HIKAYAT NUSANTARA

Mereka Yang Ditinggalkan

Suatu hari di bulan Mei 1948. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi suasana sunyi di kawasan yang terletak dalam wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan Stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djauhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi

Read More

Turun Gunung Para Maung

Perintah Kolonel AH. Nasoetion itu datang begitu tiba-tiba. Namun sebagai petugas intelijen Divisi Siliwangi, Letnan Muda Soedarja harus melaksanakan intruksi panglimanya tersebut: menjadi perwira penghubung dengan pihak militer Belanda dalam pelaksanaan mobilisasi terkait hasil Perjanjian Renville di Sumedang. Langkah pertama yang dilakukan oleh Soedarja adalah berkoordinasi dengan wakil  dari pihak militer Belanda. Berdasarkan kesepakatan dengan Letnan Kolonel JJ. Malta, perwira menengah dari Divisi 7 Desember , ia harus menyampaikan sepucuk surat kepada  Kapten Sentot Iskandardinata dari Batalyon 27. Isinya: perintah Kolonel AH. Nasoetion agar “para maung ” (artinya para harimau: julukan untuk para prajurit Divisi Siliwangi) turun gunung dan berangkat hijrah ke wilayah Jawa Tengah. Bersama Letnan Omon dan tiga

Read More

Dusun Kristiani di Kota Santri

Terkenal sebagai gudang pesantren, Cianjur menyisakan satu komunitas Kristen yang sudah ada sejak lebih dari seratus tahun lalu. Bagaimana sejarah keberadaan mereka dan interaksi antara dua komunitas berbeda keyakinan di sana? MATAHARI senja sudah bergerak ke arah barat. Namun hawa hangatnya masih tersisa memenuhi kawasan Palalangon. Di tanah lapang dekat gereja tua, seorang lelaki muda berjaket hitam itu tertegun. Seraya mengernyitkan dahinya, ia memandang salah seorang dari dua perempuan yang tengah asyik ngobrol di depan halaman gereja, nampak sekali ia tengah mengingat sesuatu. Sejenak ia tersenyum. Lantas dengan langkah pasti didekatinya salah satu dari perempuan yang paling muda. “Teh Esty ya?” Apa kabar?” ujarnya sambil menyodorkan tangan kanannya. Kini giliran

Read More

Rekam Jejak Desersi Nippon

Sebuah memoir pertama dari seorang tentara Jepang yang memilih berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Sarat dengan kisah-kisah kepahlawanan yang membahana. Tahun 2001, dunia sinema tanah air pernah diramaikan dengan munculnya Merdeka 170845. Film yang merupakan produksi bersama Tokyo Film Production dan Rapi Film itu, berkisah tentang dua serdadu Jepang yang membelot dan berpihak kepada perjuangan orang-orang Indonesia. Namun di tanah air sendiri, peredaran film tersebut justru terjegal. Pemerintah Indonesia tidak berkenan karena menilai beberapa adegannya merendahkan harga diri bangsa. Dan belakangan banyak juga kritikus film curiga, Merdeka 170845 tak lebih sebagai upaya membangkitkan kembali semangat chauvinism oleh kelompok kanan di Jepang. Kini sesudah sepuluh tahun terjegalnya Merdeka 170845, kisah yang sama

Read More

Agus Sunyoto: Mitologisasi Wali Songo itu Ulah Belanda

Usai menamatkan buku Ensiklopedia Islam, hati Agus Sunyoto tiba-tiba tersentak. Dalam buku yang diterbitkan oleh Ikhtiar Baru Van Houve tersebut, ia sama sekali tak menemukan satu pun kata yang menyebut Wali Songo. Ingatannya kemudian melayang kepada sebuah buku lain berjudul Walisanga Tak Pernah Ada? karya Sjamsudduha, yang pernah dibacanya beberapa waktu sebelumnya. “Saya pikir adalah ahistoris, kalau ndak mau saya bilang naif, saat kita membahas perkembangan Islam di Indonesia, sama sekali tidak menyebut nama Wali Songo”, ujar sejarawan kelahiran Surabaya, 57 tahun yang lalu itu. Istilah wali songo memang kadung dimengerti oleh sebagian besar masyarakat Islam Indonesia hanya sebagai mitologi. Itu setidaknya tercermin dari cerita-cerita yang berserakan di kalangan masyarakat yang hanya mengidentikan

