Malam Jahanam di Laut Arafura

Malam Jahanam di Laut Arafura

by Februari 11, 2015
Tawanan dari KRI Macan Tutul di kapal perang Belanda (foto:koninklijkemarine)

Tawanan dari KRI Macan Tutul di kapal perang Belanda (foto:koninklijkemarine)

Junus Rupami (78) masih mengingat awal terjadinya neraka itu. Di malam jahanam tersebut, ia menyaksikan nyala kembang api menerangi haluan KRI Macan Tutul. Para prajurit dan kelasi berteriak-teriak panik. Rupanya kembang api itu disebabkan oleh tembakan pesawat Belanda jenis Neptune yang terbang di atas mereka setinggi kira-kira 3000 kaki dari permukaan laut. Sejurus kemudian pesawat itu hilang dari pandangan.

” Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…” kenang mantan gerilyawan sukarela Papua pro Indonesia tersebut.

Belum selesai otak Junus mengira-ngira, beberapa menit kemudian tiba-tiba deru suara pesawat itu kembali meraung diatas KRI Macan Tutul. Pesawat itu lagi-lagi melontarkan bom ke arah satuan MTB. Air laut menyembur tinggi di kanan-kiri Macan Tutul. Warna merah api dan asap hitam panjang terlihat dalam air laut.

Pesawat terbang itu kemudian menghilang lagi. Namun suara tembakan dan bom bertubi-tubi menghujani posisi KRI Macan Tutul. Kali ini dari kapal-kapal perang Belanda yang telah berada di sekitar mereka. Sambil memegang senjata , Junus mengambil posisi tiarap di bawah meriam kanan dekat pintu kamar mesin. Dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan desing peluru yang ditembakkan kapal musuh ke arah mereka.

Blummm! Peluru meriam pertama musuh menghantam meriam depan KRI Macan Tutul. Meriam itu tumbang, disusul oleh lontaran dasyat peluru meriam kedua musuh mengenai tiang radar hingga tumbang ke laut. Peluru meriam musuh ketiga mengenai dapur (tengah) kapal menjadi pecah mengeluarkan api dan asap hitam menutupi kapal dari depan sampai ke belakang. Peluruh musuh yang keempat mengenai mesin diesel (listrik) dan mematikan semua aliran listrik. Peluru musuh kelima menghancurkan anjungan dan alat komunikasi (PHB). Situasi di atas KRI Macan Tutul kian kacau: jeritan dan teriakan saling bersahutan. Kemudian tiba-tiba tembakan-tembakan itu terhenti.

” Mungkin mereka sedang mengamati situasi yang terjadi setelah tembakan terjadi…” kenang Junus.

Melihat situasi yang sangat genting itu, dan untuk mengurangi kerugian korban, Komodor Laut Jos Soedarso yang berada di Macan Tutul mengambil alih komando. Beliau langsung memerintahkan KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang yang berada dalam formasi untuk segera menghilang dan mundur ke Posko 001 di Ujir Dobo.

*

HARI ke-15, Januari 1962. KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang dan KRI Harimau bergerak menuju Teluk Etna (Etna Bay) di Selatan Papua Barat. Sejatinya mereka akan menyusupkan dan mendaratkan beberapa sukarelawan Indonesia dan Papua di daerah tersebut. ” Kami dilepas dari Ujir Dobo, Maluku Tenggara, yang menjadi basis pangkalan sekitar pukul 18.00,” kenang lelaki kelahiran Kuruton, Papua itu.

MTB KRI Harimau memuat Peleton I dengan 37 orang. MTB KRI Macan Tutul memuat Peleton II dengan 37 orang termasuk Junus. MTB KRI Macan Kumbang memuat 37 orang juga. Seluruh pasukan (non TNI Angkatan Laut) berjumlah 111 orang. Pasukan yang tergabung dalam pasukan PG 300 “A” ini dilepas oleh Pemimpin Tim Komando Pusat Brigjen TNI AD Gatot Subroto dalam apel yang berlangsung di geladak KRI Multatuli.

Gerakan ini penuh rahasia tingkat tinggi. Semua lampu di kapal dimatikan. Demikian pula semua alat komunikasi. Kesatuan MTB berlayar dalam formasi yang berubah-ubah, Pertama formasi Berbanjar, lalu kedua formasi Sebar-Lebar dan formasi ketiga Paru Lembing.

Setelah tiga jam perjalanan, atau sekitar pukul 21.15 menit waktu di kapal (laut Arafura) terjadi kontak radar. KRI Macan Tutul menangkap kapal-kapal perang Belanda di depan haluan sejauh kurang lebih 7 mile. Itulah awal kedatangan pesawat Neptune yang kemudian menghujami formasi KRI Macan Tutul dengan tembakan.

**

LANGKAH Komodor Jos Sudarso yang memerintahkan KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang untuk keluar dari formasi dinilai Junus memang sangat tepat. Itu dilakukan sebagai upaya mengurangi jumlah korban dan kerugian yang besar. Karena keputusan tersebut, KRI Harimau dan KRI Macan Kumbang itu berhasil “melarikan” Brigjen TNI AD Gatot Subroto, Kolonel TNI AD Mursid dan Kolonel Laut R. Soedomo dan perwira tinggi TNI lainnya.

