Misi Culik Petinggi Republik

Misi Culik Petinggi Republik

by Maret 10, 2016
Sultan HB IXdan Kolonel Gatot Soebroto

Sultan HB IXdan Kolonel Gatot Soebroto

Yogyakarta, Maret 1948. Perintah itu datang begitu tiba-tiba. Selaku komandan pasukan yang saat itu ada di bawa wewenang Daerah Militer II, Kapten Solichin G.P. diinstruksikan oleh Gubernur Militer Wilayah II Kolonel Gatot Soebroto dan Menteri Negara Republik Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menculik seorang professor berinisial OE. “ Orang ini kata Pak Gatot dicurigai akan “mengacaukan” rapat Komisi Tiga Negara yang beberapa hari lagi akan diadakan di Kaliurang,” ujar Komandan Kompi 5 Yon Nasuhi (masuk Divisi Siliwangi) itu.

Kapten Solichin lantas membentuk satu tim kecil untuk melaksanakan tugas tersebut. Mereka terdiri dari prajurit-prajurit andal dari Kompi 5, yakni Karli Akbar Yoesoef (komandan regu) Den Ucen, Ewiw, Ulo alias Surya dan Darmawan. Dengan menggunakan sebuah truk India Rice (truk yang dipakai untuk mengangkut padi bantuan pemerintah RI untuk India yang kala itu tengah dilanda bencana kelaparan), berangkatlah mereka ke Yogyakarta guna melaksanakan tugas itu.

Beberapa waktu kemudian, sampailah mereka di kediaman sang profesor dan disambut oleh pemilik rumah dan istrinya yang seorang perempuan Belanda. “ Bapak ditunggu komandan kami di staf. Karena itu dipersilakan ikut kami ke staf,” kata Karli, selaku pimpinan regu tersebut. Alih-alih menyanggupi permintaan Karli, OE menolak untuk ikut ke Kantor Staf. Tidak mempan dengan cara halus, Karli lantas menodongkan pistol Colt 38 dan memerintahkan anak buahnya untuk menyeret OE ke atas truk.

Begitu mendapatkan Prof.OE, masalah baru muncul: mereka tidak paham di mana letak Kantor Staf tersebut. Di tengah kebingungan itu, muncul “ide gila” untuk menitipkan sementara Prof. OE ke RSUP Yogyakarta. Maka setelah mencukur rambut sang professor dalam bentuk zigzag, dan memotong sebelah kumis serta alisnya, diserahkanlah Prof. OE kepada dokter jaga di RSUP Yogyakarta, dengan pesan: “Saya diperintahkan Pak Gatot menyerahkan prajurit yang ngamuk di asrama ini. Mungkin dia gila, dan jangan dikeluarkan sebelum ada izin dari Pak Gatot!”

Mendengar pernyataan Karli itu, tentu saja OE tidak terima dan berteriak-teriak: “ Saya tidak gila! Saya tidak gila!”

Namun para dokter dan perawat tidak ada yang menggubris teriakannya itu. Mereka malah memasukan OE ke sel khusus untuk orang gila. “ Urusan professor itu beres, kami pulang dan melaporkan misi berhasil dilaksanakan kepada komandan kompi dan target kami simpan di RSUP untuk siap diambil,” ujar Karli. Lantas bagaimana respon Kolonel Gatot Soebroto sendiri selaku salah seorang pemberi perintah itu?

Sehari, dua hari tak ada respon dari markas Daerah Militer II. Baru hari ketiga, tim khusus penculik Prof.OE itu mendapat panggilan untuk bertemu langsung dengan Gubernur Militer Wilayah II. Pertamakali mendapat kabar itu, Karli dan kawan-kawan merasa degdegan. Tetapi saat Kolonel Gatot berteriak: “Bagus! Bagus sekali kerja kalian, Monyet-Monyet!” legalah hati mereka.

“ Kami satu regu sangat gembira dipanggil “monyet” oleh Pak Gatot. Itu artinya Pak Gatot puas dengan hasil kerja kami,” kenang Karli seperti dikisahkan kepada R.H. Eddie Soekardi dalam bukunya Hari Juang Siliwangi .

Keberhasilan itu tentu saja dirayakan oleh anak-anak Kompi 5. Caranya dengan membuat pesta bajigur (minuman khas Sunda campuran santan kelapa dan gula aren) dan menggoreng buah sukun. (hendijo)

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. Toni
    #1 Toni 11 Maret, 2016, 12:46

    Byk operasi militer blom terkuak

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.