Gubernur di Tengah Perang

by Desember 24, 2018

Hari-Hari Terakhir

Di Kediri, Soerjo mencoba berbenah dan menjalankan tugas-tugasnya yang tertunda akibat perang di Surabaya. Dia pun memfokuskan pembenahan struktur ekonomi daerah lewat pertanian. Sejarah mencatat,  Jawa Timur di era Soerjo adalah salah satu penyumbang terbesar bantuan beras Indonesia ke India yang tengah dilanda kelaparan.[51]

Ketika tentara Belanda mulai mendekati Kediri, pemerintah Jawa Timur kembali berpindah ke Malang pada Februari 1947. Saat Soerjo berkantor di kota berhawa sejuk inilah, terselenggaralah Sidang Lengkap KNIP yang ketiga pada 25 Februari hingga 6 Maret 1947.

Juni 1947, Pemerintah RI yang sudah berpindah dari Jakarta ke Yogyakarta menghendaki Soerjo untuk menjadi wakil ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) mendampingi R.A.A. Wiranatakusumah sebagai ketua. Saat menjadi Wakil Ketua DPA inilah, takdir hidup Soerjo ditentukan. [52]

Pertengahan September 1948, Partai Komunis Indonesia (PKI) pimpinan Moeso menjalankan gerakan untuk melawan pemerintahan Sukarno-Hatta. Pada mulanya mereka memfokuskan gerakannya di Solo dan Madiun, namun berhasil dipukul mundur oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) hingga ke pelosok-pelosok Jawa Timur. Dalam gerakan mundur itulah, pada November 1948, mereka melakukan pembunuhan-pembunuhan terhadap orang-orang yang dianggap feodal. Salah satunya yang menjadi korban pembunuhan itu adalah adik laki-laki Soerjo yang bernama R.M. Sarjoeno yang tak lain adalah Wedana Sepanjang.

Soerjo yang saat itu tengah berada di Yogyakarta, merasa berduka dengan berita kematian sang adik tercinta. Namun karena tugas-tugasnya sebagai Wakil Ketua DPA tidak bisa ditinggalkan, ia tidak bisa mengikuti pemakaman R.M. Sarjoeno. Baru pada 10 November 1948, ia memiliki kesempatan untuk ikut memperingati 40 hari kematian sang adik di Madiun.

Usai mengikuti upacara peringatan Hari Pahlawan yang ke-3, Soerjo berkemas ke Madiun dengan hanya dikawal salah seorang ajudannya, Mayor Soehardi dan sopirnya, Letnan Soenarto. Banyak kawan-kawannya (termasuk Hatta) yang menganjurkan Soerjo untuk tidak berangkat ke Madiun karena situasi jalan menuju kota tersebut belumlah aman. Namun dia tetap bersikeras.

Pertanda buruk mulai terasa ketika baru saja keluar kota Yogyakarta, ban mobil depan tiba-tiba meletus. Ban cadangan pun dipasang dan mobil kembali melaju, tiba-tiba mogok karena ternyata bensinnya sudah habis. Menjelang Solo, hari sudah mulai gelap. Soerjo dan kedua pendampingnya pun memutuskan untuk menginap di rumah Residen Solo yakni Soediro.

Keesokan harinya, mereka bertiga sudah berangkat sejak pagi sekali dan perjalanan pada mulanya lancar-lancar saja. Hingga pada siang menjelang sore, sampailah mereka di kawasan hutan jati yang termasuk dalam wilayah Bogo, Kedungalor, Ngawi. Tanpa sepengetahuan mereka, kawasan hutan tersebut dijadikan tempat beristirahat sekitar 3000 prajurit yang pro PKI pimpinan Maladi Yusuf, yang tengah meluputkan diri menuju Gunung Lawu.

Mobil Soerjo dihentikan. Mereka bertiga lantas ditahan. Ikut pula ditahan dua anggota Kepolisian RI yakni Komisaris Besar M.Doerjat dan Komisaris Soeroko yang pada saat bersamaan mobilnya tengah melewati kawasan tersebut. Setelah membakar mobil-mobil para tawanan, anggota pasukan Maladi Yusuf menggiring kelimanya ke Kampung Sundi di Desa Bangunrejo Lor (sekitar 5 km dari tempat mereka dicegat).

Menurut Trisno (92), malam itu Soerjo dan keempat tawanan lain diinapkan di Kantor Kehutanan Sundi. Santer terdengar kabar bahwa besok hari Bangunrejo Lor akan diserang oleh pasukan pemerintah. Pagi harinya (12 November 1948), dalam kondisi hanya memakai celana dalam dan mata tertutup secarik kain, pasukan Maladi membawa mereka ke tepi Kali Kakah di Dusun Ngandu. Dengan menggunakan senjata tajam, orang-orang Maladi Yusuf lantas menghabisi satu persatu kelima tawanan tersebut dengan cara memenggal kepala mereka.[53]

“Saya ingat, ada sekitar tujuh orang dewasa di desa kami yang disuruh tentara-tentara itu menguburkan mayat Pak Soerjo dan kawan-kawannya,” ujar sesepuh di Desa Bangunrejo Lor itu.

Tiga hari kemudian, Bangunrejo Lor diserang pasukan pemerintah. Pasukan Maladi Yusuf yang tidak mengira posisinya sudah terketahui lintang pukang menuju Randublatung. Sepeninggal mereka, para lelaki Bangunrejo Lor dikerahkan untuk menggali kembali jasad Soerjo dan keempat rekannya untuk  dimakamkan di tempat yang layak.

“Kami menemukan jasad Pak Soerjo tertanam secara dangkal di dalam lumpur Kali Kakah yang sedang kering kerontang…”kenang Trisno.

Jasad Soerjo kemudian dibawa ke Madiun. Atas keiinginan keluarga besarnya, Sang Gubernur Perang itu lantas dikebumikan di pemakaman keluarga besar istrinya di sawahan, Desa Kapalorejo, Magetan. Banyak kalangan yang ikut bersedih dan mengecam pembunuhan itu sebagai sesuatu yang seharusnya tak dilakukan kepada orang yang sangat berjasa kepada Indonesia. Soeripno, tokoh PKI yang terlibat dalam Insiden Madiun 1948 termasuk orang yang menyesali pembunuhan itu.  Dalam suatu catatannya di Penjara Solo sebelum dihukum mati, dia menulis:

“Tentang wafatnya Pak Soerjo…Kami sudah memerintahkan kepada kawan-kawan agar mereka jangan diganggu. Karena masih dalam pemeriksaan. Tetapi sayang sekali, sebelum saya bisa bicara dengan mereka secara baik-baik, tempat kami diserang. Terjadilah panik dan dalam keadaan panik dari penjaga tawanan terjadilah pembunuhan di luar kontrol dan pengawasan malahan di luar pengetahuan kami. Tentang hal ini, kami sangat menyesal…”[54]

Pages: 1 2 3 4 5

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.