Cerita dari Gunung Padang

by Juli 4, 2014
Suasana di Puncak Gunung Padang pada November 2009 (foto:hendijo)

Suasana di Puncak Gunung Padang pada November 2009 (foto:hendijo)

Bagaimana artefak sisa-sisa sebuah peradaban besar itu menyusuri waktu dan meninggalkan misteri dalam sejarah?

NOVEMBER 2009. Matahari baru saja akan beranjak pulang di Gunung Padang. Sinarnya menciptakan kristal-kristal kecil yang menggantung di sela-sela pohon cemara. Semerbak bunga Cempaka terhirup, kala senja itu kami berempat  menaiki bukit tersebut. Sementara embikan kambing terdengar ramai nun jauh di kampung sana, angin berhembus meniup pohon-pohon bambu hingga menari-nari.

Setelah kira-kira 20 menit kami menyusuri tanah yang terjal, sampailah  kami di atas kawasan puncak Gunung Padang.Saya dan Helmy Adam (26) langsung beristirahat di bawah pohon Cempaka besar, sambil menikmati kesejukan air putih bercampur jeruk nipis yang kami bawa dari rumah.  Namun berbeda dengan saya dan Helmy,  yang pernah beberapa kali ke sini, Abdul Basyith (32) dan Tovan Akbar (33), alih-alih beristirahat, mereka berdua malah hanya bisa bengong melihat pemandangan di hadapannya.

“Gua nggak ngerti, batu-batu ini diukir pake apa dan bawanya ke puncak gunung ini juga seperti apa?”ujar Basyith sambil tak henti merekam pemandangan yang ada dengan kamera kecilnya.

Basyith dan Tovan memang laik takjub. Bisa jadi mereka tak menyangka di puncak bukit terpencil tersebut ada

Tumpukan batu megalitikum di G.Padang (foto:hendijo)

Tumpukan batu megalitikum di G.Padang (foto:hendijo)

sebuah peninggalan bersejarah berupa timbunan artefak batu yang diperkirakan berasal dari peradaban zaman batu (megalitikum). Kepenasaran dan kekaguman tersebut terbukti dengan banyaknya pertanyaan mereka mengenai soal hikayat Gunung Padang kepada saya. Kami jadi terlibat diskusi panjang di puncak bukit tersebut dan sepakat bahwa tumpukan batu-batu itu bukan hasil karya manusia primitif.

“Gua berani bertaruh,  jika batu-batu ini secara historis tak kalah pentingnya dengan Stonhenge di Inggris atau batu-batu suci peninggalan Suku Maya di Semenanjung Yucatan,Meksiko,”kata saya.

Usai diskusi sambil makan nasi timbel, mungkin karena letih, tak terasa kami tertidur di sana. Menjelang magrib kami terbangun. Udara dingin seolah menggigit tulang-tulang sunsum kami. Maklumlah sekeliling tempat yang berjarak kira-kira 30 km dari pusat  kota itu, dikepung oleh sungai, lembah, bukit dan gunung. Sebelah tenggara Gunung Melati, di timur laut ada Pasir Malang, sebelah barat laut Pasir Pogor dan Pasir Gombong, sebelah barat daya Gunung Emped dan Gunung Karuhun.

Lantas di sebelah barat laut Gunung Padang terdapat lembah yang dalam, memanjang dari barat daya-timur laut. Di lembah terdapat Desa Cimanggu, Ciwangun dan Cipanggulaan yang merupakan desa terdekat dengan situs Gunung Padang. Daerah ini dilalui oleh Sungai Cicahang di sebelah barat laut dan Sungai Cimanggu di sebelah timur yang banyak mengandung batu-batu kali besar dan kecil.

Diteliti Sejarawan Istana Pajajaran

Selama ini, belum ada catatan resmi mengenai riwayat situs purbakala yang terletak di pinggiran tenggara kota Cianjur tersebut. Menurut Dachlan (52), pada 1950-an memang pernah ada sejenis kitab tua yang menerangkan soal sisilsilah tempat itu. “Sayangnya kitab itu dirampas oleh gorombolan ( gerilyawan pemberontak Darul Islam) dan tak terlacak hingga kini,”ujar kuncen Gunung Padang ke-13 itu.

