Yang Tersisa dari Rawagede 1947

by Juli 4, 2015

BEBERAPA jam setelah pembantaian itu…

Langit Rawagede dibekap mendung. Suara burung kecil bercicit bersanding dengan teriakan pilu dan tangisan sekelompok perempuan yang kehilangan anak dan suami. Bau mesiu masih menyengat, bercampur dengan bau anyir darah yang tercecer di tanah, dedaunan dan sisa-sisa kayu bekas bangunan yang terbakar.

Di beberapa sudut kaum perempuan mengorek tanah dengan golok. Sekuat tenaga, mereka berupaya memakamkan secara layak mayat suami, anak ataupun ayah mereka. Usai menguburkan jasad-jasad itu di dalam lobang yang dangkal, mereka lantas menumpuk makam-makam itu dengan daun jendela, kayu bakar, daun pintu yang merupakan sisa puing-puing rumah mereka yang dibakar militer Belanda.

rawagede-2Wanti adalah salah satu dari ratusan perempuan tersebut. Bersama ayah dan ibu mertuanya, ia memakamkan jasad Sarman tepat di di halaman rumahnya. “ Setelah mencari kesana kemari, saya menemukan tubuh kaku suami saya tertelungkup di daerah Sumur Bor dengan kepala dan tengkuk berlubang penuh darah…” kenangnya.

Telan termasuk yang kehilangan keponakan dan kakak: Sewan dan Natta. Begitu juga ratusan orang Rawagede lainnya. Tidak saja di dalam dusun, di Kali Cibalong pun ratusan pemuda Karawang yang meregang nyawa terbawa hanyut. Sai, salah seorang korban yang lolos , bahkan menyaksikan salah seorang kawannya sekarat lalu dibawa hanyut air Kali Balong yang saat itu tengah banjir. “ Sebelum ditembak, ia sempat berteriak “ merdeka”, “ ujar lelaki tua yang beberapa waktu lalu baru saja meninggal itu.

*****

HAWA panas yang menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang sudah mulai tak terasa. Tapi deretan pohon bakau masih melambai-lambai disapa angin laut sore. Wanti tua kembali melangkah masuk diringi Sopia (50), salah satu putrinya yang tersisa. Ia kemudian duduk di kursi butut tanpa meja sambil menghadap saya.

Berbuka puasalah di sini, Nak…” katanya.

Ah Emak, mana mungkin orang-orang kota ini mau makanan kita…” tukas Sopia. Saya hanya tersenyum.

Sebagai konsekwensi dari kekalahannya di pengadilan internasional, pemerintah Belanda akhirnya meminta maaf dan memberikan sejumlah uang kompensasi (jika dirupiahkan sebanyak Rp. 240,000,000.00) kepada para penggugat. Apakah uang kompesasi tersebut sampai kepada mereka?

Ya sampai. Walaupun kami hanya menerima uang utuhnya ke tangan sekitar 40 juta rupiah, tapi Alhamdulillah saya sendiri bisa membeli rumah ini dan satu televisi untuk hiburan,” kata nenek yang kini berusia 100 tahun tersebut.

Wanti sendiri tidak pernah mempersoalkan haknya yang terpotong oleh berbagai pihak. Ia malah merasa bersyukur bahwa di masa tuanya ia bisa menerima kemurahan Tuhan dengan memiliki rumah sendiri, kendati kondisinya sangat memprihatinkan. Bagi salah satu saksi sejarah yang masih tersisa ini, kehilangan suami dan rasa traumanya terhadap peristiwa pembantaian itu, sejatinya tak bisa diganti dengan uang sebanyak apapun.

Saya selalu berusaha melupakan kejadian itu…Tapi kalau lagi sendiri kadang bayangannya muncul begitu saja, membuat saya kembali bersedih…” ujarnya dalam nada pelan. Setitik air mata meleleh di kulit pipinya yang keriput. (hendijo)

Pages: 1 2 3

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.