Dusun Kristiani di Kota Santri

by Mei 7, 2015

Terkenal sebagai gudang pesantren, Cianjur menyisakan satu komunitas Kristen yang sudah ada sejak lebih dari seratus tahun lalu. Bagaimana sejarah keberadaan mereka dan interaksi antara dua komunitas berbeda keyakinan di sana?

MATAHARI senja sudah bergerak ke arah barat. Namun hawa hangatnya masih tersisa memenuhi kawasan Palalangon. Di tanah lapang dekat gereja tua, seorang lelaki muda berjaket hitam itu tertegun. Seraya mengernyitkan dahinya, ia memandang salah seorang dari dua perempuan yang tengah asyik ngobrol di depan halaman gereja, nampak sekali ia tengah mengingat sesuatu. Sejenak ia tersenyum. Lantas dengan langkah pasti didekatinya salah satu dari perempuan yang paling muda.

“Teh Esty ya?” Apa kabar?” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanannya.

Kini giliran perempuan yang dipanggil Esty itu menjadi bingung
” Puji Tuhan. Siapa ya? Tapi rasanya saya kenal?” kata Esty dalam nada pelan.

” Masyaallah, saya Helmy, Teh. Adiknya Teh Lisda, teman Teteh waktu di SMA,” jawab sang lelaki muda.

Begitu mendengar penjelasan tersebut, Esty menepuk dahinya dan lantas tertawa senang. Diraihnya buru-buru sodoran tangan kanan Helmy. Mereka lantas jadi terlibat dalam pembicaraan yang sangat akrab. Ya rupanya Helmy yang seorang Muslim adalah mantan adik kelas Esty yang Kristen saat mereka sama-sama bersekolah di sebuah SMA Katholik.

Kendati mayoritas beragama Kristen, warga Palalangon di wilayah Gunung Halu, Cianjur merupakan komunitas yang sangat terbuka dengan para tetangga kampungnya yang beragama Islam. Alih-alih merasa asing, warga Palalangon sehari-hari justru terbiasa mendengar suara adzan seperti halnya warga tetangga mereka yang Muslim di Calincing ,Babakan Garut, dan Pasir Kuntul akrab mendengar dentang lonceng dari Gereja Palalangon.Bahkan lebih dari itu, hubungan yang tercipta diantara mereka sudah selaiknya saudara.

Yudi Setiawan, koster (pembantu) di Gereja Kristen Pasundan (GKP) Palalangon mengaku hubungan persaudaraan itu terlihat nyata jika ada warga yang meninggal atau sakit. Tanpa diminta, mereka akan membantu setulus hati. ” Jika ada saudara Muslim meninggal, kami juga ikut datang berbela sungkawa dan pastinya terlibat dalam kegiatan teknis seperti penggalian makam. Begitu juga sebaliknya, tanpa diminta mereka pun akan datang jika kami tengah mengalami hal yang sama,” kata lelaki Sunda kelahiran Sukabumi 41 tahun itu.

Seolah mengamini pernyataan Yudi, warga Palalangon lain yakni Dajat Sudardjat (68) menyebut para tetangga Muslim-nya sebagian besar adalah orang-orang baik. Jangankan menyakiti, dalam keseharian mereka justru berusaha menjaga perasaan para tetangganya dengan tidak pernah sekalipun membahas “perbedaan-perbedaan prinsipil” yang ada di antara mereka. Keharmonisan itu semakin terlihat jika lebaran dan natal datang.

” Saat-saat itulah, kami akan saling mengunjungi dan saling meminta maaf…”ujar ayah dari tiga anak tersebut.

Soal situasi hidup rukun ini, diakui juga oleh Ustadz Ismail (32) dan Ustadz Hakim (28) dari Nurul Hidayah, pondok pesantren yang bertetangga dengan gereja-gereja yang ada di wilayah Palalangon. Untuk lebih mempererat hubungan antara tetangga, Ustadz Ismail dan Ustadz Hakim tak jarang melakukan kunjungan ke komunitas Kristen itu. Begitu juga sebaliknya, para pendeta dari 18 gereja yang ada di Palalangon dan sekitarnya akan datang ke Nurul Hidayah jika ada undangan kegiatan seperti peresmian masjid dan kegiatan lainnya.

Kegiatan kunjung mengunjungi ini sangat penting terutama jika di pihak masing-masing terhembus isu tak sedap. Pernah suat kali sempat terjadi suasana agak tegang antara warga Kristen dengan warga Muslim. Musababnya, telah berkembang di kalangan warga Palalangon bahwa dalam suatu khotbah Ustadz Ismail telah melarang warganya untuk mengucapkan selamat hari natal.

” Kami semua lantas bertemu dan mengklirkan semuanya. Akhirnya semua beres dan kami bisa kerja bakti bersama lagi dalam suasana akrab,”ujar anak muda yang selama belasan tahun pernah mondok pada sebuah pesantren ternama di Tasikmalaya tersebut.