Jadilah hingga kini, para arkeolog, sejarawan dan budayawan lokal masih berbeda soal ikhwal pembuatan situs sejarah itu. Ada yang berpendapat, situs Gunung Padang merupakan karya Prabu Siliwangi alias Sri Baduga Maharaja(1482-1521), raja termasyur dari Kerajaan Pajajaran. Pendapat ini misalnya diimani oleh Abah Ruskawa. “Ini istana yang dibuat Prabu Siliwangi dan pasukannya dalam waktu semalam,”ujar Ketua Paguyuban Pasundan Cianjur tersebut.

Namun ada juga yang meyakini situs Gunung Padang dibuat jauh dari era Pajajaran, yakni pada 2.000 SM (2.800 tahun sebelum Candi Borobudur dibangun Dinasti Syailendra di Muntilan), dan tahun 6.500 SM. Bahkan Imam Rahmadi, pemerhati sejarah yang aktif bergelut dengan dunia spiritual dan kebatinan di wilayah Ponorogo, menyebut situs terbesar se-Asia Tenggara tersebut sudah ada sejak sebelum masa hidup Nabi Sulaiman.

“Itu tempat dulu merupakan sumber aktifitas peradaban. Di atasnya ada sejenis kubah kuno yang bermandikan

Pecahan gerabah yang kami temukan sekitar lokasi G.Padang (foto:hendijo)

Pecahan gerabah yang kami temukan sekitar lokasi G.Padang (foto:hendijo)

cahaya dan memancar ke sekitarnya,”ujar Imam dalam nada serius. Dengan ukuran ilmu pengetahuan konvensional,saya belum tahu pasti sejauh mana kebenaran kata-kata Imam itu. Namun uniknya, Gunung Padang sebagai sumber cahaya ternyata dibenarkan pula oleh Dachlan.

“Memang betul,kata orang-orang tua, di sini dulu ada menara yang memancarkan cahaya.Bahkan Gunung Padang sendiri berasal dari bahasa Kawi.Artinya cahaya,”ungkap lelaki berpenampilan kalem itu.

Pendapat Imam agak dibenarkan oleh Aan Merdeka Permana. Sejarawan Sunda kenamaan itu percaya bahwa  situs Gunung Padang usianya memang jauh lebih tua dibanding Pajajaran. Itu dibuktikan dengan adanya fakta sejarah, Sri Baduga Maharaja pernah membentuk sebuah tim khusus di bawah supervisi Ki Purana Makti (sejarawan Istana Pajajaran). “Tugasnya melakukan penelitian dan memecahkan misteri sejarah sekitar situs Gunung Padang,”tulis Aan dalam Lalakon ti Cianjur (Cerita dari Cianjur) tersebut.

Dari hasil penelitian itu, Ki Purana Makti dan tim-nya menyimpulkan bahwa situs Gunung Padang dahulu dikenal sebagai Hyang Pamujangan (tempat pemujaan Yang Maha Gaib). Tempat ini terbilang sangat luas dan megah dengan bentuk persegi empat berundak yang materi fisiknya dibuat dari tumpukan batu sungai. “Konon menurut Ki Purana Makti, Hyang Pamujangan memiliki 13 pintu yang bisa dimasuki oleh sekitar 1000 orang,”ujar Aan

Sisa-sisa Peradaban Atlantis?

Terlepas dari itu semua, yang jelas dari bentuknya, dapat dipastikan bahwa para pembuatnya memang bukan manusia-manusia sembarangan. Minimal mereka sudah mengenal teknologi arsitektur dan ilmu pahat batu tingkat tinggi. “Saya bahkan curiga tempat ini terkait dengan Atlantis”kata Rahmat Safari, salah seorang teman pelahap buku-buku sejarah, yang beberapa bulan sebelumnya pernah saya ajak ke tempat ini.

