Itu untuk membedakan dengan Hindia Barat atau India yang punya Inggris. Dua nama itu murni hasil kesepakatan antara bangsa penjajah semata. Dan jauh sebelum ada nama Hindia Belanda,kawasan kita lebih dikenal sebagai Nusantara (artinya diantara pulau-pulau).Isinya terdiri dari berbagai bangsa dan kerajaan seperti Sunda, Bali, Gowa, Pajajaran, Melayu, Andalas, Pagaruyung, Mataram, Banten dan lain sebagainya.

Kembali ke soal angka 350. Rupanya, angka tersebut hulu-hulunya keluar dari mulut salah seorang Gubernur Hindia

Gubernur Jenderal De Jonge (tengah) foto: www.-archief.nl)

Gubernur Jenderal De Jonge (tengah) foto: www.-archief.nl)

Belanda. Namanya Bonifacius Cornelis de Jonge (1931-1936). Ceritanya, pada sekitar pertengahan tahun 1930-an, ia memberikan keterangan ke pers bahwa sebuah Hindia Belanda yang merdeka masih jauh dari kenyataan: “Kami sudah ada di sini sejak hampir 350 tahun yang lalu, dan kami akan tetap di sini sampai 300 tahun kemudian,”ujarnya.

Benarkah apa yang dikatakan De Jonge? Kalaupun itu dihitung sejak kedatangan pertama kali armada Belanda pimpinan Cornelis de Houtman pada 22 Juli 1596 atau Jacob van Neck, van Heemskerck, dan van Waerwijck pada 1 Mei 1598 ,saya pikir ia  tidak salah. Tapi bukankah saat pertama kali mereka datang ke Pelabuhan Banten tujuannya hanya berbisnis semata,bukan melakukan penjajahan? Alih-alih menjajah, mereka bahkan terikat kesepakatan dengan Kerajaan Banten dan justru mempersembahkan upeti kepada Sultan Banten.

Harus diingat pula, setelah berdirinya Maskapai Perdagangan Hindia Timur (VOC) pada 1602 tak serta merta urusan “penguasaan” ekonomi dan politik Belanda atas kawasan Nusantara berlangsung mulus. Berbagai perlawanan terjadi ketika Belanda berniat menganeksasi wilayah kerajaan-kerajaan yang ada saat itu.

Muncullah berbagai perang yang terjadi di berbagai di kawasan Nusantara. Di Jawa Barat muncul seorang  Haji Prawatasari yang memimpin secara sporadis perlawanan terhadap VOC (1703-1707), di Sumatera Barat meletus Perang Padri (1821-1837), di Jawa Tengah dan Yogyakarta terjadi Perang Diponegoro (1825-1830), Perang Aceh I (1873-1907), Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907), dan Perang Aceh II (1912-1942).

Praktis hingga 1942, Belanda tidak bisa sepenuhnya menguasai wilayah Nusantara. Di beberapa kawasan seperti Banten, Aceh dan sebagian wilayah Sumatera lainnya, bahkan secara de facto Belanda hanya menguasai kawasan kota semata. Sedangkan kawasan pelosok dan pedalaman, tetap dikendalikan oleh para pejuang lokal. Pendapat tersebut diperkuat oleh sejarawan dari Universitas Padjajaran, Nina Lubis, Menurut Nina, hingga akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, beberapa kerajaan di Bali, dan beberapa kerajaan di Nusa Tenggara Timur, masih mengadakan perjanjian sebagai negara bebas (secara hukum internasional) dengan Belanda.

