Hikayat Kue Odading

Hikayat Kue Odading

by September 1, 2014

Bagaimana leluhur kita “mengeksekusi”  nama suatu benda?
PERNAH dengar istilah odading? Itu adalah sejenis penganan yang terbuat dari adonan tepung terigu,telur dan gula pasir yang populer di kalangan masyarakat tanah Pasundan. Rasa kue ini empuk dan manis. Harganya pun murah meriah.Saya ingat,saat masih duduk di bangku sekolah dasar pada sekitar awal 1980-an, kue jenisodading2 ini dengan mudah saya dapatkan di kantin sekolah atau di tukang-tukang ngelek.

Tukang ngelek adalah istilah orang Sunda untuk para pedagang penganan yang membawa wadah dagangannya dengan cara mengelek (mengetek?) yakni memangku dari samping (tepatnya dari wilayah kelek atau ketek). Biasanya yang berdagang seorang perempuan setengah baya.

Dulu saya  memang pernah mendengar sekilas soal cerita tentang odading ini. Beberapa waktu lalu, soal ini diingatkan kembali oleh seorang teman di Mizan Pustaka. Ia memberi keterangan tegas tentang hal-ikhwal megapa penganan  itu diberi nama odading. “Saya dengar soal itu pertama kali dari Remmy Sylado,menarik,”ungkapnya.

Teman saya itu  ternyata memang benar adanya. Remmy Sylado pernah mengisahkan soal ini dalam sebuah tulisannya berjudul Disumpahi Pemuda: Satu Nusa Satu Bangsa Dua Languanges. Menurutnya, konon istilah odading “dieksekusi”  sebagai sebuah nama oleh orang Sunda karena sebuah peristiwa lucu.

Ceritanya, seorang putera meneer (arinya harfiahnya adalah “tuan”, istilah untuk pejabat atau tuan tanah Belanda era kekuasaan Hindia Belanda) yang masih bocah menginginkan sebuah penganan yang dijajakan anak kampung. Ia lantas mengutarakan keinginannya tersebut ke sang ibu. Sayangnya, sinyo kecil itu tidak memiliki informasi cukup mengenai “identitas” kue lezat itu. Ia hanya bisa menunjuk-nunjuk dagangan yang tengah dipanggul tersebut.

Sang nyonya pun penasaran. Ia kemudian memanggil ujang penjual kue dan menyuruhnya membuka daun pisang yang menutup kue tersebut. “ Melihat kue itu, berkatalah sang nyonya kepada anaknya, “0, dat ding?” Artinya, “0, benda  itu?”tulis Remy dalam makalah yang ia presentasikan di depan mahasiswa The University of Melbourne, pada 2001 itu. Entah kata-kata sang nyonya itu didengar oleh pembantunya atau tetangganya, yang jelas setelah itu, penganan bulat berasa legit tersebut dikenal orang sebagai kue odading.

Di Indonesia, memang ada banyak istilah yang asal muasalnya dari ungkapan orang asing. Bisa jadi itu, terkait dengan narasi besar sejarah kita yang kerap berinteraksi (baik positif maupun negatif) dengan orang-orang asing. Tahun 1990-an, Yoyoh Aisyah, almarhum nenek saya pernah mengisahkan hikayat lucu tentang cau raja jimbluk. Itu adalah nama sejenis pisang raja yang bentuknya besar dan rasanya legit luar biasa. Lalu bagaimana si pisang raja itu sampai mendapat gelar tambahan jimbluk?

Begini kisahnya, satu regu patroli tentara Inggris yang kehabisan logistik nyasar di sebuah hutan Sukabumi. Setelah berhari-hari, sampailah mereka di sebuah ladang kebun milik penuduk dan menemukan sebatang pohon pisang raja yang buahnya sudah masak. Demi melihat “makanan” di depannya, si serdadu berseru keras kepada temannya,”Jim, look! (Jim,lihat!)” Jadilah pisang raja jimbluk.

Hal yang sama terjadi pula di kawasan Jawa Tengah.Dalam Perang Diponegoro (1825-1830), sebuah peleton tentara kompeni yang sebagian besar berasal dari Ambon terjebak di garis depan dan kehabisan bekal.Saat kritis itulah, mereka menemukan kebun pisang lengkap dengan buahnya yang sudah masak. Saking girangnya dapat makanan, mereka berseru dalam bahasa Belanda, “God dank“, artinya ‘terima kasih Tuhan’. Selanjutnya orang-orang Jawa menyebut pisang dengan istilah gedang.

Istilah degan atau duwegan dalam bahasa Sunda yang artinya kelapa muda, mengandung juga hikayat lucu. Dua kata itu konon mengacu kepada seruan jengkel serdadu Inggris dan Belanda yang tengah patroli bersama.Mengapa jengkel? Karena saat mereka menginginkan kelapa muda, tak satu pun penduduk yang bisa menaiki pohon kelapa tersebut. “The Gun!” pakai bedil aja! Demikian kira-kira seruan jengkel itu muncul dari mulut komandan mereka.

Begitulah sejarah kata (etimologi) tentang beberapa istilah yang ada di masyarakat kita. Mungkin bagi sebagian orang, ini tidak penting tapi percayalah sebuah benda yang tidak penting pun pasti memiliki riwayatnya sendiri yang tentu saja memiliki kaitan signifikan dengan alam raya ini. Sesuatu itu bukan hanya sekadar sesuatu, ia memiliki cerita tersembunyi yang berharga bila itu diketahui. (hendijo)

 

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. sapta buana
    #1 sapta buana 12 Mei, 2015, 02:39

    Mbah uti saya suka ndongeng pak. Beliau sering cerita asal kata ini dari apa. Saya tidak ingat keseluruhanya. Tapi kata mbah, permen itu dari kata papermint. Dulu orang belanda suka bawa bola segede jengkol manis pedes seger. Tidak tau kebenaranya saya pak. Itu cuma kata mbah. Sekiranya pak Hendi bersedia mengkonfirmasi kebenaran asal usul kata permen. Terimakasih.

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.