Demi Dua Bangsa

by Januari 8, 2015

Bagaimana dua manusia dari dua bangsa yang pernah berseteru bicara tentang cita-cita yang sama untuk masa depan (Pertemuan antara Max van der Werff Jr, warga negara Belanda dengan Anhar Gonggong, sejarawan Indonesia)

SIMBOL REKONSILIASI. Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong dan Max van der Werff Jr (foto:hendijo)

SIMBOL REKONSILIASI. Sejarawan Indonesia Anhar Gonggong dan Max van der Werff Jr (foto:hendijo)

BEBERAPA waktu, wajah Anhar Gonggong sempat muncul di Televisi Nasional Belanda. Dalam tayangan yang berdurasi hanya beberapa menit itu dikatakan jika sejarawan Indonesia asal Pinrang, Sulawesi Selatan tersebut menyarankan pemerintah Indonesia untuk menolak permintaan maaf dari pemerintah Belanda terkait berbagai praktek pelanggaran HAM yang terjadi pada era Perang Kemerdekaan (1945-1949).

Pernyataan yang “diklaim” dinyatakan oleh Anhar itu membuat Max van der Werff Jr merasa kaget dan bersedih. Sebagai warga negara Belanda yang ingin mewujudkan rekonsiliasi sejarah di antara kedua bangsa, “pernyataan Anhar” itu adalah suatu hal yang harus ia respon secepatnya. Atas dasar itulah, Max lantas menulis sebuah surat terbuka untuk Anhar. Inilah bunyi surat tersebut (yang saya telah terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia):

Bapak Anhar Gonggong yang baik…

Berbeda dengan anda yang seorang sejarawan terkenal Indonesia, saya hanya seorang warga Belanda biasa saja. Namun saat ini perkenankanlah saya untuk berbagi pemikiran tentang sejarah kita dan berbicara tentang apa yang seharusnya kedua bangsa harus lakukan di masa depan.

Pada 9 Desember 2011 , saya berkunjung ke Rawagede. Ketika itu, saya berdiri tak jauh dari Duta Besar Tjeerd de Zwaan kala ia atas nama Kerajaan Belanda, menyampaikan permintaan maaf kepada para janda yang suaminya menjadi korban prilaku tentara kami di masa lalu. Terusterang, saat itu saya merasa bangga karena pada akhirnya Belanda bisa bertindak sebagai sebuah negara bermartabat. Bagi saya, ini adalah langkah awal yang positif untuk melangsungkan rekonsiliasi atas sejarah kelam kolonial yang berdarah-darah.

Permintaan maaf kembali diucapkan Kerajaan Belanda pada 12 September 2013. Kali ini ucapan itu kami tujukan kepada para janda yang suaminya terbunuh dalam proses eksekusi tentara Belanda selama perang kemerdekaan Indonesia khususnya kepada mereka yang berada di Sulawesi Selatan.

Sebelumnya, saya melihat anda tampil di Televisi Nasional Belanda. Dan saya terkejut karena alih-alih menyambut permohonan maaf tersebut, anda justru menyatakan Indonesia hendaknya menolak permohonan maaf kami itu. Ketika merespon pernyataan anda tersebut, pertama-tama yang saya pikirkan adalah: siapa anda? Apa motivasinya dan mengapa televisi Belanda memberi jeda waktu yang cukup panjang untuk menampilkan pernyataan anda? Lalu setelah membaca kisah anda “Ayahku dan Dua Saudaraku Terbunuh oleh Westerling”, maka maklumlah saya.

Yang terhormat Bapak Anhar Gonggong…

Saya secara pribadi menyampaikan rasa empati terdalam atas apa yang terjadi pada ayah, kakak dan seluruh keluarga anda dan atas bayangan masa kelam yang masih menghantui anda hingga kini. Ternyata waktu memang tidak dapat menyembuhkan seluruh luka,suatu hal yang bertentangan dengan pepatah masyarakat bahwa waktu pasti akan menyembuhkan semuanya.
Yang terhormat Bapak Anhar Gonggong…

Saya harus malu mengakui pada anda bahwa perdebatan intelektual tentang tindakan kriminal perang kami di masa lalu masih sangat rendah di Belanda saat ini. Sebagian besar dari golongan veteran perang Indonesia ( indie veteranen) dan beberapa golongan lain masih berpikir dan meyakini bahwa tindakan mereka adalah untuk “restoring law and order” dan pasukan Belanda telah bertindak terhormat selama aksi polisionil di Indonesia. Alih-alih mengakui segala tindakan kejam yang dilakukan tentara Belanda, mereka malah menyebut para “gerombolan pelopor dan para perampoklah” yang menjadi biang keladi semua ini.

