HIKAYAT NUSANTARA

Revolusi di Ladang Sayur

Kisah sekelompok petani miskin Pangalengan yang bergerak menguasai tanah negara atas nama land reform. GELAP menelan Pangalengan saat udara dingin menembus bilik-bilik bambu sebuah rumah sangat sederhana di kawasan Loskulalet, Desa Margamekar. Di atas lantai kayu putih beralas karpet rombeng berwarna hijau, puluhan orang duduk bersila. Sebagian adalah lelaki separuh baya dan sebagian lagi terdiri dari anak-anak muda dan perempuan. “Mereka adalah para petani yang merupakan perwakilan ranting-ranting AGRA anak cabang Pangalengan,”kata Erpan Faryadi,salah satu Pengurus Pusat Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), kepada saya. AGRA adalah salah satu dari 5 organisasi massa petani Indonesia di luar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) yang dinilai pro pemerintah. Bersama Serikat Petani Indonesia (SPI),

Read More

“Kami Datang Sebagai Teman”

Pergulatan batin seorang serdadu Belanda yang berujung delapan tahun penjara   HARI KE-14 BULAN JUNI 1947, baru saja berjalan sekitar satu jam ketika gerimis semakin gencar menombaki kawasan hutan sekitar Nyalindung di Sumedang. Angin  berdesir resah, meningkahi lambaian dedaunan yang bersanding dengan suara gemerisik pohon-pohon bambu. Di jalan setapak  nan licin, Piet Van Staveren tercekat sesaat. Ada rasa gentar yang singgah sekejap di hati serdadu Belanda itu saat siulan seekor burung hantu mencegatnya secara tiba-tiba. Namun ia cepat-cepat menafikan rasa itu. Bagi  Piet, kecemasan akan kejaran kawan-kawannya sesama tentara Belanda lebih besar dibandingkan dengan bayangan hantu-hantu penghuni hutan Nyalindung. Setelah berjam-jam lamanya berusaha menembus gelapnya malam, menjelang pagi, Piet tiba

Read More

Jimat dalam Perjuangan

Dari ajian halimunan hingga kuburan kucing. SUATU MALAM yang gelap 67 tahun yang lalu. Angin berdesir resah menyapu kawasan Curug Supit, di Cihurang, Cianjur. Di tengah deru suara air terjun, suara ajag (anjing hutan) saling bersahutan dengan bunyi-bunyi binatang hutan lainnya, membentuk gelombang mistis yang memenuhi lembah dingin tersebut. Masih segar dalam ingatan Atjep Abidin (90), dalam kondisi setengah telanjang, saat itu ia bersimpuh di sebuah batu besar dekat air terjun. Sementara itu di sisinya, sang guru yang bernama Bisri tengah komat-kamit, merapalinya dengan jangjawokan (mantera yang dirapal dengan memakai bahasa sunda lama). Sesekali lelaki yang dikenal sebagai jawara di wilayah Takokak itu menyiraminya dengan air bunga tujuh rupa. “

Read More

Hikayat Desa di Kaki Gunung Gede

Bermula dari sebuah lahan tempat pengungsian. Berkembang menjadi salah satu sentra produksi beras lokal terbesar di Jawa Barat. MAKAM tua itu membisu seribu basa dimakan zaman. Di atasnya, kumpulan batu kali sebesar kepala bayi itu tertumpuk rapi, membentuk ruas persegi panjang 1X1,5 meter persegi. Dari sela-sela bagian batu di bagian tengah, muncul sebatang pohon mawar merah berduri, seolah berfungsi sebagai penghias sekaligus pelindung makam tersebut dari sengatan terik matahari. “Ini makam Hajah Maing Khodijah, pendiri sekaligus pemimpin pertama desa kami,”ungkap Ahmad Nasai (60), salah satu sesepuh di Gasol. Itu sebuah nama desa yang terletak di kawasan kaki Gunung Gede dan masuk dalam wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Sejak zaman baheula,

Read More

Hikayat Kue Odading

Bagaimana leluhur kita “mengeksekusi”  nama suatu benda? PERNAH dengar istilah odading? Itu adalah sejenis penganan yang terbuat dari adonan tepung terigu,telur dan gula pasir yang populer di kalangan masyarakat tanah Pasundan. Rasa kue ini empuk dan manis. Harganya pun murah meriah.Saya ingat,saat masih duduk di bangku sekolah dasar pada sekitar awal 1980-an, kue jenis ini dengan mudah saya dapatkan di kantin sekolah atau di tukang-tukang ngelek. Tukang ngelek adalah istilah orang Sunda untuk para pedagang penganan yang membawa wadah dagangannya dengan cara mengelek (mengetek?) yakni memangku dari samping (tepatnya dari wilayah kelek atau ketek). Biasanya yang berdagang seorang perempuan setengah baya. Dulu saya  memang pernah mendengar sekilas soal cerita tentang odading ini. Beberapa waktu lalu, soal