Dibantu Bupati Cianjur
img-gereja-palalangon2Jauh sebelum Kadaleman Cianjur lahir (pada 1677), agama Islam sudah berkembang cukup pesat di kawasan itu. Adalah Kerajaan Jampang Manggung di bawah Prabu Laksajaya menjadikan Islam sebagai agama resmi di negaranya. Islam semakin berkibar saat Aria Wiratanu I mendirikan Kadaleman Cianjur (saat itu masih bernama Cikundul).

Dari abad ke abad, Islam lantas menjadi “darah daging” sebagian masyarakat Sunda yang tinggal di kadaleman tersebut. Perkembangannya pun berjalan signifikan seiring semakin bertambah banyaknya jumlah pondok pesantren yang perkembangannya bak cendawan di musim hujan. Sejak itu pula Cianjur ditabalkan sebagai kota santri. Sebegitu mencorongnya pamor sebagai kota santri ini hingga banyak kiai pengelola pondok pesantren di Jawa Barat dahulunya pernah nyantri di Cianjur. Tercatat beberapa pesantren seperti Pesantren Gelar dan Pesantren Gentur, dijadikan acuan para santri dari berbagai tempat untuk memperdalam ilmu keislaman mereka. Lantas bagaimana ceritanya agama Kristen bisa berkembang di kota santri tersebut?

Aki Dadan (71), salah satu sesepuh Cianjur, menyebut saat pemerintahan Dalem Aria Wiratanu II (1691-1707) pernah datang ke Cianjur satu rombongan pedagang dari Portugis. Sebagai bentuk penghargaan dan toleransi, Dalem Wiratanu II lantas mempersilakan para tamunya untuk tinggal di satu wilayah dekat pinggiran Sungai Citarum.

“ Sekarang namanya jadi kawasan Gunung Halu, kampungnya orang-orang Nasrani (Kristen) di Cianjur,”ujar Aki Dadan yang mengaku mendapat cerita tersebut dari kakeknya.

Namun berbeda dengan keterangan Aki Dadan, pihak Gereja Kristen Palalangon (GKP) Palalangon sendiri menyebut keberadaan orang-orang Kristen di wilayah Cianjur bermula dari adanya permintaan pemerintah Hindia Belanda kepada Bupati Cianjur Raden Prawiradireja II (1862-1910) pada 1901. Mereka meminta bupati Cianjur ke-10 itu, menyediakan lahan yang masih kosong untuk komunitas Kristen pribumi yang ada dalam bimbingan NZV (Nederlandsche Zendings Vereeniging), sebuah pekabaran misi Injil dari Belanda.

Sebagai catatan, orang-orang Sunda yang memutuskan untuk memeluk agama Kristen saat itu mengalami situasi yang sangat memprihatinkan. Selain mengalami intimidasi, penganiayaan dan bahkan pembunuhan, mereka pun tak diakui oleh keluarganya masing-masing. “Saat itu orang-orang Sunda mengidentikan Kristen sebagai agama orang Belanda. Jadi sangat dimengerti jika keberadaan mereka tak diterima oleh keluarga besarnya masing-masing,”ujar Raistiwar Pratama, peneliti dari ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia) yang pernah melakukan riset mengenai komunitas Kristen Sunda itu.

Setelah berhasil mengumpulkan 7 pengikut Kristen pribumi, salah seorang anggota NZV bernama B.M. Alkema kemudian menghadap Bupati Cianjur dan meminta sang bupati memberi petunjuk kira-kira lahan mana di Cianjur yang bisa mereka tempati. Bupati Raden Prawiradireja II lantas memberi wewenang kepada salah seorang wedananya yang bernama Sabri.

Sabri kemudian mengajak B.M. Alkema dengan ketujuh pengikutnya bergerak ke arah timur Cianjur. Mereka menyusuri aliran sungai Cisokan dan kemudian aliran sungai Citarum. Saat mendekati kawasan yang disebut sebagai Leuwi Kuya (Lubuk Kura-Kura), tiba-tiba salah seorang dari rombongan itu terperosok masuk ke sebuah jurang. Untunglah ia masih bisa diselamatkan.

Usai menolong kawannya yang terperosok itu, rombongan tidak berbalik lagi ke tempat asal. Mereka justru menaiki bagian lain dari tebing tersebut dan menemukan sebuah hutan belantara yang tanahnya agak datar. Alkema merasa cocok dengan kawasan itu. Setelah memeriksa beberapa sudut di kawasan itu, ia kemudian menancapkan tongkatnya di salah satu tempat tersebut dan berikrar: “Di tempat inilah saya tetapkan sebagai tempat pemukiman bagi orang-orang Kristen Sunda…”

Begitu selesai pembabatan hutan, dibuatlah beberapa pemukiman sederhana di kawasan itu. Ketujuh orang Kristen Sunda itu kemudian menjemput keluarganya masing-masing untuk tinggal di sana. Guna memenuhi kebutuhan ibadah kebaktian, dibangunlah sebuah “gereja darurat” yang terbuat dari bahan dasar “eurih” alias ilalang. Kebaktian pertama sendiri terjadi pada 17 Agustus 1902 dan secara resmi para anggota jemaat memberi nama kampung tersebut dengan istilah Sunda ‘palalangon” yang artinya “menara”.