“Permohonan maaf yang ditawarkan oleh pemerintah Belanda pada Kamis kemarin di Jakarta sesungguhnya merupakan sesuatu yang tidak perlu karena hanya ditekankan pada satu pihak. Indonesia juga seharusnya meminta maaf atas banyaknya pembunuhan terjadi di sana”, demikian pernyataan Leendert Noordzij, Ketua dari Asosiasi Veteran Belanda (VOMI).

Kami juga harus menyesal bahwa para elite politik kami pun secara gila gilaan menggunakan para veteran ini sebagai tameng hidup: bersembunyi dibelakang pungung mereka. Para politisi tak mau dan tak ingin disalahkan atas kesalahan fatal yang terjadi karena keputusan mereka untuk tidak menghormati dan tidak menghargai kemerdekaan Indonesia. Padahal pada saat yang sama seluruh bangsa di dunia telah memahami kapan bangsa anda terlahir dan bahwa masa “tempoe doeloe” bagi Belanda telah berakhir.

Dan gilanya, sebagai imbalan atas semua ini, para politisi telah membuat sebuah hukum istimewa pada 1971 (special law 1971). Hukum ini memberikan imunitas kepada seluruh pasukan Belanda yang melakukan kejahatan perang selama era 1945-1950 di tanah yang dulu dikenal sebagai Hindia Belanda.
Pada waktu yang sama ketika permohonan maaf itu dinyatakan di Jakarta, surat kabar Trouw datang dengan sebuah berita mengejutkan: banyak korban terbunuh dalam pembantaian di Sulawesi Selatan salah satunya dilakukan oleh Jan Vermeulen,seorang pahlawan Belanda dalam aksi bawah tanah melawan Jerman.

Andakan, hari ini dia masih hidup, saya yakin penjahat perang seperti Vermeulen akan mendapatkan “kekebalan hukum”juga dari “Special Law 1971”. Ini suatu hal yang ironis bagi saya karena di sisi lain Belanda memiliki kredibilitas dan menyatakan diri sebagai pusat keadilan internasional ( Center of International Justice ).

Tekanan tangan kolonialisme Belanda selama 350 tahun, telah menyebabkan munculnya bermacam penderitaan yang tak dapat terlukiskan oleh kata kata. Tapi justru inilah yang membuat takdir antara keluarga anda dan keluarga saya bertemu.

Saya memiliki seorang paman yang bernama Rudy van der Werff yang saat ini sudah tiada.Saat berusia 16 tahun, paman saya itu tewas dalam kondisi tubuh terpotong-potong akibat prilaku “para gerombolan” dalam suatu masa yang dikenal oleh kami sebagai “zaman bersiap” . Kini sisa sisa tubuhnya telah digali dan dimakamkan kembali di kuburan massal yang terletak di Pemakaman Pandu, Bandung.

Atas kejadian memilukan tersebut, kami merasa tidak perlu permohonan maaf, atau menuntut penggantian dengan uang dari Pemerintah Indonesia. Mohon kata-kata saya terakhir itu jangan disalahtafsirkan. Ini hanya upaya saya menunjukkan, mengajak anda merenung, bahwa saya memiliki perasaan yang sama dengan anda, juga dengan para korban dari masa-masa itu.

Yang terhormat Bapak Anhar Gonggong…

Pada 2015 yang akan datang, usia negara anda akan mencapai angka 70 tahun. Menurut pendapat pribadi saya, pada tahun itu bisa jadi pemerintah Belanda akan menarik semua permohonan maafnya. Mereka akan menutup seluruh perasaan bersalah mereka. Mengapa saya berpendapat sepesimis itu? Karena saya sadari, permohonan maaf tersebut sesungguhnya tak pernah datang dari hati yang paling dalam, namun dibuat akibat dari tekanan dari berbagai pihak, yang bisa jadi motivasi mereka untuk kemanusiaan patut diragukan Mereka tidak pernah merenungkan dan menyadari bahwa pada masa itu Belanda berada dalam sisi yang salah, sisi yang kelam dalam sejarah bahkan hingga saat ini.

Politisi modern berpikir itu semua mereka lakukan semata-mata demi “information management and damage control”. Meskipun demikian saya berharap bahwa pidato Raja kami pada 17 Agustus 2015 harus mengandung pesan yang kuat akan penyesalan atas “pembelajaran masa lalu” atau mungkin tak perlu seorangpun warga Belanda yang menghadirinya. Saya merujuk pada kekacauan kunjungan Ratu Beatrix pada 1995 dan pidato semantik Ben Bot pada 2005.

Tapi saya optimis, proses dekolonialisasi di kepala orang Belanda pasti akan terjadi juga pada akhirnya. Namun ini butuh waktu untuk mencapainya.

Sambil menunggu saat itu tiba, izinkan saya menyampaikan pada anda “permohonan maaf atas segala permohonan maaf”.

