ERA INDONESIA

Seorang India di Kubu Republik

Suatu hari di akhir-akhir tahun 1945. Sebuah iring-iringan konvoi pasukan Inggris dari British Indian Army (BIA) dihadang sekelompok lasykar republik di Bogor. Para penghadang terdiri dari anak-anak muda bersenjatakan beberapa pucuk bedil usang dan parang. Namun dalam waktu cepat, para serdadu BIA yang jauh lebih berpengalaman itu justru malah balik bisa mengepung dan menjadikan anak-anak muda tersebut bertekuk lutut. Usai mengumpulkan para tawanan, salah seorang opsir mereka menyampaikan ceramah pendek di hadapan anak-anak muda itu. “ Isinya nasehat supaya anak-anak kita jangan melawan, karena katanya mereka bersimpati terhadap perjuangan kita. Dianjurkan pula oleh opsir itu agar anak-anak berlatih dahulu sebelum turun dalam suatu pertempuran sungguh-sungguh…” ungkap Jenderal (Purn) A.H Nasution

Read More

Simpang Jalan Bahasa Sunda

Bagaimana sebuah bahasa daerah harus menghadapi dilema waktu? RADEN SUDJANA resah. Dari belasan cucunya, tak ada satu pun yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Semuanya menggunakan bahasa Indonesia. Padahal menurut menak (ningrat) Cianjur itu, bahasa Sunda merupakan bahasa induk yang harusnya dimumule (dirawat) karena itu menjadi salah satu identitas hidup suku yang berdiam di bagian barat pulau Jawa tersebut. “ Cicing di tatar Sunda, dahar jeung hirup di tatar Sunda. Nanaonan make basa Malayu atawa basa Batawi sagala?” kata lelaki berusia 78 tahun itu. Artinya tak lebih, ia mempertanyakan orang-orang Sunda yang hidup di tanah airnya mengapa harus menggunakan bahasa Indonesia (Melayu dan Betawi) sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Sudjana wajar

Read More

Jenderal Berpenampilan Jongos

PARA jenderal lulusan Akademi Militer Nasional (AMN) Magelang era 60-an dan 70-an pasti sangat mengenal Brigjen. Sahirdjan. Bekas Cudanco PETA itu tercatat sebagai instruktur paling lama mengajar di akademi militer (mulai dari namanya MA hingga AKABRI). Wajar, jika (saat itu) Letnan Kolonel Sahirdjan sangat akrab dengan para kadet (taruna). Saat berlangsung Perang Kemerdekaan, para kadet mengenal Sahirdjan sebagai sosok berpenampilan sederhana, humoris dan mahir menciptakan berbagai senjata darurat. Suatu hari saat para kadet terlibat dalam pelatihan militer semesta untuk rakyat Yogya, Sahirdjan berhasil membuat sejenis “senjata mutakhir” : senjata panah yang berujung detonator, suatu kombinasi persenjataan modern dengan tradisional. Dalam ideal pemikiran Sahirdjan, selain mudah dan efektif digunakan dalam perang

Read More

MOMEN TERAKHIR 2 PRAJURIT SILIWANGI

SENIN, 23 JANUARI 1950, Bandung baru saja memasuki pagi ketika hampir satu batalion (500-800 prajurit) tentara gabungan KNIL-KL bersenjata lengkap merangsek ke sudut2 strategis kota. Mereka yang menamakan diri sebagai APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) ini langsung stelling (membentuk posisi tempur) dan menyergap beberapa TNI yang tengah bersiap-siap berangkat menuju markasnya masing-masing. Sambil melepaskan tembakan ke atas, mereka pun meneror penduduk sipil. Akibatnya banyak toko dan rumah yang baru buka langsung ditutup kembali. Bandung pun berubah laiknya kota hantu. Di jalan perapatan Banceui yang terletak di pusat kota, seorang prajurit TNI yang tengah mengendarai jip wilys dihentikan, disuruh turun lalu kepalanya ditembak. Sekitar Jalan Braga, tepat di muka Apotheek Rathkam mereka

Read More

Cerita dari Gunung Padang

Bagaimana artefak sisa-sisa sebuah peradaban besar itu menyusuri waktu dan meninggalkan misteri dalam sejarah? NOVEMBER 2009. Matahari baru saja akan beranjak pulang di Gunung Padang. Sinarnya menciptakan kristal-kristal kecil yang menggantung di sela-sela pohon cemara. Semerbak bunga Cempaka terhirup, kala senja itu kami berempat  menaiki bukit tersebut. Sementara embikan kambing terdengar ramai nun jauh di kampung sana, angin berhembus meniup pohon-pohon bambu hingga menari-nari. Setelah kira-kira 20 menit kami menyusuri tanah yang terjal, sampailah  kami di atas kawasan puncak Gunung Padang.Saya dan Helmy Adam (26) langsung beristirahat di bawah pohon Cempaka besar, sambil menikmati kesejukan air putih bercampur jeruk nipis yang kami bawa dari rumah.  Namun berbeda dengan saya dan

Read More