Jalan Sunyi Para Petarung Tua

Jalan Sunyi Para Petarung Tua

by Februari 18, 2015

Di zamannya, mereka adalah manusia-manusia pemberani: tanpa mengenal pamrih, siap menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia merdeka. Kini mereka menapaki masa-masa tuanya dalam sunyi.

JUMAT, 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta. Beberapa hari usai proklamasi tersebut, berbondong-bondong anak muda menyatakan diri untuk membela Republik Indonesia yang baru didirikan itu. Tekad itu semakin kuat, manakala lewat “perantara” Inggris (yang tugas utamanya mengurusi tawanan perang di Indonesia), orang-orang Belanda datang kembali dan secara sepihak mendirikan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di Indonesia.

Pendirian NICA oleh Van Mook dan kawan-kawannya, direspon secara keras oleh para pemuda Indonesia. Mereka lantas membentuk berbagai badan perjuangan dan kelompok bersenjata sebagai upaya untuk melawan maksud orang-orang Belanda itu. Menurut sejarawan Soe Hok Gie, antara 1945-1948 Angkatan Perang Indonesia telah mencapai angka 463.000 personil. Itu belum ditambah puluhan ribu pemuda yang tergabung dalam lasykar-lasykar perlawanan.

” Saat itu berperang dan menjadi prajurit, merupakan bentuk puncak pengabdian kepada nusa dan bangsa,” tulis Soe dalam Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Bagaimana kiprah para petarung republik itu selama masa-masa perang melanda Indonesia pada 1945-1949? Inilah sebagian kecil dari pengalaman perjuangan mereka yang penuh dengan darah, keringat dan air mata tersebut.

Gerilyawan Bernama Yusup

Prajurit (purn) Joesoef Soepardi dengan pisau yang dirampasnya dari seorang serdadu Jepang (foto:hendijo)

Prajurit (purn) Joesoef Soepardi dengan pisau yang dirampasnya dari seorang serdadu Jepang (foto:hendijo)

Lelaki sepuh itu terdiam sejenak. Kepalanya yang dipenuhi salju waktu agak tefekur, membuat matanya seolah ingin menembus tembok lantai. Ia menghela nafas panjang, tersenyum tipis dan berusaha kembali menguasai keadaan. “ Maaf, saya selalu merasa sedih jika mengingat lagi peristiwa itu,” ujar lelaki kelahiran Sukabumi, 91 tahun yang lalu tersebut seraya mengangkat kepalanya lagi.

Tahun 1948, Yusup Supardi adalah seorang prajurit muda dari Bataliyon Kala Hitam Divisi Siliwangi pimpinan Mayor Kemal Idris. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, ia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Sukabumi dan Cianjur.

“ Tentu saja kami bergerak bukan atas nama Siliwangi lagi, tapi sebagai “kesatuan liar” di daerah pendudukan Belanda,”kenangnya sambil terkekeh.

Sebagaimana ditulis dalam Siliwangi dari Masa ke Masa (ditulis oleh Sedjarah Militer Daerah Militer VI Siliwangi/Sendam VI Siliwangi pada 1968) , hasil kesepakatan Perjanjian Renville memang diterima dengan setengah hati oleh pihak tentara. Kendati pada akhirnya menerima keputusan untuk mengosongkan Jawa Barat, namun secara diam-diam, Panglima Besar Jenderal Soedirman sendiri telah menugaskan Letnan Kolonel Soetoko untuk tetap mengkoordinasikan perlawanan bersenjata di tanah Pasundan.

Lewat Letnan Kolonel Soetoko (akhirnya tertangkap Belanda pada Agustus 1948) inilah kemudian muncul Brigade Tjitarum, sebagai induk pasukan dari beberapa kesatuan tempur yang diperkuat oleh “mantan para prajurit Siliwangi” yang masih tinggal di Jawa Barat. Yusup adalah salah satu dari ribuan prajurit yang secara sengaja ditanam oleh Jenderal Soedirman di Jawa Barat tersebut.

Sebagai prajurit di garis depan, beberapa kali Yusup nyaris disergap maut. Pada pertengahan 1947, ia pernah nekat terjun ke jurang karena menghindari kejaran satu kompi (sekitar 150 personil) pasukan Belanda di wilayah Gandasoli, Cianjur. Saat menjatuhkan diri itulah,sebilah bambu tajam menusuk bagian tumitnya hingga membuat lubang yang dalam dan mengeluarkan banyak darah. ” Akibatnya saya tak bisa ikut bertempur dalam waktu hampir sebulan karena harus istirahat total,”ujarnya.

