Simpang Jalan Bahasa Sunda

by Desember 17, 2014

Bagaimana sebuah bahasa daerah harus menghadapi dilema waktu?

PRASASTI KAWALI. Bahasa yang digunakan saat itu bersifat egaliter (sumber:tabloidbhineka)

PRASASTI KAWALI. Bahasa yang digunakan saat itu bersifat egaliter (sumber:tabloidbhineka)

RADEN SUDJANA resah. Dari belasan cucunya, tak ada satu pun yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Padahal menurut menak (ningrat) Cianjur itu, bahasa Sunda merupakan bahasa induk yang harusnya dimumule (dirawat) karena itu menjadi salah satu identitas hidup suku yang berdiam di bagian barat pulau Jawa tersebut.

“ Cicing di tatar Sunda, dahar jeung hirup di tatar Sunda. Nanaonan make basa Malayu atawa basa Batawi sagala?” kata lelaki berusia 78 tahun itu. Artinya tak lebih, ia mempertanyakan orang-orang Sunda yang hidup di tanah airnya mengapa harus menggunakan bahasa Indonesia (Melayu dan Betawi) sebagai bahasa pengantar sehari-hari.

Sudjana wajar menyesalkan soal itu. Di Cianjur (terutama kawasan kota), kini hampir sebagian ibu-ibu muda berinteraksi dengan anak-anaknya dalam bahasa Indonesia. Seperti Immelda misalnya. Ibu dari dua putra ini, mengaku lebih “nyaman” menggunakan bahasa Indonesia karena menurutnya bahasa Indonesia lebih efesien. “Kalau bahasa Sunda itu terlalu rumit, ada yang kasar, ada yang halus. Nah, biasanya anak-anak lebih tertarik kepada bahasa yang “kasar” dibandingkan bahasa yang “halus”,”ujar perempuan kelahiran Cianjur 28 tahun yang lalu tersebut.

Hal senada diakui oleh Teti. Remaja berusia 16 tahun itu “mengeluhkan” soal susahnya berbahasa Sunda. Banyaknya etika yang diberlakukan dalam bahasa ini menjadikan ia merasa tidak pede untuk bersundaria. “Takutnya teh nanti saya malah salah menempatkan kata,”kata siswa sebuah SMA negeri di Cianjur itu.

Jika Immelda dan Teti hidup di era sebelum abad 17, mungkin soal ini tidak akan menjadi masalah. Hingga tahun 1600-an, orang Sunda sama sekali tidak mengenal undak-usuk (tingkatan) dalam berbahasa. “Pada masa era kerajaan Sunda seperti Pajajaran berjaya, bahasa Sunda adalah bahasa yang sangat egaliter dan demokratis,”ungkap Ajip Rosidi kepada saya dalam sebuah wawancara beberapa waktu yang lalu.

Ungkapan sastrawan Sunda asal Majalengka itu, dipertegas oleh Nina Lubis. Menurut sejarahwan Universitas Padjajaran tersebut, kata-kata Ajip memang bukan dongeng semata. Buktinya, semua naskah yang berasal dari masa Kerajaan Sunda abad ke-16 seperti Sanghyang Siksakandang Karesian (1518) dan Carita Parahyangan (sekitar 1580) menggunakan bahasa yang sangat egaliter.

“Itu artinya, bahasa Sunda tidak mengenal tingkatan bahasa seperti dalam bahasa Jawa, yaitu bahasa ngoko (kasar) dan kromo(halus),”tulis Nina Lubis dalam Bahasa Sunda yang Demokratis (Pikiran Rakyat, April 2000).

Dan memang dalam manuskrip-manuskrip Sunda tua serta prasasati-prasasti sebelum abad ke-17, kata-kata dalam bahasa lemes (halus) bisa dikatakan tidak ada. Alih-alih demikian, kata-kata siya (kamu), kawula (saya), beja (berita), dititah (diperintahkan) serta banyak kata yang dikenal hari ini sebagai bagian dari bahasa Sunda kasar justru sering banyak dijumpai di dokumen-dokumen tua tersebut.

Di kalangan penganut agama Sunda Wiwitan (seperti orang-orang Baduy di Banten), penggunaan bahasa Sunda tua ini bahkan terus dilestarikan hingga sekarang. Bahkan saya sempat mengenal salah satu penganut Sunda Wiwitan dari Belanda. Namanya Beni Sastrawidjaya (75), yang menolak keras menggunakan bahasa Sunda versi hari ini. Alasannya sederhana: ”Bahasa yang sekarang dipakai itu bahasa Sunda versi penjajah,”katanya.

Saya sempat terkejut mendengar ungkapan Aki Beni itu. Tapi setelah saya baca dan telisik sana-sini, apa yang dikatakan itu memang benar adanya. Mungkin tak banyak orang Pasundan tahu, sekitar 1624-1708, wilayah-wilayah yang sekarang dikenal sebagai Ciamis, Garut, Sumedang, Tasikmalaya, Bandung, Cianjur dan Sukabumi adalah jajahan Kerajaan Mataram.

Saat Mataram menguasai wilayah-wilayah Sunda (meskipun secara tidak langsung, karena kekuasaan di wilayah kabupaten, tetap dipegang oleh elite lokal) tersebut, otomatis kewajiban menggunakan bahasa Jawa (versi Yogya dan Solo) diberlakukan sebagai pengantar resmi dalam urusan-urusan administrasi antara pusat (Keraton Mataram) dengan daerah (kadipaten-kadipaten).