Read More

Perjudian Politik Bernama Renville

Saat disebut nama “Renville”, wajah Letnan (Purnawirawan) Alleh (90) yang semula sumringah tiba-tiba berubah menjadi muram. Sorot matanya yang riang seketika menajam. “Perjanjian sialan! Karena perjanjian itu, hidup kami banyak berubah…” kata mantan petarung dari Divisi Siliwangi dalam nada pahit. Sesungguhnya bukan hanya hanya Alleh yang merasakan hal demikian. Para petinggi Divisi Siliwangi seperti almarhum Letnan Kolonel Kawilarang  saat itu juga merasakan hal yang sama terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari Pejanjian Renville antara Indonesia dengan Belanda. “…Tiba-tiba kami mendengar tentang adanya Perundingan Renville yang menyebabkan kami harus hijrah. Bukan main bencinya saya. Seperti tersambar halilintar di siang bolong rasanya. Tetapi sebagai tentara, kami harus tunduk kepada perintah atasan…” ujar Komandan

Read More

Jalan Sunyi Para Petarung Tua

Di zamannya, mereka adalah manusia-manusia pemberani: tanpa mengenal pamrih, siap menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia merdeka. Kini mereka menapaki masa-masa tuanya dalam sunyi. JUMAT, 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta. Beberapa hari usai proklamasi tersebut, berbondong-bondong anak muda menyatakan diri untuk membela Republik Indonesia yang baru didirikan itu. Tekad itu semakin kuat, manakala lewat “perantara” Inggris (yang tugas utamanya mengurusi tawanan perang di Indonesia), orang-orang Belanda datang kembali dan secara sepihak mendirikan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di Indonesia. Pendirian NICA oleh Van Mook dan kawan-kawannya, direspon secara keras oleh para pemuda Indonesia. Mereka lantas membentuk berbagai badan perjuangan dan kelompok bersenjata sebagai upaya

Read More

Malam Jahanam di Laut Arafura

Junus Rupami (78) masih mengingat awal terjadinya neraka itu. Di malam jahanam tersebut, ia menyaksikan nyala kembang api menerangi haluan KRI Macan Tutul. Para prajurit dan kelasi berteriak-teriak panik. Rupanya kembang api itu disebabkan oleh tembakan pesawat Belanda jenis Neptune yang terbang di atas mereka setinggi kira-kira 3000 kaki dari permukaan laut. Sejurus kemudian pesawat itu hilang dari pandangan. ” Saya bertanya-tanya apa yang akan terjadi selanjutnya…” kenang mantan gerilyawan sukarela Papua pro Indonesia tersebut. Belum selesai otak Junus mengira-ngira, beberapa menit kemudian tiba-tiba deru suara pesawat itu kembali meraung diatas KRI Macan Tutul. Pesawat itu lagi-lagi melontarkan bom ke arah satuan MTB. Air laut menyembur tinggi di kanan-kiri Macan

Read More

Suatu Hari di Sudut Wisma Yaso

 Kisah pertemuan terakhir dua sahabat: Sukarno-Hatta Jakarta 1970. Lelaki berwajah lembut itu bergegas memasuki Wisma Yaso. Begitu ia sampai di sebuah sudut ruangan berupa kamar, roman mukanya tiba-tiba berubah. Di atas ranjang tua bersprei putih lusuh, berbaring lemah Sang Pemimpin Besar Revolusi yang sudah terguling itu. Sementara di meja samping tempat tidur, segerombolan ngengat tengah berpesta pora menggerogoti satu sisir pisang yang entah sudah berapa hari ada di sana. Melihat itu, tiba-tiba saja, ia merasakan rasa nyeri yang begitu mendalam di hatinya. Begitu nyeri, hingga kristal-kristal bening tiba-tiba muncul di kedua matanya, seolah menjadi duta bagi perasaannya itu. Tapi ia cepat menguasai diri kembali dan menyapa dalam nada lembut dan

Read More

Di Balik Baju Zirah yang Berlubang

Kendati sudah berusia 487 tahun, baju-baju zirah itu masih terlihat garang. Kalaupun ada cacat alami itu hanya guratan-guratan kecil berwarna hijau toska keputih-putihan tanda korosi (karat) di sebagian pinggiran besi yang mirip kulit binatang trenggiling tersebut. Namun uniknya, hampir sebagian besar baju zirah milik tentara Portugis itu berlubang. ” Ini akibat tertembus tombak dan anak panah prajurit gabungan Cirebon dan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah,”ungkap R. Hafid Permadi, salah satu pemandu di Istana Kanoman, Cirebon, tempat beradanya baju-baju zirah itu. Saat menelisik secara lebih mendalam lubang-lubang di baju zirah itu, pikiran saya sampai pada kesimpulan: senjata-senjata tajam yang berhasil merobek besi kekuning-kekuningan dan memutus rantai-rantai kecil yang menjadi pengikat serpihan

Read More