Usai sembuh dari luka-lukanya, Yusup tidak ditempatkan lagi di kesatuan tempur. Ia ditugaskan oleh komandanya untuk menjadi petugas telik sandi dengan harapan supaya ia tidak lagi dekat dengan bahaya. Suatu penugasan yang alih-alih menyelamatkannya, malah justru hampir membuatnya kembali hampir kehilangan nyawa.

Ceritanya, suatu hari saat ditugaskan untuk memata-matai pergerakan musuh di wilayah Cianjur, ia tertangkap dan dibawa ke Pos Militer Belanda di Cimangkok (terletak antara Sukabumi-Cianjur). Pada awal pemeriksaan, ia diperlakukan baik-baik oleh interogatornya , seorang sersan bule. Namun begitu Si Sersan pergi ke belakang, seorang prajurit KNIL (Tentara Kerajaan Hindia Belanda) yang sesuku dengan Yusup menginterogasinya secara kasar.

” Dalam bahasa Sunda, ia membentak-bentak saya sebagai “anjing Sukarno” sambil menendang wajah saya dengan sepatu lars-nya hingga dua gigi saya rontok,” kenang Yusup.

Kendati diperlakukan secara brutal, Yusup tetap keukeuh mengaku dirinya sebagai pedagang telur (saat itu ia memang membawa puluhan butir telur ayam). Akibatnya, siksaan pun makin menggila. Untunglah, sebelum nyawanya melayang, Si Sersan cepat kembali dan membentak kawan Sunda-nya itu untuk menghentika siksaan terhadap Yusup. ” Saya akhirnya dilepas, karena memang tak ada bukti bahwa saya gerilyawan…” ujar lelaki yang sebelum perang pernah mengeyam pendidikan pesantren tersebut.

Tahun 1950, Yusup memutuskan untuk keluar dari dinas ketentaraan. Ia lantas mencoba beberapa profesi mulai dari petani hingga berwiraswasta. Namun semua usaha tersebut tidak ada yang cocok, hingga untuk menafkahi dirinya dan keluarga, ia harus kerja serabutan termasuk pada tahun 1980-an sempat lama menjadi kuli panggul di Pasar Induk Cianjur.

” Itulah hidup, tapi tidak apa-apa, saya sudah iklas menerima semuanya sebagai takdir hidup saya…” katanya. Matanya kembali menerawang, entah apa yang dipikirkannya.

Berjuang hingga Kehilangan Ayah

Liku-liku sebagai petarung republik juga dialami oleh Kopral (Purn) Suhanda. Lahir dan besar di kawasan Ciamis, tidak menjadikannya luput dari api revolusi yang dikobarkan oleh Sukarno- Hatta dari Jakarta pada 1945. ” Saya ingat, usai bertiupnya kabar proklamasi dari Jakarta, saya dan beberapa kawan langsung bergabung dalam perjuangan,” kenang lelaki yang lahir pada 89 tahun lalu tersebut.

Sebagai seorang santri, Suhanda lantas menggabungkan diri dalam Lasykar Hizbullah, sebuah milisi

yang didirikan oleh para tokoh alim ulama. Namun beberapa waktu kemudian, atas saran dari seorang sahabatnya, ia pindah ke Bataliyon 27 (Yon 11 April) Sumedang pimpinan Kapten Amir Machmud. ” Saya ditempatkan di bagian BKT (Badan Kesehatan Tentara),” ujar Suhanda.

Kendati ada di bagian medis, bukan berarti ia tidak terlibat pertempuran. Dikarenakan minimnya tenaga

Kopral (purn) Soehanda (foto:hendijo)

Kopral (purn) Soehanda (foto:hendijo)

tempur, Suhanda tak jarang ditugaskan oleh komandannya untuk ikut dalam penghadangan dan penyerangan militer Belanda di Sumedang dan sekitarnya. ” Saya ingat waktu itu saya pegang senjata sten…” kenangnya.

