Turun Gunung Para Maung

Turun Gunung Para Maung

by Juni 12, 2015
Seorang perwira Divisi Siliwangi tengah berunding dengan seorang perwira militer Belanda dan seorang pengawas dari Prancis menjelang pemindahan pasukan TNI d iPerkebunan Ramawati, Sukabumi. (foto:arsip nasional belanda)

MENJELANG HIJRAH. Seorang perwira Divisi Siliwangi tengah berunding dengan seorang perwira militer Belanda dan seorang pengawas dari Prancis menjelang pemindahan pasukan TNI d iPerkebunan Ramawati, Sukabumi. (foto:arsip nasional belanda)

Perintah Kolonel AH. Nasoetion itu datang begitu tiba-tiba. Namun sebagai petugas intelijen Divisi Siliwangi, Letnan Muda Soedarja harus melaksanakan intruksi panglimanya tersebut: menjadi perwira penghubung dengan pihak militer Belanda dalam pelaksanaan mobilisasi terkait hasil Perjanjian Renville di Sumedang.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Soedarja adalah berkoordinasi dengan wakil  dari pihak militer Belanda. Berdasarkan kesepakatan dengan Letnan Kolonel JJ. Malta, perwira menengah dari Divisi 7 Desember , ia harus menyampaikan sepucuk surat kepada  Kapten Sentot Iskandardinata dari Batalyon 27. Isinya: perintah Kolonel AH. Nasoetion agar “para maung ” (artinya para harimau: julukan untuk para prajurit Divisi Siliwangi) turun gunung dan berangkat hijrah ke wilayah Jawa Tengah.

Bersama Letnan Omon dan tiga serdadu Belanda, dengan menggunakan truk militer, pagi sekali Soedarja sudah berangkat ke hutan Rancakalong. Selama perjalanan, Soedarja sempat ketar-ketir. “ Bayangkan saja, saya harus pergi ke “gua harimau” bersama tentara Belanda, bisa-bisa sampai sana saya didorhos (ditembak) sama anak buah Pak Sentot,” kenang lelaki yang saat ini berusia 91 tahun itu seraya tertawa.

Untunglah, Letnan Omon dikenal baik oleh sebagian prajurit Yon 27. Setelah menerangkan maksud dan tujuan serta memperlihatkan surat perintah dari Kolonel AH. Nasoetion, mereka kemudian dihadapkan kepada Kapten Sentot. Komandan Batalyon 27 itu sempat mengernyitkan dahinya  kala membaca surat perintah itu. Raut kekecewaan nampak memenuhi wajahnya. Namun setelah Soedarja  memperlihatkan surat kabar yang memuat berita tentang tercapainya Perjanjian Renville, perwira yang tak lain adalah putera dari pahlawan nasional Otto Iskandardinata tersebut akhirnya hanya bisa mengangguk lemas.

Pada mulanya tentu saja ia kecewa seperti juga halnya saya,” kenang mantan perwira dari Seksi I (Bagian Intelijen) Divisi Siliwangi tersebut.

BERSIAP HIJRAH. Para prajurit Siliwangi dan keluarga bersiap hijrah ke Jawa Tengah (foto: arsipnasional belanda)

BERSIAP HIJRAH. Para prajurit Siliwangi dan keluarga bersiap hijrah ke Jawa Tengah (foto: arsipnasional belanda)

Sesungguhnya, kekecewaan bukan hanya milik Letnan Muda Soedarja dan Kapten Sentot saja.  Seluruh prajurit Siliwangi merasakan hal yang sama. Namun bagi mereka, perintah adalah perintah. Betapapun beratnya hati mereka untuk menghentikan perlawanan dan turun gunung, tugas mereka sebagai tentara tak lebih hanya disiplin kepada  garis komando tertinggi sesuai pidato Panglima Besar Jenderal Soedirman saat itu: “…kepentingan negara harus di atas kepentingan sendiri…Tentara harus tetap memperlihatkan sikap disiplinnya!..”

