Prof. Dr. Anhar Gonggong : Kita Amnesia Sejarah, Pancasila Masih Sebatas Slogan

Prof. Dr. Anhar Gonggong : Kita Amnesia Sejarah, Pancasila Masih Sebatas Slogan

by Agustus 6, 2015

Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah titik kulminasi perjuangan bangsa untuk membentuk negara yang merdeka, bersatu dan berdaulat. Munculah semangat nasionalisme, persatuan-kesatuan diikat oleh dasar Pancasila. Lahirnya Pancasila, diambil dari pidato Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (Dokuritsu Junbi Cosakai) pada tanggal 1 Juni 1945. Dalam pidato itulah konsep dan rumusan awal Pancasila pertama kali dikemukakan sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Namun, sepanjang sejarah, Pancasila selalu diuji, dirongrong oleh berbagai ideologi lain. Tetapi Pancasila selalu tegar dikukuhkan faktor sejarah satu tanah air, satu bahasa, satu bangsa. “Bangsa ini seringkali mengalami amnesia sejarah. Kemerdekaan di tahun 45-an berhasil ditegakkan, tetapi perjuangan kita belum usai. Justru saat menjadi bangsa merdeka itulah perjuangan yang sesungguhnya yakni upaya mengisi kemerdekaan,” ujar sejarahwan Prof Dr. Anhar Gonggong. Berikut petikannya, seperti dilansir reformata.com:

Kalau kita membaca buku sejarah, berbagai permasalahan datang silih-berganti menerpa ideologi bangsa kita Pancasila, bagaimana menurut Bapak?
Sejarah penuntun kita berjalan ke depan. Kita harus mengingat sejarah, bukan hanya dikenang. Sejarah tentang pergolakan G 30 September, misalnya. Masa Orde Baru jelas, ini disebut-sebut dilakukan PKI. Soeharto yang ketika itu, melihat ketelibatan Untung. Bagi Soeharto, Untung anak buahnya itu sudah lama terlibat pada pergerakan PKI. Maka dibuat berbagai cara termasuk membuat film. Setelah Orde Baru langser, film G30 SPKI distop. Bagi saya, film itu kontroversial, dan tidak perlu lagi ditayangkan.

Alasannya?
Film tersebut penuh dengan propaganda, dibuat untuk melanggengkan kekuasaan. Sampai saat ini masih banyak fakta sejarah yang harus terus dilengkapi. Bagi saya, keruwetan sejarah selama ini penuh fakta yang masih kabur. Misalnya, kontroversi masalah yang terjadi pada pergolakan tahun 65 tidak boleh mentah-mentah kita terima. Kita juga harus ingat tahun 62, 63, 64 ada pergolakan yang kait-mengkait. Baru setelah itu bisa kita pahami pembunuhan 7 pahlawan revolusi di tahun 65.

Apa sesungguhnya yang terjadi?
Saat PKI berkuasa banyak melakukan kekerasan. Ketika periode PKI dikalahkan kekuasaan militer waktu itu, PKI banyak mengalami penganiayaan juga. Terjadi balas dendam. Banyak yang salah tangkap. Kita tidak menampik kekerasaan dialami oleh aktivis PKI.

Banyak peristiwa besar di Indonesia yang meninggalkan pertayaan. Soal peristiwa Gerakan 30 September memakan korban perwira tinggi Angkatan Darat…. Salah satu contoh, Soeharto sebagai perwira tinggi, mengapa dalam G30 September dia tidak masuk dalam target pembunuhan, mengingat Soeharto saat itu sudah merupakan perwira tinggi? Terhadap hal itu, ada satu cerita. Soeharto tidak terlalu dianggap, tidak menonjol di antara perwira angkatan darat lainnya. Soal tujuh perwira yang menjadi korban adalah karena mereka orang-orang lingkaran “Nasionalis” yang membela Pancasila, seperti Mayor Jenderal (anumerta) DI Panjaitan, dan enam orang yang lainnya, orang yang setia akan bangsa dan negara.

Bagi saya, pertambahan nama PKI menjadi G30S/PKI itu juga setelah kekuasaan Soeharto. Kalau kita sekarang mengatakan bahwa tidak ada PKI disana, itu baru pernyataan sekarang. Tetapi kalau dulu, tidak ada yang berani mengatakan hal itu. Jika ada yang mengatakan peristiwa 65 tidak dilakukan PKI zaman Soeharto, ia akan masuk  penjara. Kalau sekarang, kita bisa berkata demikian, siapa saja bebas berkomentar, karena memang zaman sudah berubah. Saking bebasnya sekarang, semua bisa bilang apa saja. Banyak buku yang ditulis tentang hal itu, bahwa gerakan G 30 S hal itu tidak dilakukan PKI.

