SEORANG KOMANDAN BERNAMA ISMAN

by Februari 14, 2016
Mayor Isma (foto:koleksi Asmadi)

Mayor Isma (foto:koleksi Asmadi)

Bertempat di Istana Negara, pada 5 November 2015, Presiden Joko Widodo telah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada lima orang yang dianggap berjasa dalam pendirian negara ini. Dari kelima orang itu tersebutlah nama Mayor Isman alias Mas Isman. Siapakah dia?

Isman adalah salah seorang pemuda idealis di zamannya. Ketika militer Inggris menyerbu Surabaya, ia meninggalkan kehidupan sehari-harinya guna mempimpin perlawanan ratusan anak-anak muda pelajar di Surabaya. Dalam buku Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I) karya Dra. Irna H.N. Hadi Soewito disebutkan bahwa kelompok perlawanan kaum pelajar itu mengambil sebuah gedung di Jalan Darmo No.49 sebagai markas besarnya. “ Makanya kelompok itu dikenal sebagai BKR (Badan Keamanan Rakyat) Darmo…” tulis Irna.

Sebagai Pimpinan Umum BKR Darmo, secara resmi Isman dilantik oleh Komandan BKR Kota Surabaya, Sungkono pada 25 September 1945. Nyaris sebulan setelah pelantikan tersebut, BKR Darmo mulai terlibat dalam pertempuran dengan tentara Inggris di palagan Surabaya. Tak sedikit, anggota BKR Darmo yang gugur terutama saat mereka bertempur mempertahankan kawasan Ambengan pada November 1945.

Usai Inggris pergi, dan NICA mulai merajalela pada 1946, BKR Darmo berganti nama menjadi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Pelajar lalu terakhir berubah lagi menjadi TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) Jawa Timur. Isman (dengan pangkat mayor) lantas didapuk menjadi komandannya, membawahi 5 bataliyon:

1. Batalyon 1000 meliputi Mojokerto (pasukan ex. Surabaya dan sekitarnya)
2. Batalyon 2000 meliputi Madiun dan sekitarnya termasuk Bojonegoro.
3. Batalyon 3000 meliputi Kediri dan sekitarnya termasuk Nganjuk
4. Batalyon 4000 meliputi Jember dan sekitarnya termasuk Lumajang
5. Batalyon 5000 meliputi Malang dan sekitarnya termasuk Pasuruan

Mayor Isman dikenal sebagai sosok yang sederhana, egaliter dan sangat kekeluargaan terhadap anak-anak buahnya. Menurut Asmadi dalam bukunya: Sangkur dan Pena. Begitu besarnya sikap kekeluargannya, hingga di kalangan TRIP ia tidak mau disebut sebagai Mayor Isman, tapi cukup memanggilnya “mas ”, sebutan akrab untuk seorang kakak laki-laki dalam kultur Jawa. “ Di kalangan anggota TRIP, kami memang terbiasa memanggil komandan kami dengan sebutan “mas”, termasuk saat memanggil komandan brigade kami, cukup dengan “Mas Isman” saja” ujar mantan anggota Yon 5000 TRIP Malang tersebut.

Saat memegang posisi sebagai komandan Brigade 17 Detasemen I TRIP Jawa Timur, kesederhaan Isman tidak berubah. Alih-alih menuntut fasilitas lengkap, Mas Isman merasa cukup bekerja di sebuah ruangan sempit yang dindingnya terbuat dari bilik yang sudah hampir reyot. “ Meja kerjanya terbilang kecil, terbuat dari kayu berbentuk bulat dan sangat sederhana sekali…” kenang Asmadi.

Rohaniawan sekaligus budayawan Indonesia terkemuka, almarhum Y.B. Mangunwijaya sempat memiliki kenangan tersendiri terhadap sosok Mas Isman. Ceritanya, ia mewakili Pemuda Katholik untuk ikut dalam perayaan kemenangan atas Belanda di Malang pada awal 1950. Sebagai mantan anggota Tentara Pelajar, Mangun saat itu ikut larut dalam kegembiraan dan rasa bangga kala orang-orang memanggil mereka sebagai pahlawan. Sebuah sebutan yang beberapa saat kemudian dibantah secara keras oleh Mas Isman dalam pidato perayaan itu.

“ Jangan sebut kami pahlawan atau kesuma bangsa. Akibat perang, kami sudah belajar melukai dan membunuh.Akibat perang, kami telah membakar rumah-rumah. Tangan kami telah berlumuran darah. Kami sudah belajar hal-hal yang kotor. Kami adalah anak-anak muda yang tumbuh dalam ketidaknormalan. Kami tidak minta disanjung. Hanya satu permintaan kami: berilah kesempatan kepada kami untuk menjadi manusia normal kembali…Ya kami bukan pahlawan! Yang menjadi pahlawan adalah rakyat jelata, petani-petani yang menghidupi kami. Jika Belanda datang, kami lari. Memang bukan karena pengecut melainkan karena kekuatan tidak seimbang. Tapi rakyat tak bisa lari. Merekalah kemudian yang disiksa, diperkosa, dibunuh dan dibakar rumahnya. Merekalah yang berkorban…”

Begitu mendengar pidato Mas Isman itu, orang-orang yang bersorak sorai dalam mabuk kemenangan tiba-tiba langsung terdiam panjang. Termasuk Mangun, yang merasa kebenaran isi pidato seniornya tersebut. “ Malamnya saya tak bisa tidur memikirkan isi pidato Mas Isman itu…” tulis Y.B. Mangunwijaya dalam Penziarahan Panjang Humanisme Mangunwijaya. (hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.