ERA INDONESIA

Gubernur di Tengah Perang

Sejak awal kemerdekaan, Soerjo berperan sebagai penjaga eksistensi republik di Jawa Timur. Itu terbukti saat ia menolak untuk menyerah kepada militer Inggris dan memilih mengobarkan perlawanan di Surabaya sebagai harga sebuah kebebasan. KETIKA mendengar terjadinya pembunuhan terhadap Soerjo pada November 1948, semua orang menundukkan kepala dan menyesali peristiwa tersebut. Bukan hanya, kawan-kawan sehaluan, lawan-lawan politik Soerjo seperti Soeripno pun menyatakan bahwa pembunuhan itu tak seharusnya dilakukan. “Tentang hal ini, kami merasa sangat menyesal,”ujar tokoh teras PKI (Partai Komunis Indonesia) itu. Soerjo memang dikenal sebagai seorang birokrat Republik yang elegan dan pemberani. Keberanian dan sikap elegan priyayi Magetan itu memang sudah dibawanya sejak dia duduk di bangku OSVIA (Sekolah Pamongpaja Hindia

Read More

Sejarah KORPRI, Sebagai Abdi Negara atau Abdi Penguasa ?

KORPRI atau Korps Pegawai Negeri Republik Indonesia adalah wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia demi meningkatkan perjuangan, pengabdian, serta kesetiaan kepada cita-cita perjuangan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bersifat demokratis, mandiri, bebas, aktif, profesional, netral, produktif, dan bertanggung jawab. Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) sejatinya terbentuk pada tanggal 29 Nopember 1971. Namun sejarah pegawai negeri atau pegawai pemerintah sudah dimulai sejak zaman penjajahan yakni dimasa kolonial Belanda, dimana sebagian pegawai pemerintah Hindia Belanda berasal dari kaum Bumi putera yang dipekerjakan sebagai pegawai kelas bawah penjajah pemerintah Belanda. Hal ini berlanjut hingga zaman penjajahan Jepang, seluruh pegawai pemerintah eks Hindia Belanda dipekerjakan pemerintah

Read More

Sukarno, Hatta, Sjahrir dan Buku

SETIAP 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Momen bersejarah itu bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional pada 17 Mei 1980. Namun, menilik minat baca masyarakat Indonesia hari ini, terbayang kenyataan memprihatinkan. Menurut data Most Littered Nation In the World yang dikeluarkan UNESCO tahun 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Ironisnya, Indonesia hari ini memiliki Perpustakaan Nasional Indonesia yang disebut-sebut sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia. Membaca buku bukan lagi kegiatan pilihan seiring majunya teknologi informasi. Berbanding terbalik dengan generasi zaman pergerakan tempo dulu. Ibarat makanan, buku adalah kebutuhan. Lewat asupan literatur, pemikiran mereka menghasilkan ide untuk berjuang dan merdeka. Beberapa tokoh bahkan dikenal sebagai bibliofil

Read More

Bila Kolera Menyerang Batavia

Wabah difteri melanda tanah air pada penghujung 2017. Penyakit epidemi yang ditandai gejala peradangan saluran pernafasan dan demam ini lebih rentan menyerang anak-anak. Sebanyak 28 provinsi terjangkit wabah difteri, tak terkecuali Jakarta. Karena masifnya penularan dan besarnya jumlah korban meninggal, Kementerian Kesehatan menetapkannnya dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemerintah bahkan sampai mengeluarkan himbauan agar anak-anak divaksin difteri. Kejadian serupa juga pernah terjadi di Jakarta kala masih bernama Batavia. Pembunuhnya bernama bakteri kolera (cholera asiatica). Orang awam lebih mengenalnya dengan sebutan “muntaber” (muntah berak). Menurut buku Sejarah Pemberantasan Penyakit di Indonesia yang diterbitkan Departemen Kesehatan, penyakit kolera mulai dikenal pada 1821. Penyakit yang menyerang usus besar ini ditandai dengan gejala

Read More

KAMP DI ATAS CIRANCA (Tapak-tapak kelam penumpasan gerakan Darul Islam)

SIANG belum mencapai puncaknya, saat mobil yang kami tumpangi menaiki sebuah dataran tinggi di Ciranca, sebuah kampung kecil yang terletak sekitar 80 km dari pusat kota Tasikmalaya. Suasana sunyi. Pohon-pohon besar berderet di sepanjang jalan kampung yang berbatu, seolah pelindung area tersebut dari sengatan cahaya matahari yang saat itu tengah mencorong garang. Sejenak Muhajir Salam, sejarawan muda asal Tasikmalaya, mengamati situasi. “ Sebentar lagi kita akan sampai…” ujar lelaki kelahiran tahun 1981 itu. Tepat di sebidang tanah datar, mobil berhenti. Kami turun hampir bersamaan. Sementara saya menyiapkan kamera, Muhajir melangkah menuju sebuah pohon bunga Wera yang nampaknya sudah berusia puluhan tahun. Sekitar satu meter dari pohon itu, ia pun berhenti