Jadi masihkan kita  menyebut dengan “takjub” di mimbar-mimbar dan kelas-kelas bahwa kita telah dijajah Belanda selama 350 tahun? Kalau saya sih ogah. (hendijo)

21 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Muhaimin MI PPAI
    #1 Muhaimin MI PPAI 17 Juli, 2014, 23:24

    Nice Post…. berdasarkan kenyataan sejarah, benar adanya.
    Perlu ada perubahan pandang dan pikiran kepada seluaruh bangsa Indonesia untuk mengubah mindset ttg kebesaraan sejarah Indonesai. Para ahli sejarah seperti Gonggong dsb untuk memberikan tulisan.
    Kadang sulit untuk mengubah pandang yang sudah kaprah salah akibat pernyataan yang sudah turun tumurun….

    Reply this comment
  2. dimaswlp
    #2 dimaswlp 18 Juli, 2014, 02:02

    wah.. baru baca neh ternyata itu cuman kata-kata lebay yg buat kita cari alesan aja ya buat maju. Tentu ini jadi ilmu baru bagi saya, trus kenapa kata-kata ini tetap dicetak dalam buku-buku sejarah..
    Macam Pithecantropus ajah, mau-maunya diboongi manusia dari kera. Sekarang malah bikin film DAWN of THE APES.. wew, film kadal2an..

    Reply this comment
  3. rinasusanti
    #3 rinasusanti 18 Juli, 2014, 06:37

    pelajaran tambahan buat anak saya nih kalau nanti udah belajar pelajaran sejarah di sekolah…thank u kang

    Reply this comment
  4. sejarawan duajati
    #4 sejarawan duajati 18 Juli, 2014, 09:46

    yang anda uraikan memang benar. tapi intinya tidak jauh beda dengan pendapat tukang khutbah yang anda sebutkan tadi. sama-sama jumud.

    Reply this comment
  5. toto
    #5 toto 19 Juli, 2014, 03:26

    Saya bukan sejarawan hanya orang awam, sebetulnya permasalahannya kriteria penjajahan itu apa? Menurut saya penjajahan berarti penguasaan dlm berbagai aspek kehidupan dari suatu bangsa kepada bangsa lain sehingga bangsa yg dijajah sebagian haknya terlanggar. Dengan kondisi tersebut mungkin benar bahwa bangsa belanda yg telah masuk ke kepulauan di Indonesia (meskipun waktu itu namanya belum Indonesia) berabad abad yg lalu tujuannya hanya berdagang dan mungkin juga hanya dengan sebagian kerajaan di wilayah nusantara, akan tetapi apabila cara berdagangnya menggunakan kekerasan dan paksaan serta menimbulkan kesengsaraan kaum pribumi maka apakah itu tidak dapat dikategorikan penjajahan?

    Reply this comment
    • hendi johari
      hendi johari Author 22 Juli, 2014, 01:57

      Sama dengan anda saya juga bukan seorang sejarawan, hanya penikmat sejarah saja…Tulisan saya ini hanya merupakan tawaran untuk berdiskusi…Toh pendapat saya ini bukan yang pertama kok. Oh ya anda punya sumber saat pertama kali datang untuk berdagang ke wilayah Nusantara, orang2 Belanda langsung menggunakan cara kekerasan? Trim

      Reply this comment
  6. widi
    #6 widi 19 Juli, 2014, 18:04

    Belanda ada selama 350 tahun di bumi indonesia, apapun namanya waktu itu. Itu fakta sejarah.
    Tulisan anda cuma menghibur diri saja. Ya silahkan…

    Reply this comment
    • hendi johari
      hendi johari Author 22 Juli, 2014, 01:52

      :D…Maaf tulisan saya ini bukan tonil atau sinetron, jadi tidak ada urusannya dengan hibur menghibur…Jika faktanya kita dijajah Belanda 1000 tahun pun saya akan tulis, jika anda mengatakan keberadaan Belanda di Nusantara selama 350 tahun adalah fakta, maka saya pun bisa mengatakan bahwa mereka tak bisa menguasai sepenuhnya kawasan Nusantara selama 350 tahun…Tentu saja kalau anda menganggap ini hiburan, itu hak anda juga. Ya silakan 🙂