Para maung lantas bermunculan dari gunung dan hutan. Roeqojah Noeraini (78) masih ingat, bagaimana  kondisi para prajurit muda itu. ” Pakaian mereka compang-camping, sebagian tanpa alas kaki dan badan mereka kurus-kurus karena kurang makan namun terlihat kuat dan bersemangat,” ujar penduduk Sumedang yang waktu itu masih berusia 11 tahun itu.

Pada 1 Februari 1948, sekitar 29.000 prajurit Siliwangi beserta keluarganya yang datang dari seluruh Jawa Barat (kecuali Banten)  dikumpulkan di Cirebon. Dari kota udang itu,  sebagian dari mereka lantas diangkut dengan kapal Belanda bernama Plancius  menuju Pelabuhan Rembang. Sebagian lagi diangkut  dengan kereta api untuk diturunkan di Stasiun Gombong lantas berjalan kaki atau menggunakan truk-truk militer Belanda ke daerah republik.

Sepanjang perjalanan menuju daerah republik, rakyat banyak mengelu-elukan anak-anak Siliwangi. Di daerah Cirebon (saat itu masuk dalam wilayah pendudukan Belanda), tak henti-hentinya orang-orang memekikan kata “merdeka” setiap melihat para maung berbaris menuju stasiun kereta api dan pelabuhan. “ Untuk menghentikan histeria rakyat tersebut, tentara Belanda yang mengawal para prajurit Siliwangi itu tak jarang menembakan senjatanya ke udara,” tulis Himawan Soetanto dalam Yogyakarta, 19 Desember 1948.

Seorang mantan petarung Siliwangi asal Ciamis, Kopral (Purn) Soehanda (90) berkisah bahwa tak jarang sambil melakukan pengawalan, para prajurit Belanda dari kesatuan baret hijau (DST; pasukan khusus KNIL) dan dari Yonif V Andjing NICA secara provokatif menyanyikan lagu-lagu berbahasa Belanda yang isinya menghina kaum gerilyawan. Teriakan bernada mengejek:  tot ziens lui (sampai jumpa lagi, kawan-kawan) kerap membuat telinga anak-anak Siliwangi sempat memerah. ” Tapi kami tak peduli. Kami tetap berbaris menuju Jawa Tengah dengan kepala tegak ,”kenang Soehanda.

TURUN GUNUNG. Para prajurit Siliwangi turun gunung untuk melakukan hijrah ke Jawa Tengah (foto: Arsip Nasional Belanda)

TURUN GUNUNG. Para prajurit Siliwangi turun gunung untuk melakukan hijrah ke Jawa Tengah (foto: Arsip Nasional Belanda)

Tetapi dunia tidaklah hitam putih. Selain yang arogan, ternyata ada juga para prajurit Belanda yang sikapnya bersahabat. Alih-alih bersikap sebagai musuh, mereka malah menyambut kedatangan para gerilyawan dengan tawa dan salam laiknya kawan lama. Seorang petarung Siliwangi bernama Soempena (92) bercerita, saat di Gombong, para anak muda Belanda itu cepat sekali berbaur dengan rekan-rekan mudanya di TNI. Mereka saling bertukar cerita dan saling bergantian menghisap rokok.

Ada seorang tentara Belanda, saya masih ingat namanya Janssen bilang kepada saya waktu itu bahwa sesungguhnya mereka tidak ingin berperang dengan kami. Tapi sebagai prajurit, mereka tidak memiliki pilihan. Ya kami juga begitu…” ujar lelaki sepuh yang kini tinggal di Purwakarta tersebut.

Setelah sampai di daerah republik, rombongan pasukan lantas ditempatkan di asrama-asrama yang kondisinya sangat tidak layak untuk ditempati. Selain kotor dan berantakan, tak jarang asrama-asrama itu tak memiliki fasilitas untuk tinggal seperti lemari dan tempat tidur. Hingga untuk beristirahat pun Letnan (Purn) Alleh ingat, mereka hanya ngampar samak (menggelar tikar) dan berbantalkan ransel. “ Soal kesehatan dan makanan, jangan tanya. Waktu itu kami paling mewah hanya makan nasi dengan lauk pauk sayur kangkung dan ikan asin,” kenangnya.

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.