Hikayat Dua Banteng

by Januari 7, 2015
JALAN MUHAMAD ALI. Dulu dijadikan tempat latihan Lasykar Banteng Cianjur (foto:hendijo)

JALAN MUHAMAD ALI. Dulu dijadikan tempat latihan Lasykar Banteng Cianjur (foto:hendijo)

Kisah dua petarung republik dari Lasykar BBRI yang nama mereka diabadikan untuk dua jalan di pusat kota Cianjur

JALAN Muhamad Ali di Cianjur itu nyaris tiap hari dipenuhi lalu lalang khalayak. Dari pedagang kaki lima hingga anak-anak sekolahan. Di pinggir-pinggirnya deretan sepeda motor terparkir bersanding dengan angkot-angkot berwarna merah yang berhenti seenaknya. Menurut Helmy Adam, kendati merupakan jantung kota, kawasan ini memang termasuk area macet . “ Terlebih pada malam di hari-hari libur, kawasan ini sangat padat sekali, “ ujar lelaki kelahiran Cianjur 30 tahun lalu itu.

Menurut Mulyadi (75), sekitar 65 tahun lalu kawasan tersebut tentu saja tak seramai sekarang. Banyak sudut kota yang kini menjadi bangunan, dulunya adalah hamparan tanah kosong. Toko-toko (sebagian besar dikelola oleh orang-orang Tionghoa) pun jumlahnya masih bisa dihitung, apalagi kendaraan yang lalu lalang. “ Itu juga kebanyakan sado (sejenis delman),” ujar sesepuh Cianjur tersebut.

Bahkan begitu lenggangnya, pada sekitar tahun 1946-1947, anak-anak muda dari Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) cabang Cianjur selalu menggunakan kawasan itu sebagai tempat untuk latihan baris berbaris. BBRI sendiri sejatinya adalah organ perjuangan nasional yang didirikan oleh dr.Muwardi di Jakarta pada 1946 dan berpindah ke Solo usai Jakarta diduduki oleh Belanda. Organ yang memiliki ideologi sepaham dengan garis perjuangan Tan Malaka tersebut lantas membentuk cabang di banyak kota, termasuk Cianjur.

Kecil tapi Bernyali Besar

Di Cianjur, BBRI dipimpin oleh Muhamad Ali (namanya kemudian disematkan kepada nama jalan tempat ia secara rutin melatih baris berbaris para pemuda BBRI Cianjur). Sebelum berangkat latihan baris berbaris, mereka biasanya berkumpul dulu di sebuah rumah yang terletak di wilayah Pasar Suuk. Kini wilayah yang masih menyisakan beberapa batang pohon mahoni tua itu dinamai sebagai Jalan Barisan Banteng (Barba).

Sepengetahuan Mulyadi, Muhamad Ali sendiri merupakan lelaki kelahiran Kampung Sukasari di Ciranjang (terletak di luar wilayah Cianjur menuju Bandung). Karena itu, tidak aneh jika saat ini, di Kecamatan Ciranjang terdapat juga jalur jalan yang diberi nama Jalan Muhamad Ali.

Mulyadi mengenang sosok Muhamad Ali sebagai pemuda yang memiliki tubuh kecil dan berjalan agak terpincang-pincang. Itu disebabkan karena ia mempunyai cacat di kaki kirinya( bisa jadi akibat terkena polio). Namun keberanian Muhamad Ali melebihi badannya yang kecil. Karena itu ia disegani kawan-kawannya dan ditakuti oleh lawan-lawannya terutama militer Belanda. “ Ia diibaratkan banteng-nya Cianjur-lah saat itu…” ujar Mulyadi.

Sayang, perjuangan belum selesai Muhamad Ali keburu meninggal. Belum jelas benar, apakah ia meninggal karena ditembak militer Belanda atau karena sakit.

Banteng Kedua

Sepeninggal Muhamad Ali, BBRI diserahkan kepada pemuda lain bernama Soeroso. Ia merupakan “banteng kedua” di Lasykar BBRI. Mulyadi menyatakan, sejatinya pemuda Soeroso bukanlah asli berasal dari Cianjur. Ia merupakan warga Jawa Tengah (belum diketahui berasal dari kota mana) yang hijrah ke Cianjur. Sosoknya dikenal sebagai pemuda pemberani dan kharismatik, sehingga ia diangkat menjadi pemimpin perlawanan terhadap militer Belanda oleh anak-anak muda asli Cianjur.

Dalam buku Pertempuran Konvoy Sukabumi-Cianjur 1945-1946, Kolonel (Purn) Eddie Soekardi menyebut nama Soeroso sebagai pimpinan gerilyawan kota yang berhasil mengganggu pergerakan Bataliyon 3/3 Gurkha Rifles (suatu kesatuan elit militer Inggris yang diperkuat orang-orang Gurkha ) dari Bandung ke Sukabumi.

JALAN SUROSO. Diambil dari nama pejuang yang ditembak sniper militer Belanda (foto:hendijo)

JALAN SUROSO. Diambil dari nama pejuang yang ditembak sniper militer Belanda (foto:hendijo)

Bersama gerilyawan-gerilyawan lain dari Yon 3 Resimen III TRI, Lasykar Hizbullah dan Sabilillah, Lasykar BBRI pimpinan Soeroso melakukan penyerangan lewat aksi hit and run terhadap Yon 3/3 Gurkha Rifles yang diperkuat oleh tank Sherman, panser wagon, brencarrier dan truk-truk berisi pasukan. Kendati hanya menggunakan molotov cocktail (bom sederhana yang terbuat dari botol yang diisi bensin dan disertai sumbu) dan beberapa pucuk senjata saja, mereka melakukan serangan terstruktur dari sudut-sudut pertokoan dan lorong-lorong rumah yang berderet sepanjang pusat kota Cianjur.