      Reply this comment
  7. hayu
    #7 hayu 25 Juli, 2014, 06:21

    saya dulu sekolah di belanda, semua orang belanda di sana yakin bahwa nenek moyang mereka tidak pernah menjajah Oost Indische (Hindia Timur), termasuk dekan saya yang berakhir dengan perdebatan sengit dengan saya, yang ada adalah bahwa nenek moyang mereka itu mengadakan hubungan dagang dengan kerajaan-kerajaan di nusantara. Pemerintah kerajaan belanda memang pernah mengambil alih tongkat perdagangan dengan mendirikan VoC karena para pedagang mereka cakar-cakaran rebutan lahan manis di nusantara. Gubernur jenderal belanda lah yang diberi kuasa untuk mengatur perdagangan para pedagang belanda dengan para raja/pejabat kerajaan-kerajaan di nusantara. Adanya politik balas budi (dengan menyekolahkan orang pribumi dsb) itu bagi mereka dilandasi karena merasa berterima kasih bahwa para raja/pejabat kerajaan di nusantara masih berkenan memberikan hak istimewa bagi para pedagang belanda untuk mendapatkan (membeli) hasil bumi nusantara yg nilainya lebih berharga dari emas kala itu, yaitu rempah-rempah. Mengapa rempah-rempah sangat berharga bagi mereka kala itu? Karena belum ditemukannya teknologi kulkas. Merica itu kabarnya dulu dipakai untuk mengawetkan daging, jadi dalam panci2 di rumah-rumah mereka masih punya persediaan daging di kala hewan segar susah didapatkan.
    Mengenai kerajaan-kerajaan yang kemudian dianggap tunduk kepada orang belanda/pemerintah itu ya persoalan begonya dia mau aja tunduk. Tapi saya setuju bahwa perlawanan pejuang nusantara menunjukkan bahwa kita tidak pernah sepenuhnya tunduk, tidak pernah keseluruhan nusantara berada dalam kuasa orang belanda/pemerintah kerajaan belanda.
    Politik balas budi sebenarnya masih berlaku hingga saat ini. Pemerintah kerajaan belanda masih saja memberikan beasiswa S2 bagi masyarakat Indonesia, khusus masyarakat Indonesia untuk belajar di negeri mereka. Tapi saya enggak tahu apakah program itu masih akan diteruskan mengingat belanda juga merupakan negara yang terlanda krisis ekonomi beberapa tahun terakhir ini.

    Reply this comment
    • opie
      opie 6 Mei, 2015, 08:51

      Menarik sekaligus lucu kalo mengutip omongan orang2 Belanda yang “merasa” nenek moyang mereka tidak pernah menjajah Hindia-TImur (VOC) yang kemudian menjadi Hindia-Belanda.

      Sederhana aja mematahkannya menurut saya…

      1. Groundwet (UUD) Kerajaan Belanda di Pasal 1 jelas-jelas menyebut Hindia-Belanda merupakan salah satu wilayah koloni mereka selain Suriname dan Curacao.

      2. Kalo tidak disebut menjajah buat apa pemerintah Belanda mengangkat Minister van Kolonien atau Menteri Urusan Negara Jajahan?

      Lucu, karena orang2 Belanda yang mengatakan tidak pernah menjajah Indonesia itu mungkin belum pernah membaca UUD mereka sendiri khususnya UUD sebelum amandemen tahun 1922.

