Gubernur di Tengah Perang

by Desember 24, 2018

Epilog

Penyesalan Soeripno dan tokoh-tokoh teras PKI lainnya bisa jadi hanyalah basa-basi pesakitan politik yang sedang tertekan. Tetapi memang kehilangan seorang Soerjo ketika Republik ini masih berusia muda sesungguhnya adalah suatu “kerugian” bagi bangsa ini. Sejak dipercaya sebagai gubernur Jawa Timur, Soerjo secara total tak pernah lelah untuk memperjuangkan eksistensi Republik Indonesia di wilayahnya.

Ketika Surabaya akan digempur oleh militer Inggris pada 10 November 1945 dan Jakarta tak bisa memberikan pilihan pasti, Soerjo secara elegan tampil ke muka: mengumumkan bahwa meskipun rakyat Surabaya mencintai perdamaian namun mereka tak akan diam saja jika tanah airnya diserang. Memang pada akhirnya rakyat Surabaya tak mungkin bisa menahan gempuran tentara Inggris yang terlatih dan memiliki persenjataan canggih, namun dengan keputusan Soerjo untuk melawan itu membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia memiliki harga diri dan kebanggan sebagai suatu bangsa.

Walaupun  kematian “Sang Gubernur di Tengah Perang” begitu menyedihkan karena melibatkan saudara-saudara sebangsanya, tetapi lagi-lagi ini meruapakan takdir sejarah yang mungkin memang harus diterima. Persis seperti kata-kata yang pernah diucapkan Soerjo kala berpidato di depan corong Radio Surabaya pada hari pertama Pertempuran Surabaya: “…Ini adalah kemauan Tuhan Yang Maha Tinggi: tidak dapat dihindari, tidak dapat diubah…”

[1] Sutjiatiningsih, Pahlawan Nasional Gubernur Suryo, Jakarta, hal. 24.

[2] Ibid., hal. 28

[3] Wawancara pada 11 Februari 2017.

[4] De Express, 13 Juni 1913

[5] Sutjiatiningsih, op.cit., hal.34.

[6] Ibid., hal.47-48.

[7] Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda, Jakarta, 2014, hal.297.

[8] Ibid., hal. 356-357.

[9] Sutjiatiningsih, op.cit., hal. 57.

[10] Ibid., hal.58.

[11] Wawancara dengan Witjaksono di Yogyakarta pada 20 Oktober 2017.

[12] Sartono Kartodirdjo dkk, Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, Jakarta, 1976, hal.8.

[13] Wawancara di Magetan pada 21 Oktober 2017.

[14] Edy Burhan Arifin, “Pemberontakan Tentara PETA Di Blitar: Sebuah Kesaksian Sejarah” dalam Purbo S. Suwondo (Penyunting), PETA, Tentara Sukarela Pembela Tanah Air, Jakarta, 1996, hal.163.

[15] M.P.B. Manus dkk, Tokoh-Tokoh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Jakarta, 1993, hal.114.

[16] Tim Perumus, “Peristiwa Pemberontakan PETA di Cileunca, Pangalengan, Bandung Selatan, Jawa Barat”, Purbo S.Suwondo (Penyunting), op.cit., hal.175.

[17] Kementerian Penerangan,  Republik Indonesia:Propinsi Jawa Timur, Malang, 1953, hal.43

[18] Ibid., hal.42

[19] Ibid., hal.44.

[20] Frank Palmos, Surabaya 1945, Sakral Tanahku, Jakarta, 2016, hal.163

[21] Des Alwi, Pertempuran Surabaya November 1945, Jakarta, 2012, hal.221

[22] Nugroho Notosusanto, Pertempuran Surabaya, Jakarta, 1985, hal.41.

[23] Frank Falmos,. Op.

[24] Nugroho Notosusanto, op.cit., hal.50.

[25] Mallaby sesungguhnya sangat marah dengan penyebaran pamflet tanpa sepengetahuannya itu. Dalam satu suratnya kepada istrinya,Mollie (Margaret Catherine Jones) pada 27 Oktober 1945, dia menyebut atasannya “telah merusak segalanya” dengan penyebaran pamflet tersebut. “Pamflet ini adalah tamparan yang amat memalukan bagiku sebagai perwira tinggi,”tulisnya. Surat tersebut dibacakan oleh Anthony Mallaby (putra tunggal Mallaby-Mollie) di depan Des Alwi dalam suatu kunjungan ke London, Inggris pada 2005. Lihat Des Alwi., op.cit. hal.242.

[26] Nugroho Notosusanto., op.cit., hal.57.

[27] Irna H.N. dan Hadi Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I), Jakarta, 1994, hal.47.

[28] Richard McMillan, The British Occupation of Indonesia 1945-1946, London and New York, hal.32.

[29] Frank Palmos, op.cit., hal.235.

[30] Roeslan Abdulgani “Seratus Hari di Surabaya yang Menggemparkan Dunia”, Surabaya Post, 30 Oktober 1973.

[31] J.G.A.Parrots, “Who Killed Brigadier Mallaby?”, Indonesia Vol.20, Oktober 1975, hal.87.