Salam hangat
Max van der Werff Jr

 

Surat dari Max, disambut baik oleh Anhar. Lewat saya, Anhar menitipkan pesan kepada Max bahwa apa yang ia dapat dari pers Belanda adalah sebuah “kekeliruan persepsi”. Untuk lebih memastikan soal sikapnya itu, Anhar meminta saya untuk menfasilitasi pertemuan antara dirinya dengan Max di kediamannya yang terletak di kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur.

Undangan dari Anhar dipenuhi oleh Max. Pada Sabtu, 7 Desember 2013, bersama Bung Peter Walandaouw, saya menemani Max ke rumah Anhar Gonggong. Sesampai di sana, kedatangan Max disambut hangat oleh Anhar dan hampir selama 3 jam ( Pukul 14.00 s/d Pukul 17.00) keduanya terlibat dalam diskusi sekitar perseteruan Indonesia-Belanda di era Perang Kemerdekaan dan masa depan rekonsiliasi kedua bangsa tersebut.

Saat dikonfirmasi secara langsung oleh Max tentang pernyataannya di media Belanda, Anhar menolak keras jika ia dikesankan sebagai “sejarawan yang menyarankan pemerintah Indonesia untuk menolak permintaan maaf pemerintah Belanda”.

“Kalaupun mereka tidak bermaksud jelek, setidaknya mereka salah persepsi tentang pendapat saya,”ujar lelaki yang sebagian keluarganya di Pinrang (termasuk sang ayah) tewas dihabisi oleh pasukan Kapten Westerling itu.

Alih-alih menolak permintaan maaf pemerintah Belanda, jauh hari (saat duduk di bangku SMA pada 1963), Anhar sudah menyatakan ” urusan dirinya dengan Westerling” sudah selesai. “Itu adalah situasi perang, saat itu ayah saya dan Westerling memiliki tugas yang sama: harus saling bunuh karena mereka adalah musuh. Dalam hal ini, ayah sayalah yang ternyata harus menjadi korban, dibunuh oleh Westerling,”ujarnya.

Namun demikian, Anhar tidak setuju jika “masa lalu” itu harus dilupakan begitu saja. Itu seperti menafikan suatu pembelajaran sejarah. Karena itu, ketika berbicara di depan Televisi Nasional Belanda, Anhar mengkritik pernyataan Duta Besar Indonesia untuk Belanda Marsudi yang menyatakan dalam soal ini ” Indonesia lebih memilih untuk melihat masa depan…”

“Jika memang benar ia menyatakan demikian, itu sebuah pernyataan yang sangat bodoh,”kata Anhar.
Anhar sangat yakin, jika sebagian besar orang Indonesia hari ini sudah memberi maaf terhadap semua “kekelaman Belanda” di Indonesia pada masa lalu. Sebaliknya, ia justru mengkritik pemerintah Belanda yang tak mau jua mengakui 17 Agustus 1945 sebagai Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

“Saya pikir itu karena pemerintah Belanda “takut” uang mereka habis jika mereka melakukan itu,” jawab Max.

Sekitar 4 Milyar Gulden plus bunga harus dikeluarkan oleh pemerintah Belanda jika mereka mengakui 17-8-45 sebagai hari kemerdekaan bekas jajahannya itu. Itu sebagai bentuk kompensasi dari “pengakuan” Belanda melakukan invasi militer lengkap dengan kejahatan perangnya terhadap sebuah bangsa yang sudah merdeka.

Anhar hanya tertawa ketika mendengar penjelaan dari Max tersebut. Salah besar, kata Anhar, jika pemerintah Belanda selalu menghubungkan segala hal yang terkait kejahatan perang mereka melulu dengan uang. “Mereka pikir, dengan memberi uang lalu saya bisa melupakan hal-hal menyedihkan dari keluarga saya yang terbantai puluhan tahun lalu?”katanya.

Yang diinginkan oleh Anhar hari ini adalah niat baik dari kedua bangsa. Tanpa harus melupakan “hal-hal pahit” di masa lalu, ia menyatakan betapa perlunya kedua bangsa ini sekarang bergerak ke arah rekonsiliasi dan perdamaian. Ia sangat yakin, ini pastinya menjadi keinginan semua orang yang berpikiran waras dan orang-orang Belanda yang menginginkan itu, pastinya bukan hanya Max dan kawan-kawannya semata.

Ya, masa lalu tidak harus membunuh masa depan.Justru sebaliknya: tanpa harus melupakan masa lalu, demi dua bangsa, di masa mendatang harus dibangun suatu hubungan yang lebih baik layaknya dilakukan bangsa-bangsa berperadaban di dunia mana pun…Rakyat Belanda dan Rakyat Indonesia layak mendapatkan ini! (hendijo)

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.