Uncategorized

Di Balik Pidato Si Bung

Persaingan dua loyalis  Sukarno yang melibatkan perempuan-perempuan bule GANIS HARSONO terperangah dalam rasa kaget yang bukan alang kepang. Di tengah riuh rendah massa yang memenuhi Istora Senayan siang itu, ia tak habis pikir, bagaimana bisa isi  “teriakan khas” Presiden Sukarno di depan peserta peringatan dasawarsa Konfrensi Asia Afrika itu berbeda dengan isi  copy naskah pidato yang tengah  ia pegang. “Kok bisa terjadi seperti ini?”pikir diplomat senior Indonesia tersebut. Dalam perasaan tak menentu itu, Ganis lantas menengok ke arah kumpulan para wartawan. Benar saja perkiraannya, sambil memegang kertas copy naskah pidato tersebut, para kuli tinta itu terlihat bergumam dalam ketidakmengertian. Sebagian dari mereka, terlihat memandangnya, seolah meminta penjelasan tentang“kekacauan” ini. “Naskah siapa

Read More

Geger Tjondet

Di masa Belanda berkuasa, Betawi banyak melahirkan cerita perlawanan rakyat terhadap ketidakadilan. Sejarah mencatat, sebagian besar upaya pembangkangan itu dipimpin oleh para jagoan bergelar haji ENGKONG  Thalib (65) bercerita dalam nada bangga. Sambil menunjuk reruntuhan gedung tua di pertigaan Condet, ia mengisahkan tentang sebuah perlawanan lama. Ya, hampir seratus tahun  lalu, di tempat yang dikenal sebagai Villa Nova itu, para petani Betawi menyabotase sebuah pesta yang dilakukan oleh orang-orang Belanda. Peristiwa itulah yang 4 hari kemudian memantik adu nyawa para petani pimpinan Haji Entong Gendut dengan para serdadu marsose Belanda dan centeng-centengnya di Batu Ampar. Laki-laki dengan 10 cucu itu bercerita, dari generasi ke generasi kisah perlawanan itu terus dipelihara.

Read More

Para Patriot dari Selatan Asia

Bagaimana anak-anak muda Pakistan dan India memutuskan untuk menjadi pejuang Indonesia LETNAN Abu Nawaz dan 14 anak buahnya hanya berdiri terpaku di depan Masjid Jami yang terletak di Jalan Serdang, Medan tersebut. Mereka sama sekali tak menyangka, basis musuh yang harus dihancurkan menurut Letnan Kolonel Loudly ternyata adalah sebuah masjid, tempat ibadah umat Islam yang juga menjadi agama mereka. Alih-alih melaksanakan perintah atasannya itu,  opsir British Indian Army (BIA) tersebut  malah memilih balik badan dan membelot ke kubu musuh: para pejuang Indonesia. “Penghancuran Masjid itu kemudian dilakukan oleh pasukan Inggris yang lain…”ujar Muhammad TWH, wartawan senior sekaligus pemerhati sejarah di Medan. Aksi pembelotan personil BIA yang beragama Islam itu ternyata

Read More

Hukuman Jadoel di Nusantara

Bagaimana para pesakitan tempo doeloe menerima ganjaran mereka sebagai terhukum? BERNARD Dorleans pernah melukiskan peri keadaan Kesultanan Aceh pada tahun 1800-an. Doktor sejarah dari Universitas Sorbone Paris itu menyebut begitu banyaknya para pengemis cacat memenuhi jalanan di Koetaradja (sekarang Banda Aceh). Rata-rata mereka tak memiliki kaki atau tangan. “Ini merupakan konsekwensi logis dari hukuman qisas yang diberlakukan sultan Aceh kepada rakyatnya,”tulis Bernard Dorleans dalamOrang Indonesia dan Orang Prancis: Dari Abad XVI Sampai dengan Abad XX. Qisas adalah sistem hukum Islam yang konon pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya  zaman dulu di jazirah Arab. Jenis hukum ini didasarkan pada “gigi bayar gigi, mata bayar mata”, kecuali pihak korban bermurah hati memaafkan sang pelaku. Bisanya pemberian maaf pun tidak