      Reply this comment
  8. danny
    #8 danny 6 Agustus, 2014, 03:04

    Saya setuju dan juga berpendapat bhw Indonesia tdk pernah dijajah Belanda. Pendaratan mereka di Banten 1596, pd awalnya tujuan dagang, itulah kenapa namanya VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie = Kongsi Perdagangan India Timur) tp seiring waktu keberadaan mereka di berbagai tempat di Nusantara (selain Banten) karena mereka menyaksikan kesuburan, kemakmuran dan limpahan hasil bumi di Nusantara, lantas mereka “ngiler” dan muncul niatan menguasai Hindia Timur/ Nusantara atau kemudian bernama Indonesia. Kemudian usaha itu terus menerus mereka lakukan, namun saya tegaskan “tidak pernah berhasil” karena perlawanan-perlawanan rakyat yang ada. Kalaupun ada daerah yang dikuasai, itu tdk berarti menguasai/ menjajah Nusantara/ Indonesia. Pada intinya, Belanda tidak pernah menjajah Indonesia, mereka hanya berusaha menguasai Nusantara/ Indonesia unruk dijadikan koloninya, namun tdk pernah berhasil…

    Reply this comment
    • opie
      opie 6 Mei, 2015, 08:58

      “Saya setuju dan juga berpendapat bhw Indonesia tdk pernah dijajah Belanda”

      Menurut saya ini keliru, karena…

      1. Konstitusi Belanda memasukkan Hindia-Belanda sebagai wilayah koloni Kerajaan Belanda

      2. Kalo kita baca pendapat2 tokoh2 (mayoritas ahli hukum) di negeri Belanda jelang pelaksanaan Politik Etis, kita akan mudah menyimpulkan bahwa Belanda mengakui bahwa memang menjajah wilayah Nusantara yang mereka sebut sebagai Hindia-Belanda.

      Jadi, jangan juga terjebak pada terminologi kata 🙂

      Reply this comment
  9. Samandiman
    #9 Samandiman 7 Agustus, 2014, 04:42

    lah kalau tidak menjajah, ngapain pangerran Diponegoro perang nglawan Belanda…

    Reply this comment
    • hendi johari
      hendi johari Author 7 Agustus, 2014, 07:10

      Soalnya bukan pernah dijajah dan tidak, yang dipersoalkan kan angka 350 tahun itu, Bung 🙂

      Reply this comment
  10. ABIHAMID
    #10 ABIHAMID 16 Agustus, 2014, 00:09

    KESIMPULANYA ADALAH INDONESIA TIDAK PERNAH DIJAJAH OLEH BANGSA MANAPUN..KENAPA?KARENA INDONESIA MEMPERTAHANKAN NEGERINYA DENGAN MELAWAN MEREKA..JADI YANG ADA ADALAH PERLAWANAN BUKAN PENJAJAHAN..

    Reply this comment
  11. Qahar Muzakar
    #11 Qahar Muzakar 28 Agustus, 2014, 02:21

    Di Jawa Barat Haji Prawatasari yang
    memimpin secara sporadis perlawanan terhadap
    VOC (1703-1707), di Jawa Tengah dan
    Yogyakarta terjadi Perang Diponegoro
    (1825-1830), di Sumatera Barat meletus
    Perang Padri (1821-1837), Perang Aceh I (1873-1907), Perang Aceh II (1912-1942). Perang di Jambi (1833-1907), Perang di Lampung (1834-1856), Perang di Lombok (1843-1894), Perang Puputan di Bali (1846-1908), Perang di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah (1852-1908), Perlawanan di Sumatra Utara (1872-1904), Perang di Tanah Batak (1878-1907),

    Mugkin angka 350 itu khusus untuk Pulau Jawa kali ya? 😀
    Kalau di Sumatra, sampai agresi militer Belanda yang kedua pun Aceh masih kokoh.

    Reply this comment
  12. syaifullah amin
    #12 syaifullah amin 12 November, 2014, 16:38

    Tentu saja bila maksudnya begitu maka benar tidak pernah dijajah. Dan Walaupun semisal Yogya dan Solo dll masih berdiri kerajaan, tetapi apakah namanya bila bukan penjajahan? Bangsa itu (Belanda, Spanyol, Portugis, Inggris dan Perancis) datang dengan mengarungi Samudera Luas dan dapat bertindak sewenang-wenang tanpa pernah mampu dipukul mundur dengan pasti.

