ERA INDONESIA

Sebuah Perpisahan

Detik-detik saat Panglima Besar Soedirman meninggalkan Desa Pakis untuk kembali ke Yogyakarta Lelaki bertubuh ringkih itu terdiam sejenak. Usai terbatuk-batuk, ia lantas menatap surat yang sedang dibacanya. Sesekali  ia meninggalkan barisan huruf  dihadapannya. Matanya menerawang. Tak ada niat dalam hatinya untuk turun ke kota. Selain tak tega kepada puluhan ribu prajuritnya yang saat ini masih berjuang di gunung-gunung dan hutan-hutan, secara pribadi ia tak pernah menaruh kepercayaan lagi kepada niat baik musuhnya: Belanda. Namun permintaan di surat tersebut sungguh membuatnya gelisah. Memang benar Kolonel Gatot Soebroto secara hirarki adalah bawahannya. Tapi dari pengalaman hidup, jelas ia melebihinya. Ia pun mengenal dirinya seperti dia pun mengenal Gatot Soebroto.”…tidak asing lagi saya,

Read More

Yang Tersisa dari Rawagede 1947

Bagaimana para saksi sejarah sebuah pembantaian massal coba berdamai dengan trauma masa lalu mereka HAWA panas menyengat kawasan Pantai Sadari Karawang siang itu. Deretan pohon bakau melambai-lambai disapa angin. Suara debur ombak pantai utara terdengar lembut bersanding dengan bau anyir ikan dari arah kampung nelayan setempat. Di sebuah rumah usang nan rombeng dekat pantai, seorang perempuan uzur tertatih-tatih menyambut kedatangan saya dan dua kawan dari Historika Indonesia: Imam Rachmadi dan Abdul Basyit. Tubuhnya bergetar karena pengaruh usia. “Hati-hati Nek…” ujar saya seraya memapah tangan kanannya. “Kita bicara di depan saja, jangan di sini, gelap…” jawabnya dalam bahasa Sunda berlogat pesisir. Wanti adalah salah satu janda korban pembantaian militer Belanda di

Read More

Mereka Yang Ditinggalkan

Suatu hari di bulan Mei 1948. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi suasana sunyi di kawasan yang terletak dalam wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan Stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djauhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi

Read More

Turun Gunung Para Maung

Perintah Kolonel AH. Nasoetion itu datang begitu tiba-tiba. Namun sebagai petugas intelijen Divisi Siliwangi, Letnan Muda Soedarja harus melaksanakan intruksi panglimanya tersebut: menjadi perwira penghubung dengan pihak militer Belanda dalam pelaksanaan mobilisasi terkait hasil Perjanjian Renville di Sumedang. Langkah pertama yang dilakukan oleh Soedarja adalah berkoordinasi dengan wakil  dari pihak militer Belanda. Berdasarkan kesepakatan dengan Letnan Kolonel JJ. Malta, perwira menengah dari Divisi 7 Desember , ia harus menyampaikan sepucuk surat kepada  Kapten Sentot Iskandardinata dari Batalyon 27. Isinya: perintah Kolonel AH. Nasoetion agar “para maung ” (artinya para harimau: julukan untuk para prajurit Divisi Siliwangi) turun gunung dan berangkat hijrah ke wilayah Jawa Tengah. Bersama Letnan Omon dan tiga

Read More

Pejuang Asing Ditangkap Militer Belanda

AWAL Agustus 1948. Bermodalkan informasi dari seorang telik sandi asal Garut, satu tim pemburu yang terdiri dari prajurit-prajurit pilihan Bataliyon 3-14-RI KL bergerak ke kaki Gunung Dora yang terletak di perbatasan Garut-Tasikmalaya. Misi mereka tak lain ingin meringkus (hidup atau mati) tiga mantan serdadu Jepang yang selama Perang Kemerdekaan membelot ke kubu Tentara Nasional Indonesia (TNI). Hasegawa alias Abubakar, Mashasiro Aoki alias Oesman serta Yang Chil Sung alias Komaroedin (nama terakhir belakangan diketahui berasal dari Semenanjung Korea) merupakan “monster-monster” yang ditakuti oleh militer Belanda di Garut. Selain kemampuan tempur dan ketrampilan gerilya mereka, para gerilyawan asing anggota Kesatuan Pangeran Papak pimpinan Mayor E.Kosasih tersebut dikenal karena keberanian mereka yang banyak