Read More

Matinya Kapitan Marunda

Di masa kejayaan VOC, banyak  pemberontak pribumi yang berbelok menjadi abdi kompeni. Salah satunya putra Maluku bernama Jongker, penguasa Marunda. GEDUNG munggil bertembok kusam itu terpuruk di sudut Pelabuhan Alfa Pejongkeran, Marunda. Catnya yang bercorak  merah putih sebagian mulai terkelupas dimakan waktu. Tepat di bagian atas pintu besinya bertengger sebuah lafaz Arab berbunyi:bismillahirohmanirrohim. Sekilas orang akan menduga gedung itu tak lebih gudang tua semata. Terlebih dengan rimbunan pohon kersen dan semak belukar di sekelilingnya, kesan itu seolah semakin kuat. Saya mengarahkan lensa kamera ke bagian dalam gedung tua yang tergembok itu, lantas mengatur ketepatan jaraknya.Klik…Klik..Klik. Lewat  lubang kunci yang berdiameter sekitar 4X3 cm, jadilah saya mengambil gambar pemandangan yang ada di

Read More

Hari-Hari Merah

Empat episode dalam hidup seorang kiri SURABAYA 1916.Gang Paneleh baru saja tenggelam dalam malam. Di sebuah rumah sederhana, suara sendok  dan garpu yang  beradu dengan piring dan mangkuk ramai berdenting. Di meja makan, beberapa lelaki nampak tengah menikmati makan malam. Seraya bersantap,  suara mereka sedikit ramai: memperbincangkan persoalan kapitalisme dan upaya-upaya jahat para penganutnya untuk menghisap Kepualauan Nusantara. “Apa yang dapat kita buat dengan situasi begini?”ujar  Muso, seorang muda bermata tajam “Tentunya tak baik juga kita diam. Sudah cukup Negeri Belanda menghisap dan memperkaya diri dari kekayaan negeri kita,”jawab anak muda lain yang berpenampilan lebih tenang bernama Alimin. “Berapa banyak yang diambil Belanda dari Indonesia?”tiba-tiba terdengar suara kecil tercetus begitu saja

Read More

April Hitam di Batavia

Di era VOC berkuasa, ketidakadilan merebak di mana-mana. Sejumlah pemberontak pun muncul dipimpin beberapa nama. Salah satunya adalah Pieter, bangsawan berdarah Jerman asal Batavia.  TUGU peringatan tua itu berdiri kokoh. Tingginya sekitar 2 meter dengan warna putih pucat dimakan zaman. Tepat di puncak tugu tersebut, sebuah tengkorak terpancang lembing berdiri angker menantang langit. Persis di badan tengah tembok itu,sebuah tulisan kuno berbaris kaku. “Sebagai kenang-kenangan yang menjijikan atas dihukumnya sang pengkhianat Pieter Erberveld.Karena itu dipermaklumkan kepada siapapun, mulai sekarang tidak diperkenankan untuk membangun dengan kayu, meletakan batu bata dan menanam apapun di tempat ini dan sekitarnya. Batavia, 14 April 1722,”demikian kira-kira terjemahan bebas dari bunyi huruf-huruf berbahasa Belanda dan Jawa

Read More

Sukarno, Marilyn Monroe dan CIA

Kecintaan  Sukarno terhadap kaum Hawa dimanfaatkan intelijen Amerika? TAK ADA satu pun yang menampik bahwa Sukarno adalah seorang pecinta perempuan sejati. Hal itu bahkan diakuinya sendiri kepada Cindy Adams (penulis otobiografi Sukarno): “Bukan suatu dosa atau tidak sopan kalau seseorang mengagumi seseorang perempuan cantik”, ujarnya . Selain mengagumi Sun Yat Sen, Karl Marx dan para tokoh pemikir lainnya, Sukarno pun sangat gandrung akan perempuan-perempuan cantik seperti Gina Lollobrigida. Saat pers Barat mencemoohnya sebagai “Don Juan from Asia” karena mengunjungi artis Italia kenamaan itu secara khusus kala berkunjung ke sana pada Oktober 1964, Sukarno berkilah: “Aku hanya seorang pecinta kecantikan yang luar biasa”, katanya. Artis dunia lainnya yang pernah bikin heboh karena

Read More