    Usaha pengusiran ini bahkan telah dilakukan oleh Kerajaan Demak dengan jagoannya yang bernama Adipati Yunus (Dipatiunus). Tetapi para pelaut eropa (Portugis) ini memang benar sudah mengarungi lautan luas. Sejak saat itu mereka membuktikannya hingga sekitar 350 tahun kemudian. Kenyataannya, baru Jepang yang merupakan lawan tangguh yang sepadan bagi eropa. :p

    Reply this comment
  13. Eko J.Mubagyo
    #13 Eko J.Mubagyo 11 Desember, 2014, 06:32

    Jargon politik yang harusnya membakar semangat memerdekakan diri dari penjajah malah berbalik memakan pola pikir bangsa ini, diperparah terucap pertama yang malah keluar dari mulut penjajah..hehe..ironis

    Reply this comment
  14. opie
    #14 opie 6 Mei, 2015, 09:16

    Pada awalnya VOC datang ke Indonesia mungkin memang benar untuk berdagang, setidaknya itulah yang selama ini diekspose.

    Tapi jangan lupa, VOC sejak awal pendiriannya sudah dibekali dengan hak istimewa atau “oktrooi”, yang secara garis besar mengandung:

    1. Hak Monopoli
    2. Hak Kedaulatan

    Mungkin selama ini kita hanya melihat terbatas dari kaca mata perdagangan saja (No 1) jadi terbentuklah opini bahwa seolah2 VOC hanya punya maksud berdagang karena ia adalah perusahaan dagang.

    Tapi jika lupa bahwa kita menelaah Hak Kedaulatan yang diberikan oleh Staaten Generaal atau Parlemennya negara Belanda saat itu, mungkin kita perlu juga berpikir ulang, benarkah VOC itu hanya perusahaan dagang semata?

    Untuk diketahui, dengan Hak Oktrooi itu, khususnya Hak Kedaulatan, VOC disematkan hak yang tidak biasa untuk sebuah perusahaan, misalnya a.l.:

    1. Membuat perjanjian dengan pemerintah setempat,
    2. Membangun benteng-benteng pertahanan,
    3. Membentukan angkatan perang,
    4. Menyatakan perang,
    5. Mengangkat pemerintahan setempat,
    6. Menyelenggarakan administrasi pemerintahan.

    Hak kedaulatan ini mencerminkan hak2 yang dimiliki sebuah negara dalam fungsi2 kelembagaan, yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif, jadi sudah merepresentasikan VOC sebagai perwakilan negara Belanda.

    Oleh karenanya, VOC bisa membuat perjanjian dengan Kerajaan Mataram yang mengatur mengenai batas2 negara, VOC juga bisa mengatur tata kehidupan masyarakat di Batavia dengan plakat2 yang mereka keluarkan, seorang gubernur jenderal VOC pun dipersamakan sebagai perwakilan diplomatik, dst.

    Jangan lupa juga, sejak awal para pemegang saham di VOC, yaitu Heeren Zeventeen sudah memberikan wewenang kepada VOC untuk menggunakan cara apapun termasuk kekerasan untuk mencapai tujuan mereka.

    Reply this comment
  15. lana
    #15 lana 30 Agustus, 2015, 12:45

    Yang saya tau, karakter pemimpin korup demi kepentingan pribadi dan golongan tetap menjadi penyebab bangsa ini “terjajah”. Maaf ya keluar dr persoalan 350th. Saya yakin dulu banyak raja/penguasa yg juga begitu. Tamak, berkongsi dengan kompeni, hingga menyengsarakan rakyat. Gktau lah kerajaan/daerah mana. Tapi buktinya kan banyak di foto2 pribumi yg lagi dipersulit hingga kurus kering badannya. Kalo pemimpinnya saat itu orang yang adil, pejuang tangguh, masa rela rakyatnya digituin. Jadi, dari dulu mah tetep aja pemimpin bumi ini yg menjajah. :!

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.