Sepeninggal dua kapal perang lainnya, KRI Macan Tutul mendapatkan tembakan bertubi-tubi dari pihak musuh. Tak ayal lagi, Macan Tutul luluh lantak. Semua senjata meriamnya tak satu pun utuh. Para penembaknya hancur berkeping-keping. Perlahan-lahan Macan Tutul oleng tanda mulai tenggelam.

Junus masih ingat, ia berada dalam situasi yang tegang dan penuh keragu-raguan. Ia sadar tengah berada dalam zona perang: di sekitarnya peluru berdesing, penuh banjir darah dan air laut. Namun tiba-tiba, muncul kesadaran Junus untuk selamat. Ia lantas berusaha turun guna meloloskan diri. ” Saya melepaskan draachtrim. Sedangkan granat, pisau belati, baret dan pistol FN tetap saya bawa untuk menjaga diri. Kemudian saya merangkak ke belakang ditengah-tengah jenazah teman-teman…”kenangnya dalam suara lirih.

Dengan perasaan sedih, ia “minta izin” kepada mayat kawan-kawan yang ada di dekatnya bahwa ia akan pergi dari kapal itu. ” Saya “berjanji” kepada mereka jika sampai selamat di daratan saya akan menceritakan kepada komandan, teman-teman, istri dan anak-anak, ibu bapak, saudara-saudara dan sanak saudara mereka bahwa mereka tewas sebagai seorang petarung sejati…” ujar Junus.

Tiba di buritan kapal, Junus langsung terjun ke laut. Begitu jatuh di lautan yang berwarna hitam, tubuhnya timbul tenggelam. Junus hampir mati lemas karena di tubuhnya masih menempel pakaian, sepatu  yang otomatis menjadi berat setelah kemasukan air laut. Dengan sekuat tenaga ia berusaha melepaskan sepatu dan bajunya.

Dalam situasi kritis itu, tiba-tiba muncul seorang kawannya, Saulus Sembra membawa sebidang papan sepanjang kira-kira 4 meter, lebar 50 sentimeter dan tebal 4 sentimeter. Sambil berpegangan kepada papan tersebut, berdua mereka berenang, terapung, hanyut mengikuti arus laut. Saat itulah, mereka menyaksikan KRI Macan Tutul meledak dan tenggalam. ” Kami merasakan daya tarikan airnya yang begitu kuat,”kata Junus.

Saat terapung-apung itulah Junus dan Saulus mendengar suara memanggil: “Kumpul ! Kumpul…..!!! Kumpul……!!!! Suara itu terdengar berulang kali. Awalnya mereka ragu. Rasanya tidak masuk akal di laut luas terbuka sepert ini ada suara seperti itu. Mungkin itu suara arwah teman-teman kami yang baru tewas. Atau mungkin suara raja laut di sekitar ini,pikir Junus.

Namun demikian, mereka memutuskan untuk berenang mengikuti suara itu. Semakin dekat, baru

Sketsa hancurnya KRI Macan Tutul (dokumen taufik abriansyah)

Sketsa hancurnya KRI Macan Tutul (dokumen taufik abriansyah)

mereka tahu bahwa suara itu berasal dari sisa-sisa awak KRI Macan Tutul yang tengah berada diatas sebuah perahu karet. Rupanya ketika KRI Macan Tutul kena tembakan pertama, ada para awak yang langsung menyelamatkan diri loncat ke laut dengan membawa perahu karet tersebut. Mereka lantas naik keatas perahu karet dan hanyut mengikuti arus laut.

Suasana mencekam. Dalam kondisi basah kuyup dan sebagian terluka, mereka hanya diam dalam pikirannya masing-masing. Sekonyong-konyong, suatu sorotan cahaya zoeklicht dari kapal perang Belanda menimpa mereka. Terdengar kemudian suara keras dari pengeras suara: “ Di sini Marinier. Untuk TNI, baik perwira, bintara dan tamtama: angkat tangan kalian….!!!”

Seruan itu mereka ulangi sampai tiga kali. Pada seruan ketiga Junus dan kawan-kawannya mengangkat bendera putih (kain putih yang kami ikat diujung sebuah dayung) sebagai simbol internasional bahwa mereka menyerah. Melihat itu kapal perang Belanda menurunkan perhu-perahu karet dengan tentara bersenjata sangkur terhunus. Usai menangkap para prajurit dan sukarelawan tersebut, mereka memeriksa laut sekitarnya dan mengangkat mayat-mayat yang mengapung serta benda-benda untuk dijadikan bukti laporan.