Atlantis dinisbahkan pada sebuah negeri ideal yang punah di masa puluhan abad silam. Istilah ini pertama kali dimunculkan oleh Plato ( 427 SM-347 SM). Dalam 2 buah karyanya (Timaeus dan Critias), filosof asal Yunani itu memaparkan tentang sebuah negeri teramat makmur,subur dan sejahtera. Penduduknya memiliki kecerdasan di atas rata-rata manusia biasa.

“Namun lambat laun situasi tersebut membuat penduduk Atlantis berlaku arogan dan menyimpang dari kaidah-kaidah moralitas sehingga Dewa Zeus menenggelamkan negeri itu lewat bencana letusan gunung suci dan banjir semesta…”tulis Plato. Peristiwa itu terjadi pada akhir era zaman es (era pleistosen), sekitar 11.600 tahun yang lalu.

Atlantis lantas raib dari peta dunia. Adalah Prof.Arysio Santos dalam bukunya Atlantis: The Lost Continent Finally Found, menyatakan bahwa sisa-sisa penduduk Atlantis yang selamat menyebar ke seluruh dunia dan membangun kembali peradaban dari titik nol.Mengapa harus dari titik nol? Tentu saja karena mereka kehilangan semua bahan mentah dan perangkat teknologi maju yang ikut tenggelam pula bersama air bah.

“Anda bayangkan jika dunia saat ini hancur lebur akibat perang nuklir.Tak ada yang bisa dilakukan oleh manusia yang tersisa selain memulai kembali peradaban dari nol,”kata ahli geologi dan fisika nuklir tersebut saat diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi Brazil.

Para pengungsi Atlantis lantas memanfaatkan benda-benda yang masih ada. Batu-batu merupakan benda-benda yang masih tersisa dan bisa digunakan sebagai perkakas serta bahan-bahan untuk mendirikan bangunan. Ya setelah bergelimang dengan segala kemuktahiran teknologi, pada akhirnya peradaban manusia harus kembali ke zaman batu (era megalitikum).

Lalu adakah sisa-sisa penduduk Atlantis itu sebagian kecil mengungsi ke kawasan Gunung Padang dan membentuk sebuah peradaban tinggi era zaman batu? Memang masih terlalu dini untuk menyimpulkan seperti itu, tetapi kemungkinan itu benar juga bukanlah sebuah hal yang mustahil. Terlebih Prof.Santos sendiri mengimani bahwa letak Atlantis sesungguhnya bukan di Lautan Atlantik tapi di wilayah yang sekarang bernama Indonesia.

Namun untuk lebih memastikan soal tersebut, tentunya harus ada penelitian sejarah yang panjang di gunung kecil yang terletak di Desa Cimenteng,Kecamatan Cibeber dan masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur tersebut. Dan itu jelas harus disertai niat serius bukan saja dari para peneliti dan pemerintah Indonesia tapi juga dunia.

“ Sempat memang beberapa tahun lalu, ada beberapa peneliti dari Prancis, Belanda, Jerman dan Jepang, tertarik datang ke sini. Tapi entah, hingga kini mereka enggak datang lagi,”ujar Dachlan.

Matahari sudah jauh meninggalkan kawasan Gunung Padang. Cahayanya larut ditelan gelap malam. Semerbak bunga Cempaka sudah enyah,digantikan oleh harum khas dari sebaskom lahang (air nira) yang ada di hadapan kami.

“Ayo-ayo mari diminum lahangna,lebih dari 2 jam sudah tidak enak lagi nih,”kata Dachlan

“Hatur nuhun,Pak” jawab kami sambil menyambut antusias tawaran sang kuncen Gunung Padang itu. Begitu air  calon gula merah itu  kami cicipi, sebuah rasa “segar” melewati tenggorokan kami. Begitu legit dan khas. Hari itu, kami benar-benar menikmati keajaiban sejarah  sebuah peradaban besar di Gunung Padang, yang entah bagaimana seolah terlupakan oleh orang-orang yang mengaku beradab pada hari ini. (hendijo)

1 Comment so far

Jump into a conversation
  1. okynp
    #1 okynp 5 Agustus, 2014, 12:58

    leres pisan kang (y)

    Reply this comment

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.