Read More

Menggugat Ala Bung Tomo

Banyak dari kita barangkali cuma mengenal Sutomo alias Bung Tomo sebagai ikon pertempuran Surabaya pada November 1945. Lewat-pidato-pidatonya yang berapi-api, dengan slogan “merdeka atau mati” berikut pekik “Allahu akbar” yang menggetarkan arek-arek Suroboyo dalam menghadapi tentara Sekutu. Sebuah rumah di Jalan Mawar 10, Surabaya, menjadi salah satu saksi bisu aktivitas Bung Tomo membakar semangat massa Surabaya lewat corong radio. Ya, rumah itu disulap menjadi stasiun radio sekaligus tempat persembunyian Bung Tomo. Orang menyebutnya radio Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia. Selain Bung Tomo, ada Muriel Stuart Walker atau populer dengan nama K’tut Tantri yang bersiaran di sana. Perempuan asal Amerika Serikat yang kemudian menjadi penulis pidato Presiden Sukarno itu berjasa menyiarkan perjuangan

Read More

Misi Culik Petinggi Republik

Yogyakarta, Maret 1948. Perintah itu datang begitu tiba-tiba. Selaku komandan pasukan yang saat itu ada di bawa wewenang Daerah Militer II, Kapten Solichin G.P. diinstruksikan oleh Gubernur Militer Wilayah II Kolonel Gatot Soebroto dan Menteri Negara Republik Indonesia Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk menculik seorang professor berinisial OE. “ Orang ini kata Pak Gatot dicurigai akan “mengacaukan” rapat Komisi Tiga Negara yang beberapa hari lagi akan diadakan di Kaliurang,” ujar Komandan Kompi 5 Yon Nasuhi (masuk Divisi Siliwangi) itu. Kapten Solichin lantas membentuk satu tim kecil untuk melaksanakan tugas tersebut. Mereka terdiri dari prajurit-prajurit andal dari Kompi 5, yakni Karli Akbar Yoesoef (komandan regu) Den Ucen, Ewiw, Ulo alias Surya

Read More

SEORANG KOMANDAN BERNAMA ISMAN

Bertempat di Istana Negara, pada 5 November 2015, Presiden Joko Widodo telah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional kepada lima orang yang dianggap berjasa dalam pendirian negara ini. Dari kelima orang itu tersebutlah nama Mayor Isman alias Mas Isman. Siapakah dia? Isman adalah salah seorang pemuda idealis di zamannya. Ketika militer Inggris menyerbu Surabaya, ia meninggalkan kehidupan sehari-harinya guna mempimpin perlawanan ratusan anak-anak muda pelajar di Surabaya. Dalam buku Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan (Bagian I) karya Dra. Irna H.N. Hadi Soewito disebutkan bahwa kelompok perlawanan kaum pelajar itu mengambil sebuah gedung di Jalan Darmo No.49 sebagai markas besarnya. “ Makanya kelompok itu dikenal sebagai BKR (Badan Keamanan Rakyat) Darmo…” tulis Irna.

Read More

30 Oktober 1946, Uang Kertas Bergambar Bung Karno Resmi Beredar

Oeang Republik Indonesia atau ORI adalah mata uang pertama yang diterbitkan Republik Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Pemerintah memandang perlu untuk mengeluarkan uang sendiri yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah tapi juga sebagai lambang utama negara merdeka. Resmi beredar pada 30 Oktober 1946, ORI tampil dalam bentuk uang kertas bernominal Rp 100 bergambar Bung Karno. ORI ditandatangani Menteri Keuangan saat itu A.A. Maramis. Pada hari itu juga dinyatakan bahwa uang Jepang dan uang Javasche Bank tidak berlaku lagi. ORI pertama dicetak oleh Percetakan Canisius dengan desain sederhana dengan dua warna dan memakai pengaman serat halus. Presiden Soekarno menjadi tokoh yang paling sering tampil dalam desain uang kertas ORI

Read More

Balada Letnan Kebal Peluru

Jika pernah menyaksikan film ” Janur Kuning”, tentunya anda tak akan asing dengan tokoh “pejuang selon” yang diperankan oleh aktor Amak Baldjun. Digambarkan dalam film tersebut, saat adegan Serangan Umum 1 Maret 1949 ke Yogyakarta, tanpa mengenal rasa takut tertembus peluru ia terus maju memburu serdadu-serdadu Belanda yang melakukan gerakan mundur seraya menembakan senjata-senjata mereka ke arah gerilyawan TNI berbaret hitam tersebut. Dalam sejarah Perang Kemerdekaan di Yogyakarta, sejatinya tokoh ini memang benar-benar ada. Namanya Letnan Komaruddin. Jabatannya komandan peleton di SWK 101, Brigade X pimpinan Mayor Sardjono (anak buah Letnan Kolonel Soeharto). Di kalangan anak buahnya, mantan prajurit PETA di Kalasan ini terkenal sebagai anti kogel/tahan peluru. Bahkan saking

Read More