Read More

TNI Bule

Kisah seorang serdadu muda Belanda yang mengikuti kata hatinya dan bergabung dengan para gerilyawan Siliwangi untuk memerangi bangsanya. JAKARTA, 20 November 1995. Rumah Makan Mirasari di kawasan Kemang dipenuhi ratusan manusia  malam itu. Udara agak lembab. Mendung bergayut. Sementara sebagian bintang terlihat berkelip malu-malu, ditingkahi embusan angin yang menjadikan barisan panji iklan rokok di jalanan menari-nari. Di satu sudut ruangan, seorang lelaki bule dan berkursi roda duduk dengan tenang.Bibirnya tersenyum, membalas setiap sapaan dan ucapan selamat ulang tahun (yangke-70) dari orang-orang kepadanya. Saya dan beberapa kawan dari PIJAR Indonesia termasuk yang antri untuk menyalaminya. PIJAR adalah kependekan dari Pusat Informasi Jaringan Aksi untuk Reformasi. Itu adalah sebuah nama organ semi

Read More

Horor di Takokak (4): Nisan-Nisan Tak Bernama

“ …Kami cuma tulang-tulang berserakan…Tapi adalah kepunyaanmu…” (Chairil Anwar, Pujangga Angkatan 45) SEBUAH pesan elektronik meluncur ke inboks email saya malam itu. Isinya pernyataan seorang kawan dari Belanda yang menyatakan ketertarikannya atas tulisan saya tentang Insiden Takokak di situs www.dutchwarcrimes.com. “ Selama riset tentang kejahatan perang Belanda di Indonesia, saya baru mengetahui ada praktek kejahatan perang Belanda juga di sana,”ujarnya. Saya maklum atas ketidaktahuan kawan saya tersebut. Jangankan dia yang rumahnya ribuan mil dari Takokak, orang-orang Takokak sendiri sekarang sama sekali buta akan peristiwa penting bersejarah yang pernah terjadi di daerahnya itu. Itu terbukti saat suatu hari pernah seorang anak muda Takokak yang bekerja di Jakarta, mengaku kaget saat saya

Read More

Horor di Takokak (3): Perburuan Kaum Republik

Militer Belanda secara membabi buta menangkap dan membunuh siapa saja yang mereka anggap sebagai gerilyawan. SIAPAKAH sebenarnya orang-orang sipil yang dibantai oleh militer Belanda di Takokak itu? Hingga saya membuat tulisan ini, belum ada kejelasan soal itu. Namun dari keterangan Yusup, disebutkan mereka adalah orang-orang yang dicurigai sebagai simpatisan republiken dan menjadi target operasi pembersihan pasca “enyahnya” Siliwangi dari Jawa Barat. Rata-rata  mereka diambil militer Belanda dari wilayah sekitar Sukabumi dan Cianjur. “Memang bisa jadi yang ditembak itu adalah kaum republiken beneran, tapi tak sedikit pula dari mereka merupakan korban fitnah semata,”ujar mantan petarung republik yang di hari-hari tuanya pernah menjadi kuli panggul tersebut. Diberi Cincin oleh Tawanan Beberapa bulan

Read More

Horor di Takokak (2): Kisah dari Ladang Pembantaian

Bagaimana seorang mata-mata republik menjadi saksi proses pembunuhan massal oleh militer Belanda? BEBERAPA hari sebelum rombongan prajurit Siliwangi dari Cianjur datang ke Takokak… Siang baru saja menyeruak, saat Andin Soebandi tiba di Pabrik Teh Bunga Melur, tempat para petugas OW di Takokak membuat pos penjagaan. Sebagai mata-mata gerilyawan republik, lelaki yang saat itu masih berumur 10 tahun itu tengah menunaikan tugasnya dengan berperan sebagai penjaja buras (sejenis lontong yang diisi oncom) dan goreng-gorengan. Andin bukan mata-mata resmi dari sebuah kesatuan gerilyawan republik. Ia melakukan pekerjaan beresiko berat itu semata-mata kebenciannya kepada tentara Belanda yang ia nilai selalu berlaku kejam kepada para penduduk Takokak. Lantas kepada siapa ia melaporkan hasil aksinya?

Read More

Horor di Takokak (1): Kesaksian Seorang Prajurit Siliwangi

Mereka tewas dengan sebuah lubang peluru di tengkuk… YUSUP SUPARDI terdiam sejenak. Kepalanya yang dipenuhi salju waktu agak tefekur, membuat matanya seolah ingin menembus tembok lantai. Ia menghela nafas panjang, tersenyum tipis dan berusaha kembali menguasai keadaan.  “ Maaf, saya selalu merasa sedih jika mengingat lagi peristiwa itu,” ujar lelaki kelahiran Sukabumi, 90 tahun yang lalu tersebut seraya mengangkat kepalanya lagi. Tahun 1948, Yusup adalah seorang prajurit muda dari Bataliyon Kala Hitam Divisi Siliwangi. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, ia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Sukabumi dan Cianjur. “ Tentu saja kami bergerak bukan atas nama

Read More