Tetapi saya sebagai seorang siswa pada periode itu,  peristiwa 65 itu saya pikir PKI terlibat. Karena di tahun itu adalah krisis perkelahian antara berbagai ideologi. PKI berteriak untuk membubarkan HMI salah satunya. Banyak hal yang bisa membuat kita berkata demikian. Memang kondisi waktu itu sangat krusial. Paling tidak saya punya dugaan dari sini PKI memang terlibat, dan memang itu perlu diteliti lebih lanjut.

Jika ditarik garis merah sejarah Indonesia selalu menyiratkan Pancasila belum menjadi darah dan daging kita?
Iya, hanya masih sebatas wacana kembali kepada Pancasila. Soeharto berkata, kembali pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekwen, tetapi nyatanya tidak demikian. Saat kita merdeka, kita memiliki Pancasila tetapi nyatanya kita menginjak-injak Pancasila juga. Itu persoalan besar kita. Ketika Soekarno berkuasa, Nasakom dipuja-puji, Pancasila dipinggirkan. Orde Baru slogannya jelas Pancasila secara murni dan konsekwen, tetapi diinjak-injak juga. Soeharto berkuasa secara otoriter, korupsi juga. Nah, setelah Soeharto pembangunan fisik terjadi, tetapi korupsi meraja-lela juga.

Lalu, pembangunan yang dilakukan sekarang berdasarkan apa?
Dalam sejarah, negara-negara otoriter selalu memperlihatkan sejarah untuk melanggengkan kekuasaan. Bagi saya, pergulatan yang terjadi di pergolakkan 65 itu adalah salah satu titik dari masalah sejarah Indonesia. Tetapi, setelah Soeharto menjadi presiden, Orde Baru dalam dunia politik Indonesia dan secara dramatis mengubah kebijakan baik kebijakan luar negeri dan dalam negeri dari jalan yang ditempuh di zaman Orde Lama.

Kemudian, Orde Baru memilih satu kebijakan perbaikan dan perkembangan ekonomi sebagai tujuan utamanya yang didominasi militer dan nasehat dari ahli ekonomi didikan Barat. Selama masa pemerintahannya, kebijakan-kebijakan ini, dan pengeksploitasian sumber daya alam secara besar-besaran menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang besar pula. Kenyataanya pembangunan tidak merata. Akibatnya ada kesenjangan ekonomi. Ada letupan, akhirnya sejarah kita juga memperlihatkan pemberontakan-pemberontakan di daerah. Awalnya karena kesenjangan itu.

Beban para sejarahwan melihat ini?
Beban kita sekarang masalah kejujuran. Jujur terhadap sejarah Indonesia. Banyak pemuda sekarang tidak lagi menghargai sejarah bangsanya. Seperti yang saya katakan tadi, ketika sejarah diabaikan, itu berarti orang tidak mengenal lagi dirinya. Kalau itu dipahami maka Anda orang Batak dan saya orang Bugis, kita sama karena Indonesia. Sekarang, kalau kita mengabaikan itu berlahan negara ini akan berkeping-keping. Banyak fakta-fakta sudah terjadi, kita ambil contoh Uni Soviet, hancur berkeping-keping karena memaksakan ideologi yang tidak bisa mempersatukan mereka yaitu marxisme.

Apa yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa?
Bagi saya sekarang, untuk itu perlu upaya dari pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan untuk berupaya memberikan perbaikan pada sejarah kita. Buku sejarah diperbaiki. Karenanya sejarah sebagai satu peristiwa manusia, sebagai fakta yang harus menjadi data yang merupakan gambaran kehidupan masyarakat di masa lampau. Sebab dengan sejarah, kita dapat lebih mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Sebab peristiwa yang terjadi di masa lampau tersebut dapat dijadikan pedoman dan acuan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa di masa kini dan yang akan datang.

Jadi, kita sering melupakan sejarah bangsa, Pancasila masih slogan?
Orang yang melupakan sejarah akan kalah. Kalau proses sejarah kita abaikan, maka tunggulah kehancuran negara. Bangsa ini beberapa kali terjerumus pada pergolakan di dalam negeri.  Kita seperti kacang yang lupa kulitnya. Lupa akan jati dirinya. Kita tidak lagi menghargai sejarah kita, ya, Pancasila hanya slogan saja. Bahkan, sekarang mata pelajaran sejarah pun diabaikan. [reformata.com/foto:istimewa]

No Comments so far

Jump into a conversation

No Comments Yet!

You can be the one to start a conversation.

Your data will be safe!Your e-mail address will not be published. Also other data will not be shared with third person.