***

JUNUS dan kawan-kawannya, diangkat dengan jaring-jaring kawat ke atas kapal perang Belanda. Saat jaring diangkat (dihibob?) perlahan-lahan mulut jaring jadi mengecil. Jadilah mereka terjepit dan seperti diperas. Ada suatu kejadian menyakitkan hati kala jaring akan diturunkan di atas geladak kapal, ternyata masih ada darah yang menetas dari jaring. Tiba-tiba jaring menjauh lagi dari geladak kapal dan berputar kearah samping kapal. Rupanya kapal belanda itu tidak sudi menerima tetesan darah para prajurit dan sukarelawan Indonesia.

Lebih dari satu jam mereka dibiarkan terperas dalam jaring itu. Begitu yakin tidak ada lagi tetesan darah baru jaring kembali diarahkan ke geladak kapal. Setelah jaring terbuka dan mereka mempunyai ruang untuk bernapas ternyata seorang kelasi bernama Banuardi sudah tidak bergerak lagi. Beberapa prajurit marinir Belanda kemudian menggotongnya ke arah belakang kapal. ” Saya tidak melihat lagi apa yang terjadi, namun saya menduga jenazah Banuardi langsung dibuang ke laut…”kenang Junus.

Dua prajurit Indonesia, Rekrut Niki dan Kelasi II K. Ekson, yang sudah terlihat sekarat dipisahkan dari kami dan ditidurkan di atas brankart menunggu waktunya mati. Sementara 51 orang sisanya, disuruh tidur di geladak kapal tempat apel Marinier. Mereka ditidurkan telentang mengelilingi sebuah botol bir besar (Angker Bir) sebagai pusat kaki mereka. ” Kami disuruh memandangg bintang-bintang dilangit dengan posisi kaki tangan terikat.,”ujar Junus.

****

PADA 16 januari 1962 tepat jam 04.00 WIT , kapal perang Belanda itu berangkat dari laut Arafura dan tiba di Kaimana jam 07.00 WIT. Begitu sampai di dermaga, mereka tahu Niki dan K. Ekson sudah meninggal dunia. Jenazah mereka diturunkan dari kapal ke dermaga kemudian diletakkan di Kantor Bea Cukai (Doane) Kaimana. Selanjutnya mereka dimakamkan di suatu tempat yang saat ini dikenal sebagai TMP Trikora Kaimana.

Para tawanan kemudian diikat dengan satu tali tambang panjang di leher: berjalan beriringan seperi kawanan hewan, dengan dikawal tentara Belanda dan polisi. Sementara di kanan-kiri jalan banyak orang menonton mereka. Setiba di halaman kantor polisi Kaimana, kami dipisah menurut kepangkatan. Yang perwira dan bintara diberangkatkan ke Hollandia (Jayapura). Sementara yang tamtama masuk sel polisi Kaimana.

Pada jam lima sore baru mereka dikeluarkan dan diberi makan berupa nasi dan lauk ala kadarnya. Namun mereka di diberi makan tanpa disertai air minum sama sekali. Tentu saja tenggorokan yang berisi nasi menjadi tersedak. Untuk menormalkan pernafasan mereka terpaksa meminum air kotoran dari kloset yang ada di sel mereka masing-masing.

Besok hari dan seterusnya mereka diangkut secara berangsur-angsur (bergiliran setiap 7 orang) dengan pesawat ke Jefman Sorong. Mereka ditahan di tempat itu selama 17 hari menunggu penjara pulau Undi Biak selesai dibangun. Setelah selesai, baru mereka diangkut dengan kapal perang Belanda Piet Hein ke pulau Undi Biak Timur dan ditawan. Bulan kesebelas Maret 1962 barulah mereka dibebaskan.

Atas jasa Badan Palang Merah Internasional mereka lantas diberangkatkan dengan pesawat angkut dari Biak ke Singapura dan dari sana terus ke Kemayoran Jakarta. Di Jakarta, mereka diterima oleh Presiden Soekarno beserta para menteri, petinggi ABRI, masyarakat ibukota Jakarta termasuk para pelajar. Setelah itu mereka mengadakan tatap muka selama 30 menit dengan KSAL Laksamana Laut Martadinata di kantin MBAL Gunung Sahari 6 Jakarta. Sesudah itu kelimapuluhsatu veteran Perang Trikora itu dibawa ke rumah peristirahatan TNI-AL di Cipayung Jawa Barat dan tinggal selama 20 hari. Sesudah itu mereka kembali ke MABAD (TNI-AD) dan diberi libur atau cuti dengan biaya Negara ke Yogyakarta (dinapkan di Hotel Medeka) dan Solo (diinapkan di Losmen Slamet).

Junus menghela napas saat mengakhiri cerita pilunya tersebut. Ia menegaskan sejatinya ia ikhlas mengalami itu semua. Hanya ada satu pertanyaan besar yang terus timbul dalam pikirannya hingga kini: ” Kenapa operasi yang tingkat kerahasiaannya begitu tinggi dengan mudah diketahui pihak marinir Belanda? Apakah mungkin ada “Yudas” dalam tubuh Tentara Nasional Indonesia?”. Tak ada jawaban kecuali suara desauan lembut angin kota Biak yang ada di sekitar tempat itu. (hendijo/taufikabri)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.