Hikayat Hidoeng Belang

by Agustus 13, 2014

Sebuah skandal di abad  ke-17  yang meninggalkan jejak mendalam pada bahasa kita hari ini

BALAIKOTA BATAVIA. Tempat Sara Specx dan kekasihnya dihukum ratusan tahun lalu (foto:KITLV)

BALAIKOTA BATAVIA. Tempat Sara Specx dan kekasihnya dihukum ratusan tahun lalu (foto:KITLV)

BEBERAPA  waktu yang lalu, Jakarta pernah digocang oleh peristiwa penemuan mayat terpotong-potong dalam sebuah bus kota. Praktek mutilasi yang tak masuk akal secara kejiwaan ini ternyata dilakukan oleh seorang perempuan kepada suaminya sendiri. Perempuan itu mengaku  jengkel dan cemburu dengan ulah sang suami yang katanya seorang hidung belang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istilah hidung belang merujuk kepada para lelaki yang memiliki prilaku suka mengganggu perempuan. Biasanya jenis lelaki seperti ini tak lepas dari hubungan perkelaminan (seks) atau istilah anak muda sekarang: penjahat kelamin.

Entah sudah berapa ratus juta kali,  kata itu disebut orang-orang kita dari dahulu hingga sekarang.  Yang pasti  jarang orang bertanya: ada hubungan apa antara hidung, belang, dan hobi suka mengganggu perempuan? 

Alwi Shahab menyebut istilah hidung belang berasal dari sebuah kejadian di tahun 1629. Saat itu, Batavia tengah digegerkan oleh sebuah skandal yang melibatkan  dua pasangan sejoli: Sara Specx dan Pieter J. Cortenhoeff. “Sara atau sering dipanggil dengan nama Saartje merupakan putri  pejabat VOC yang bernama Jaques Specx dengan seorang gundiknya yang berkebangsaan  Jepang,” tulis Alwi dalam bukunya Robin Hood Betawi.

Begitu lahir, Sara kecil dititipkan sang ayah kepada Jaan Pieterzoon Coen, yang tak lain adalah Gubernur Jenderal VOC di Batavia. Lelaki asal Hoorn, Belanda tersebut lantas menjadikan Sara sebagai anak angkat dan menyerahkan pengasuhannya kepada sang istri: Eva.

Memasuki usia 13 tahun, Sara tumbuh bak mawar yang baru mekar. Wajah cantiknya yang menyiratkan perpaduan antara Barat dan Timur, menjadikan Sara  bukan hanya dikenal di kalangan para sinyo tapi juga menjadi buah bibir dan dambaan para calon perwira muda VOC. Salah satu calon perwira yang tergila-gila itu bernama Pieter J. Cortenhoeff.

Penulis Tjoa Piet Bak menyebut Pieter sebagai prajurit muda penjaga kastil (de vaandrig van de kasteelwacht) yang memiliki wajah tampan rupawan.  Bisa jadi karena ketampanan itu pula, menjadikan ia mendapat perhatian lebih dari Sara dibanding para peminat lainnya. Singkatnya, cinta Pieter tak bertepuk sebelah tangan. “Mereka lantas menjalin sebuah hubungan percintaan diam-diam,”tulis Tjoa dalam Sara Specx, sebuah roman sejarah yang pertama kali diterbitkan di Bandung pada 1926 itu.

Kendati dijalani secara rahasia, tak ayal telik sandi Gubernur Coen mencium juga hubungan tersebut. Pada mulanya, ia memang tak percaya pada laporan para telik sendinya. Namun ketika suatu hari, ia memergoki sendiri Sara dan Pieter sedang “berdua-duaan” di salah satu ruang kastil, maka beranglah Si Tuan Jangkung (sebutan orang Betawi kepada Coen) ini.

Coen wajar menjadi berang. Sebagai seorang Kristen aliran Calvinis yang fanatik, ia sangat membenci segala hal yang berbau kecabulan. Tidak cukup dalam wacana pribadi, kebencian itu lantas ia buat sebagai sebuah peraturan. Dalam bukunya yang berjudul Persektuan AnehLeonard Blusse menyebut soal ini sebagai sebuah ketentuan yang mengikat bagi pegawai-pegawai VOC, terutama  di Batavia.

“Sejak mendirikan pemukiman-pemukiman Eropa di Batavia, pemerintah VOC berupaya menghilangkan jiwa gelandangan dan kecabulan. Hingga hukuman yang kejam dan peraturan yang keras merupakan praktek yang lazim berlaku saat itu,”tulis Blusse dalam karya yang dibuat berdasarkan disertasinya di Universitas Leiden, Belanda tersebut.

Begitu marah dan malunya Coen terhadap kejadian tersebut, hingga ia memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan dua tiang gantungan sekaligus di  depan Stadhuisplein (sekarang Gedung Museum Fatahillah Jakarta). Untunglah, Pengadilan Batavia (Raad van Justitie)  dan para pendeta cepat turun tangan dan memutuskan  hukuman skandal tersebut harus diputuskan lewat meja pengadilan.

Pada 18 Juni 1629, keputusan pengadilan turun: Sara dijatuhi hukuman cambuk  dan Pieter dijatuhi hukuman pancung. Sehari kemudian, Sara diseret ke arah pintu gerbang balaikota Batavia. Setelah dilucuti seluruh pakaiannya, para algojo tanpa  peduli akan jeritan memilukan dari Sara, mendera kulit halus gadis cantik itu dengan puluhan  kali cambukan. Pemandangan keji itu konon menjadi tontonan ratusan orang.

Pieter sendiri digiring ke muka Stadhuisplein. Setelah diikat dalam sebuah tiang pancang,  leher lelaki 17 tahun itu langsung dipenggal. Namun, sebelumnya para algojo mencoreng moreng wajah Pieter dengan arang. Itu dilakukan bisa jadi sebagai bentuk “penghinaan”  khas terhadap seorang pelaku kecabulan.

Ketika kepala Peiter menggelinding ke tanah, orang-orang  Betawi  melihat  bagian hidungnya belang-belang akibat aksi coreng moreng yang dilakukan para algojo kompeni tersebut. Sejak itulah, kata “hidung belang” menjadi stereotipe masayarakat Betawi untuk lelaki cabul. Dari abad ke abad, dua kata tersebut terus diwariskan lewati bibir ke bibir hingga kemudian menyerap dalam bahasa Indonesia yang kita pergunakan sehari-hari saat ini. (hendijo)

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. Dildaar Ahmad
    #1 Dildaar Ahmad 21 Februari, 2016, 01:20

    tulisan yang menarik

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.