Read More

Jurnalis Dunia dalam Revolusi Indonesia

Kecamuk perang yang melanda Indonesia pada 1945-1949, tak lepas mengundang kehadiran para jurnalis untuk meliputnya. Dari Indonesia sendiri hadir Rosihan Anwar dan Mochtar Lubis serta fotografer Frans Mendoer cs dari IPPHOS. Belanda juga menurunkan wartawan-wartawan seperti Hasselman dan Charles Brejer. Nama terakhir merupakan fotografer yang paling banyak mengambil gambar yang melukiskan situasi-situasi perang di Jawa, termasuk sisi manusiawinya. Fotografer asal Prancis Henri Cartier Bresson juga termasuk ciamik merekam situasi-situasi Indonesia pasca proklamasi 17 Agustus 1945. Bahkan salah satu essai foto-nya di Majalah LIFE berjudul ” Young Men Are Both The Peril and The Hope” termasuk salah satu laporan paling legendaris mengenai Indonesia era revolusi. Tak kalah dengan para jurnalis tersebut, pada

Read More

Perjudian Politik Bernama Renville

Saat disebut nama “Renville”, wajah Letnan (Purnawirawan) Alleh (90) yang semula sumringah tiba-tiba berubah menjadi muram. Sorot matanya yang riang seketika menajam. “Perjanjian sialan! Karena perjanjian itu, hidup kami banyak berubah…” kata mantan petarung dari Divisi Siliwangi dalam nada pahit. Sesungguhnya bukan hanya hanya Alleh yang merasakan hal demikian. Para petinggi Divisi Siliwangi seperti almarhum Letnan Kolonel Kawilarang  saat itu juga merasakan hal yang sama terhadap kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan dari Pejanjian Renville antara Indonesia dengan Belanda. “…Tiba-tiba kami mendengar tentang adanya Perundingan Renville yang menyebabkan kami harus hijrah. Bukan main bencinya saya. Seperti tersambar halilintar di siang bolong rasanya. Tetapi sebagai tentara, kami harus tunduk kepada perintah atasan…” ujar Komandan

Read More

Jalan Sunyi Para Petarung Tua

Di zamannya, mereka adalah manusia-manusia pemberani: tanpa mengenal pamrih, siap menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk Indonesia merdeka. Kini mereka menapaki masa-masa tuanya dalam sunyi. JUMAT, 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dikumandangkan oleh Sukarno-Hatta. Beberapa hari usai proklamasi tersebut, berbondong-bondong anak muda menyatakan diri untuk membela Republik Indonesia yang baru didirikan itu. Tekad itu semakin kuat, manakala lewat “perantara” Inggris (yang tugas utamanya mengurusi tawanan perang di Indonesia), orang-orang Belanda datang kembali dan secara sepihak mendirikan NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) di Indonesia. Pendirian NICA oleh Van Mook dan kawan-kawannya, direspon secara keras oleh para pemuda Indonesia. Mereka lantas membentuk berbagai badan perjuangan dan kelompok bersenjata sebagai upaya

Read More

Hikayat Dua Banteng

Kisah dua petarung republik dari Lasykar BBRI yang nama mereka diabadikan untuk dua jalan di pusat kota Cianjur JALAN Muhamad Ali di Cianjur itu nyaris tiap hari dipenuhi lalu lalang khalayak. Dari pedagang kaki lima hingga anak-anak sekolahan. Di pinggir-pinggirnya deretan sepeda motor terparkir bersanding dengan angkot-angkot berwarna merah yang berhenti seenaknya. Menurut Helmy Adam, kendati merupakan jantung kota, kawasan ini memang termasuk area macet . “ Terlebih pada malam di hari-hari libur, kawasan ini sangat padat sekali, “ ujar lelaki kelahiran Cianjur 30 tahun lalu itu. Menurut Mulyadi (75), sekitar 65 tahun lalu kawasan tersebut tentu saja tak seramai sekarang. Banyak sudut kota yang kini menjadi bangunan, dulunya adalah

Read More

Siliwangi Hijrah

Cirebon, 1 Februari 1948, ribuan angota Divisi Siliwangi mulai bergerak meninggalkan daerah Jawa Barat menuju Jawa Tengah dan Yogyakarta. Situasi ini merupakan konsekuensi logis dari kesepakatan pemerintah Indonesia dengan Belanda pada Perundingan Renville. Salah satu klausul kesepakatan menyebutkan pemerintah Indonesia harus mengosongkan daerah-daerah yang masuk Garis van Mook, di antaranya Jawa Barat. Itu artinya, tentara dan aparat pemerintahan harus hijrah ke wilayah resmi Indonesia yang hanya meliputi Yogyakarta, Surakarta, Kediri, Kedu, Madiun, sebagian keresidenan Semarang, Pekalongan, Tegal bagian selatan dan Banyumas. Sebagian dari 6000 anggota Divisi Siliwangi beserta seluruh anggota inti keluarganya (diperkirakan berjumlah sampai 29.000 orang) melakukan hijrah ke Jawa Tengah melalui laut. Mereka diangkut dari pelabuhan Cirebon menuju

Read More