Awal 1948, Divisi Siliwangi harus hijrah ke Jawa Tengah. Pemberangkatan dilakukan melalui udara, laut dan darat. Suhanda bersama ribuan tentara lainnya, adalah pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Jawa Tengah dengan berjalan kaki lewat Kuningan. Menurut Letnan Kolonel Eddy Soekardi, pasukan yang berjalan kaki ke Jawa Tengah itu kondisinya sangat menyedihkan. ” Mereka kurus-kurus kurang makan selama di hutan dan berpakaian nyaris compang-camping,” ujar salah seorang sesepuh Divisi Siliwangi seangkatan dengan Jenderal A.H. Nasution itu.

Kondisi tersebut, tentu saja tidak luput dari ejekan para prajurit Belanda yang menjadi pengawal proses berlangsungnya hijrah tersebut. ” Tapi kami tak peduli. Kami berbaris menuju Jawa Tengah dengan kepala tegak,”kenang Suhanda.

Selama di Jawa Tengah, Suhanda dan kesatuannya ditempatkan di Salatiga. Baru beberapa bulan mereka menempati markas barunya, pada 19 Desember 1948, militer Belanda membatalkan secara sepihak kesepakatan Perjanjian Renville dengan meyerang ibukota Yogyakarta. Atas perintah Panglima Besar Jenderal Soedirman, anak-anak Siliwangi pun harus kembali ke Jawa Barat. Maka berlakulah long march, perjalanan panjang puluhan ribu pasukan Siliwangi dan keluarga kembali ke tanah Pasundan dalam ancaman serangan Belanda dan gerilyawan Darul Islam (DI).

Suhanda adalah salah satu peserta long march itu. Masih segar dalam ingatannya bagaimana anak-anak Yon 27 diangkut dari Stasiun Ambarawa lalu diturunkan begitu saja di kaki Gunung Merapi. “Dari hutan Gunung Merapi kami harus memulai long marc lewat dengan jalan kaki kembali,”ungkapnya.

Seterusnya, mereka harus naik turun gunung dan sungai dengan diiringi hujan peluru pasukan Belanda. Tak sedikit kawan-kawannya yang gugur dihantam tembakan pesawat Belanda selama perjalanan. Selain serangan militer Belanda, mereka pun dilanda kelaparan. ” Kami tak pernah menemukan nasi, hanya jagung kering, umbi-umbian dan daun-daunan yang menjadi makanan kami sehari-hari saat itu.”

Sesudah 40 hari lebih berjalan menyusuri hutan, gunung dan sungai, Suhanda akhirnya sampai di Ciamis. Begitu sampai di tanah kelahirannya itu, tanpa banyak cakap ia langsung pergi ke rumahnya untuk melepas rindu kepada ayah dan ibunya. Namun alangkah pilu hatinya, saat sampai rumah ia hanya mendapati ibunya saja. ” Sambil menangis, ibu bilang ke saya bahwa beberapa hari sebelumnya ayah meninggal ditembak Belanda saat akan pergi ke kebun,”kenang Suhanda sambil meneteskan air mata.

Setahun kemudian, perang pun usai. Seiring terjadinya kesepakatan perdamaian antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda, Suhanda pun menghadap komandannya dan menyatakan ingin berhenti dari dinas militer. ” Saya memutuskan keluar karena terngiang terus kata-kata ibu saya: cukup sudah kamu berbakti sama negara, sekarang giliran emak kamu urus.”

Permohonan itu lantas dikabulkan dan pulanglah Suhanda ke Ciamis untuk menjadi petani hingga masa-masa tuanya hari ini.

Dari Petarung menjadi Pengemis

Lelaki tua bermata rabun itu tersenyum senang saat Abdul Basyit, salah seorang rekan saya, menyerahkan seperangkat perlengkapan shalat ke tangannya. Dengan mengucap syukur, ia memanggil sang istri lantas berkata: ” Alhamdulillah Nyi, kita dapat rezeki…” kata lelaki kelahiran Cianjur 98 tahun lalu itu.

Kopral (Purn) Ido (foto:hendijo)

Kopral (Purn) Ido (foto:hendijo)

Berbeda dengan Yusup dan Suhanda yang saat ini bisa menyicipi sedikit uang pensiunan di masa tuanya, tidak demikian halnya dengan Ido bin Tachmid. Sebagai mantan petarung republik, hidup mantan kopral dari Yon Kala Hitam Divisi Siliwangi itu bisa dikatakan memprihatinkan. ” Tak sepeser pun saya mendapatkan uang pensiunan karena memang perpisahan saya dengan dunia tentara berlangsung tidak bagus,” ujar Ido.

