KRONIK

CINTA TAK SAMPAI TAN MALAKA

SINGAPURA 1938. Suatu hari, Matu Mona (nama pena Hasbullah Parindurie) diundang oleh seseorang yang mengaku sebagai penjahit asal Sumatera Barat. Begitu memasuki toko kecil di sudut kota Singapura tersebut, tahulah ia bahwa sang penjahit itu ternyata Tan Malaka, buron politik Hindia Belanda yang tengah dicari-cari para agen intelejen negara-negara Barat. Tan yang kala itu dilukiskan Matu sebagai sosok yang mirip tauke Tionghoa (karena ia berpenampilan seperti orang Tionghoa) sengaja ingin bertemu dengan orang yang menulis Patjar Merah Indonesia (Spionnage-Dienst). Pertemuan itu sendiri tidak berlangsung lama. Dengan pertimbangan keamanan, Tan hanya menyediakan waktu 5 menit untuk ngobrol-ngobrol dengan Matu Mona. “Dia sama sekali menolak untuk diwawancara,”ujar Matu yang juga seorang jurnalis

Read More

FOTO KADET MA MENGAWAL PANGLIMA BESAR DI DEPAN HOTEL SHUTERAAF JAKARTA

PADA  akhir Oktober 1946, proses perundingan Indonesia-Belanda yang dimulai sejak 14 Oktober 1946 di Konsulat Jenderal Inggris, Jakarta, sudah mendekati tahap akhir. Kesepakatan itu termasuk soal gencatan senjata yang akan diberlakukan kedua pihak. Untuk membicarakan soal itu dengan pihak Belanda, Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Kepala Staf Letjen.Oerip Soemoehardjo harus bertolak ke Jakarta. Masalah muncul, pasukan mana yang akan mengawal kedua pejabat tinggi militer Republik tersebut? Markas Besar Tentara kemudian menentukan beberapa kesatuan untuk mengawal keduanya hingga pulang lagi ke Yogyakarta. Salah satunya dipilihlah 15 kadet dari Akademi Militer Yogya (biasa disebut sebagai Kesatuan MA) . Terpilihnya kadet MA selain karena pasukan ini memiliki disiplin yang baik juga karena mereka

Read More