[32] Des Alwi, op.cit., hal.324.

[33] Nugroho Notosusanto, op.cit., hal.139.

[34] Ibid

[35] Ibid,. hal.141.

[36] Des Alwi, op.cit., hal.352.

[37] Nugroho Notosusanto, op.cit., hal. 142-143.

[38] Des Alwi, op.cit., hal.349.

[39] Suhario Padmowirio, Memoar Hario Kecik, Jakarta, 2001, hal. 209.

[40] Frank Palmos, op.cit., hal.248-249.

[41] Ibid., hal. 251-252.

[42] Ibid,.

[43] Ibid., hal.251.

[44] Suhario Padmowirio, Pemikiran Militer I Sepanjang Masa Bangsa Indonesia, Jakarta, hal.209.

[45] Hendi Jo, Zaman Perang: Orang-Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa, Yogyakarta, 2015, hal.102

[46] David Wehl, The Birth of Indonesia, London, 1948, hal. 54.

[47] Frank Falmos, op.cit., hal.251

[48] Pihak Inggris mengklaim kematian Symonds dikarenakan suatu kecelakaan teknis (Reuters, 10 November 1945). Tetapi berdasarkan kesaksian salah satu pelaku Pertempuran Surabaya yakni Brigjen (Purn) Barlan Setiadidjaja sejatinya Symonds gugur karena tembakan meriam yang dilakukan oleh Goemoen dkk dari BPRI. Meriam bekas yang sempat diperbaiki itu didapat dari gudang senjata tentara Jepang di Don Bosco dan ditembakan ke arah sebuah pesawat Mosquito dari sebelah utara Stasiun Kereta Api Tandes. Lihat Des Alwi, op.cit., hal.404-405.

[49] Hendi Jo, op.cit., hal.105.

[50] Irna H.N. dan Hadi Soewito, op.cit., hal.111.

[51] Sutjiatiningsih, op.cit., hal. 158-159.

[52] Ibid.

[53] Wawancara di Bangunrejo Lor, Ngawi pada 20 Oktober 2017.

[54] Tulisan Soeripno di dalam Rumah Penjara Solo sebelum dia dihukum mati pada 1948, tulisan ini disadur oleh Djamal Marsudi dari tulisan tangan Soeripno, Arsip Nasional Republik Indonesia.

Referensi Buku:

Alwi, Des., Pertempuran Surabaya November 1945, Jakarta, PT. Buana Ilmu Populer, 2012.

H.N., Irna dan Hadi Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I), Jakarta, Grasindo, 1994.

Jo, Hendi.,  Zaman Perang: Orang-Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa, Yogyakarta, Penerbit Mata Padi, 2015

Kartodirdjo, Sartono dkk, Sejarah Nasional Indonesia Jilid VI, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1976.

Kementerian Penerangan,  Republik Indonesia:Propinsi Jawa Timur, Malang, Kementerian Penerangan, 1953.

Manus, M.P.B., dkk, Tokoh-Tokoh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1993.

McMillan, Richard., The British Occupation of Indonesia 1945-1946, London and New York, Routledge, 2005.

Notosusanto, Nugroho., Pertempuran Surabaya, Jakarta, PT. Mutiara Sumber Widya, 1985.

Onghokham, Runtuhnya Hindia Belanda, Jakarta, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2014.

Padmowirio, Suhario., Memoar Hario Kecik, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2001.

Padmowirio,Suhario.,, Pemikiran Militer I Sepanjang Masa Bangsa Indonesia, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2009.

Palmos, Frank.,  Surabaya 1945, Sakral Tanahku, Jakarta, Yayasan Obor Indonesia, 2016.

Sutjiatiningsih, Pahlawan Nasional Gubernur Suryo, Jakarta, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1977.

Suwondo, Purbo S. (Penyunting), PETA, Tentara Sukarela Pembela Tanah Air, Jakarta, Penerbit Sinar Harapan, 1996.

Wehl, Davis., The Birth of Indonesia, London, Allen and Unwins, 1948.

 

Daftar Wawancara:

Wawancara  dengan Donny Ariotejo (Cucu R.M.T.A. Soerjo) pada 11 Februari 2017, di Jakarta.

Wawancara dengan Witjaksono (Cucu R.M.T.A. Soerjo) pada 20 Oktober 2017 di Yogyakarta

Wawancara dengan Kasmijo (Penduduk Magetan) pada 21 Oktober 2017 di Magetan.

Wawancara dengan Trisno (Penduduk Bangunrejo Lor) di Ngawi pada 20 Oktober 2017.

 

Surat Kabar:

De Express, 13 Juni 1913.

Surabaya Post, 30 Oktober 1973.

 

Jurnal:

Indonesia Volume 20, Oktober 1975.

 

Dokumen:

Tulisan Soeripno di dalam Rumah Penjara Solo sebelum dia dihukum mati pada 1948, tulisan ini disadur oleh Djamal Marsudi dari tulisan tangan Soeripno, Arsip Nasional Republik Indonesia.

Pages: 1 2 3 4 5

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.