Menurut Nina Lubis, saat itu bahasa Jawa menjadi bahasa yang wajib dikuasai laiknya bahasa Indonesia hari ini. Bahkan saat itu ada anggapan penguasaan atas bahasa ini menjadi ukuran kebangsawanan seorang elite politik. “ Hal ini dapat dibaca dalam surat-surat pribadi ataupun karya sastra atau karya sastra-sejarah yang ditulis oleh elite politik di Tatar Sunda (misalnya babad, wawacan, sajarah, dsb.),” tulis Nina.

Para menak Sunda yang mengabdi kepada Mataram rupanya ingin menerapkan bentuk dominasi psikologis tersebut kepada rakyatnya. Jadilah semua tatacara dan etika Mataram (termasuk feodalisme-nya) berlaku di semua wilayah Priangan. Ini sesuai sekali dengan pendapat pakar poskolonial asal India, Gayatri Spivak: “Bangsa yang inferior adalah sekumpulan manusia yang tidak percaya diri dan selalu berlindung pada kebesaran kaum yang menjajahnya dengan bersikap seperti laiknya kaum penjajah,”tulisnya dalam Teori Post Kolonial.

Sejak saat itu bahasa Sunda tua yang egaliter mulai dilamurkan. Untuk memelihara citra dan dominasi mereka terhadap kaum cacah kuricah (rakyat kecil), bahasa dan tulisan Sunda diatur oleh undak usuk basa yang serba rumit sehingga pada awal abad ke-20 bahasa Sunda telah terbentuk dalam kasta-kasta seperti bahasa lemes pisan (halus sekali), lemes (halus), sedeng(sedang), dan kasar (kasar), dan kasar pisan (kasar sekali).

“Pemakaian tingkatan bahasa ini dibedakan karena status sosial, umur, dan hubungan kekerabatan. Bahasa yang halus sekali dipergunakan kepada kaum menak luhur (bangsawan tinggi) dan kepada para pejabat Belanda,”tulis Nina Lubis.

Cianjur merupakan kadipaten yang para menaknya bisa menyerap secara efektif gaya dan watak bahasa Jawa Mataram itu. Begitu efektifnya upaya adopsi lingusitik ini, hingga menyebabkan Cianjur dikenal sebagai pengguna bahasa Sunda paling lemes (halus) di wilayah Priangan. Ibarat Solo atau Yogyakarta bagi para pengguna bahasa Jawa. Menurut saya, di lain pihak itu menjadi indikator bahwa Cianjur adalah kadipaten paling loyal bagi Mataram saat itu.

Tapi hari ini, di Cianjur bahasa Sunda yang penuh dengan aturan rumit itu rupanya mulai tidak laku di kalangan generasi mudanya. Bisa jadi, seperti yang dicontohkan Immelda dan Teti, orang Cianjur (baca: orang Sunda) mulai tersihir dengan arus modernisasi yang memutlakan kesetaraan dan efesiensi dalam segala bidang, termasuk berbahasa. Lalu bagaimana caranya supaya anak-anak muda itu kembali ke bahasa Sunda?

Ajip Rosidi pernah mengemukakan ide agar para ahli bahasa Sunda sesegera mungkin mendekontruksi “bahasa ibu” ini supaya lebih demokratis, tidak feodalistis. Apa mungkin? Seharusnya soal ini dibahas dalam setiap ajang Konfrensi Internasional Bahasa Sunda, yang terakhir (2011) diadakan di Bandung.  (hendijo)

2 Comments so far

Jump into a conversation
  1. Zaenal
    #1 Zaenal 14 April, 2015, 08:32

    Apakah fenomena ini menunjukkan orang Cianjur sebagai bangsa yang paling inferior di tatar sunda?

    Reply this comment
  2. iwan
    #2 iwan 24 Juni, 2015, 07:07

    Ada yang salah dalam tulisan ini, mengapa,,?
    Jika Kita teliti lebih jauh akan Bahasa sunda itu sendiri, Justru dari mulai Bandung, ciamis,Garut,sumedang,Cianjur, sampai dengan Banten, memiliki dialek yang berbeda2, dan sangat2 berbeda
    Jika pun bahasa Sunda saat itu adalah satu, mengapa dialeknya berbeda, ? Bahkan di daerah Cianjur sendiripun memiliki dialek yang sangat berbeda, antara cianjur Kota dan Cianjur Daerah selatan ( Pakidulan )

    Bahkan jauh dari itu semua banyak arti dan makna kata, dari setiap daerah di seluruh Priangan pun berbeda2 pula, dalam menyebutkan suatu benda,atau barang misalnya

    Maka saya katakan salah besar jika Ke halusan tata bahasa Sunda orang cianjur ini akibat dari adanya loyalitas kepada penjajah saat itu

    Bukti yang paling nyata adalah : “Dialek” dan ini tidak bisa kita remehkan, kalaupun bahasa sunda pada waktu itu adalah satu, lalu mengapa dialeknya berbeda, ini yang menjadi ciri bahwa bahasa sunda Halus bukan hasil dari Penjajahan, apalagi jika dikatakan Orang Cianjur adalah bangsa yang paling Inferior saat itu,,ini salah Besar,,!!!!

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.