Ido memang dipecat dari ketentaraan pada 1951. Musababnya karena ia menembak kaki sang komandan yang ia anggap lancang melarangnya puasa di bulan ramadhan. “Waktu melihat saya jaga pos sambil terkantuk-kantuk, ia mengejek saya sambil bilang: makanya buat apa puasa,” kenang Ido.

Usai berjaga, Ido pun menghadap sang komandan dan menyatakan rasa tersinggungnya dengan ejekan tersebut. Alih-alih minta maaf, sang komandan malah menghardiknya dan kembali mengejeknya. Ido naik darah. Kata-kata tak mempan, ia pun menggunakan kedua tangannya. Terjadilah perkelahian dengan akhir kaki sang komandan ditembak Ido dengan sepucuk pistol. Ido pun dipecat dari ketentaraan.

Ido tentu saja sedih. Tapi sebagai prajurit rendahan ia tak bisa berbuat apa-apa. Padahal menurutnya, ia sangat mencintai kesatuannya dan menganggap Siliwangi sebagai rumah keduanya. Ido sendiri bergabung dengan Siliwangi sejak tahun 1947. Saat itu, ia merupakan prajurit pindahan dari lasykar Angkatan Pemoeda Indonesia (API).

Padahal dii kesatuannya, Ido dikenal sebagai seorang prajurit pemberani. Dengan memegang bren gun, ia pernah nekat menyerbu sendirian sepasukan militer Belanda di kawasan Gekbrong. ” Sebelum saya tembaki mereka, saya terlebih dahulu memasang bom batok yang ditutupi tahi kebo di jalan yang akan dilalui truk mereka,”kenangnya seraya terkekeh.

Usai perang, Ido ditarik ke Jakarta dan ditempatkan di kawasan Matraman. Di sinilah ia kerap bentrok dengan personil-personil baret hijau dari KST (Pasukan Khusus KNIL) yang selalu memprovokasi para prajurit Siliwangi. Saat meletus pemberontakan APRA pimpinan Kapten Westerling, Ido termasuk salah seorang prajurit yang ikut menumpas sisa-sisa pasukan APRA di Jakarta. ” Dalam suatu clash, dahi saya tersrempet peluru hingga saya pingsan,” ujarnya seraya memperlihatkan bekas luka di kepalanya.

Usai dipecat dari ketentaraan, Ido lantas banting setir menjadi pedagang buah-buahan di Terminal Manggarai. Suatu hari saat berdagang, ia melihat mantan komandannya yang membuatnya dipecat dari ketentaraan tengah berbelanja buah-buahan. Tanpa banyak cakap, ia dekati perwira tersebut. ” Saya suruh dia buka pakaian dinasnya dan sebagai sipil saya ajak dia berduel di terminal,” ujarnya. Alih-alih melayani tantangan Ido, Si Perwira tersebut memilih menghindar dan pergi dengan mobilnya.

Kini Ido hidup terlunta-lunta di sebuah rumah butut ukuran 3X6 yang terletak di desa terpencil bernama Seda, Cianjur. Pada masa tuanya, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali memohon belas kasihan dari siapapun yang ia jumpai di jalanan. ” Ini terpaksa saya lakukan, karena untuk berkerja jadi kuli lagi tentu saja tak mungkin,”katanya.

Apakah Ido menyesal pernah mempertaruhkan nyawanya demi negara yang saat ini seolah “meninggalkannya”? Dengan cepat, kepala lelaki sepuh itu menggeleng. ” Saya berjuang untuk negara ini bukan untuk uang, apa artinya perjuangan saya dibandingkan perjuangan beliau?” ujarnya sambil menunjuk sebingkai foto usang bergambar seraut wajah yang tergantung di dinding bilik bambu rumahnya.Ya wajah itu…Wajah Sukarno, salah satu lelaki yang pada 17 Agustus 1945 menanamkan kebanggaan sebagai sebuah bangsa merdeka di hati anak-anak muda seperti Ido saat itu. (hendijo)

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. ihsan
    #1 ihsan 28 Maret, 2015, 03:25

    Terima KAsih para pahlawanku…maafkan kami yang tidak pandai berterima kasih

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.