“ Bagi para serdadu Gurkha Rifles, situasi itu cukup membingungkan. Mereka hanya bisa bertahan dan membalas serangan tersebut sekenanya dari balik kendaran-kendaraan tempur mereka… ” kata sesepuh Divisi Siliwangi yang meninggal pada September lalu itu.

Ketidakberdayaan salah satu satuan elit militer Inggris dalam Perang Dunia II sempat dicatat oleh sumber Inggris sendiri. Dalam The Fighting Cock: The Story of The 23rd Indian Division, Kolonel A.J.F Doulton memuji pergerakan taktis gerilyawan Indonesia yang sempat membuat para serdadu Gurkha panik dan terpukul. “ Ini menjadi suatu bukti, orang-orang Indonesia mengalami kemajuan dan semakin militan…” tulis Doulton.

Sang Banteng Perlaya

Tahun 1948, akibat Perjanjian Renville, Divisi Siliwangi ditarik dari Jawa Barat menuju kantong-kantong baru mereka di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Namun tidak semua kekuatan republik “patuh” terhadap kesepakatan tersebut. Secara sengaja, sebagian dari mereka memutuskan untuk bertahan di Jawa Barat dan tetap melakukan perlawanan terhadap pendudukan Belanda. Salah satu kekuatan republik yang bertahan dan tetap menjalankan perlawanan tersebut adalah Lasykar BBRI pimpinan Soeroso.

WISMA TEDJA. Tempat pejuang Suroso gugur ditembak mati oleh militer Belanda (foto:hendijo)

WISMA TEDJA. Tempat pejuang Suroso gugur ditembak mati oleh militer Belanda (foto:hendijo)

Ditinggalkannya Cianjur oleh sebagian besar unsur-unsur pasukan Divisi Siliwangi tidak menjadikan perlawanan di kota tersebut menjadi lemah. Alih-alih menghentikan perlawanan, pasca “kosongnya” Cianjur dari pasukan Siliwangi, serangan dari kekuatan-kekuatan republik yang tertinggal malah semakin militan dan radikal. Menurut salah seorang mantan gerilyawan Indonesia bernama Yusup Supardi (90), sisa-sisa pasukan republik memilih basis perlawanan mereka dari pinggir-pinggir kota.

“ Saat itu kami membuat suatu kesepakatan bahwa wilayah Cianjur kota adalah daerah pendudukan dan harus diserang,”ungkap mantan anggota Yon Kala Hitam Divisi Siliwangi itu.

Dan memang, pihak NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di Cianjur saat itu dibuat tidak tenang dengan berbagai upaya penyergapan dan penyerangan yang terjadi hampir tiap hari. Soeroso dan pasukannya adalah salah satu kekuatan republik yang rajin “menyambangi” wilayah kota Cianjur. Dengan modal senjata seadanya, hampir tiap malam, mereka melakukan aksi teror terhadap asrama militer Belanda yang berada di wilayah Kampung Tangsi (sekarang menjadi Gang Pangrango) dan induk pasukan mereka yang bermarkas di Joglo (sekarang menjadi gedung Komando Distrik Militer 0608 Cianjur, Toserba Slamet, gedung Markas Corps Polisi Militer).

Merasa terganggu dengan serangan-serangan pasukan Soeroso ini, maka militer Belanda kemudian melancarkan suatu operasi intelijen untuk menjebak “Banteng Cianjur” tersebut. Maka disebarlah telik sandi mereka ke pinggiran kota dan pelosok desa. Setelah semua informasi terkumpul, intelijen militer Belanda lantas membuat skenario penangkapan. Singkat cerita, “diutuslah” oleh militer Belanda seorang telik sandi ( yang berpura-pura sebagai pejuang) ke markas BBRI. Untuk membahas strategi perjuangan selanjutnya, sang telik sandi itu mengundang Soeroso untuk menemui sekumpulan gerilyawan kota di wilayah Satoe Doeit (sekarang masuk dalam wilayah Jalan Soeroso). Tanpa kecurigaan, Soeroso ditemani seorang kawannya bernama Slamet menyanggupi undangan tersebut dan datang ke Satoe Doeit.

Saat asyik menikmati santap siang di sebuah warung makan, tiba-tiba tanpa dinyana oleh Soeroso dan Slamet, satu peleton KNIL diam-diam mengepung tempat tersebut.  Sadar ada dalam bahaya, mereka lantas melakukan perlawanan. Namun karena kekuatan musuh terlampau besar, Soroso dan Slamet memutuskan untuk mundur. Dalam gerakan mundur inilah sebutir peluru menembus tubuh Slamet dan menyebabkan ia tewas di simpangan jalan Satoe Doeit (sekarang menjadi Jalan Slamet). Sementara itu Soeroso berhasil lolos dari penyergapan militer Belanda. Ia kemudian berlari ke arah barat.

Sayang, begitu sampai di depan Wisma Tedja (sekarang berada di Jalan Ir. H. Djuanda) ia sudah terlanjur masuk dalam incaran teleskop senjata seorang sniper militer Belanda. “Banteng Kedua” itu lantas terjengkang dihantam peluru musuh dan perlaya seketika. Jasadnya kemudian dibawa oleh penduduk setempat dan dimakamkan di kawasan Panembong. (hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.