Yang Tersisa dari Rawagede 1947

by Juli 4, 2015

MUSEUM RAWAGEDE 1996. Mayjen (Purn) Lukas Koestarjo menatap tajam patung-patung serdadu Divisi 7 Desember yang ada di balik kaca museum. Tangannya terkepal, lantas tiba-tiba ia memukul berkali-kali tembok museum tersebut. “Bedebah! Saya benci! Saya benci mereka!” teriaknya. Orang-orang di sekitarnya lantas menenangkan Sang Jenderal. Usai meludah ke arah patung-patung itu, Lukas menengadahkan wajahnya, coba menahan air mata yang akan berjatuhan di pipinya.

Lukas Koestarjo wajar merasa marah dan bersalah. Gara-gara dirinya, 431 penduduk Rawagede gugur dan 5 lainnya hilang tak tentu rimba hingga kini. Sebagai komandan Yon Tadjimalela Brigade II Siliwangi, saat itu Lukas memang menjadi buronan nomor satu militer Belanda dan berjuluk “Begoendal van Karawang”. Apa sebab hingga militer Belanda mencap lelaki asal Madiun itu sebagai seorang begundal alias kriminal?

Menurut Sukarman, itu tak lebih dikarenakan Lukas dan pasukannya kerap membuat banyak kerugian di pihak militer Belanda. “Pak Lukas kalau bertempur dengan Belanda punya ciri khas: ia akan memakai seragam prajurit Belanda yang dibunuhnya lantas muncul tiba-tiba di tengah lawan dengan menghamburkan senjatanya. Ya pastinya banyak tentara Belanda yang tewas akibat aksinya tersebut,” ujar Ketua Yayasan Rawagede itu.

Dua hari sebelum kejadian, usai melakukan penyerangan terhadap kedudukan militer Belanda di Pamengpeuk, Subang, Lukas dan pasukannya memang sempat singgah di Rawagede. Rupanya keberadaan Lukas itu tercium oleh telik sandi militer Belanda dan menjadi sebab munculnya keputusan untuk menyerang sekaligus membumihanguskan Rawagede.

Dusun Rawagede sendiri saat itu dikenal sebagai basis kaum republik. Di kawasan yang kaya akan beras tersebut, kesatuan-kesatuan gerilya seperti Lasykar Hizbullah, Lasykar Barisan Banteng, Satuan Pemberontak 88 (SP 88) dan Matjan Tjitaroem memiliki markas masing-masing. “Secara lebih luas, Karawang secara de facto memang menjadi pusat revolusi saat itu,” tulis Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusiener Jakarta 1945-1949.

Keberadaan Lukas di Rawagede pada Minggu, 7 Desember 1947, menurut Sukarman, salah satu tujuannya adalah mengajak para lasykar untuk terlibat dalam operasi penyerangan ke pusat markas Belanda di Cililitan, Jakarta yang rencananya akan dilakukan pada akhir Desember 1947. Pada Senin subuh, Lukas lantas meninggalkan Rawagede. Tanpa dinyana, malamnya militer Belanda bergerak ke arah dusun tersebut.

Sebenarnya penyerangan ini sudah bocor karena dilaporkan oleh Lurah Tanjungpura yang diangkat oleh NICA kepada Lurah Rawagede,” ujar Sukarman.

Untuk mengantisipasinya, anak-anak lasykar dibantu penduduk kemudian membuat rintangan dan merusak jalan masuk di sekeliling desa hingga truk-truk mereka tak bisa lewat. Namun karena nafsu menemukan Lukas, para serdadu Belanda bersikeras melanjutkan penyerbuan dengan berjalan kaki. Jam 4 subuh, mereka sampai di Dusun Rawagede. Maka pembantaian pun terjadi di pagi jahanam tersebut.

Pages: 1 2 3

Related ERA REVOLUSI Articles

Similar Posts From ERA REVOLUSI Category

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.