BAMBU RUNCING, DARI TAHI KUDA HINGGA RAPALAN DOA

BAMBU RUNCING, DARI TAHI KUDA HINGGA RAPALAN DOA

by Oktober 30, 2015

bambu runcing 1Sjafta (90) masih ingat kejadian 68 tahun lalu itu. Di pagi hari yang dingin, bersama 18 orang kawan-kawannya mereka mengendap-endap di suatu bukit hijau yang mengapit jalan setapak, rute yang dikatakan telik sandi kesatuannya, akan dilewati patroli militer Belanda. Tak ada senjata api kecuali stengun yang dipegang Letnan Anwar (itupun pelurunya terbatas). Semuanya masing-masing hanya memegang sebilah bambu runcing yang dibuat mendadak di hutan Caringin (terletak di tenggara Cianjur) malam harinya. Satu menit, lima menit, seperapat jam, setengah jam waktu terus berlalu dalam sunyi dan tarikan nafas mereka yang tertahan. Suasana tegang mencekam.

Begitu waktu satu setengah jam berlalu, dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara orang-orang berbicara dalam bahasa Belanda. Rupanya patroli yang mereka tunggu sudah mulai datang. Jumlahnya sekitar 9 prajurit yang sebagian besar bule totok dengan seragam hijau kekuning-kuningan dan senjata api di tangan. ” Mereka berjalan tak teratur, dan dalam posisi lengah…”kata Sjafta. Begitu rombongan tersebut ada di bawah mereka, Letnan Anwar meneriakan aba-aba untuk menyerbu. ” Seraaaaaaaaaaaaaaaangggg!!!”

Belasan anak muda pun berloncatan. Teriakan beringas bersanding dengan jeritan panik para serdadu yang usianya rata-rata sama dengan para penyerang. Tak lama kemudian darah menyembur di mana-mana. Sjafta sendiri berhasil menusuk lambung seorang serdadu bule hingga tewas di tempat. Bisa dikatakan, penghadangan itu sukses besar: sembilan serdadu musuh tewas dan semua senjatanya berhasil dirampas oleh pasukan Letnan Anwar.

Di tengah minimnya senjata (sepuluh berbanding satu), kalangan petarung republik memilih bambu runcing sebagai alat untuk menghadapi musuh mereka. Sebagai senjata, bambu runcing mulai dikembangkan semasa pendudukan Jepang, yang saat itu dikenal dengan sebutan takeyari. Sejatinya bilah bambu ini digunakan untuk menghadang pasukan payung musuh yang diterjunkan dari udara. Tentara Jepang juga melatih laki-laki dan perempuan cara menggunakan takeyari, yang kalau digunakan biasanya dibarengi teriakan keras dan pekik kemarahan. ” Laiknya seorang prajurit tengah menggunakan senapan bersangkur,” tulis R.H.A. Saleh dalam Mari Bung, Rebut Kembali!

Semasa dididik menjadi perwira Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor pada 1944, almarhum Moestopo pernah menjadikan bambu runcing sebagai tema “disertasi-nya”. Di hadapan para perwira tinggi Jepang, ia berhasil mempertahankan karya tulisnya yang berjudul ‘Penggunaan Bambu Runcing yang Pucuknya Diberi Tahi Kuda Untuk People Defence dan Attack serta Biological War Fare’. Tidak hanya lulus dan menjadi yang terbaik, karyanya ini malah mendapatkan pujian setinggi langit dari militer Jepang saat itu.

Dan memang banyak cara dilakukan oleh para petarung republik untuk menjadikan bambu runcing miliknya “bukan hanya sekadar bambu”. Dalam bukunya bejudul “Guruku Orang-Orang Pesantren”, Syaifuddin Zuhri menyebut figur Kiyai Haji Subkhi, seorang ulama besar di Parakan, Temanggung yang pada masa revolusi kemerdekaan dijuluki sebagai Kyai Bambu Runcing. Julukan itu tercipta karena Kiyai Subkhi menciptakan sejenis bambu runcing yang disepuh doa untuk nantinya digunakan para petarung republik di medan laga.

Uniknya, para petarung yang datang ke Parakan bukan saja berasal dari kalangan santri semata. Para lasykar yang tergabung dalam barisan kaum kiri pun seperti Barisan Banteng di bawah pimpinan dr. Muwardi, Lasykar Rakyat dibawah pimpinan Ir. Sakirman (tokoh PKI) dan Laskar Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) di bawah pimpinan Krissubbanu juga mendatangi Kiyai Subkhi sekadar untuk mendapatkan barokahnya!

Selagi menjadi Panglima Divisi III TRI untuk wilayah Priangan, almarhum Jenderal A.H. Nasution pernah memiliki kisah lucu terkait bambu runcing ini. Pada April 1946, ia berkesempatan menemani Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara (MBT) Letnan Jenderal Oerip Soemohardjo melakukan inspeksi ke wilayah Tanjungsari, Sumedang.

Begitu rombongan Pak Oerip sampai di lapangan, serentak komandan pasukan berteriak: “ Hormat senjataaaaa!”. Namun bukan bedil yang diangkat melainkan bambu runcing. Seolah tidak ada masalah, Pak Oerip membalas sikap hormat itu dengan khidmat layaknya seorang komandan tertinggi terhadap pasukannya. Namun sambil berjalan memeriksa barisan pasukan bambu runcing tersebut, Pak Oerip masih sempat berbisik dalam nada gurauan kepada Pak Nas: “ Nas, kamu suruh aku periksa pagar bambu ya?” (hendijo/foto:istimewa)

Related HIKAYAT NUSANTARA Articles

Similar Posts From HIKAYAT NUSANTARA Category

2 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Didier
    #1 Didier 11 Januari, 2016, 06:40

    Sayang banget serdadu bule yang tampan dibunuh begitu saja….

    Reply this comment
  2. Kakeknya Mario teguh
    #2 Kakeknya Mario teguh 20 Agustus, 2016, 01:44

    Membunuh orang tinggi besar Mirip pemain smackdown yang memegang senapan canggih dijamannya hanya dengan bambu runcing ?
    Itu butuh keberanian tingkat tinggi dan Teknik kelas dewa !!!!!
    Bahkan Tentara dai nippon yang Terkenal Nekad dan teknologinya mengibangi barat tidak akan Seperti orang indonesia.
    kenapa orang indonesia Bisa mempunyai Skill seperti Dewa ?
    jawabnya , karena Orang indonesia menghargai kehidupan !!!
    Berbeda dengan Belanda dan jepang membunuh banyak orang untuk menguasai harta kekayaanya.
    Sesuai dengan teori Sebab dan Akibat .
    Niatnya aja sudah buruk pasti ujungnya Celaka , yang niat baik aja belum tentu dibalas baik.
    ” Dewa Bambu runcing , SUPPPPPPPEEEEEEER…….!!!!!!

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.