Tak Iklas Damai Lepas

img-gereja-palalangon3Seorang anak muda keluar dari gereja sore itu. Ia melangkah ke arah warung kelontongan yang terletak persis di samping gereja tersebut. Seorang perempuan tua berjilbab warna merah muda menyambutnya dengan ramah: ” Mau beli apa, Nak?” sapanya dalam nada ramah.

Sang anak muda tersenyum. Ia lantas menyebut barang-barang yang akan dibeli. Transaksi pun berlangsung dengan diiringi selingan ngobrol ngalor ngidul. Beberapa menit kemudian, sang anak muda tersebut pamit.

Bagi Dedeh Karyati bertetangga dengan gereja tidaklah menjadi soal. Kendati ia merupakan seorang Muslim yang taat, keberadaan rumah ibadah kaum Kristiani di samping tempat tinggalnya tidak berpengaruh apa-apa terhadap keyakinannya. ” Soal agama itu, masing-masing sajalah. Apalagi selama ini orang-orang gereja tersebut rukun-rukun saja dengan lingkungan kami,”ungkap perempuan kelahiran Garut 58 tahun lalu tersebut.

Situasi rukun ini diakui oleh Pendeta I Putu Suwintana S.Th. Sebagai pribumi, warga Kristen di kawasan Desa Kertajaya menyambut baik para pendatang Muslim laiknya saudara mereka. ” Di sini kami baik-baik saja. Tak pernah ada sedikitpun konflik. Kalaupun ada cepat kami selesaikan secara bersama,”ujar pimpinan Gereja Kristen Pasundan di Kampung Palalangon itu.

Beberapa tahun yang lalu memang sempat ada bergulir isu kristenisasi di wilayah tersebut. Sebegitu kencangnya isu itu bertiup hingga kawasan Kampung Palalangon “diserbu” oleh ratusan orang berjubah. ” Tapi orang-orang itu bukan orang sini. Mereka datangnya dari kota Cianjur,”ujar Pendeta Putu.

Yudi Setiawan, sang koster gereja Palalangon masih ingat bagaimana provokatifnya orang-orang tersebut saat datang ke kampungnya. Dengan menggunakan beberapa truk kecil, mereka berkeliling kampung Kristen itu sembari meneriakan takbir berkali-kali. ” Tapi kami tidak mau terpancing. Orang-orang sini diam saja dan tetap melakukan aktivitas seperti biasa saja,” ujar lelaki asal Sukabumi tersebut.

Ustadz Ismail (32) mengamini tentang terjadinya peristiwa itu. Ia yang tidak merasa tahu menahu dengan kedatangan “orang-orang kota” tersebut langsung saja mengklarifikasi kepada para sesepuh kampung Palalangon bahwa orang-orang Muslim setempat tidak terlibat dalam arak-arakan provokatif itu. ” Terusterang saya sempat malu dengan kejadian itu. Kalaupun ingin berdakwah, seharusnya orang Islam melakukannya dengan penuh hikmah dan santun,”kata pengelola Pesantren Nurul Hidayah tersebut.

Isu kristenisasi sendiri ditampik secara keras oleh Pendeta Putu. Menurutnya, sejak pendirian kampung Palalangon hingga sekarang, tak ada sedikitpun niat pihak gereja setempat untuk menjadikan tetangga-tetangga Muslimnya sebagai Kristen. ” Buat apa? Selain agama masalah hak seseorang, upaya itu kan seperti cari musuh secara sengaja saja. Apa untungnya kami mempertaruhkan kedamaian yang sudah ada ini,”ujarnya.

Alih-alih ada kristenisasi, malah banyak warga Palalangon yang pindah menjadi Islam dan itu sama sekali tidak dipermasalahkan oleh mereka. ” Saudara-saudara saya juga ada yang Muslim dan itu biasa saja bagi kami,” ujar Dajat Sudardjat.

Bisa jadi karena masih adanya hubungan keluarga ini, suasana di Desa Kertajaya dan kawasan lain di Gunung Halu aman-aman saja. Kalaupun ada isu sensitif terkait soal SARA (Suku Agama Ras dan Antargolongan) selalu langsung dibicarakan secara musayawarah. ” Kami tak jarang selalu melakukan ronda bersama kalau ada isu macam-macam bertiup ke kawasan kami,” kata Yudi.

Langit biru terlihat menaungi gereja di Kampung Palalangon saat kumandang adzan ashar bergema dari masjid Nurul Hidayah. Beberapa gadis Kristen terlihat berjalan santai mengiringi seorang gadis lain yang berjilbab. Laiknya anak-anak muda di mana pun mereka selalu terlihat ceria dan gembira. Apakah orang-orang Gunung Halu ikhlas melepaskan suasana damai ini? Seperti apa yang dikatakan Pendeta Putu dan Ustadz Ismail: jawabannya tentu tidak.( Hendi Jo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.